
Semenjak resmi bercerai dengan Viviane, kehidupan Edwin sangat berantakan. Tidak ada semangat lagi dalam diri Edwin. Perusahaan yang ia pimpin pun terpaksa harus diambil alih oleh Papanya lagi. Edwin sudah enggan sekali menginjakkan kakinya di perusahaan. Mengingat dia selalu berangkat bersama sang istri tiap kali bekerja. Viviane juga sekretaris pribadinya.
Tiap hari yang dilakukan Edwin hanya berdiam diri di dalam kamar. Makan pun terkadang diantar oleh pembantunya ke kamar. Ya, Edwin memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya. Karena dia tidak ingin mengingat semua kenangan indah saat bersama Viviane dulu jika tinggal di apartemennya.
“Vi, bagaimana kabarmu Sayang? Aku sangat merindukanmu.” Gumam Edwin yang saat ini sedang berdiri di balkon kamarnya.
Edwin sedikit terpengaruh dengan ucapan Angga terakhir kalinya yang mengatakan bahwa Viviane sudah pergi jauh. Itu berarti Viviane tidak benar-benar selingkuh dengan Angga. Edwin menyesal telah menceraikan Viviane. Namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.
Tok tok tok
Terdengar ketukan dari luar kamar Edwin namun pria itu tak mempedulikannya. Lagian pintunya tidak terkunci. Pasti sebentar lagi orang yang mengetuk pintu itu akan masuk dengan sendirinya.
Cklek
“Ed!” panggil Sonya mama Edwin.
Yang dipanggil pun masih sibuk dengan lamunannya. Kemudian Sonya melangkah menuju balkon mendekati anak semata wayangnya.
“Besok antarkan Mama ke rumah teman Mama ya” pinta Sonya.
Sonya sudah berulang kali menasehati Edwin agar melupakan mantan istrinya dan fokus pada penyembuhannya. Meskipun sampai saat ini Anton belum memberikan kabar baik. Sonya juga selalu berusaha membujuk Edwin agar mau mengantarkannya pergi agar Edwin bisa cepat move on dari Viviane. Tapi nihil. Tidak ada hasilnya Edwin masih suka berdiam diri di dalam kamarnya menyesali perbuatannya pada Viviane.
Sonya segera keluar dari kamar Edwin karena merasa diabaikan oleh anaknya. Sonya juga sudah meminta bantuan pada suaminya agar membujuk Edwin untuk kembali lagi ke kantor. tapi Nico juga tidak berhasil. Jadi mereka hanya bisa membiarkan Edwin berdiam diri di dalam kamarnya.
***
Sementara itu Laura kini sedang dalam perjalanan menuju salah satu café dimana dia akan bertemu dengan Alfa. Laura sudah sangat risih dengan Alfa yang selalu saja menghubunginya. Laura ingin bertemu untuk terakhir kalinya dengan Alfa. Dan meminta pria itu agar menjauh dari hidupnya. Laura sangat benci dengan Alfa karena sudah diam-diam menggantikan isi obat pencegah kehamilannya dengan vitamin penyubur kandungan hingga membuatnya hamil. Namun Laura tidak akan memberitahukan pada Alfa karena dia sangat yakin kalau sebentar lagi Angga mau bertunangan dengannya.
“Hai Sayang! Aku sangat merindukanmu.” Ucap Alfa saat melihat Laura baru tiba dan memegang tangan Laura. Namun Laura dengan cepat menepisnya.
__ADS_1
Alfa berusaha sabar dengan sikap cuek Laura. Kemudian membiarkan Laura duduk di hadapannya.
“Apa kabarmu Sayang? Aku sangat merindukan tubuhmu” ucap Alfa lagi.
“Nggak usah basa-basi lagi, aku datang kesini hanya untuk-“ ucapan Laura terpotong saat ada pelayan memberikan minuman yang telah dipesan Alfa.
“permisi, ini minumannya. Silakan!”
“Terima kasih”
Pelayan tadi meletakkan segelas es lemon tea untuk Alfa, dan segelas jus leci untuk Laura. Alfa sangat hafal sekali kalau Laura paling suka dengan jus leci. Namun tiba-tiba saja Laura menutup mulutnya saat mencium aroma jus leci itu. Perut Laura tiba-tiba bergejolak dan siap memuntahkan isinya.
“Jauhkan minuman ini dariku!” perintah Laura masih dengan tangan yang menutup mulutnya.
