
Setelah selesai makan malam, Edwin segera mengajak Viviane pulang. Karena Edwin dapat merasakan kalau sejak tadi istrinya terlihat tidak tenang setelah mendengar ucapan Laura. Beruntungnya semua keluarga tidak mempertanyakan lebih lanjut tentang pernyataan Laura tadi.
Kini Edwin sudah berada di dalam mobil bersama istrinya. Dia masih menggenggam lembut tangan istrinya. Sedangkan Viviane masih saja terdiam.
“Sayang, kamu nggak apa-apa kan?”
“Mas, kenapa ucapan Laura seperti itu?”
“Sudah, jangan kamu pikirkan ucapan Laura. Besok aku coba bicara dengannya.
“Tapi Mas, aku sudah merasakan Laura terlihat berbeda sejak kedatangan kita tadi. Ditambah lagi dengan ucapan dia tadi yang seoalh membenci aku. apa jangan-jangan Laura tahu kalau aku pernah mempunyai hubungan dengan Angga. Sementara Angga sekarang adalah kekasihnya.”
“Sudah, Sayang. Kamu tenang ya. Jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kita pikirkan permintaan Mama tadi.”
“Apa itu Mas?”
“Kita fokus buatin cucu buat Mama dan Papa”
Blush
Seketika wajah Viviane berubah memerah seperti kepiting rebus. Dia ingat dengan permintaan mertuanya yaitu ingin segera mendapatkan cucu darinya. Dan benar aapa yang dikatakan oleh suaminya lebih baik fokus ke hal itu saja daripada memikirkan Laura.
Sesampainya di basement apartemen, Edwin segera membukakan pintu mobil untuk istrinya. Kemudian mereka berjalan menuju unit apartemen. Namun, tiba-tiba saja mereka berdua tanpa sengaja berpapasan dengan Angga.
“Selamat malam Tuan Edwin!” sapa Angga pada Edwin tapi matanya menatap ke arah Viviane yang sedang menunduk.
“Selamat malam juga Tuan Angga!” jawab Edwin dingin dan
segera memeluk pinggang istrinya karena melihat Angga terus saja memperhatikan istrinya.
“Ayo Sayang kita segera masuk. Kamu ingat permintaan Mama tadi kan yang ingin minta cucu dari kita.” Ucap Edwin sengaja biar Angga mendengarnya dan pergi meninggalkan Angga yang masih terdiam.
Setelah Edwin dan Viviane masuk ke dalam unit apartemennya, tangan Angga tampak terkepal kuat. Telinganya terasa panas mendengar penuturan Edwin. Angga sangat cemburu membayangkan Viviane sedang memadu kasih dengan laki-laki lain. Meskipun itu suami Viviane.
***
Keeseokan harinya, Edwin dan Viviane kini sudah bersiap untuk pergi ke kantor. setelah cukup lama mengambil cuti, mereka sudah saatnya untuk bekerja kembali. Namun, hari ini adalah hari yang berbeda bagi Edwin dan Viviane. Karena hari ini adalah hari pertama mereka bekerja dimana status mereka sudah sebagai suami istri. Tapi Viviane sudah memberi ultimatum pada suaminya agar tetap professional jika berada di kantor.
“Jadi kita nggak bisa mesra-mesraan dong Sayang?”
“Mana ada Mas seorang sekretaris mesra-mesraan dengan bosnya? Nanti dapat SP loh.”
Edwin tergelak mendengar ucapan istrinya. Sementara dia sendiri adalah bosnya, masak iya memberi SP pada dirinya sendiri karena sedang bermesraan dengan istrinyab sendiri.
“Pokoknya aku nggak mau tahu. Mas harus bersikap professional.”
“Iya-iya.” Ucap Edwin sambil cemberut.
Kemudian Edwin segera melajukan mobilnya menuju kantor. dalam perjalanan, Edwin terus aja memegang tangan istrinya seperti orang yang sedang kasmaran. Dan beberapa saat kemudian mreka sudah tiba di kantor.
“Sayang, kamu masuk dulu saja ya. Aku ada urusan sebentar, tadi Papa menelepon aku saat kamu masih mandi.”
“Oh baiklah Mas. Hati-hati ya.”
__ADS_1
Setelah memastikan istrinya sudah masuk ke kantor, Edwin segera melajukan mobilnya. Sebenarnya dia akan pergi menemui Laura tapi tidak mengatakannya lansung pada istrinya. Dia takut istrinya akan memikirkan Laura lagi.
Sesampainya di perusahaan milik Om Wilson, Edwin segera menuju ruangan Laura. Semua karyawan yang melihat Edwin tampak menunduk hormat. Mereka sudah tahu siapa itu Edwin.
Ceklek
Tanpa mengetuk pintu, Edwin masuk ke ruangan Laura begitu saja. Disana terlihat Laura yang sedang sibuk di depan layar komputernya. Bahkan Laura sama sekali tidak terkejut dengan kedatangannya.
“Ra!” panggil Edwin.
“Eh Mas Edwin. Tumben?” ucap Laura datar dan masih setia menatap layar komputernya.
