
#Flashback on
Sebulan yang lalu saat Alfa masih berada di Aussie, asistennya seringkali mengirim pesan padanya agar pulang ke Indonesia. Awalnya Alfa masih enggan menanggapi pesan asistennya. Dia hanya tidak mau Angga menemukan keberadaannya. Tapi pesan terakhir yang dikirim oleh asistennya membuat Alfa akhirnya harus pulang saat itu juga.
“Tuan, pulanglah! Tuan besar mencari anda. Beliau sedang kritis di rumah sakit.”
Deg
Hati Alfa sangat berkecamuk. Apa yang sedang terjadi dengan Papanya. Selama ini Papanya juga terlihat baik-baik saja. Kenapa sampai dinyatakan kritis. Akhirnya hari itu juga Alfa terbang ke Indonesia.
Beberapa jam perjalanan udara, akhirnya Alfa tiba di Indonesia. Dia tidak peduli dengan orang-orang suruhan Angga yang mungkin saat ini sedang mencarinya. Yang terpenting adalah dia segera bertemu dengan Papanya. Entahlah sejak di dalam pesawat tadi Alfa merasa ada hal buruk yang akan terjadi.
Saat turun dari pesawat, Alfa segera menuju ke rumah sakit dimana Papanya sedang dirawat. Setelah beberapa menit, Alfa kini sudah berada di rumah sakit tepatnya di ruangan VVIP. Disana tampak Mamanya yang sedang duduk disamping Papanya dengan banyak selang yang terpasang pada tubuh Papanya.
“Ma!” panggil Alfa lirih.
“Al? kamu pulang Sayang?” ucap Mauren yang sudah memeluk Alfa.
Alfa membalas pelukan mamanya yang terlihat begitu rapuh. Bahkan air mata mamanya terus saja mengalir membasahi kemeja Alfa.
“Papa kenapa Ma?” Tanya Alfa yang kini sudah duduk disamping brankar Papanya.
Setelah mengusap air matanya, Mauren menceritakan perihal kondisi kesehatan Papanya yang satu bulan ini bermasalah. Mauren mengatakan perubahan kondisi kesehatan suaminya menurun sejak suaminya itu melakukan perjalanan bisnis keluar kota. Wiratmaja saat itu tiba-tiba terlihat murung dan sering menghabiskan waktunya di ruang kerjanya hingga larut malam.
Alfa sampai terkejut. Dia menjadi anak laki-laki yang dibanggakan seolah acuh dengan keadaan sang Papa. Alfa memang tidak pernah pulang ke rumahnya. Dia selalu pulang ke apartemen. Bahkan pekerjaan kantornya sudah ia serahkan pada sang asisten karena dia lebih mementingkan misi balas dendamnya.
“Maafkan Alfa Ma!” ucap Alfa.
“nggak apa-apa Al, yang terpenting sekarang kamu sudah pulang.”
Cklek
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik yang selama ini tidak pernah Alfa temui. Karena kesibukannya masing-masing.
“Kak? Kamu juga pulang?” Tanya Alfa pada Vania sang kakak.
“Iya. Aku sudah pulang seminggu yang lalu.” Jawab Vania.
Lagi, Alfa merasa sangat bersalah dengan Papanya karena tak mempedulikan pesan yang dikirimkan oleh asistennya. Alfa hanya mampu tertunduk seraya memanjatkan doa untuk sang Papa. Mungkin efek dari kecapekan dan usianya yang sudah tua hingga membuat Wiratmaja harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Begitulah menurut Alfa.
Saat ini sudah berkumpul semua kedua anak Wiratmaja beserta istri tercintanya. Perlahan Wiratmaja menggerakkan tangannya. Dan sedikit memberi sinyal pada keluarganya bahwa dia sudah sadar.
“Pa!” teriak Alfa yang tanpa sengaja melihat pergerakan Papanya.
__ADS_1
Vania segera memencet tombol darurat untuk memanggil dokter. Dan tidak perlu menunggu lama, dokter pun tiba dan segera memeriksa keadaan Wiratmaja.
“keadaan pasien sudah berangsur membaik. Dan sepertinya pasien ingin berbicara sesuatu dengan anaknya yang bernama Alfa.” Ucap dokter setelah memeriksa kondisi Wiratmaja.
Akhirnya Vania dan Mamanya memilih untuk keluar dan memberikan ruang pada Alfa untuk berbicara dengan sang Papa.
“Pa! maafkan Alfa Pa.” ucap Alfa saat melihat Papanya yang sudah membuka matanya.
“Al, Papa minta tolong nanti kamu urus perusahaan dengan adik sepupu kamu.” Ucap Papa Alfa tiba-tiba.
“Maksud Papa apa? Alfa tidak mengerti Pa.” jawab Alfa.