Alfa mengernyit heran dengan sikap Laura yang tiba-tiba saja tidak suka menyukai bau minuman yang telah menjadi favoritnya. Alfa bukan pria bodoh tentang sinyal yang diperlihatkan oleh Laura. Alfa tersenyum ternyata usahanya menukar obat pencegah kehamilan Laura dengan vitamin penyubur kandungan berhasil. Laura tengah hamil. Lebih tepatnya dia yang menghamilinya.
“Sayang, kamu?”
Dan secara tidak sadar bahwa Laura telah mengakui bahwa dirinya sedang hamil. Padahal Alfa tadi hanya ingin menanyakan ada apa dengan dirinya sampai menutup mulutnya. Dan tanpa menanyakan lagi, Alfa sudah tahu kalau Laura memang benar-benar hamil.
“Wow, padahal bukan itu yang ingin aku taanyakan. Tapi aku sangat senang sekali akhirnya kamu mengandung anakku juga.” ucap Alfa dengan mata berbinar.
Laura yang sudah merasa terjebak dengan pertanyaan Alfa, dia tidak mau mengakui bahwa anak yang dia kandung adalah anak Alfa.
“Memang aku hamil. Tapi kamu jangan besar kepala dulu. Ini anakku dengan Angga. Dan kedatanganku kemari untuk memutuskan hubungan kita. Jangan pernah lagi ganggu kehidupanku. Karena sebentar lagi aku akan bertunangan dengan Angga dan segera menikah.” Ucap Laura panjang lebar dan segera pergi meninggalkan Alfa.
Alfa sangat marah saat mendengarkan itu semua. Alfa tidak menyangka kalau Angga masih saja nekat dekat dengan Laura. Apa Angga lupa akan ancamannya dulu. Setelah itu Alfa segera pergi meninggalkan café dengan amarah yang memuncak.
***
__ADS_1
Sedangkan Angga saat ini sedang mondar-mandir di depan meja kerjanya. Perusahaannya sudah diambang kehancuran. Dia tidak punya pilihan lain selain minta bantuan pada Wilson yang tak lain Papa Laura. Saat ini Angga akan pergi ke perusahaan Wilson tapi sejak tadi dia masih ragu.
Drt drt drt
Ponselnya bergetar dan tampak notifikasi pesan dari Mike. Angga segera membuka pesan itu dan membacanya. Setelah membaca pesan dari Mike, ada senyuman tipis yang keluar dari bibir Angga. Kemudian dia memasukkan ponselnya ke dalam saku jas dan segera pergi ke perusahaan Wilson.
Saat ini Angga sudah melangkahkan kakinya ke perusahaan milik Wilson dengan ditemani sang asisten yaitu Mario. Setelah menanyakan ke resepsionis dimana ruangan direktur mereka, Angga segera berjalan menuju lantai paling atas.
“Selamat siang Tuan Wilson!” sapa Angga dengan sopan.
“Selamat siang juga nak Angga. Nggak usah terlalu formal. Panggil Om saja seperti biasanya.” Ucap Wilson.
“Baiklah Om. Langsung saja, kedatangan saya kesini untuk meminta bantuan anda dalam mengatasi maslah di perusahaan saya.” Ucap Angga dan Wilson tampak berpikir.
“Bukannya saya tidak mau membantu. Apakah nak Angga mau menerima syaratnya? Om juga tidak keberatan jika nak Angga tidak jadi meminta bantuan setelah tahu syarat yang Om ajukan.” Ucap Wilson.
“Dasar licik. Banyak alasan. Kamu pikir aku nggak tahu rencana kamu” gumam Angga dalam hati.
“Apapun syaratnya saya akan mengikuti kemauan Om. Karena ini demi ratusan nyawa karyawan saya.” Ucap Angga tegas.
“Termasuk bertunangan dengan Laura?” Tanya Wilson memastikan.
“Kalau itu syaratnya, saya sama sekali tidak keberatan Om. Lagian saya juga sudah lama dekat dengan Laura.” Ucap Angga bohong.
Akhirnya Wilson sangat bahagia karena telah berhasil menjodohkan Angga dengan anak semata wayangnya. Wilson sudah membayangkan akan kejayaan perusahaannya nanti jika sudah bergabung dengan perusahaan Angga. Pasti akan merajai bisnis dari semua perusahaan yang ada di Indonesia bahkan keluar negeri. Mengingat Angga adalah seorang pengusaha yang sangat cerdas dan pintar.
.
.
__ADS_1
.
*TBC