Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 50


__ADS_3

“Viviane!!!! Stop!!!”


“Baiklah aku akan pergi.” Ucap Angga dengan nafas terengah.


Seketika itu Viviane menghentikan langkahnya kemudian berjalan mundur. Angga terpaksa harus mengatakan itu karena dia tidak mau melihat Viviane pergi dari hidupnya selamanya dengan cara yang tragis. Mungkin lebih baik dia mengalah terlebih dahulu. Nanti dia akan memikirkan cara agar bisa membuat Viviane kembali lagi padanya.


Angga dan Viviane sama-sama diam. Kemudian Viviane menghentikan taksi dan segera pergi meninggalkan Angga. Lebih tepatnya meninggalkan kota ini. Kota yang lagi-lagi menorehkan luka mendalam bagi Viviane. Viviane memutuskan untuk pulang ke kota B.


Selepas kepergian Viviane, Angga kembali ke apartemennya. Ternyata disana masih ada Laura yang setia menunggunya di depan pintu unit apartemennya. Angga enggan sekali melihat wajah Laura. Angga yakin pasti ada campur tangan Laura di balik masalah ini.


“Mas Angga. Kamu dari mana?” Tanya Laura.


“Bukan urusan kamu. Aku akan cari bukti siapa orang yang telah menjebak aku dan Viviane. Dan kamu, pergi dari sini sekarang juga!” ucap Angga dengan suara dingin dan tegas.


Seketika nyali Laura menciut. Dia sedikit khawatir jika Angga mengetahui semuanya, meskipun dia sudah berhasil meretas rekaman CCTV apartemen. Lebih baik sekarang dia pergi dari sini.


***


Keesokan harinya Viviane terbangun dari tidurnya dengan badan yang sedikit kurang sehat. Semalam setelah melakukan perjalanan udara akhirnya dia tiba juga di kota kelahirannya. Kedua orang tuanya sangat terkejut saat melihat kedatangan putri satu-satunya seorang diri tanpa suaminya dan dalam keadaan yang jauh dari kata baik-baik saja.


Viviane memeluk kedua orang tuanya dan menumpahkan air matanya yang sejak dalam perjalanan tadi berusaha ia tahan. Viviane yakin hanya pelukan orang tua lah yang mampu mengobati luka di hatinya.


“Ada apa Nak?” Tanya Ibu Viviane.


Viviane masih terisak dalam tangisnya sambil menggelengkan kepalanya. Rasanya dia tidak sanggup untuk menceritakan semua ini. Dia takut akan membuat orang tuanya juga ikut merasakan sakit.


“Bilang sama ayah Vi, ada apa?” Tanya ayahnya.


Bruk


Tiba-tiba Viviane jatuh pingsan. Ibunya sangat terkejut melihat kondisi putrinya yang sangat pucat dan lemah. Akhirnya ayahnya membawa Viviane ke kamarnya. Mungkin memang waktunya belum tepat untuk Viviane menceritakan semua ini. Kemudian kedua orang tuanya membiarkan Viviane untuk tidur setelah berhasil memasukkan obat ke dalam mulutnya dengan keadaan mata yang tertutup.

__ADS_1


Dan kini Viviane sudah bangun. Dia melihat sekelilingnya. Dia sudah ingat kalau saat ini sedang berada di dalam kamarnya sendiri. Viviane kembali meneteskan air matanya, meratapi kepedihan dalam hidupnya.


Ceklek


“Sudah bangun Vi?” Tanya Ibunya yang tiba-tiba masuk dan membawakan bubur.


“Sudah, Bu.” Jawab Viviane.


Tanpa banyak bicara, ibunya duduk di samping Viviane dan menyuapkan bubur yang telah dibawanya tadi. Viviane membuka mulutnya menerima suapan dari Ibunya. Setelah selesai, ibunya beranjak dari duduknya dan membiarkan Viviane untuk istirahat lagi.


Selepas kepergian ibunya. Viviane segera masuk ke kamar mandi. dia ingin membersihkan tubuhnya kemudian menemui kedua orang tuanya. Dia harus secepatnya menceritakan masalahnya pada kedua orang tuanya.


Beberapa saat kemudian Viviane sudah keluar dari kamarnya. Dia melihat ayahnya sedang bersantai ibunya. Biasanya kedua orang tuanya jam segini sibuk di tokonya. Mungkin mereka sengaja untuk tidak pergi ke tokonya karena melihat anaknya yang sedang tidak baik.


“Ayah, Ibu!” panggil Viviane lirih.


Kedua orang tuanya menoleh pada Viviane. Kemudian ibunya meminta Viviane untuk duduk. Dan Viviane mengangguk. Ayah dan Ibunya sudah menguatkan hatinya untuk mendengarkan masalah yang tengah dihadapi oleh anaknya. bagaimanapun juga Viviane adalah anak satu-satunya yang berhak mendapatkan perlindungan jika sedang menghadapi masalah. Bukan menghakiminya.