Nanti kalau Papa sudah pergi, tolong kamu ambil map warna coklat yang tersimpan di brankas ruang kerja Papa. Kata sandinya ulng tahun Mama kamu.” Ucap Papa Alfa lirih.
“Papa jangan bicara seperti itu. Sebentar lagi Papa sembuh dan kita semua bisa berkumpul bersama lagi Pa.” ucap Alfa.
Namun Tuhan berkendak lain. Setelah Wiratmaja memberi wasiat pada Alfa dan semua keluarga nya sudah kembali berkumpul di ruang rawat Papanya, akhirnya hari itu juga Wiratmaja menutup untuk selamanya.
Beberapa hari sepeninggal Papanya, Alfa memilih tinggal di rumahnya. Sedangkan Vania kakaknya sudah memutuskan kembali pulang ke luar negeri karena dia juga sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Saat ini Alfa masih berdiam diri di dalam kamarnya. Dia masih dihantui rasa bersalah kaarena tidak sempat merawat Papanya. Bahkan dia hanya bertemu Papanya beberapa jam saja kemudian ditinggal pergi untuk selamanya.
Alfa mengingat wasiat yang telah diberikan pada Papanya sebelum meninggal. Perlahan dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan memasuki ruang kerja Papanya. Sesuai dengan perintah, kini Alfa sudah mengambil map coklat yang ada di brankas. Alfa membaca surat wasiat itu dengan seksama.
Mungkin salah satu dari kalian yang Papa suruh membaca wasiat Papa ini setelah Papa pergi meninggalkan kalian semua.
Papa harap kalian berdua tetap rukun dan selalu menjaga Mama kalian saat Papa sudah tidak ada.
Dan untuk perusahaan, Papa harap kalian bisa menerima pembagian saham yang sudah Papa berikan. 40% untuk anak laki-laki Papa yaitu Alfa, 20% untuk anak perempuan Papa yaitu Vania.
Dan yang 40% Papa berikan pada keponakan Papa, yaitu anak tunggal dari adik kandung Papa yang bernama Mahesa.
Mungkin kalian tidak pernah tahu kalau kalian masih memiliki seorang paman yang tak lain adalah adik kandung Papa sendiri yang sejak dulu memutuskan untuk hidup mandiri tanpa bantuan kakek kalian.
Mahesa sudah meninggal satu bulan yang lalu. Dia meninggalkan seorang istri yang bernama Rafika dan satu anak perempuan. Carilah mereka di kota B.
Mungkin hanya itu yang dapat Papa tulis dalam wasiat ini. Papa sengaja tidak menyuruh notaris untuk menulis wasiat ini, karena Papa sangat percaya dengan anak-anak Papa.
Semoga kalian semua bahagia.
^^^Ttd
^^^
__ADS_1
^^^Wiratmaja
^^^
Alfa mengusap air matanya setelah membaca wasiat dari sang Papa. Alfa tidank menyangka kalau dia mempunyai adik sepupu yang tak lain anak dari Omnya.
#flashback off
Beberapa hari kemudian Alfa memutuskan untuk pergi ke kota B mencari keberadaan istri dan anak dari Omnya. Alfa merasa sedikit cemas karena dia mengingat kejadian saat dirinya melakukan perbuatan tidak terpuji pada seorang wanita yang tidak bersalah.
Alfa jadi teringat dengan Viviane. Bagaimana keadaan wanita itu sekarang. Dan bagaimana reaksinya jika nanti tanpa sengaja bertemu dengannya di kota ini. Kota tempat tinggal Viviane.
Setelah turun dari pesawat Alfa segera pergi mencari alamat rumah Om Mahesa. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Alfa kini sudah berada di depan rumah minimalis bercat putih. Berdasarkan informasi yang dia dapat, memang benar ini adalah rumah Om Mahesa.
Perlahan Alfa mengetuk pintu rumah itu. Dan tidak lama pintu itu dibuka oleh seorang wanita.
Alfa sangat terkejut melihat siapa wanita yang membukakan pintu itu. Yang tak lain adalah Viviane.
“Pergii!!!!!! Pergi dari sini!!!!” teriak Viviane.
Alfa masih bergeming dengan teriakan Viviane yang sangat histeris. Jadi, anak dari mendiang Om Mahesa adalah Viviane. Wanita tak bersalah yang sudah ia lecehkan.
“Pergi kamu bajingan!!!” teriak Viviane lagi.
“Kamu!!!” teriak Angga.
Bugh
Bugh
“Bajingan kau!!! Untuk apa kamu datang kesini?” Angga memukuli pria itu membabi buta. Tapi pria itu sama sekali tidak melawan pukulan yang diberikan Angga.
“Pergi dari sini sekarang juga!!” usir Angga lagi. Meskipun selama ini Angga mencari keberadaan pria brengsek itu.
“Vi…Viviane adik sepupuku!” ucap Alfa lirih.
.
.
.
.
__ADS_1
*TBC