
Beberapa hari kemudian Viviane sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, karena keadaan fisiknya sudah membaik. Dia hanya membutuhkan seorang psikiater saja untuk mengobati luka psikisnya akibat traumanya.
Semenjak mendapatkan saran dari dokter untuk menjauhi Viviane sementara waktu, Angga memutuskan untuk pulang ke kota J. karena perusahaannya juga sangat membutuhkannya.
Tapi Angga sudah menyewa seseorang untuk mengawasi Viviane. Angga juga mencarikan seorang psikiater khusus untuk membantu menyembuhkan Viviane. Bahkan Angga berani membayar mahal agar Viviane tidak perlu datang ke rumah sakit hanya sekedar konsultasi. Dia meminta psikiater itu yang datang ke rumah Viviane seminggu sekali.
Hari ini Angga sedang meeting dengan beberapa kilega bisnisnya. Angga sudah merasa lega karena perusahaanyya sudah kembali normal seperti semula. Wilson sudah mengembalikan investor yang sempat mengundurkan diri dari perusahaan Angga. Bahkan Wilson sudah meminta maaf pada Angga atas perbuatan putrinya yaitu Laura.
Dering ponsel Angga terdengar saat dia sudah selesai meeting. Angga sudah berada di dalam ruang kerjanya. Tertera nama Mike pada id pemanggil di ponsel Angga.
“Ya, ada apa Mike?” Tanya Angga.
“…..”
“Bagaimana bisa? Kamu cari sampai ketemu.” Ucap Angga kemudian memutus panggilan itu.
Angga sangat kesal saat dengar kabar dari Mike bahwa dia tidak menemukan keberadaan Alfa. Mike mengatakan bahwa Alfa kabur ke luar negeri. Tapi dia tidak tahu kemana. Karena sepertinya Alfa memakai identitas palsu untuk mengelabuhi orang suruhan Angga yang pasti akan menacarinya. Angga sangat geram. Sampai kapan pun dia akan mencari Alfa. Dan Alfa harus mendapatkan balasan yang setimpal atas
perbuatannya.
***
Sementara itu Viviane kini telah menjalani terapinya untuk yang kedua kalinya. Psikiater pilihan Angga memang tidak diragukan lagi keahliannya. Saat pertama kali Viviane menjalani terapi, Viviane tampak terdiam dan seolah menolak untuk diajak berkomunikasi dengan seseoraang selain Ibunya.
Dan ini adalah kali kedua psikiater itu datang lagi ke rumah Viviane. Viviane yang awalnya masih diam, perlahan dia sudah mulaai membuka suaranya. Dia sudah sedikit bisa diajak komunikasi. Meskipun psikiater itu belum menanyakan tentang masa lalu Viviane, setidaknya dia merasa lega dengan Viviane yang sudah bisa diajak berkomunikasi.
“Mau makan dulu Vi?” Tanya Ibu Viviane setelah selesai melakukan terapi.
“Iya Bu, Vivi ingin makan rendang buatan Ibu tadi pagi.” Jawab Viviane.
__ADS_1
Ibu Viviane sangat senang melihat anaknya yang kini sudah kembali ceria meskipun hanya dengan permintaan menu makanan yang diinginkannya. Ibu Viviane sangat yakin sebentar lagi anaknya akan segera sembuh.
Setelah itu mereka berdua menuju meja makan untuk makan bersama. Viviane sangat lahap menikmati rendang hasil masakan ibunya. Selesai makan Ibunya mengajak Viviane untuk duduk bersantai di ruang tengah. Berdasarkan saran dari psikiater ang menangani Viviane, Ibu Viviane juga dimintai untuk membantu mengurangi sedikit masalah yang dihadapi Viviane.
“bagaimana dengan dokter Eva menurut kamu Vi?” Tanya Ibunya.
“Dokter Eva baik Bu. Enak diajak bicara. Vivi merasa nyaman dengannya”
“
Kamu tahu nggak Vi kalau dokter Eva adalah dokter pilihan Angga yang diminta secara khusus menemani kamu?”
Viviane terdiam. Wajah yang tadinya ceria kini perlahan berubah menjadi murung saat ibunya menyebut nama Angga. Nama yang merupakan sumber dari maslahnya. Viviane mengingat kembali, gara-gara Angga dirinya mengalami kejadian buruk berulang kali.
