Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 20


__ADS_3

Seorang pria tampan berkulit sawo matang kini tengah duduk di sebuah kursi yang ada di balkon apartemennya. Pria yang akrab disapa Alfa itu tengah memegang gelas yang berisi vodka. Entah sudah berapa kali dia menuang minuman memabukkan itu ke dalam gelasnya.


Alfa benar-benar sangat frustasi setelah kemarin tiba-tiba saja diputuskan oleh kekasih yang sangat dicintainya yaitu Laura. Padahal malam sebelumnya mereka sempat bermain panas di atas ranjang mewah milik Alfa. Dan keesokan harinya, tepatnya kemarin malam saat Alfa ingin mengulang kenikmatan bersama kekasihnya, Laura menolak. Laura ingin mengajak Alfa bertemu di sebuah café. Alfa sungguh heran saat itu. Tidak biasanya kekasihnya itu mengajak bertemu di luar. Karena biasanya Laura yang dengan senang hati datang ke apartemennya.


“hai sayang. Aku merindukanmu” ucap Alfa sambil mengecup bibir Laura saat dirinya baru saja tiba.


“malam” jawab Laura datar. Dan itu membuat Alfa menjadi heran dengan perubahan sikap kekasihnya.


“ada apa? Tidak biasanya kamu ngajak bertemu di café?”


“Al, maaf banget sebelumnya. Hubungan kita cukup sampai disini saja. Maafkan aku”


“apa maksud kamu?”


“iya. Kita putus”


“tapi kenapa Ra? Apa kamu meragukan cintaku selama ini?” Tanya Alfa


“maaf Al, kamu tahu kan kalau orang tuaku dari dulu tidak menyetujui hubungan kita”


“aku akan buktikan kalau aku adalah pria bertanggung jawab dan tidak mempermainkan kamu Ra. Please aku sangaat mencintai kamu”


“maafkan aku Al. semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku” ucap Laura sambil memegang tangan Alfa kemudian berdiri meninggalkan Alfa.


Malam ini Alfa hanya menghabiskan waktunya dengan minum minuman keras seorang diri. Tadi beberapa jam yang lalu orang suruhannya mengatakan bahwa Laura kini sedang berada di apartemen Angga. Alfa begitu sangat marah mendengar kabar itu. Nyatanya Laura memutuskan dirinya bukan karena orang tuanya tidak setuju. Memang itu juga termasuk alasannya. Namun alasan utamanya adalah Laura sudah tidak mencintainya lagi. Dan sekarang mencintai pria lain yaitu Angga. Seorang pengusaha sukses yang memang sudah dijodohkan oleh orang tua Laura.


***

__ADS_1


Kini Angga sudah kembali lagi ke apartemennya setelah selesai dinner dadakan dengan Laura. Tadinya Angga sangat malas untuk mengajak Laura makan malam. Namun setelah dipikir-pikir, tidak mungkin Angga mengajak makan malam Laura berdua saja di dalam apartemennya. Jadi dengan berat hati dia mengajak Laura makan di luar.


Dan setelah makan malam yang sangat membosankan itu Angga segera mengantar Laura pulang. Karena Laura tadi datang ke apartemennya naik taksi. Angga pikir setelah mengantar Laura pulang, dia juga segera pulang. Jujur saja dia juga sangat lelah setelah dari luar kota. Tepatnya bukan lelah fisik melainkan psikisnya. Tapi saat sampai di depan rumah Laura, di depan rumah sudah ada Rachel mamanya Laura yang menyuruhnya untuk masuk terlebih dahulu. Dengan terpaksa akhirnya Angga pun masuk.


Angga tidak menyangka, yang niatnya masuk ke rumah Laura hanya untuk berpamitan tapi justru diajak ngobrol oleh Wilson papa Laura. Angga sangat terkejut saat mendengar perkataan dari Wilson yang berniat menjodohkan Laura dengannya. Saking terkejutnya, Angga bingung menyusun kata untuk menolak perjodohan itu. Hingga akhirnya dia sudah memikirkan apa yang harus diucapkan pada papa Laura, namun dengan cepat Wilson menyela Angga.


