Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 52


__ADS_3

Dunia Viviane benar-benar hancur saat ini. Dia menangis histeris disamping jenazah ayahnya yang sudah terbujur kaku.


Setelah perceraiannya, kini dia harus kehilangan orang yang sangat dia cintai. Orang yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Viviane kehilangan ayahnya karena ulahnya yang memberi kabar perceraiannya dengan Edwin.


“Ayah jangan tinggalkan Vivi!!! Siapa yang akan menjaga Vivi dan Ibu kalau ayah pergi??” tangis Viviane semakin pecah.


Ibunya yang sedang berdiri disamping jenazah suaminya dan memeluk tubuh Viviane juga tidak bisa membendung air matanya. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan pergi secepat ini. Bahkan disaat anak kesayangannya butuh kekuatan setelah bercerai.


“Ibu!! Ayah sudah tidak sayang lagi dengan Vivi Bu! Ayah benci dengan Vivi Bu. Ini semua salah Vivi Bu hingga Ayah pergi meninggalkan Vivi.” Ucap Viviane sambil terisak.


“sayang jangan bilang seperti itu. Ayah sanagt menyayangi kita. Tanggung jawab Ayah pada kita sudah sampai disini itu karena Ayah sangat percaya pada kita bahwa kita kuat.” Ucap Ibu Viviane menenangkan anaknya.


Setelah Viviane sudah bisa menghentikan tangisnya. Ibunya segera mengajaknya pulang untuk mempersiapkan proses pemakaman ayahnya.


Beberapa saat kemudian akhirnya ayh Viviane sudah dimakamkan di sebuah TPU yang berada tidak jauh dari kediaman Viviane. Setelah semua pelayat selesai memakamkan Ayah Viviane, kini tinggal Viviane dan ibunya yang masih berada disamping makam ayahnya.


“Ayah! Semoga Ayah bahagia di surga. Maafkan Vivi yang selalu memberikan beban pada Ayah dan Ibu.” Ucap Viviane di sela- sela isakannya.


“Sayang, Ayah pasti bahagia. Ayah juga tidak pernah merasa terbebani dengan anaknya. justru ayah sangat bangga memiliki anak seperti kamu.” Ucap Ibu Viviane berusaha tegar.


Meskipun dalam hati wanita paruh baya itu juga merasakan pedih teramat dalam karena ditinggalkan oleh suami tercintanya.


Tidak jauh dari tempat pemakaman, ada seorang pria paruh baya sedang mengenakan pakaian hitam dan kaca mata hitam. Pria itu melepas sebentar kaca matanya untuk mengusap air matanya kemudian memakainya lagi. Setelah itu dia segera pergi meninggalkan area pemakaman menuju sebuah mobil yang sudah menunggunya sejak tadi.


***


Sementara itu Angga yang baru saja mendapat kabar bahwa ayah Viviane meninggal, dia sangat terkejut. Angga tahu kalau Viviane saat ini pasti sangat bersedih. Dia ingin sekali datang ke kota B untuk menucapkan belasungkawanya pada Viviane. Namun tidak mungkin itu ia lakukan. Dia masih ingat dengaan janjinya pada Viviane bahwa dia akan menjauhi kehidupan Viviane. Kalau saat ini dia nekat mendatangi Viviane, justru akan semakin melukai hatinya. Jadi mau tidak mau Angga harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan Viviane sebelum dia membuktikan siapa orang yang telah menjebaknya.

__ADS_1


Cklek


Angga melihat pintu ruangannya terbuka. Kemudian Mario masuk. Angga merasa ada sesuatu yang tidak beres jika Mario tiba-tiba saja masuk ruangannya tanpa mengetuk pintu.


“Tuan, kita harus meeting sekarang. Banyak investor yang tiba-tiba saja menarik sahamnya.” Ucap Mario dengan naafas tersengal.


“SHITT!!!” umpat Angga.


Angga sebelumnya sudah menduga akan kejadian ini. Siapa lagi yang berulah kalau bukan Laura. Iya, Laura pasti akan melakukan ini setelah beberapa hari yang lalu datang mengancam Angga jika tidak mau bertunangan dengannya dia akan melakukan sesuatu. Dan ternyata benar. Laura tidak main-main dengan ancamannya.