“Vi, semua ini bukan salah Angga. Justru Ibu merasa kasihan dengan Angga karena dia seakan jadi kambing hitam dari semua masalah yang terjadi. Dia tidak melakukan kesalahan apapun pada kamu tapi seolah yang menyebabkan semua masalah ini adalah Angga.”
“Ibu mohon, seandainya Angga datang kesini untuk melihat keadaan kamu, tolong jangan usir dia. Hargailah perjuangaan dia selama ini. Ibu yakin Angga mencintai kamu dengan tulus. Kalau tidak, mungkin dia akan menbiarkan kamu saat Ibu mengabarkan bahwa kamu diculik saat itu.”
Deg
Viviane memang tidak tahu bagaimana Angga bisa tahu kalau saat itu dirinya diculik dan disekap. Setelah tahu cerita dari Ibunya, bahwa Ibunya lah yang menghubungi Angga untuk dimintai tolong, ada secuil rasa bersalah dalam diri Viviane.
“Vivi mau tidur dulu Bu.” Pamit Viviane tanpa menanggapi ucapan Ibunya.
Dengan tidak ada penolakan dari Viviane setelah membicarakan Angga, Ibunya berinisiatif untuk menghubungi Angga agar menemui Viviane. Siapa tahu Viviane sudah bisa menerima Angga kembali.
***
Angga kini sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya setelah mendapat telepon dari Ibu Viviane. Senyum mengembang dari sudut bibir Angga. Weekend besok Angga akan terbang ke kota B. dia tidak sabar ingin bertemu dengan Viviane. Meskipun Ibu Viviane tadi sudah mengatakan untuk tidak berharap banyak, setidaknya ada kesempatan untuk bertemu dan melihat wajah Viviane secara langsung.
__ADS_1
“Aku nggak sabar ingin bertemu denganmu Vi. Aku janji setelah kamu sembuh, aku akan segera menikahi kamu dan akan membawa kamu pergi jauh dari sini. aku janji akan membahagiakan kamu.” Gumam Angga.
***
Sementara itu sejak kabur ke luar negeri dengan memakai identitas palsu, Alfa kini tinggal di Aussie. Negara dimana Mamanya berasal. Alfa yang dulu menolak saat akan dikirim Papanya ke Aussie, kini dengan sukarela dia justru tinggal di negara itu. Untung saja identitas palsunya tidak diketahui oleh pihak bandara saat sebelum dia terbang ke Aussie. Alfa merasa sedikit lega.
Alfa menyerahkan urusan perusahaan pada asistennya. Bahkan kedua oraang tuanya pun tidak tahu kepergiannya. Karena Alfa tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui masalah yang tengah dia alami.
Jujur saja ada rasa bersalah yang bersarang di hati Alfa setelah melecehkan Viviane. Alfa yang sebelumnya sudah berhubungan baik dengan Viviane terpaksa harus melukai Viviane demi dendamnya pada Angga. Kini tinggal penyesalan yang menyelimuti hati Alfa.
“bagaimana reaksi kamu jika nanti bertemu denganku lagi Vi?” Tanya batin Alfa.
Entah mengapa semenjak dia tinggal di Aussie, Alfa sering kali mimpi buruk tentang Viviane. Seperti ada ikatan yang tak kasat mata diantara dirinya dan Viviane. Bukan ikatan layaknya seorang kekasih. Tapi entahlah, Alfa juga tidak tahu apa namanya. Yang pasti tiap kali Alfa sedang sendiri dia selalu terbayang dengan wajah Viviane terakhir saat dia melakukan pelecehan itu.
“Maafkan aku Vi. Aku memang bodoh! Hanya karena dibutakan oleh dendam, aku harus mengorbankan wanita yang tidak bersalah seperti kamu.” Gumam Alfa frustasi sambil menenggak sebotol wine yang sedang dia pegang.
Drt drt
Alfa melihat ada notifikasi pada ponselnya berupa pesan yang dikirim oleh asistennya.
“Mama Tuan Alfa beberapa kali datang ke kantor menanyakan keberadaan Tuan.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1