
Akhirnya Angga makan malam sendirian tanpa Viviane. Angga tidak menyangka akan reaksi Viviane tadi. memang niatnya ingin menolong Viviane agar tidak terjatuh. Tapi siapa tahu tiba-tiba disuguhi dengan sesuatu yang sangat membangkitkan gairahnya. Angga akui dia juga pria normal.
Tapi melihat reaksi Viviane seperti itu, membuat Angga menyesali perbuatannya. Ternyata trauma pada diri Viviane belum hilang sepenuhnya. Angga bingung bagaimana caranya mengatasi trauma Viviane. Berdasarkan saran dokter Eva tempo hari adalah dengan dirinya sendiri. Karena saat itu Viviane merasa sangat nyaman berada di samping Angga, tapi setelah kejadian ini, apakah Viviane masih merasa nyaman saat berada di dekatnya. Tapi bagi Angga saai ini yang terpenting adalah mencoba minta maaf dulu pada Viviane.
Setelah makan, Angga bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia akan mencoba mengajak bicara istrinya dan meminta maaf atas kejadian tadi. tapi saat tangan Angga membuka kenop pintu kamarnya tidak bisa. Ternyata Viviane menguncinya dari dalam.
“Vi, buka pintunya. Aku minta maaf atas kejadian tadi.” ucap Angga di balik pintu. Namun tidak ada jawaban dari Viviane.
“Vi, tolong buka pintunya. Aku janji tidak akan mengulangi kejadian tadi.” ucap Angga sekali lagi.
Lama menunggu di balik pintu, akhirnya Angga memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu. Tadi Angga juga sempat berpikir untuk meminta bantuan pada Mike bagaimana cara mengatasi masalahnya saat ini, tapi ponselnya ada di dalam kamar yang sedang terkunci.
Awalnya Angga sangat tidak nyaman tidur di sofa yang panjangnya kurang dari tinggi badannya. Jadi Angga tidur dengan posisi badan meringkuk. Dan mata yang susah terpejam karena memikirkan sang istri, akhirnya terpejam juga.
Tengah malam Viviane terbangun kaarena merasa perutnya sangat lapar. Dia ingat kalau tadi belum sempat makan malam. Dan Viviane melihat kamarnya sangat sepi. Hanya ada dirinya sendiri. Kemudian Viviane membuka pintu kamarnya dengan sedikit terkejut karena sudah menguncinya dari dalam.
Kini Viviane sudah keluar kamar. dia melihat lampu ruang tamu yang masih menyala dan terdengar dengkuran halus dari seseorang. Viviane berjalan pelan untuk melihat siap yangsedang berada di ruang tamu.
Viviane terkejut melihat suaminya sedang tertidur di sofa dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Dia merasa berslah telah mengunci pintu kamarnya dan membiarkan Angga tidur di sofa. Viviane perlahan akan membangunkan Angga tapi dia mengingat tentang kejadian tadi sore. Viviane mundur perlahan, mengurungkan niatnya membangunkan suaminya. Bukannya Viviane membenci Angga akan perbuatannya tadi sore, tapi Viviane tiba-tiba teringat lagi akan traumanya tentang pelecehan yang dia alami.
Viviane tidak jadi makan. Dia kembali masuk ke dalam kamarnya tapi kali ini tidak menguncinya. Dia memegang kuat kepalanya berharap bisa melupakan kepingan kejadian masa lalub itu.
“Arghhhhh!!!! Tolong pergilah jangan hadir lagi!!!!” teriak Viviane berulang kali sambil menjambak rambutnya.
Seketika Angga terbangun saat mendengar teriakan seseorang di dalam kamar. Angga sangat panik. Dia takut terjadi hal buruk pada Viviane.
“Vi!!! Ada apa Vi? Tolong buka pintunya!!” teriak Angga sambil menggedor pintu. Setelah itu dia memegang kenop pintu berusaha membukanya ternyata sudah tidak terkunci lagi.
__ADS_1
Dengan cepat Angga berlari masuk mencari keberadaan Viviane. Lampu kamar yang tidak menyala menyulitkan Angga menemukan keberadaan Viviane. Kemudian Angga mencari saklar lampu dan menyalakannya.
