Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 44


__ADS_3

Viviane yang baru saja dari toilet sangat terkejut mendengar bahwa Angga adalah calon suami dari Laura. Dan acara pertunangan mereka juga akan segera dilaksankan. Entahlah kenapa dalam hati Viviane ada sedikit rasa tidak rela. Bukankah tempo hari dia sudah menyuruh Angga agar meraih kebahagiaannya dengan Laura. Tapi kenapa sekarang justru dia tidak rela.


Apalagi sekarang Laura sudah mengetahui semua masa lalunya dengan Angga. Jadi Viviane berpikir bahwa Laura memang sengaja mengumumkan kabar pertunangannya untuk memanas-manasi dirinya.


Viviane yang tadi hendak masuk dan bergabung dengan keluarga suaminya mendadak mengurungkan niatnya. Dia keluar dari ballroom dan pergi ke salah satu tempat yang baginya cukup sepi. Dia ingin mendinginkan hatinya.


Viviane menyayangkan sekali suaminya tidak ikut hadir dalam acara ini. Setidaknya kalau ada Edwin, dia akan merasa tenang. Namun entahlah suaminya yang katanya hanya empat hari menangani perusahaan di kantor cabang harus menunda lagi kepulangannya.


“Hai Vi!” sapa seseorang yang tiba-tiba berada disamping Viviane.


Saat ini Viviane sedang duduk di salah satu sofa yang ada di lobi hotel. Viviane tampak terkejut dengan kehadiran pria yang saat ini berdiri di sampingnya.


“Rian? Kamu juga diundang?” Tanya Viviane penasaran.


“Ah tidak. Aku tadi habis makan malam dengan klienku. Kenapa kamu sendirian disini?” Tanya Rian.


“Aku hanya ingin sendiri saja. Bosen di dalam.”


Akhirnya Viviane duduk ditemani oleh Rian. Mereka berdua terlihat sangat asyik berbincang-bincang. Rian yang awalnya mendekati Viviane untuk mewujudkan misi balas dendamnya, kini pria itu hatinya sedikit goyah. Rian sedikit tertarik dengan Viviane. Menurut Rian, Viviane adalah wanita yang baik. Dia juga cantik. Tapi setelah itu Rian berusaha untuk kembali pada niat awalnya. Dia tidak boleh jatuh cinta dengan Viviane. Dia harus membuat Viviane menderita. Dengan begitu seorang Angga pasti juga sangat menderita.


“Bagaimana kalau aku tunjukkan ke kamu tempat yang sangat bagus?” ajak Rian pada Viviane.


“maksud kamu tempat apa?” Tanya Viviane bingung.


“Aku tahu kalau kamu sedang suntuk. Aku akan ajak kamu ke tempat yang sangat bagus. Dan aku jamin kamu bisa menghilangkan penat kamu Vi.”


Tanpa mendengar persetujuan dari Viviane, Rian segera menggandeng tangan Viviane keluar hotel. Rian sudah tersenyum licik. Dia akan memulai permainannya. Karena Rian benar-benar sangat marah saat mendengar kabar pertunangan Laura dengan Angga.


“Mas Edwin??” teriak Viviane saat melihat keberadaan suaminya di depan matanya.

__ADS_1


Viviane segera melepas tangannya yang tadi sempat digandeng oleh Rian dan segera berlari memeluk suaminya.


Edwin menyambut pelukan hangat istrinya. Namun dia harus bisa menahan amarahnya saat mengetahui istrinya bergandengan tangan dengan pria lain.


“Sial!” umpat Rian dalam hati saat menyadari bahwa rencananya gagal.


Edwin segera mengajak istrinya untuk pulang ke apartemennya tanpa mempedulikan keberadaan Rian. Meskipun Viviane sempat meminta maaf pada Rian.


Edwin yang rencananya pulang besok pagi, mendadak harus pulang malam ini juga karena sore tadi tiba-tiba saja dia mendapatkan pesan dari seseorang yang tidak ia ketahui yang mengatakan agar menjaga istrinya dari bahaya.


Edwin saat itu tidak mempedulikan pesan itu. Dia pikir itu hanya orang iseng atau oraang salah kirim pesan. Namun, orang itu mengirim pesan lagi. Dan mengatakan agar melindungi Viviane dari bahaya. Seketika itu Edwin memutuskan untuk pulang ke kota J. dia tidak mempedulikan lagi siapa pengirim pesan misterius itu. Yang terpenting adalah keselamatan istrinya. Dan benar saja saat dia tiba di hotel, Edwin melihat istrinya sedang bersama seseorang yang sudah pernah ia temui sebelumnya.


