Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 45


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Mike, Angga memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Sejak tadi ponselnya berdering. Tapi Angga mengabaikan panggilan itu karena sangat tidak penting dan sangat mengganggu. Siapa lagi kalau bukan dari Laura. Angga lebih memilih menon aktifkan ponselnya.


Sesampainya di apartemen, Angga segera menuju unit apartemennya. Dia berjalan melewati unit apartemen Viviane dan Edwin. Angga menatap nanar pintu itu. Dia sangat tahu apa yang sedang dilakukan oleh penghuni unit apartemen itu.


Angga juga tahu kalau beberapa hari ini Edwin pergi. Karena dia tidak pernah melihat Edwin maupun Viviane. Dan berdasarkan informasi dari Mike, Edwin memang sedang bepergian, dan Viviane tinggal sementara di rumah mertuanya.


Angga mengerti maksud Edwin menyuruh istrinya agar tinggal bersama mertuanya. Mungkin Edwin tidak mau jika istrinya dengan sengaja atau tanpa sengaja bertemu dengannya. Mengingat unit apartemen mereka berada di lantai yang sama.


Edwin berusaha agar istrinya tidak bertemu dengan mantan kekasihnya di saat dia sedang keluar kota. Lantas bagaimana cara Angga mengajak Edwin bertemu dan membahas tentang istrinya. Apakah pria itu tidak akan marah nanti?. Angga benar-benar pusing memikirkan cara bagaimana mengajak Edwin bertemu. Tapi kalau tidak secepatnya bertemu, keselamatan Viviane akan terancam.


Sementara itu, di sebuah unit apartemen yang berada satu lantai yang sama dengan unit apartemen Angga, ada sepasang suami isstri sedang memadu kasih, melepas rindu. Karena selama beberapa hari ini mereka berdua harus absen dari kegiatan rutin mereka di atas ranjang.


“Sayang, tubuhmu semakin membuatku kecanduan!” ucap Edwin setelah selesai melepaskan penyatuannya.


“Terima kasih Mas!” jawab Viviane malu-malu.


Keduanya saat ini sedang berada di dalam selimut tebal berwarna putih tanpa menggunakan sehelai benang. Viviane merasa sangat kelelahan karena hampir tidak bisa mengimbangi permainan panas suaminya. Viviane sangat heran dengan tenaga suaminya yang begitu kuat. Padahal setaunya, suaminya baru saja tiba di kota J setelah melakukan penerbangan dari kota K yang menurutnya membuat tubuh lelah akan perjalanan panjang.


“Semoga segera tumbuh janin di dalam sini ya Mas!” ucap Viviane sambil mengusap perut ratanya.


“Hmm, kita pasrahkan sama yang di atas ya Sayang” balas Edwin.


Jika mengingat tentang kandungan, Viviane kembali lagi teringat dengan ucapan sang mertua. Tanpa sadar dia menitikan air matanya. Entah kenapa sampai saat ini Viviane masih merasakan sakit hatinya. Namun, dia tidak ingin bilang pada suaminya. Dia tidak ingin nanti suaminya menegur mamanya yang akan berakibat pertengkaran.


“Hei, Sayang kenapa kamu menangis?” Tanya Edwin yang terkeejut melihat istrinya tiba-tiba menangis.


“Aku nggak apa-apa Mas. Aku hanya merindukan Mas saja.” Ucap Viviane lirih.


“Sayang, aku kan sudah ada disini, jadi jangan bersedih lagi ya!” bujuk Edwin.

__ADS_1


Akhirnya Viviane mengangguk dan tersenyum. Dia terpaksa berbohong pada suaminya. Dia tidak ingin suaminya juga mersakan kegundahan hati yang telah ia rasakan saat ini.


Kemudian Viviane terlelap dalam dekapan tubuh suaminya. Edwin mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang. Kemudian dia juga segeera menyusul istrinya tidur. Tapi tiba-tiba saja ponselnya bergetar.


Drt drt drt


Edwin mengurungkan niatnya untu tidur. Dia meraih ponselnya dan melihat ponselnya. Edwin heran dengan pesan yang dikirim oleh seseorang yang tidak ada identitasnya. Pesan itu berisi bahwa orang itu mengajaknya bertemu besok. Sekali lagi Edwin mengernyitkan dahinya. Siapa pengirim pesan itu. Kemudian dia mengingat lagi, ternyata no itu adalah milik seseorang yang tadi sore mengirimkan pesan bahwa istrinya sedang dalam bahaya. Kemudian Edwin memebalas singkat pesan itu dengan satu kata “ya”.


