Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 40


__ADS_3

Hari ini mood Edwin benar-benar berantakan. Dia tidak menyangka dengan sikap Laura. Wanita yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri, kini sikapnya berubah total.


Edwin tidak menyangka kalau Laura tega menjelek-jelekkan istrinya. Memang benar istrinya pernah mempunyai hubungan dengan Angga yang saat ini menjadi kekasih Laura. Namun itu hanya masa lalu. Edwin sudah tahu semua tentang masa lalu istrinya. Dia bisa menerima. Namun, kenapa Laura seolah tidak terima kalau Viviane pernah mempunyai hubungan dengan Angga. Seharusnya Laura juga harus bisa menerima masa lalu Angga. Dan yang membuat Edwin penasaran adalah dari mana Laura mengetahui informasi itu? Bahkan Laura juga mengetahui kalau Viviane pernah mengandung anak dari Angga. Edwin perlu berhati-hati agar rahasia yang sudah diketahui oleh Laura tidak sampai ke telinga kedua orang tuanya.


“Mas, nanti kita belanja ke supermarket dulu ya!” ucap Viviane pada Edwin saat jam kerja telah usai.


Viviane heran dengan sikap suaminya yang sejak kembali ke kantor, suaminya cenderung melamun. Sekarang pun juga begitu. Edwin hanya diam dan tidak menjawab ajakan Viviane.


“Mas!!” panggil Viviane sekali lagi.


“Eh, iya Sayang. Maaf, ada apa?”


“Mas, kenapa sejak tadi aku perhatiin melamun terus. Apa ada masalah?”


“Nggak ko’ sayang. Nggak ada masalah apa-apa. Kamu tadi bilang apa?”


“Aku minta nanti kita belanja dulu ke supermarket.”


“Iya, baiklah.”


Viviane sedikit kecewa dengan sikap suaminya yang mulai tidak jujur. Viviane yakin kalau suaminya sedang ada masalah dan tidak mau menceritakannya dengannya. Namun untuk saat ini mungkin lebih baik diam saja. Atau karena memang suaminya belum mau membicarakan masalahnya.


Dalam perjalanan pulang pun Edwin masih saja melamun. Hal itu membuat Viviane semakin kesal. Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di parkiran sebuah supermarket. Viviane segera keluar dari mobil tanpa mempedulikan suaminya.


Kini Viviane sudah mendorong trolinya untuk memilih beberapa bahan makanan yang ia perlukan. Viviane mendesah kesal karena suaminya tak kunjung menyusulnya. Jadi sekarang dia hanya sendirian.


Bruk


Karena asyik melamun dan memikirkan suaminya, Viviane tidak sadar kalau troli yang ia dorong menabrak seseorang yang sedang membawa beberapa barang yang akan ia masukkan ke dalam troli.


“Maaf.. maaf Tuan. Saya nggak sengaja. Maafkan saya.” Ucap Viviane sambil membantu memunguti barang yang berjatuhan.


“Ah nggak masalah Nona. Viviane??”


“Rian??”


Ternyata orang itu adalah Rian. Viviane tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Rian di supermarket ini.


“Kamu sendirian?” Tanya Rian.


“Nggak. Ada suamiku sedang menunggu di luar. Sekali lagi maafkan aku Rian. Aku benar-benar nggak sengaja.” Ucap Viviane.

__ADS_1


“tenang saja. Ehm, bagaimana kalau perminta maafan kamu diganti dengan makan?”


“Maksud kamu?”


“kita bisa makan malam bersama, sebagai gantinya. Aku tahu tidak sekarang. Lain kali saja. Bagaimana?”


“maaf, tapi aku nggak bisa janji.”


“Tenanglah. Mana ponsel kamu?”


Dengan bingung Viviane menyerahkan ponselnya pada Rian. Ternyata Rian mengetikkan nomor di ponselnya.


“nih, no ponselku. Kamu bisa hubungi aku kalau sudah ada waktu. Tenanglah. Kamu bisa mengajak suami kamu.” Ucap Rian.


Setelah itu mereka melanjutkan belanjanya. Namun tiba-tiba saja terdengar suara baritone yang sangat dikenal oleh Viviane sedang berada tepat di belakangnya.


“Sudah selesai belanjanya?” Tanya Edwin dingin.


“Mas?”


“Maaf tuan tadi kami nggak sengaja bertemu disini. Saya pamit pulang dulu, permisi.” Ucap Rian yang tidak ingin semakin dicurigai.


“Sudah puas belanjanya sambil ditemani pria lain?” Tanya Edwin datar.


Sepasang suami istri itu masih saja saling diam. Bahkan Viviane yang membawa banyak kantong belanjaan pun Edwin tidak berniat membantunya. Bukan tidak mau membantu. Edwin saat ini sedang marah dengan istrinya.


