Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 41


__ADS_3

Dua bulan berlalu. Semenjak Viviane tahu bahwa Laura sudah mengetahui semua masa lalunya, dia lebih memilih untuk tidak bertemu dengannya. Dan Edwin pun tidak melarangnya. Memang lebih baik seperti itu.


Pagi ini Viviane bangun dengan terburu-buru dan segera berlari ke kamar mandi. dia merasakan perutnya seperti kram. Awalnya Viviane mengira perutnya sakit karena efek dari pergulatan ranjangnya semalam. Namun saat dirinya sudah di dalam kamar mandi dan melihat ****** ******** terdapat noda bercak darah, Viviane sedikit kecewa. Kecewa karena berharap bulan ini dia tidak kedatangan tamu bulanannya alias hamil. Tapi sepertinya dia harus lebih bersabar lagi. Satu bulan setelah pernikahannya Viviane juga diam-diam mencoba mengetes urinnya dengan test pack namun masih menunjukkan sat ugaris. Dan sekarang, di bulan kedua pernikahannya Viviane juga belum mendapatkan tanda-tanda akan hamil. Selesai membersihkan tubuhnya, dia segera keluar kamar mandi.


“Sayang kenapa?” Tanya Edwin yang kini berdiri di depan pintu kamar mandi dengan memperlihatkan wajah cemasnya.


“Perutku sakit Mas.”


“Apa perlu kita periksa ke dokter Sayang?”


“Nggak usah Mas. Ini sakit perut biasa.”


“Kalau biasa kenapa sampai kamu lari dan lama sekali di kamar mandi. aku nggak mau kamu kenapa-napa. Kita periksa ya?”


“Nggak usah Mas. Aku hanya sedang kedatangan tamu bulananku saja.”


“Oh gitu. Ya sudah, kamu tiduran saja. Aku buatin teh hangat ya.”


Viviane merasa bersalah pada suaminya karena dia belum bisa memberikan kabar kehamilannya. Saat suaminya akan keluar kamar, Viviane mencekal tangan Edwin.


“Mas! Maafkan aku.”


“Maaf kenapa Sayang?” Tanya Edwin heran.


“Maaf, sampai saat ini aku belum hamil.” Ucapnya lirih sambil meneteskan air matanya.


“Stt… sudah-sudah sayang jangan sedih. Aku nggak masalah soal itu. Mau kita punya anak atau tidak, sampai kapanpun aku tetap mencintai kamu. Anak memang penting, tapi anak bukanlah syarat utama aku menikahi kamu. Lagian kita menikah baru dua bulan. Masih banyak kesempatan untuk kita mencobanya lagi.”


“Tapi Mas, bagaimana kalau Mama menanyakan itu.”


“Sudah, nggak usah dipikirkan tentang Mama.”


Setelah itu Edwin keluar kamar dan membuatkan istrinya teh hangat. Kebetulan hari ini weekend, jadi Viviane bisa beristirahat.


Saat suaminya sedang ke dapur. Viviane memikirkan sesuatu. Kenapa dirinya belum hamil juga. sejenak ingatannya kembali ke masa lalu saat masih menjalin hubungan dengan Angga. Saat itu dirinya hanya melakukan hubungan badan dengan Angga 2x tanpa pengaman dan ternyata setelah itu dia dinyatakan hamil, meskipun akhirnya keguguran. Viviane jadi berpikir apakah kandungannya bermasalah setelah keguguran itu. Jujur saja semenjak saat itu Viviane tidak pernah lagi memeriksakan kandungannya.


Ceklek


“sayang, ini minum dulu mumpung masih hangat.” Ucap Edwin.


“terima kasih Mas.”

__ADS_1


Setelah meminum tehnya, Edwin duduk di atas tempat tidur sambil memijit lembut kaki istrinya. Edwin ingin membuat tubuh istrinya sedikit rileks. Viviane sangat terharu dengan sikap suaminya. Di mata Viviane Edwin adalah sosok suami yang sangat penyayang, penyabar, dan juga sangat perhatian.


“Mas, bagaimana kalau kita periksa saja?”


“Kita? Bukannya kamu yang sedang sakit perut Sayang? Kenapa Mas juga yang harus periksa?”


“Maksudku bagaimana kalau kita program hamil Mas. Aku takut ada masalah dengan kandunganku pasca keguguran dulu.”


“Sayang, sudah jangan dipikrkan lagi ya. Kamu ingat kan apa yang aku katakan tadi?”


“Iya Mas, tapi aku hanya ingin tahu saja apakah kandunganku baik-baik saja.”


“Ya sudah, nanti kapan-kapan kita periksa ya.”


