Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 72


__ADS_3

Kini Angga sudah merebahkan tubuh Viviane di atas tempat tidur. Viviane masih tertidur akibat reaksi obat penenang tadi. kemudian Angga menyelimuti tubuh Viviane setelah itu keluar dari kamarnya.


Angga Nampak frustasi dengan kejadian baru saja. Hubungannya dengan sang istri yang sudah mulai membaik dan sudah hangat harus kembali tegang setelah trauma Viviane tiba-tiba datang lagi. Angga bingung bagaimana cara mengatasi ini semua. Kemudian dia menghubungi Andrew, temannya yang ada di Swiss.


Dalam sambungan telepon itu, Angga menceritakan semua kejadian yang dialami istrinya baru saja. Angga juga mengatakan kalau dia memberikan obat penenang pada Viviane guna mengurangi tekanan emosi pada Viviane.


Andrew menyarankan pada Angga agar tidak memberikan obat penenang lagi pada istrinya karena itu akan sangat berbahaya. Dan Andrew meminta agar mempercepat keberangkatannya ke Swiss. Menurut Andrew, Viviane harus segera ditangani dan tidak boleh diulur lagi waktunya sebelum kondisinya semakin parah.


Setelah mengakhiri panggilannya dengan Andrew, Angga menghubungi Mario untuk memesankan tiket pesawat ke Swiss. Angga memutuskan lusa akan berangkat kesana. Karena jika besok tidak mungkin karena keadaan Viviane masih belum stabil.


Angga kembali masuk ke dalam kamarnya untuk melihat keadaan Viviane. Disana Viviane masih tertidur. Kemudian Angga mendekatinya dan mencium keningnya.


Beberapa menit kemudian Viviane mengerjapkan matanya. dia sudah bangun dari tidurnya. Viviane menangis saat tiba-tiba mengingat kepingan masa lalu buruknya. Tubuhnya kembali bergetar. Angga yang baru saja keluar dari kamar mandi segera berlari dan memeluk istrinya.


“Vi, tenang Sayang. Kamu aman denganku.” Ucap Angga menenangkan.


“Ini semua salahku. Semuanya salahku.” Racau Viviane menyalahkan dirinya sendiri.


Angga berusaha sekuat tenaga untuk menegarkan hatinya saat melihat istrinya kembali mengingat masa lalunya. Kali ini Angga melihat istrinya semakin rapuh. Bahkan meracau dengan menyalahkan dirinya sendiri.


“Tidak Sayang, kamu nggak salah. Tenang ya.” Ucap Angga lagi.


Angga hanya berusaha memberi pelukan ternyaman untuk Viviane agar istrinya tidak histeris lagi. Karena sesuai dengan ucapan Andrew tadi, Angga dilarang untuk memberikan obat penenang yang justru akan semakin membuat efek buruk pada Viviane.


Angga mengambilkan segelas air putih yang ada di atas nakas dan memberikannya padaa sang istri. Viviane meminumnya hingga habis. Seelah itu Angga merebahkannya di atas tempat tidur. Angga memeluknya lagi. Dan Viviane pun perlahan mulaai sedikit tenang meski masih terdengar sayup-sayup suara isakannya.


“kamu makan dulu ya, karena sejak tadi perut kamu masih kosong.” Bujuk Angga namun Viviane masih bergeming.


“Aku ambilkan makan, kamu tunggu sebentar ya?” ucap Angga dan Viviane menggeleng.

__ADS_1


“Aku ikut.” Ucap Viviane kemudian.


Akhirnya Angga menuntun istrinya untuk ikut ke dapur. Tadinya Angga akan menggendongnya tapi Viviane menolak. Dan disinilah mereka berdua. Duduk berhadapan di meja makan yang berada satu ruangan dengan dapur.


Viviane perlahan menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya. Angga sedikit menampakkan senyumnya saat melihat Viviane sudah mau makan.


***


Hari ini adalah hari keberangkatan Angga dan Viviane ke Swiss. Setelah melihat kondisi Viviane yang berangsur membaik, Angga dapat memastikan untuk segera berangkat. Berbagai perlengkapan sudah Angga siapkan. Tidak banyak pakaian yang ia bawa, hanya beberapa dokumen penting saja.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam pesawat. Pesawat yang akan membawa mereka terbang ke negara bagian Eropa yang memakan waktu kurang lebih selama 18 jam untuk sampai di Bandara Internasional Zurich. Dan ditambah dengan beberapa jam lagi perjalanan untuk menuju kota yang akan Angga dan Viviane tuju.


