Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 74


__ADS_3

Angga membawa istrinya jalan-jalan di sekitar danau Lugano. Karena suasananya yang tidak begitu ramai. Angga menghentikan mobilnya dan mengajak istrinya keluar.


“Kamu mau ice cream?” Tanya Angga dan Viviane mengangguk.


“Kamu tunggu disini dulu, aku beliin ice creamnya.” Ucap Angga.


Viviane duduk di tepi danau. Hatinya merasa damai dengan menikmati keindahan pemandangan danau Lugano. Dia sadar apa yang baru saja terjadi padanya saat berada di klinik Andrew tadi. tapi kini dia sudah merasakan tenang hatinya.


“Nih, aku beli 2 varian rasa. Kamu pilih yang coklat atau vanilla?” Tanya Angga sambil menyodorkan 2 buah cup ice cream.


“Aku mau yang vanilla saja. Terima kasih.” Ucap Viviane.


Setelah itu mereka berdua duduk memakan ice cream sambil menikmati udara segar di sekitar danau. Kebetulan saat ini sedang musim semi. Jadi pemandangan sekitar danau tampak hijau dengan pepohonan yang rindang.


Selama menjalani pengobatannya di Swiss, Angga dan Viviane tinggal di rumah Andrew. Sebenarnya Angga tidak enak jika terlalu banyak merepotkan temannya. Angga memilih untuk tinggal terpisah dengan Andrew dan mencari rumah kecil yang bisa ia singgahi dengan istrinya.


“Kamu tinggal disini saja. Rumah ini masih cukup untuk kamu tinggali bersama istri kamu.” Jawab Andrew saat Angga mengungkapkan niatnya.


“Aku takut kehadiranku mengganggu privasi kamu.” Ucap Angga.


“Tenanglah brother. Justru aku sangat senang ada kamu dan istri kamu tinggal disini. Rumah ini jadi ramai karena ada penghuninya. Sebelum kamu kesini, bahkan aku jarang pulang kesini.” Ucap Andrew.


Angga akhirnya menuruti permintaan Andrew. Mau bagaimanapun juga Andrew telah menolongnya, jadi tidak mungkin jika menolak permintaan temannya itu agar tetap tingga disini.


***


Proses terapi yang dilakukan Andrew terhadap Viviane sudah berjalan kurang lebih enam bulan. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada Viviane. Angga juga sangat senang melihat isstrinya c yang sudah hampir sembuh dari traumanya. Itu karena niat dari Viviane sendiri yang begitu semangat untuk sembuh.


Sebenarnya tidak banyak obat yang diberikan oleh Andrew pada Viviane. Mungkin hanya obat penghilang rasa sakit saja jika kondisi Viviane memang sedang tidak fit. Karena terapi yang dilakukan Andrew yaitu sering mengajak Viviane bersosialisasi dengan dunia luar. Vviane yang termasuk salah satu orang yang supel, jadi dia lebih cepat akrab dengan situasi sekitarnya.


Dan selama menjalani terapi dan tinggal di Swiss, Andrew meminta bantuan Angga untuk mengelola kliniknya. Selama ini Andrew lah yang menanganinya sendiri dan dia juga merasa kuwalahan. Jadi apa salahnya jika meminta bantuan pada Angga.

__ADS_1


Sedangkan Angga juga tidak keberatan untuk membantu mengelola klinik Andrew khususnya menangani administrasinya. Angga anggap ini juga sebagai balas budinya karena telang menolong istrinya.


Kini Viviane sudah berada di dalam kamarnya setelah menyelesaikan makan malamnya. Sedangkan Angga masih terlibat pembicaraan dengan Andrew. Viviane mematut dirinya di depan cermin. Dia merasakan banyak perubahan pada dirinya. Khususnya trauma yang pernah ia alami sudah perlahan sembuh.


Ceklek


Angga masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang duduk di depan meja rias. Dengan pakaian tidurnya. Angga menelan salivanya saat melihat leher jenjang istrinya. Angga sangat sadar kalau dia juga pria normal yang membutuhkan belaian. Tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.


Bahkan sampai selama ini semenjak pernikahannya dengan Viviane yang sudah hampir satu tahun, Angga masih bersabar untuk menunggu moment itu.


“Mas!” lirih Viviane.


