Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 22


__ADS_3

Keesokan paginya Viviane sudah bersiap untuk bekerja di kantor Edwin. Ini adalah hari pertama dia bekerja di perusahaan milik calon suaminya. Sejak tadi Viviane sibuk memperbaiki penampilannya di depan meja riasnya. Dia bingung apakah penampilan sudah pantas atau belum. Dia takut akan mendapat penilaian jelek tentang penampilannya nanti.


Tok tok tok


Viviane tersentak kaget saat ada seseorang yang sedang mengetuk pintu kamarnya. Kemudian dia baru sadar bahwa Edwin sedang menunggunya.


Ceklek


“iya mas?” Tanya Viviane yang baru saja membuka pintu kamarnya.


“ada apa? Kamu mau kerja apa buka salon sih?” kesal Edwin yang sudah sejak tadi dirinya menunggu sang kekasih berdandan.


Viviane yang melihat wajah Edwin tidak seperti biasanya menjadi merasa bersalah. Biasanya Edwin sangat sabar tapi kali ini berbeda. Apakah dirinya terlalu lama berdandan hingga menyebabkan Edwin menunggunya terlalu lama juga.


“ma maaf mas” ucap Viviane tertunduk.


Edwin menghela nafasnya. Dia sadar akan ucapannya baru saja sedikit kesal hingga membuat Viviane merasa bersalah.


“hmm… ya sudah ayo kita berangkat. Kamu nggak usah mempermasalahkan penampilan kamu sayang. Mau berdandan seperti apapun kamu tetap cantic” ucap Edwin lembut. Dan Viviane mengangguk. Kemudian mereka berdua keluar dari apartemen untuk segera pergi ke kantor.


Edwin membukakan pintu mobil untuk Viviane, kemudian dia berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobil dan berangkat ke kantor.


Lagi-lagi Angga melihat Edwin di basement apartemennya. Angga melihat Edwin sedang menutup pintu sisi kiri mobil. Itu tandanya dia tidak sendiri dan ada orang istimewa yang diperlakukan oleh Edwin.


Angga dan Viviane tidak tahu kalau mereka tinggal di apartemen yang sama. Angga pikir ada seseorang yang tinggal di apartemen yang sama dengannya dan sedang dijemput Edwin atau justru Edwin yang tinggal di apartemen yang sama dengannya.


Angga semakin berpikir keras siap orang yang bersama dengan Edwin. Tadi malam juga dirinya melihat Edwin yang baru saja keluar dari salah satu unit apartemen dan pergi meninggalkan basement. Padahal kan Viviane sekarang posisinya ada di kota B. atau jangan-jangan Edwin…


Angga menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Edwin berselingkuh dari Viviane. Meskipun dirinya mencintai Viviane, namun dia juga tidak terima jika melihat orang yang dicintainya terluka.


Kini Edwin dan Viviane sudah sampai di kantor. Edwin segera masuk dan diikuti oleh Viviane dari belakang. Edwin mengajak Viviane memasuki ruangannya. Disana juga sudah ada papa dan mamanya Edwin. Mereka ingin menyambut kedatangan calon menantunya karena kemarin baik orang tua Edwin maupun Viviane belum sempat bertemu.


Ceklek

__ADS_1


Pintu terbuka. Viviane terkejut dengan keberadaan calon mertuanya yang sudah ada di dalam.


“pagi ma, pa” sapa Edwin


“selamat pagi tuan, nyonya” sapa Viviane


“sayang… kan sudah mama bilang panggil mama dan papa. Kan sebentar lagi kalian akan menikah” ucap mama Edwin yang tidak terima dengan sapaan Viviane.


“ma…maaf saya hanya berusaha professional karena ini sedang di kantor” ucap Viviane sambil tertunduk


“baiklah nggak usah dipermasalahkan. Lagian Viviane benar juga ma” bela Nico papa Edwin


Akhirnya mereka berempat duduk di sofa yang ada di ruang kerja papa Edwin. Nicolas memberitahukan pada Viviane bahwa memang perusahaan sedang membutuhkan tenaganya untuk membantu pekerjaan Edwin. Dengan kata lain Viviane akan menjadi sekretaris Edwin. Viviane tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh calon maertuanya itu. Viviane tidak yakin bisa menjalankan pekerjaan itu karena memang dirinya tidak ada pengalaman bekerja sebagai sekretaris.


“maaf tuan, tapi saya sama sekali tidak mempunyai pengalaman bekerja sebagai sekretaris”


“tenang, kamu nanti sambil bekerja sambil belajar pada atasan kamu” ucap Nico sambil melirik Edwin.


