
Setelah meminum teh manis buatan suaminya, Viviane memilih untuk tidur kembali. Entah mengapa badannya sangat terasa lemas dan hanya ingin tidur saja. Sedangkan Angga membiarkan istrinya tidur.
Malam harinya Angga memasak makan malamnya sendiri karena istrinya masih saja tidur. Mungkin setelah makan malam, Angga akan membangunkan istrinya dan akan mengajaknya makan malam.
“Kamu masak sendiri?” Tanya Andrew yang tiba-tiba masuk ke ruang makan.
“Iya. Aku hanya membuat spaghetti. Apa kamu mau?” Tanya Angga dan Andrew mengangguk.
“Bagaimana keadaan Viviane?” Tanya Andrew.
Sambil menyiapkan dua piring spaghetti untuk dirinya dan juga Andrew, Angga menceritakan tentang keadaan Viviane yang lemah. Angga menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter tadi kalau istrinya harus banyak istirahat karena usia kandungannya masih sangat rentan.
“Ndrew, apakah setelah kandungan Viviane kuat nanti aku boleh mengajaknya pulang ke Indonesia?” Tanya Angga hati-hati.
Sebenaranya sudah lama Angga ingin menanyakan hal itu pada Andrew untuk mengajak istrinya pulang. Tapi Angga juga merasa tidak enak dengan Andrew yang sudah menolongnya. Dia juga sudah dipercaya oleh Andrew untuk menangani kliniknya. Dan baru sekarang Angga memberanikan diri bertanya pada Andrew.
Sementara Andrew yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Angga, dia hanya terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu. Seperti ada rasa tidak ikhlas untuk melepaskan sesuatu. Tapi dirinya pun tidak tahu itu apa. Tapi jika dirinya melarang Angga dan istrinya untuk pulang, rasanya sangat tidak adil. Karena memang keadaan Viviane sudah pulih. Tapi Angga juga saat ini sedang menangani kliniknya.
“Ehm, iya. Tapi setidaknya sampai kandungan istrimu sudah kuat untuk diajak melakukan penerbangan jauh.” Jawab Andrew kemudian.
Angga tersenyum menanggapi jawaban Andrew. Angga juga sangat salut dengan sahabatnya itu terlebih juga ikut memperhatikan kesehatan istrinya.
Selesai makan malam, Angga masuk ke kamar untuk membangunkan istrinya. Angga melihat Viviane masih sangat pulas tidurnya hingga membuat Angga tidak tega membangunkannya. Tapi Angga ingat kalau istrinya belum makan dan tadi hanya makan sedikit, itupun kemudian memuntahkannya.
“Sayang! Bangun yuk makan dulu.” Bisik Angga pelan.
Viviane menggeliatkan tubuhnya saat sayup-sayup dia mendengarkan suara suaminya sedang memanggilnya. Perlahan dia mengerjapkan matanya.
“Jam berapa ini Mas? Sepertinya aku tidur cukup lama.” Tanya Viviane sambil memposisikan tubuhnya duduk.
“Jam 8 Sayang. Kamu mau makan apa? Apa kamu mau makan sesuatu?” Tanya Angga.
“Aku mau makan roti panggang saja Mas. Mas bisa buatin?” Tanya Viviane.
“Baiklah. Sambil nunggu, kamu bersihkan tubuh kamu dulu ya. Nanti setelah itu kamu tunggu di meja makan.” Jawab Angga dan Viviane mengangguk.
__ADS_1
Angga mulai membuatkan roti panggang untuk istrinya. Namun sayang ternyata roti tawarnya tinggal dua lembar saja. Angga yang tidak begitu tahu tentang urusan dapur atau stok makanan dalam dapur, dia tidak tahu kalau roti tawarnya habis.
“Mas, sudah selesai? aku sudah sangat lapar nih. Sekalian sama susu hangatnya juga ya.” Ucap Viviane yang sudah berada di meja makan dengan wajah yang segar.
“Sayang, ini roti tawarnya tinggal 2 saja. Dan susunya juga habis. Kamu makan ini dulu ya sementara. Setelah ini kita keluar untuk berbelanja.” Ucap Angga.
Viviane pun mengangguk. Kemudian dia memakan roti panggang yang dibuat suaminya dengan lahap. Entah kenapa Viviane malam ini merasa tubuhnya sudah kembali sehat tidak seperi siang tadi. angga juga ikut senang melihat istriunya sudah kembali sehat tidak seperti taadi siang.
Setelah makan roti panggangnya, Angga mengajak Viviane untuk pergi ke supermarket berbelanja. Selain membeli roti tawar dan beberapa bahan makanan, Angga juga akan membelikan istrinya susu untuk ibu hamil. Karena biasanya yang ada di rumah hanya ada susu biasa bukan khusus ibu hamil.
