Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 63


__ADS_3

Keinginan Angga meminta restu pada Ibu Viviane untuk menikahi Viviane bukan karena dia ingin cepat memiliki Viviane seutuhnya, melainkan untuk melindungi Viviane dan juga mengobati rasa trauma Viviane yang kini muncul lagi setelah melihat kedatangan Alfa.


Angga sangat yakin dia adalah pria yang mampu melindungi Viviane. Apalagi jika mereka sudah berstatus suami istri. Angga akan sangat mudah menjaga Viviane.


Dan keesokan harinya, dengan berbagai persiapan mendadak dan juga sederhana, Angga melangsungkan pernikahannya dengan Viviane. Awalnya Viviane tidak mau saat Angga mengatakan akan menikahinya, tapi setelah diyakinkan oleh ibunya dan juga demi kesehatannya, akhirnya Viviane mau menikah dengan Angga.


Setelah beberapa saat melangsungkan acara sakral yang sederhana itu, kini Angga sudah resmi menjadi suami Viviane. Angga mengecup kening Viviane. Dia sangat bahagia dengan pernikahannya yang sederhana ini. Meskipun sikap Viviane masih terkesan dingin akibat traumanya, namun Angga tidak mempermasalahkannya. Dia berjanji akan membantu Viviane sembuh.


“Bu, Lusa Angga akan membawa Viviane pulang ke kota J. sekalian Ibu juga ikut tinggal bersama kami.” Ucap Angga pada Ibu mertuanya.


“Nak Angga bawa saja Viviane tinggal bersama Nak Angga, tapi maaf Ibu tidak bisa ikut. Ibu akan tetap tinggal disini saja. Karena Ibu tidak mau meninggalkan kenangan Ibu bersama mendiang ayah Viviane.”


Angga terdiam dengan ucapan Ibu mertuanya. Angga tahu memang tidak mudah untuk meninggalkan orang yang sangat kita sayangi, apalagi orang itu sudah meninggalkan kita. Jadi Angga tidak bisa memaksakan kehendak Ibu mertuanya. Lagi pula Ibunya juga tidak tinggal seorang diri. Masih ada beberapa saudaranya yang juga tinggal di kota ini.


“Ya sudah kalau itu kemauan Ibu. Angga juga tidak bisa memaksa.” Ucap Angga kemudian.


Setelah itu Angga menghampri Viviane yang ada di dalam kamarnya. Angga melihat istrinya kini sedang duduk di kursi dengan menghadap ke arah jendela.


“Vi, lebih baik kamu istirahaat dulu.” Ucap Angga.


Viviane masih terdiam tidak menanggapi ucapan Angga. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Viviane saat ini. Kemudian Angga duduk berjongkok di depan Viviane sambil memegang lembut kedua taangannya. Viviane seketika membuang mukanya. Dia masih belum siap melihat wajah Angga yang kini sudah menjadi suaminya.


“Vi, tidur ya. Kamu jangan takut. Aku janji tidak akan meminta hakku malam ini. Bahkan sampai kamu belum mengijinkannya. Aku sangat mencintaimu Vi, aku akan menjaga dan melindungi kamu. Percayalah denganku.” Ucap Angga.


Tanpa menjawab, perlahan Viviane melepaskan gnggaman tangannya dari Angga kemudian dia berdiri dan melangkah menuju ranjangnya untuk segera tidur. Angga tersenyum tipis. Ternyata Viviane sejak tadi takut jika dirinya meminta hakknya mala mini juga.


Setelah melihat Viviane tertidur, Angga memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia akan menghubungi Mario untuk mencarikan apartemen sederhana buat ia tinggal bersama Viviane nanti.


Angga memilih untuk beli apartemen baru saat membawa Viviane tinggal di kota J nanti. Karena tidak mungkin jika dia mengajak tinggal di apartemennya yang lama, karena unitnya dekat dengan unit milik Edwin. Dan jika Angga mengajak Viviane tinggal di rumahnya, dia juga tidak mau semakin mengingat perbuatan bejat papanya dengan Viviane dulu.


Setelah menghubungi Mario, kemudian Angga menghubungi Mike. Angga menceritakan bahwa dia sudah menikahi Viviane. Mike sangat terkejut mendengarnya. Namun Angga tidak ingin menceritakannya sekarang. Nanti saja kalau dia sudah pulang ke kota J.

__ADS_1


Angga kini sudah masuk ke dalam kamar. Dia mengganti bajunya dengan pakaian tidur yaitu celana pendek berbahan kain dan kaos tipis berwarna putih. Setelah itu Angga merebahkan tubuhnya tepat disamping istrinya.