Angga melihat Viviane duduk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya dengan rambut yang berantakan dan suaranya bergetar. Hati Angga tersayat melihatnya. Akibat keslahannya lah yang membuat Viviane kembali seperti ini.
“Tolong pergi!! Aku akan bunuh diri saja. jadi kamu tidak ganggu aku lagi!” lirih Viviane dengan suara bergetarnya.
Tanpa terasa Angga meneteskan air matanya. Dia tidak tega melihat keadaan orang yang sangat dicintainya seperti ini. Mau memeluk pun Angga tidak berani. Dia takut Viviane akan semakin histeris. Angga bingung apa yang harus dilakukan. Mau minta tolong Mike juga tidak mungkin karena sudah sangat larut malam.
Akhirnya Angga mengambil gunting yang tersimpan dalam laci. Setelah itu membawanya dan mendekati Viviane.
“Vi, maafkan aku. jangan seperti ini Vi.” Ucap Angga.
“Pergi!! Jangan dekati aku kalau hanya akan menyakitiku.” jawab Viviane.
“Vi, aku janji tidak akan meyakiti kamu. Ijinkan aku memelukmu agar kamu bisa lebih tenang. Ini gunting, kamu boleh menusukku bahkan membunuhku jika aku menyakitimu. Percayalah Vi, aku akan menjagamu dan melindungimu.” Ucap Angga lagi.
“Vi! Bangun Vi!!” Panggil Angga sambil menepuk pipi Viviane dengan lembut.
Angga juga dapat merasakan hawa panas pada tubuh Viviane. Dengan cepat Angga menggendongnya dan merebahkannya ke atas tempat tidur.
Kemudian Angga mengambil handuk kecil yang sudah ia basahi untuk mengompres kening Viviane. Setelah itu Angga keluar kamar mengambil air putih.
Angga mengambil obat penurun demam untuk diminumkan pada Viviane. Dengan perlahan Angga membangunkan Viviane. Dan saat Viviane sedikit membuka matanya, Angga segera memasukkan obat itu dan didorong dengan segelas air putih. Setelah itu Viviane kembali tertidur.
Angga mengambil sofa ruang tamu untuk ia gunakan tidur di dalam kamar. karena dia tidak mau Viviane semakin takut saat baru bangun tidur dan melihat dirinya berada dalam satu ranjang yang sama.
Keesokan paginya Viviane mengerjapkan matanya. dia terbangun tapi kondisi tubuhnya masih sangat lemah. Kemudian pandangannya tertunju pada sofa ruang tamu yang ada di dalam kamar. disana Viviane dapat melihat Angga sedang tertidur lelap. Tenggorokannya sangat kering tapi tidak tega untuk membangunkan Angga.
__ADS_1
Pyarr
Viviane mencoba meraih gelas yang berada di samping ranjanganya. Dia melihat masih ada sisa air sedikit tapi dia tidak berhasil mengambilnya, dan justru memecahkannya. Seketika Angga terbangun saat mendengar sesuatu yang baru saja jatuh dan pecah.
“Maaf, membangunkanmu!” ucap Viviane lirih.
Tanpa menjawab, Angga segera keluar kamar dan mengambilkan Viviane air putih. Viviane segera meminumnya karena sejak tadi dia sangat kehausan.
“terima kasih” ucap Viviane dan Angga hanya mengangguk.
Hari ini Angga terpaksa tidak pergi ke kantor. dia tidak tega meninggalkan Viviane sendirian. Meskipun sudah ada Bi Asih yang menemaninya.
Angga masuk ke dalam ruang kerjanya setelah memastikan Viviane sudah sarapan dengan dibantu Bi Asih. Angga menghubungi Mike dan memintanya untuk datang ke apartemennya saat ini juga. Angga akan meminta tolong pada Mike. Karena menurut Angga, hanya Mike lah yang bisa menolongnya saat ini.
Beberapa saat kemudian, Mike sudah tiba di apartemennya. Angga segera menagajak Mike masuk ke dalam ruang kerjanya. Angga segera mengutarakan maksudnya pada Mike. Angga juga menceritakan semua kejadian pada Mike.
“tapi kenapa harus aku Ngga? Kan ada Mario?”
“Aku mohon Mike, hanya kamu yang bisa membantuku.” Ucap Angga lesu.
.
.
.
*TBC
__ADS_1