“Mas, kita jalan kaki saja. Supermarketnya juga tidak terlalu jauh.” Ucap Viviane.
“Tapi Sayang, kamu nanti kecapekan.” Jawab Angga.
“Nggak Mas. Aku juga ingin jalan-jalan menikmati udara malam. Lagian juga Andrew keluar pakai mobilnya. Aku nggak mau naik taksi.” Ucap Viviane kemudian.
“Ya sudah ayo. Nanti kamu bilang ya kalau capek.” Ajak Angga sambil menggandeng tangan istrinya.
Kini Angga sudah masuk ke supermarket. Dia mengambil troli sebagai tempat untuk meletakkan belanjaannya nanti. Viviane tampak antusias sekali memilih berbagai bahan makanan. Dia juga sibuk membandingkan beberapa susu untuk ibu hamil.
Selesai memenuhi trolinya, Angga segera membayarnya. Kemudian mengajak Viviane pulang. Angga tampak menenteng tiga paper bag yang berisi barang belanjaannya. Viviane meminta salah satu paper bag itu namun Angga menolaknya.
“Mas, ayo kita singgah ke café itu dulu.” Ajak Viviane sambil menunjuk ke sebuah cafe kecil yang berada di seberang jalan.
“Memangnya mau makan apa Sayang? Kamu nggak capek?” Tanya Angga.
“Nggak Mas, aku hanya ingin minum Cappucino saja Mas. Boleh ya?” jawab Viviane.
“Tapi kamu kan lagi hamil Sayang. Jangan minum minuman yang berkafein!” ucap Angga.
“Sekali ini saja Mas.” Ucap Viviane merajuk.
Angga yang tidak tega melihat wajah memohon istrinya akhirnya mengabulkan permintaan sang istri. Anggap saja saat ini istrinya sedang ngidam minum Cappucino. Tapi tidak akan dia biarkan jika besok meminta lagi untuk minum minuman itu.
Kini Angga dan Viviane sedang duduk berdua sambil menikmati secangkir Cappucino hangat. Angga sangat senang melihat wajah ceria sang istri. Ditambah lagi saat ini sedang ada makhluk kecil dalam rahimnya.
__ADS_1
Setelah menghabiskan Cappucinonya, Angga segera mengajak istrinya pulang. Karena terlalu lama menghirup udara malam sangat tidak baik bagi kesehatan istrinya yang sedangt hamil.
Sesampainya di rumah, Viviane segera masuk ke dalam kamarnya. Karena sudah merasa ngantuk. Sementara Angga membongkar isi belanjaannya dan mengambil susu yang sudah dibeli istrinya tadi. angga segera membuatkan susu untuk istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
“Sayang, minum susunya terlebih dulu. Setelah itu minum obatnya.” Ucap Angga.
“Terima kasih Mas!” jawab Viviane.
***
Kini usia kehamilan Viviane sudah dua bulan. Selama itu
Viiviane sering merasa mual bahkan muntah. Terutama saat pagi sampai siang. Dan anehnya jika malam, rasa mual itu seolah sudah hilang. Dan membuat ***** makannya meningkat. Angga pun dengan sabar menghadapi istrinya yang mengalami morning sickness. Ditambah lagi moodnya yang sering berubah-ubah.
Pagi ini seperti biasa, Angga akan pergi ke klinik. Dan istrinya masih tidur dengan pulas. Angga membiarkannya saja daripada dibangunkan dan akan membuatnya mengalami mual dan muntah.
Ponsel Angga tiba-tiba berdering. Dia mengernyit heran saat melihat id pemanggil itu yang tak lain adalah Mike. Untuk apa Mike menghubunginya. Apakah ada hal penting yang harus disampaikan hingga Mike meneleponnya.
“Ya halo Mike?”
“Ngga, Papa kamu sedang di rawat di rumah sakit dan keadaannya sangat kritis. Beliau terus memanggil nama kamu. Lebih baik kamu pulanglah!” ucap Mike.
“Aku masih belum bisa memaafkan kesalahannya Mike.” Jawab Angga.
“Semua orang pasti punya kesalahan Ngga. Mungkin saja setelah kamu menemui dan memaafkan kesalahan Papa kamu, beliau bisa pergi dengan tenang.” Ucap Mike.
Tak ada jawaban dari Angga. Dia segera memutuskan panggilannya. Angga bingung apakah dia harus pulang dan menemui Papanya. Apakah dirinya bisa memaafkan kesalahan Papanya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1