Keesokan harinya sesuai dengan pesan yang dikirim oleh seorang misterius tadi malam, kini Edwin sedang menunggu orang itu di sebuah café yang telah ditentukan oleh orang tersebut. Edwin tadi terpaksa berbohong pada istrinya saat Viviane mengetahuinya pergi lagi setelah beberapa menit masuk ruangannya.


“Maaf, Tuan mau kemana?” Tanya Viviane.


“ehm, saya ada janji dengan seseorang. Dan akan membahas masalah pekerjaan.” Jawab Edwin bohong. Dan Viviane hanya mengangguk patuh.


Kini Edwin duduk di sebuah café sambil meminum jus jeruk yang sudah ia pesan beberapa saat yang lalu. Edwin melihat jam tangannya. Dia sudah berada di café ini selama 15 menit. Namun orang yang mengajaknya bertemu tak kunjung datang. Edwin merasa dipermainkan. Dia segera berdiri dan meninggalkan café itu. Tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang tengah berdiri di belakangnya.


“Maaf Ed menunggu lama.” Ucap Angga.


“Maafkan aku Ed, tolong lepaskan dulu. Aku akan jelaskan semua padamu.” Ucap Angga kemudian.


Dengan penuh amarah Edwin melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Angga. Kemudia mereka berdua duduk. Angga menghela nafasnya panjang. Dia bingung sekali bagaimana cara memulai menjelaskan itu semua tanpa membuat Edwin curiga.


“Maafkan aku Ed!” ucap Angga.


“Cepat katakan yang ada apa sebenarnya!” ucap Edwin tegas.


Akhirnya Edwin menceritakan mulai dari Alfa. Awalnya Edwin bingung dengan pria yang bernama Alfa. Apa hubungannya dengan keselamatan istrinya. Kemudian Angga menceritakan bahwa Alfarian, pria yang akrab disapa Alfa atau Rian adalah mantan kekasih Laura yang tak lain sepupu Edwin sendiri.


Angga mengatakan bahwa Alfa sangat mencintai Laura namun Laura memutuskan hubungannya dan memilih menjalin hubungan dengannya.

__ADS_1


“Apa hubungannya sama istriku?” Tanya Edwin lagi.


“Maaf Ed, aku tidak pernah mencintai Laura. Alfa mengancamku, jika aku masih dekat dengan Laura, Alfa akan menyakiti Viviane.” Ucap Angga pelan.


“kenapa harus istriku yang jadi korban? Apa kamu masih mencintainya?? Jawab!!” bentak Edwin.


“Alfa tahu kalau aku pernah menjalin hubungan dengan Viviane. Jadi dia mengira aku masih mencintainya Ed. Jujur saja meskipun aku sudah tidak mencintai Viviane tapi aku sama sekali tidak pernah membencinya, dan aku menganggap Viviane teman. Apa mungkin aku tega jika seseorang menyakiti temanku sendiri?” ucap Angga dan terpaksa berbohong tentang perasaannya.


“Aku pegang ucapan kamu kalau kamu sudah tidak mencintai istriku.”


“Iya. Maka dari itu tolong jaga istri kamu karena Alfa tidak main-main dengan ancamannya. Karena itu terbukti dari Alfa yang sampai mengikuti kalian bulan madu ke Madrid.” Ucap Angga.


Amarah Edwin yang tadinya pada Angga karena dia masih merasa bahwa Angga masih mencintai istrinya, kini teralihkan dengan informasi bahwa Alfa yang tak lain adalah Rian dengan sengaja mengikuti perjalanan bulan madunya ke Madrid. Edwin mengepalkan tangannya kuat.


“Dan satu lagi Ed. Aku rasa Laura sudah mengetahui masa laluku dengan Viviane. Dia juga mengancamku akan menyakiti Viviane kalau Laura tidak bisa bertunangan denganku. Laura juga mengira aku masih mempunyai perasaan pada Viviane. Padahal saat ini aku tidaak ingin menjalin hubungan karena aku hanya fokus mengembangkan perusahaan untuk membanggakan almarhummah Mamaku.” Ucap Angga bohong lagi dan kini kebohongannya dengan membawa nama mendiang Mamanya.


Edwin seakan mengerti perasaan Angga saat menyebutkan mendiang mamanya, dia jadi mempercayai perkataan Angga.


“Baiklah aku akan menjaga istriku. Dan satu permintaanku pada kamu.” Ucap Edwin kemudian.


“Tolong jauhi aku dan Viviane. Jangan pernah menampakkan diri di hadapanku maupun istriku.” Ucap Edwin.


Mau tidak mau Angga harus menuruti permintaan Edwin. Dan mungkin untuk sementara waktu dia akan tinggal di rumah utama. Rumah peninggalan orang tuanya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2