Angga meminta Viviane agar tidur karena pejalanannya sangaat lama. Angga takut jika Viviane akan kecapekan jika berlama-lama duduk dalam pesawat. Meskipun ini bukan pertama kalinya Viviane melakukan perjalanan jauh.


Akhirnya perjalanan udara selama kurang lebih 18 jam sudah membawa Angga dan Viviane tiba di Bandara Internasional Zurich. Setelah turun dari pesawat, Angga mengajak Viviane istirahat terlebih dulu. Angga mengajak Viviane ke salah satu café yang ada di area bandara tersebut.


“Apa kamu capek?” Tanya Angga dan Viviane menggelang sambil tersenyum.


Viviane menyadari kalau disini dia tidak akan tinggal selama beberapa hari saja. Mungkin selama beberapa bulan atau bahkan tahun. Dan semua ini dilakukan karena begitu besar rasa cinta Angga terhadapnya. Meskipun harus mengeluarkan banyak uang untuk bissa tinggal disini.


“Terima kasih!” ucap Viviane tiba-tiba sambil memegang


tangan Angga.


“Untuk apa?” Tanya Angga heran.


“Untuk cinta kamu yang begitu besar padaku dan juga semua perjuangan kamu selama ini. maaf aku selalu menyusahkan kamu.” Ucap Viviane sambil mengusap sudut matanya yang mulai berair.


“Hei jangan nangis. Aku tidak merasa kesusahan untuk melakukan ini semua. Permintaanku Cuma satu. Jangan pernah pergi dari sisiku. Apapun yang akan terjadi, tetaplah bersamaku dan kita hadapi sama-sama untuk setiap masalah yang akan terjadi.” Ucap Angga.

__ADS_1


Viviane berhambur memeluk Angga. Pria yang sebenarnya sejak dulu namanya masih tersimpan dalam hatinya. Viviane sangat bersyukur kini bisa kembali bersama Angga dengan status sebagai suami istri.


Setelah pelukan mereka berakhir, Angga segera mengajak Viviane untuk melanjutkan perjalanannya yang masih beberapa jam lagi untuk menuju kota Marcote.


Selama kurang lebih 5 jam, Angga dan Viviane sudah sampai di kota Marcote. Morcote adalah desa tercantik di sepanjang garis pantai Danau Lugano. Bekas desa nelayan kecil ini berada di lereng bukit yang menawarkan lorong-lorong yang menawan untuk dijelajahi serta pemandangan indah danau.



Berdasarkan alamat yang diberikan oleh Andrew, kini Angga dan Viviane sudah tiba di depan sebuah rumah bergaya eropa dan berukuran sedang. Angga perlahan memencet bel yang ada di depan pintu itu. Karena waktunya sudah sangat malam, sebenarnya Angga takut jika mengganggu istirahat Andrew. (



(gambar hanya mewakili imajinasi saja)


Beberapa kali Angga memencet bel namun pintu itu tak kunjung terbuka. Angga melihat istrinya yang Nampak kelelahan merasa kasihan. Angga berpikir sejenak, kemudian dia memutuskan untuk mencari hotel saja untuk sementara. Karena mungkin Andrew sedang beristirahat. Namun saat Angga berbalik badan, ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah Andrew.


“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang pria yang baru saja keluar dari mobil. (percakapan menggunakan bhs.inggris)


“Andrew? Benarkah kamu Andrew?” Tanya Angga.


“Angga?? Benarkah kamu Dewangga?” Tanya Andrew yang tampak terkejut.


Mereka berdua segera berpelukan saling melepas rindu. Karena sudah sangat lama mereka tidak pernah bertemu. Dan baru bertemu lagi sekarang. kemudian Angga memperkenalkan istrinya pada Andrew. Setelah itu Andrew mengajak Angga dan Viviane segera masuk ke rumah. Andrew menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh Angga dan Viviane selama tinggal di Swiss.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2