Angga merasa sangat lega akhirnya kini sudah bisa tidur disamping orang yang sangat dia cintai. Meskipun Angga belum bisa menyentuhnya, tapi dia janji tidak akan mengingkari janinya itu. Lama-lama mata Angga tertutup rapat. Karena badannya juga sangat capek.


Keesokan paginya Angga merasakan bahwa tidurnya sangat tidak nyaman. Dia merasakan berat di atas perutnya. Dan ada hembusan nafas hangat di lehernya. Angga yang masih belum sadar, dia membuka sedikit matanya ternyata ada wanita cantik sedang tidur memeluknya. Namun saat Angga melihat wajah wanita itu ternyata Viviane yang sudah sah menjadi istrinya. Angga ingin membalas pelukan itu dan ingin mencium Viviane. Tapi seketika kesadarannya sudah kembali. Dia mengurungkan niatnya. Tapi dia juga tidak berani bergerak. Angga takut jika Viviane menganggap dirinyalah yang mencari kesempatan dalam kesempitan.


“enghhhh”


Akhirnya terdengar suara lenguhan Viviane yang sepertinya akan bangun. Dengan cepat Angga menutup kembali matanya untuk berpura-pura tidur. Karena Angga tidak mau jika Viviane menyadari perbuatannya sendiri yang akan semakin membuatnya malu.


Viviane menggerak-gerakkan kakinya sambil memeluk tubuh Angga yang dia kira guling. Angga sangat frustasi karena ada sesuatu yang tiba-tiba bangun dari tidurnya. Namun dengan kuat Angga menahannya.


Viviane perlahan membuka matanya. Dan saat matanya sudah terbuka sempurna, dia sangat terkejut. Terkejut dengan ulahnya sendiri yang memeluk Angga. Dengan gerakan cepat, Viviane melepaskan pelukannya. Kemudian dia segera pergi ke kamar mandi.


Saat mendengar pintu kamar mandi yang tertutup, Angga membuka matanya. Dia menghela nafasnya lega seperti bebas dari bencana alam.


Angga memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Dia tidak mau membuat Viviane semakin malu akibat ulahnya sendiri.


“Sudah Bu. Tadi Viviane masih memakai kamar mandinya jadi Angga memilih pakai kamar mandi di belakang saja karena Angga sudah tidak tahan menahan buang air kecil.” Ucap Angga bohong.


Kini mereka bertiga sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Viviane terdiam. Mungkin dia sangat malu karena telah lancang tidur dengan memeluk Angga. Sedangkan Angga berpura-pura tidak ada kejadian apa-apa.


Hari ini Angga sengaja memanggil dokter Eva untuk konsultasi perihal kesehatan Viviane sebelum besok Angga membawa Viviane pulang ke kota J.


Dokter Eva sudah datang dan segera mengajak Viviane untuk perbicara empat mata. Viviane yang awalnya diam, akhirnya dia menceritakan tentang ketakutannya yang tiba-tiba muncul saat melihat orang yang telah melecehkannya. Dengan berbagai saran, akhirnya Viviane perlahan sudah bisa sedikit terbuka lagi dan juga bisa sedikit ceria.


Selesai mengajak Viviane berbicara, dokter Eva pamit untuk undur diri. Tapi dokter Eva tadi sudah berpesan pada Angga agar selalu memberi kenyamanan pada Viviane. Karena hanya itulah obat Viviane jika dia merasa ketakutan.


“Terima kasih atas bantuan dokter selama ini.” Ucap Angga.


“Iya, sama-sama Tuan Angga. Semoga pernikahan anda dengan Nona Viviane selalu dilimpahi kebahagiaan.” Ucap Dokter Eva.

__ADS_1


Keesokan harinya Angga sudah bersiap untuk mengajak Viviane pulang ke kota J. Viviane sempat menangis karena tidak tega meninggalkan ibunya seorang diri. Tapi Ibunya dapat meyakinkannya akhirnya Viviane ikhlas meninggalkan ibunya tinggal sendiri. Dan Viviane juga janji akan sering pulang untuk menjenguk Ibunya.


“Ayo Sayang kita berangkat sekarang. Sebentar lagi pesawatnya akan take off.” Ajak Angga.


Deg


Ini baru pertama kalinya Viviane mendengar Angga memanggilnya dengan sebutan “sayang”. Entah kenapa, hati Viviane menghangat mendengarkan panggilan Sayang dari Angga.


Kemudian Viviane mengangguk dan menggandeng tangan Angga.


.


.


.


*TBC


Jgn lupa tinggalkan jejaknya.


like✔️


komen✔️


vote✔️


gift


✔️


happy reading🤗🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2