“Ada apa Nak? Ceritakan sama ayah dan ibu.” Tanya sang ayah.


Ayah dan ibu Viviane benar-benar sangat terkejut dengan berita ini. Mereka tidak menyangka jika nasib anaknya akan seperti ini. Ibu Viviane menatap nanar wajah Viviane yang kini sudah menumpahkan air matanya. Sedangkan sang ayah tiba-tiba saja merasakan dadanya sangat sesak dan jantungnya berdetak sangat cepat.


“Maafkan Vivi yang selalu memberikan masalah pada Ayah dan Ibu.” Ucap Viviane lagi.


Kemudian ibunya berhambur memeluk Viviane. Ibunya sudah berjanji dengan sang ayah sebelumnya. Apapun masalah yang menimpa anaknya. dia akan tetap melindungi dan menjaga Viviane. Tidak memaki ataupun menghakiminya.


“Ceritakan semuanya saama Ayah dan Ibu!” perintah sang Ayah dengan suara selembut mungkin. Meskipun sambil menahan sesak di dadanya.


Viviane mengusap air matanya dan menarik nafasnya dalam. Kemudian dia mulai menceritakan semua masalah yang telah dia alami mulai dari awal hingga menyebabkan Edwin menceraikannya. Viviane kembali terisak setelah selesai menceritakan masalahnya.


“Sudah, jangan nangis lagi! Ayah dan Ibu selamanya akan menyayangi kamu. Kamu tidak perlu khawatir. Ambil saja hikmahnya dari masalah ini. Mungkin memang kamu dan Edwin hanya ditakdirkan sampai pada tahap ini.” Ucap sang Ibu.

__ADS_1


Viviane sedikit merasakan lega. Dia sangat beruntung memiliki kedua orang tua yang sangat menyayanginya. dia kembali berhambur memeluk ayah dan ibunya.


“Ya sudah jangan terlalu dipikirkan lagi. Tunggu saja surat cerai dari Edwin. Setelah itu kamu mulai kehidupan kamu lagi. Ayah harap kamu tinggal disini saja menemani Ibu.” Ucap ayah Viviane kemudian beranjak meninggalkan istri dan anaknya.


***


Sementara itu Edwin hari ini tidak datang ke kantor. dia benar-benar sangat terpuruk. Mamanya sudah menguruskan akta cerainya dengan Viviane. Edwin tidak menyangka akan ada badai sebesar ini dalam pernikahannya yang terbilang masih seumur jagung. Dia tidak menyangka kalau istrinya ternyata telah menghianatinya. Edwin kembali merasa tersakiti untuk yang kedua kalinya. Tapi dengan Viviane, rasa cintanya sangat besar dibandingkan dengan Gracia saat itu. Edwin yang sudah melabuhkan seluruh jiwa dan raganya untu Viviane namun ternyata mendapat balasan yang sangat menyakitkan.


Ting tong


Ada seseorang yang datang ke apartemen Edwin. Dia mengira yang datang adalah kurir makanan delivery order. Namun saat Edwin membuka pintu ternyata bukan, melainkan Angga.


“ada apa lagi kamu kesini?” Tanya Edwin dingin.


“Aku perlu bicara dengan kamu” balas Angga.


“Apa lagi yang ingin kamu bicarakan? Bukankah kamu sudah puas sudah bisa merebut Viviane lagi? Sekarang kamu bisa tenang menjalin hubungan dengannya lagi. Karena sebentar lagi surat ceraiku dengan Viviane akan selesai.” Ucap Edwin.


“Perlu kamu tahu. Aku tidak pernah merebut Viviane dari kamu apalagi dengan cara licik seperti yang kamu lihat. Aku dan Viviane hanya dijebak.” Ucap Angga.


Namun Edwin sama sekali tidak percaya dengan ucapan Angga. Cukup melihat bukti noda bekas kissmark pada leher Viviane sudah cukup membuktikan bahwa istrinya sudah berselingkuh.


“Kalaupun Viviane benar-benar selingkuh denganku, dia tidak akan meminta aku pergi jauh dari hidupnya dan dia pergi meninggalkan kota ini.” Ucap Angga tegas.


“Apa maksud kamu?” Tanya Edwin bingung.


“Aku dan Viviane hanya dijebak. Dan aku akan mencari orang yang melakukan itu semua. Aku tidak peduli Viviane memintaku pergi jauh dari hidupnya, asalkan dia bisa menjalani hidup barunya dengan tenang. Satu lagi aku peringatkan padamu. Jangan pernah lagi kamu mendekati Viviane, karena dia hanya milikku!!” ancam Angga dan segera pergi meninggalkan Edwin yang massih terdiam di depan pintu.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2