Sesampainya di apartemen, Viviane segera masuk ke dapur dan menata barang belanjaannya dan memasukkan sayur dan buah ke dalam lemari pendingin. Sedangkan Edwin masuk ke ruang kerjanya.


Setelah selesai menata barang belanjaan, Viviane segera masuk ke kamar. Dia akan mandi karena sejak tadi merasa badannya sangat gerah. Setelah itu, dia membuatkan the untuk suaminya.


Ceklek


Viviane masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Disana terlihat Edwin yang sedang sibuk mengetik sesuatu.


“Mas, minum dulu.”


“Hmm..”


“Mas, nggak mandi dulu?”


Viviane sangat benci dengan keadaan seperti ini. Dia paling tidak suka didiamkan. Lebih baik diungkapkan jika ada masalah daripada didiamkan seperti ini.

__ADS_1


“Mas kenapa sih dari tadi diemin aku terus?” Tanya Viviane dengan suara tegas.


“masih saja tanya kenapa. Apa kamu nggak sadar dengan apa yang kamu lakuin tadi?”


“memangnya apa yang aku lakuin? Apa gara-gara aku bertemu Rian tadi? Kalau Mas nggak mau aku bertemu Rian berpikirlah, seharusnya Mas menemani aku belanja. Nyatanya apa, sejak pulang kantor Mas malah melamun dan tidak mempedulikan aku.”


Setelah mengucapkan itu, Vivciane segera keluar dari ruangan suaminya. Dia memilih ke dapur untuk memasak. Sedangkan Edwin seakan tertampar dengan ucapan istrinya. Memang benar, gara-gara ucapan Lauralah yang membuatnya mengacuhkan Viviane. Edwin segera beranjak dari duduknya. Dia akan meminta maaf pada istrinya.


Edwin masuk ke dalam kamar tapi ternyata istrinya tidak ada disana. Dia tahu pasti istrinya sedang di dapur. Kemudian Edwin memutuskan untuk mandi dulu, setelah itu menyusul istrinya ke dapur.


Beberapa saat kemudian Edwin sudah berjalan ke dapur. Dia melihat istrinya sedang sibuk memasak sesuatu yang seperinya sangat enak karena dari baunya saja sudah tercium sangat sedap.


“Sayang, maafkan aku!” ucap Edwin sambil memeluk istrinya dari belakang.


Viviane hanya melirik suaminya dari samping. Kemudian dia mematikan kompornya. Dia segera melepas tangan suaminya yang tadinya melingkar di perutnya dan mengajaknya duduk di meja makan.


“Sayang, maafkan aku.” ucap Edwin lagi.


“Bukankah kita sudah berjanji Mas untuk saling jujur dan terbuka jika ada masalah?” Tanya Viviane mengingatkan janji yang pernah mereka sepakati.


Akhirnya Edwin menceritakan kegelisahannya tentang ucapan Laura yang berdampak mengacuhkan istrinya. Edwin mengatakan semuanya pada Viviane tentang Laura yang sudah mengetahui semua tentang masa lalunya. Viviane sangat terkejut mendengar cerita suaminya. Dia sangat takut bagaimana bisa Laura mengetahui itu semua. Namun Edwin tetap meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


***


Sementara itu Angga saau ini sedang berada di sebuah café. Dia sedang menunggu kedatangan Mike. Sejak kedatangan Alfa ke kantornya tadi, Angga menjadi sangat tidak tenang. Meskipun dia tidak pernah menyukai Laura, tapi benar apa yang dikatakan oleh Alfa bahwa Laura berusaha mati-matian mendekatinya. Dan Angga tidak mau hal itu terjadi. Angga akan berusaha untuk tidak dekat lagi dengan Laura demi keselamatan orang yang dicintainya yaitu Viviane.


“Ada apa lagi?” Tanya Mike yang baru saja tiba dan duduk di hadapan Angga.


“Aku minta kamu cari tahu tentang pria yang bernama Alfa.” Jawab Angga.


“Memangnya siapa dia?” Tanya Mike penasaran.


Angga menjelaskan bahwa pria yang bernama Alfa adalah mantan kekasih Laura. Angga menceritakan semua tentang apa yang dia alami tadi siang. Angga meminta Mike agar menyelidiki siapa sebenarnya Alfa itu.


Mike hanya dapat menghela nafas dalam. Dia pikir sahabatnya itu sudah move on dari mantan kekasihnya, ternyata ada masalah lagi yang menyangkut pautkan dengan mantan kekasih Angga.


“kelihatannya ini akan sangat rumit.” Batin Mike menatap sahabatnya.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2