“Apa maksud ucapan kamu semalam Ra?” Tanya Edwin.
Laura mengernyitkan keningnya dan kini pandangannya sudah tertuju pada kakak sepupunya yang sudah duduk di hadapannya.
“Perkataan yang mana ya Mas? Aku nggak ngerti.”
“Kamu jangan pura-pura Ra. Apa maksud kamu dengan mengatakan bahwa Viviane sudah berpengalaman saat Mama meminta cucu pada Viviane??”
“Oh itu. Aku sebenarnya kasihan sekali sama Mas Edwin. Mempunyai istri yang pura-pura mencintai suaminya.”
“Jaga ucapan kamu Ra!!”
“Apa Mas Edwin tahu kalau selama ini istri Mas Edwin dengan Angga-“
“Mereka berdua pernah mempunyai hubungan. Kenapa? Aku sudah tahu semuanya.”
“Apa Mas Edwin tahu kalau selama ini istri kamu dengan Angga-“
“Aku sudah tahu semuanya Ra. Mereka berdua pernah menjalin hubungan dan sampai memiliki anak. Bahkan janinnya gugur aku sudah tahu semuanya. Lalau apa hubungannya dengan kamu?. Aku peringatkan ke kamu ya Ra, jangan sekali-kali mengungkit masa lalu Viviane di depan orang lain!!” ucap Edwin berapi-api.
“tapi apa Mas Edwin tahu kalau-“
“Cukup Ra!!! Aku nggak mau mendengarkan ucapan kamu lagi. Lebih baik urusin saja hubungan kamu dengan Angga.” Ucap Edwin dan segera pergi meninggalkan ruangan Laura.
Selepas kepergian Edwin, Laura Nampak sangat marah. Dia tidak menyangka kalau Edwin sudah mengetahui semuanya. Tapi Laura yakin kalau Edwin tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh istrinya dengan Angga. Laura sangat sakit hatinya karena baru kali ini dibentak oleh orang yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Laura berjanji akan membeberkan kebusukan Viviane pada Edwin.
***
Sementara itu, Angga saat ini sangat sibuk di kantornya. Dia sedang memeriksa beberapa dokumjen yang baru saja diberikan oleh sekretarisnya.
Tok tok tok
“Masuk!” ucap Angga saat ada yang mengetuk pintu.
“maaf Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Angga.” Ucap Mario.
“Siapa?”
“Saya kurang tahu Tuan.”
“Baiklah, suruh saja masuk.”
__ADS_1
Setelah Mario keluar dari ruangannya untuk mempersilakan tamu itu masuk, kini seorang pria tengah berdiri di depan meja Angga. Angga melihat pria itu dengan wajah bingung karena dia tidak pernah bertemu dengan pria itu.
“Selamat siang Tuan Angga!”
“Selamat siang. Silakan duduk.”
Setelah mempersilakan tamunya duduk, Angga meletakkan tumpukan beberapa dokumen itu dan berbicara dengan tamunya.
“Maaf, anda siapa dan ada keperluan anda?”
“Sebelumnya perkenalkan nama saya Alfa.” ucap Alfa sambil mengulurkan tangannya pada Angga.
“baiklah. Lantas ada urusan apa anda menemui saya?”
“Tenanglah dulu Tuan Angga. Kita bisa santai bicaranya.”
Angga terlihat sangat kesal dengan orang yang bernama Alfa ini. Kedatangannya sangat tidak tepat dan sepertinya bukan membahas pekerjaan.
“Maaf, kalau bukan urusan selain pekerjaan anda bisa meninggalkan ruangan saya.”
“Eits, tunggu dulu.”
Ucap Alfa dan dia segera mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa foto dirinya dengan Viviane saat di Madrid. Alfa menunjukkan foto dimana dirinya sedang berusaha menangkap tubuh Viviane saat hendak jatuh. Ternyata saat itu sudah direncanakan oleh Alfa.
“Apa maksud Anda?” Tanya Angga terkejut.
“Apa anda kenal dengan wanita cantik ini?”
“Kamu tidak perlu tahu. Ada hubungan apa kamu dengannya?”
“Saya hanya ingin kenal dekat saja dengannya. Dia wanita yang baik, cantik, dan juga seksi.” Ucap Alfa dan seketika Angga berdiri dan menarik kerah baju Alfa.
“kamu jangan macam-macam dengannya!!” peringat Angga.
“Wow!! Wanita itu sudah bersuami loh Tuan. Apa anda ingin menghancurkan rumah tangganya?”
“Bukan urusan kamu!! Katakan apa maksud kedatangan kamu?”
“Baiklah. Aku minta jauhi Laura. Dia milikku!”
“ck ambil saja. Sejak dulu aku sama sekali tidak tertarik dengan Laura.”
“tapi gara-gara kamu Laura pergi meninggalkan aku. meskipun kamu tidak suka dengannya tapi dia berusaha mati-matian mengejar kamu. Dan jika kamu tidak bisa membuat laura kembali padaku. Aku juga akan bermain-main pada wanita cantik ini.”
“Jangan macam-macam kamu brengsek!!”
.
.
.
*TBC
__ADS_1