Angga sungguh terkejut dengan panggilan yang baru saja diucapkan oleh Viviane. Apakah dia tidak salah dengar. Jujur saja jika benar Viviane memanggilnya dengan sebutan “Mas”, Angga sangat senang mendengarnya.


“Mas!” panggil Viviane lagi.


“Kamu memanggilku Vi?” Tanya Angga dan Viviane mengangguk malu.


Angga segera melangkah menghampiri istrinya. Angga sangat senang sekali mendengar panggilan yang mungkin sederhana tapi bisa membuat Angga seperti terbang di angkasa. Angga mengecup kening istrinya sambi tersenyum seakan membalas panggilan baru yang baru saja diberikan oleh istinya.


Setelah Angga masuk ke dalam kamar mandi, Viviane merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tapi tidak tidur. Dia memposisikan tubuhnya dengan bersandar pada hardboard ranjang. Entah kenapa Viviane merasa sangat gugup menanti suaminya keluar dari kamar mandi. padahal sejak tadi siang dia sudah memantapkan hatinya untuk sepenuhnya dimiliki oleh suaminya. Tapi kenapa saat ini dia sangat gugup dan tubuhnya sedikit hangat.


Terdengar pintu kamar mandi terbuka, Viviane semakin gugup. Tapi dia sudah bertekat untuk menyerahkan seluruh tubuh dan hatinya untuk suami tercintanya malam ini.


“Kenapa belum tidur?” Tanya Angga yang kini sudah berganti baju tidur.


“Oh, itu. Nggak aku…” jawab Viviane terbata dan tidak mampu melanjutkan perkataannya.


Angga bingung dengan istrinya yang terlihat sangat gugup saat berbicara dengannya. Kemudian Angga merangkak naik ke atas ranjang mendekati istrinya. Dan Angga memegang keningnya.


“Apa kamu sedang sakit?” Tanya Angga.

__ADS_1


“Nggak, Mas. Aku baik-baik saja.” Jawab Viviane.


“Ya sudah ayo kita tidur. Sudah malam juga. tidak baik untuk kesehatan jika tidur terlalu malam.” Ucap Angga.


Angga merebahkan tubuhnya disamping Viviane seperti biasanya. Viviane semakin bingung bagaimana cara mengawalinya. Sedangkan Angga yang dapat melihat gelagat aneh pada istrinya, dia menatap wajah Viviane.


“Ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu but-“


“Mas, aku sudah siap melakukannya malam ini. aku siap menyerahkan tubuhku untukmu. aku siap menjadi milikmu seutuhnya” Ucap Viviane cepat dengan satu tarikan nafas.


Angga terperangah mendengar ucapan istrinya baru saja. Apakah dia sedang bermimpi. Tapi Angga sadar kalau dirinya sama sekali belum tidur.


“sayang, apa benar yang kamu ucapkan baru saja?” Tanya Angga meyakinkan dan Viviane mengangguk.


Angga kini merasakan terbang ke angkasa dengan ditemani berjuta bintang yang berkelip di langit. Angga sangat bahagia. Bahkan dia sangat susah menggambarkan rasa bahagianya saat ini. saat isstrinya sudah yakin untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raganya. Akhirnya penantian dan kesabaran Angga selama ini membuahkan hasil.


Dan malam itu tepat di usia pernikaahannya yang ke delapan bulan, Angga akhirnya bisa menunaikan kewajibannya sebagai suami yang sesungguhnya.


Hawa dingin di negara Swiss jika malam hari tampaknya tidak berlaku bagi pasangan yang saat ini sedang memadu kasih itu. Mereka layaknya pengantin baru yang sedang melakukan bulan madunya. Angga menumpahkan semua rasa cintanya untuk wanita yang sejak dulu hingga sampai saat ini selalu tertanam dalam hatinya, yaitu Viviane. Wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.


Cup


Angga mengecup kening Viviane setelah mengakhiri pegulatan panas itu. Viviane tersenyum, setelah itu menutup matanya sambil memeluk tubuh kekar sang suami.


“Terima kasih Sayang. I Love You” ucap Angga.


Meskipun tidak mendapatkan balasan dari Viviane karena dia sudah terlelap akibat kelelahan, Angga sudah tahu jawabannya kalau istrinya juga mencintainya.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2