Sedangkan Viviane mengikuti arah pandang calon mertuanya yaitu Edwin. Edwin yang dilirik hanya tersenyum penuh makna. Viviane tidak yakin apakah dirinya bisa bekerja sungguhan jika atasannya adalah calon suaminya sendiri.


“tunggu! Edwin nanti ajak Viviane makan malam di rumah” ucap Sonya sesaat sebelum Edwin keluar. Kemudian Edwin mengangguk mengiyakan perintah mamanya.


Kini Edwin sudah memasuki ruangan kerjanya dimana ruangan itu sangat luas. Selain ada meja dan kursi tempatnya bekerja disana juga ada sofa yang bisa digunakan untuk bersantai. Dan di depan meja kerja Edwin ada meja kerja untuk sekretaris. Meskipun tersekat dengan dinding kaca, namun tetap saja jika dirinya bekerja akan melihat langsung keberadaan sekretarisnya.


“sayang, ini meja kerja kamu”


“maaf tuan. Bisakah anda bersikap profesioanal?”


Edwin hanya menghela nafas. Memang benar apa yang diucapkan oleh Viviane. Meskipun mereka sepasang kekasih mereka tetap harus professional dalam urusan pekerjaan.


“baiklah. Nona Viviane yang tersayang dan tercinta ini meja kerja anda”


Viviane memelototkan matanya saat sedang mendengarkan candaan Edwin. Dan Viviane terkejut bahwa meja kerjanya berada satu ruangan dengan atasannya. Apa-apaan ini. Dimana-mana meja kerja sekretaris itu ada di ruangan terpisah dengan atasannya. Sepertinya memang Edwin sudah merencanakan ini semua.

__ADS_1


“ada yang ingin ditanyakan nona?”


“maaf tuan, kenapa meja kerja saya ada disini?”


“oh jadi anda meminta meja kerja anda dipindahkan. Atau anda minta duduk di kursi yang sama dengan saya?” goda Edwin dan dengan cepat Viviane mencubit perut Edwin


“awwww…. Ampun sayang ampun” ringis Edwin.


Namun Viviane tidak peduli dengan teriakan kesakitan dari atasannya sekaligus kekasihnya itu. Percuma saja dia protes, Edwin juga tidak akan menuruti kemauannya. Jadi dia segera menuju ke meja kerjanya.


Melihat wajah Viviane yang cemberut, Edwin mengikuti langkah kaki Viviane. Edwin duduk di meja kerja Viviane. Dia menarik tangan Viviane agar bisa berdiri di hadapannya.


“sayang.. jangan ngambek gitu dong. Aku memang yang menginginkan seperti ini. Aku ingin kerjaku lebih semangat dengan melihat langsung orang yang sangat aku cintai ada di depanku” Viviane seketika luluh dengan ucapan Edwin


“tapi ma…mmmhhhhhh…..”


Belum sempat Viviane protes, Edwin sudah membungkam mulut Viviane dengan bibirnya. Entahlah sejak semalam setelah mengcup bibir Viviane untuk yang pertama kalinya, Edwin ingin mengulanginya lagi padahal semalam dia sudah berjanji tidak akan melakukan itu sebelum mereka sah menjadi suami istri. Tapi hari ini Edwin sepertinya tidak bisa menahannya. Meskipun hanya ciuman.


Keduanya kini sedang menikmati ciuman yang sangat hangat. Posisi Edwin yang duduk di meja, sedangkan Viviane berdiri di hadapan Edwin sambil mengalungkan tangannya ke leher Edwin. Edwin pun sedikit menekan tengkuk Viviane untuk memperdalam ciumannya.


Mereka berciuman selama beberapa menit. Mereka saling menyesap segala rasa manis yang ada dari masing-masing bibir. Kedua lidah mereka juga saling membelit. Hanya terdengar suara decapan dari keduanya dalam ruangan itu. Dan saat mata Edwin mulai memancarkan gairah yang lebih. Dia segera melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Viviane. Dia hanya ingin berciuman dengan Viviane. Tidak ingin yang lebih dari ini.


Setelaah tautan bibir mereka terlepas, Viviane dan Edwin sama-sama terengah-engah. Mereka berdua menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


“aku nggak sabar menunggu hari pernikahan kita tiba sayang” ucap Edwin sendu sambil mengelap bibir Viviane dari sisa salivanya dengan ibu jarinya.


“sabar ya mas” ucap Viviane tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2