Akhirnya Viviane merasa lega. Kemudian dia memilih untuk tidur lagi. Karena kalau saat PMS seperti ini memang lebih baik digunakan untuk tidur saja.


Sore harinya, perut Viviane sudah lebih enakan. Tidak sesakit tadi pagi. Sekarang dia sedang berbaring di ruang tengah sambil nonton Tv ditemani oleh suaminya.


Ting tong


“kamu tunggu disini dulu ya, biar Mas yang bukain pintunya.”


Kemudian Edwin membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Mama dan Papanya. Edwin sangat terkejut dengan kedatangan orang tuanya. Karena jarang sekali orang tuanya datang ke apartemennya.


“Ma, Pa? tumben?” Tanya Edwin.


“Memangnya nggak boleh Mama dan Papa kesini?” Tanya Sonya.


“Boleh lah Ma, gitu aja sewot.”


“Sudah-sudah, apa kalian mau berdebat di depan pintu seperti ini?” ucap Nico Papa Edwin.


Setelah itu Edwin mempersilakan kedua orang tuanya untuk masuk. Viviane yang sedang berbaring di sofa ruang tamu tampak terkejut dengan kehadiran mertuanya.


“Sayang, kenapa wajah kamu pucat sekali?” Tanya Sonya yang sangat khawatir dengan keadaan manantunya.


“Vivi nggak apa-apa ko’ Ma, hanya sakit perut saja.” Jawab Viviane.


“Sakit perut? Apa jangan-jangan kamu sedang hamil?” Tanya Sonya dengan wajah berbinar.


Namun Viviane hanya menggelngkan kepalanya. Dia melirik suaminya seolah meminta tolong agar memberi pengertian pada Mamanya.

__ADS_1


“Ed, Mama yakin kalau istrimu sedang hamil.”


“Ma, Viviane sedang datang bulan. Dan perutnya kram.” Ucap Edwin kemudian.


Viviane dapat melihat raut wajah kecewa dari Mama mertuanya. Viviane jadi merasa sangat bersalah. Sepertinya memang harus secepatnya dia memeriksakan kandungannya. Karena tidak biasanya juga dia mengalami kram perut seperti ini. Viviane takut ini ada hubungannya dengan dirinya yang belum juga hamil sampai sekarang.


“Nggak apa-apa. Lagian kalian menikah baru dua bulan. Masih banyak kesempatan bukan?” akhirnya Papa Edwin berbicara sambil memegang tangan istrinya yang tadi terlihat kecewa.


“Iya, nanti Mama akan meminta resep vitamin yang sangat bagus untuk kamu pada salah satu anak teman Mama.”


“Iya, Ma. Maafin Vivi Ma, Pa.”


“Sudahlah, lebih baik kita makan-makan saja. Tadi Mama kamu sudah masak enak loh dan membawa semua masakannya kesini.” Nico berusaha mencairkan suasana.


***


Sementara itu Laura kini tampak sangat kesal. Bagaimana tidak kesal, akhir-akhir ini Angga selalu menghindarinya. Bahkan saat datang ke kantornya pun ada saja alasan Angga agar tidak bertemu dengannya. Laura berpikir apakah Angga sengaja menghindarinya. Dan ini masih ada hubungannya dengan Viviane.


Viviane semakin kesal karena selain Angga menghindarinya, Edwin pun juga menghindarinya. Padahal Laura ingin sekali mengatakan pada Edwin apa yang sebenarnya terjadi antara Viviane dengan Angga selama ini di belakang Edwin.


“Ini semua gara-gara Viviane. Aku benci kamu. Aku akan membuat Mas Edwin membenci kamu. Tunggu saja” gumam Laura sambil tertawa sinis dan membayangkan rencana liciknya.


Laura melihat ponselnya. Tiap hari dia melihat riwayat panggilan pada ponselnya tertera nama Alfa. Pria itu tidak putus asa untuk mengajaknya balikan. Padahal Laura saat ini sedang berusaha mati-matian untuk mendekati Angga yang tiba-tiba menghindarinya.


Setelah meletakkan ponselnya di atas meja riasnya, Laura terbesit sebuah ide. Ide untuk mendapatkan Angga, sekaligus menghancurkan Viviane. Namun dia tidak begitu yakin apakah idenya itu akan berhasil. Karena dia akan membutuhkan Alfa untuk melancarkan ide liciknya itu.


“semoga saja Alfa tidak curiga.” Gumam Laura.


.


.


.


*TBC


Jgn lupa ikutin terus cerita Angga dan Viviane ya!!


Dan jgn lupa jg ikutin GA nya🤗😍


follow akun ig author @dee_k9191

__ADS_1


__ADS_2