Angga segera pergi ke ruang meeting dengan Mario. Dia harus mencari solusi agar perusahaannya tidak bangkrut. Karena banyak nyawa yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja di perusahaan Angga.


“Apa kamu punya solusi?” Tanya Angga pada Mario yang kini sedang berdua berada di dalam ruang meeting.


Meeting yang dilakukan Angga sudah selesai. Namun Angga menemui jalan buntu yang berarti belum menemukan solusi. Jarang sekali Angga meminta pendapat pada asistennya kalau dia sedang benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Angga yang tadi pikirannya sedang kalut memikirkan Viviane, kini ditambah lagi dengan masalah di perusahaannya.


“Apa?” Tanya Angga.


“Tuan Wilson.” Jawab Mario.


Angga membuang nafasnya kasar. Memang hanya Wilson lah salah satu investor yang tidak menarik sahamnya di perusahaan Angga. Wilson juga mempunyai saham yang cukup besar di perusahaan Angga. Tapi ini semua memang sudah sengaja dia atur atas permintaan putrinya yaitu Laura. Angga sangat pusing. apakah dia harus menerima bertunangan dengan Laura. Atau membiarkan perusahaannya bangkrut dan pastinya akan sangat mengecewakan ribuan karyawannya. Lalu bagaimana dengan Viviane jika dirinya bertunangan dengan Laura.


Angga hanya terdiam saat Mario mengatakan bahwa Wilson adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah di perusahaannya. Dia mengambil ponselnya dan mencari salah satu kontak nama seseorang kemudian menekan tombol hijau.


“Halo Mike! Aku minta kita bertemu saat makan siang nanti.” Ucap Angga kemudian segera memutuskan panggilannya.


Angga tidak peduli umpatan yang keluar dari mulut Mike saat dirinya meminta Mike untuk bertemu saat makan siang.

__ADS_1


Bayangkan saja, Mike yang kini sedang perjalanan dari luar kota mendadak mendapat telepon dari Angga yang meintanya bertemu. Dan jam makan siang akan tiba 30 menit lagi. Mike menginjak pedal gasnya dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Bagaimanapun juga Mike adalah sahabatnya dan juga menjadi prioritasnya.


Kini jam makan siang sudah tiba. Angga sudah duduk di salah satu kursi di ruanagn privat di sebuah restaurant langganan yang biasa dia pakai untuk bertemu dengan Mike. Angga melirik jam tangannya kemudian meraih ponselnya dalam saku jasnya.


“Nggak usah ditelepon. Orangnya sudah ada disini.” Ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam privat room dengan nafas tersengal.


“baguslah kalau begitu.” Ucap Angga datar dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.


Tanpa disuruh, Mike segera meminum segelas jus yang sudah tersedia di depannya. Dia tidak peduli dengan tatapan sinis Angga. Setelah menghabiskan segelas jus, Mike baru membuka suara.


“Katakan! Ada apa?” Tanya Mike.


Angga menarik nafas panjang kemudian mulai menceritakan maslahnya secara detail pada Mike. Angga meminta solusi pada Mike bagaimana mengatasi semua masalah ini.


“Kamu bertunangan saja dengan Laura.” Ucap Mike tanpa beban.


“Apa maksud kamu?” bentak Angga tidak terima.


Mike mengatakan agar lebih baik meminta bantuan Wilson dulu untuk mengembalikan perusahaannya yang hampir gulung tikar. Dan menuruti saja kemauan Wilson jika syaratnya harus bertunangan dengan Laura. Karena Mike sudah menemukan titik terang tentang siapa orang yang menjebak Angga dan Laura. Meskipun Mike belum yakin bahwa itu Laura, tapi Mike sudah memiliki cukup bukti. Dan saat pertunangan nanti, Mike akan membantu Angga untuk mengungkap kejahatan Laura.


Akhirnya Angga terpaksa harus mengikuti saran dari Mike.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2