“Mas, lama sekali sih perginya!” Viviane merajuk pada suaminya.


Kini mereka sedang berada di dalam mobil dalm perjalanan pulang ke apartemen. Edwin yang tadinya ingin marah karena perbuatan istrinya dengan priaa yang bernama Rian, seketika amarahnya hilang saat mendengar suara manja istrinya. Dan kini berubah menjadi rasa bersalah. Bersalah kaarena telah meninggalkan istrinya selama beberapa hari. Dan untuk orang misterius yang mengirim pesan padanya, Edwin tidak akan menceritakan dulu pada istrinya. Dia harus menyelidiki dulu siapa sebenarnya orang itu.


“Maafin aku ya Sayang. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi.” Ucap Edwin sambil mengacak rambut istrinya.


“Mas Angga! Ngapain disini?” Tanya Laura cemberut.


“Bukan urusan kamu!” jawab Angga dingin.


“Mas Angga kenapa sih?”


“Aku kenapa? Tanyakan pada diri kamu sendiri. Kamu seenaknya sendiri meminta Om Wilson agar mengumumkan berita pertunangan kita. Kamu tahu nggak? Sampai kapan pun aku nggak akan pernah mengabulkan permintaan Papa kamu itu!” ucap Angga yang membuat Laura terkejut.


“Apa maksud Mas Angga?”


“Apa perlu aku perjelas lagi? Sampai kapan pun aku tidak akan sudi bertunangan dengan kamu!”

__ADS_1


“Apa Mas Angga masih mencintai Viviane? Sadar Mas, dia sudah bersuami!!”


Angga terkejut dengan ucapan Laura. Dari mana dia tahu kalau dirinya masih mencintai Viviane. Dan yang membuat Angga lebih tidak percaya lagi adalah Laura mengetahui bahwa dirinya pernah berhubungan dengan Viviane. Apa saja yang telah diketahui oleh Laura. Angga terus bertanya dalam hati.


“Kenapa? Mas Angga kaget aku tahu kalau kalian pernah menjalin hubungan? Aku akan melakukan apapun pada Viviane karena sudah merebutmu dariku!” ancam Laura.


Angga meradang mendengar itu semua. Dia harus bertindak sesuatu agar tidak terjadi sesuatu dengan Viviane. Angga benar-benar frustasi. Dia seperti memakan buah simalakama. Jika dirinya mendekati Laura, Alfa akan menyakiti Viviane. Dan sebaliknya jika menajauhi Laura, keselamatan Viviane juga terancam.


“Kamu jangan pernah macam-macam dengan Viviane!! Kamu akan tahu akibatnya jika sampai kau menyakiti Viviane!” ancam Angga pada Laura.


Setelah itu Angga pergi meninggalkan Laura yang masih terdiam. Angga bingung apa yang harus ia lakukan saat ini. Dia menghubungi Mike untuk mengajaknya bertemu. Karena hanya dengan Mike, Angga bisa mendapatkan solusi terbaik demi keselamatan Viviane.


Beberapa saat kemudian, Angga sudah duduk di salah satu café menunggu kedatangan Mike. Tidak lama kemudian Mike datang. Angga menceritakan semuanya tentang apa saja yang baru terjadi. Angga berharap Mike dapat memberinya solusi. Karena saat ini kepanya benar-benar terasa pusing dan tidak bisa berpikir jernih.


“Kamu temui saja Edwin!” ucap Mike setelah berpikir beberapa menit.


“Apa maksud kamu? Yang benar saja aku menemui rivalku?” protes Angga.


“Kamu mau Viviane aman nggak sih? Memang jalan satu-satunya hanya itu. Yang bisa memberi kenyamanan dan keamanan buat Viviane memang hanya suaminya, Edwin” ucap Mike.


Angga menggelengkan kepalanya pelan. Rasanya tidak mungkin dia menemui rivalnya sendiri. Namun saat mendengar penjelasan Mike agar menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada Edwin, rasanya memang hanya itu satu-satunya cara agar Viviane aman.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Ayo dong tinggalkan jejaknya. like, komen, gift, dan votenya biar author tmbah semangat😍😍🤗


__ADS_2