“Tidak usah terburu-buru nak Angga. Kalian jalani dulu saja. Lama-lama juga cinta akan tumbuh” ucap Wilson


Lidah Angga terasa kelu tak mampu membalas ucapan papa Laura karena saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah Viviane.


Akhirnya Angga hanya tersenyum kecut menanggapi papa Laura. Kemudia dia segera beranjak dari duduknya dan berpamitan pulang.


Angga benar-benar merasa pusing saat ini. Dia tidak mempedulikan perjodohan tadi. Sekarang dia butuh istirahat. Mungkin besok pagi saat pikirannya sudah fresh, dia baru bisa berpikir jernih tentang bagaimana membatalkan perjodohannya dengan Laura.


***


Seminggu kemudian, tepatnya hari ini Edwin datang ke kota B untuk menjemput Viviane. Rencananya yang tidak akan mengajak Viviane tinggal di kota J sebelum dia menikah nyatanya hanya rencana belaka. Karena permintaan dari Nocolas sendiri yang tak lain papa Edwin, meminta Viviane untuk bekerja di perusahaannya khususnya untuk membantu Edwin. Serasa mendapat rejeki nomplok, Edwin sangat senang sekali. Akhirnya dia bisa bertemu setiap hari dengan kekasihnya. Dan Nicolas ingin merekrut Viviane bekerja di perusahaannya bukan karena dia akan menjadi menantunya tapi Nicolas juga sangat tertarik dengan kinerja Viviane selama bekerja di perusahaanya di pulau K dulu.


Kedua orang tua Viviane menganggukkan kepalanya menyetujui calon menantunya untuk membawa anaknya ke kota J. mereka sangat percaya dengan Edwin. Karena Edwin benar-benar pria baik dan bertanggung jawab.


Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Viviane segera pergi ke bandara untuk terbang ke kota J bersama Edwin. Dia tidak menyangka akan kembali laagi ke kota itu. Kota yang banyak menorehkan luka pahit dalam hatinya.


“sayang, kamu tenang ya. Ada aku yang selalu disampingmu” ucap Edwin memegang tangan Viviane lembut untuk menenangkannya.


“iya mas. Aku nggak apa-apa ko’. Lagian itu sudah masa laluku” balas Viviane sambil tersenyum tipis pada Edwin.


Setelah melewati perjalanan udara, kini pesawat yang ditumpangi oleh Edwin dan Viviane sudah landing. Mereka berdua segera menuju ke apartemen. Edwin sudah menyiapkan apartemen baru untuk Viviane tinggal. Awalnya Viviane menolaknya. Dia lebih memilih tingga di sebuah rumah kontrakan sederhana saja daripada di apartemen yang menurutnya terlalu mewah. Namun lag-lagi Edwin tidak menuruti kemauan Viviane dengan alasan keamanan. Akhirnya Viviane hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Dalam perjalanan ke apartemen, Edwin tiba-tiba mendapat telepon dari seseorang. Setelah menutup panggilannya, dia putar balik dan membatalkan ke apartemen kekasihnya.


“sayang, kita makan siang dulu ya. Kebetulan ini tadi sepupuku menelepon dan mengajaknya makan siang bersama. Sekalian nanti aku kenalkan kamu dengan Laura”


“iya mas”


Sesampainya di restaurant yang disebutkan oleh Laura pada Edwin, Edwin segera masuk ke dalam sambil menggandeng tangan Viviane. Edwin mencari keberadaan Laura. Dan tidak butuh waktu lama akhirnya dia menemukan Laura.


“hai Ra? Udah lama?”


“eh mas Edwin. Nggak juga ko””


“oh iya ini kenalin calon kakak ipar kamu. Sayang kenalin ini Laura calon adik ipar kamu”


Laura dan Viviane saling menjabat tangan dan memperkenalakan diri masing-masing.


“kamu sendirian aja Ra?”


“tadinya sih nggak. Tapi mas Angga tiba-tiba saja ada telepon mendadak dan segera pergi” ucap Laura lesu.


Deg


Entah kenapa Viviane merasa ada yang tidak beres saat Laura menyebut nama Angga. Tapi dia segera menepis pikirannya itu. Nama Angga pasti tidak hanya satu di dunia ini.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2