
Pagi harinya Angga terbangun lebih dulu. Dia menatap istrinya yang masih nyenyak dalam tidurnya. Dia tersenyum mengingat malam indah telah mereka lewati. Angga benar-benar tidak menyangka akhirnya dia bisa memiliki Viviane seutuhnya setelah penantian panjangnya.
Cup cup cup
Angga menghujani wajah istrinya dengan beberapa kecupan hingga sang pemilik wajah cantik itu terusik dari tidurnya. Perlahan Viviane membuka matanyadan melihat sosok tampan sedang tersenyum sambil menatapnya.
“Mas!” lirih Viviane kemudian dia menutup wajahnya dengan selimut karena malu.
“Kenapa? Apa kamu ingat yang tadi malam dan ingin mengulanginya?” goda Angga.
“Nggak. Ini jam berapa Mas?” ucap Viviane setelah membuka selimut yang menutupi wajahnya.
“jam 7 Sayang. Kenapa?” Tanya Angga.
Viviane segera bangun dari tidurnya dan segera berlari ke kamar mandi. dia lupa kalau jam 9 nanti aka nada bakti social yang akan dia hadiri. Sementara Angga tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol istrinya yang berlari tanpa memakai baju sama sekali. (Coba masih virgin, berani nggah tuh lari 😂😂😂)
Angga segera menyusul istrinya ke kamar mandi. dia akan ikut mandi bersama istrinya. Angga juga pagi ini akan ke klinik karena ada sedikit pekerjaan yang sangat penting.
Setelah kegiatan mandi bersama dengan ditambahi kegiatan plus-plus, akhirnya Angga dan Viviane keluar daari kamarnya untuk segera melakukan breakfast. Ternyata disana sudah ada Andrew yang sedang sibuk memasak sesuatu.
Angga duduk di meja makan, sedangkan Viviane menghampiri Andrew yang sedang memasak. Tidak sopan rasanya jika Viviane hanya diam saja dan menunggu masakan Andrew matang.
“Wow enak sekali baunya. Masak apa kamu?” Tanya Viviane menghampiri Andrew.
Pria bule itu hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Viviane. Karena Viviane sudah tahu kalau dirinya sedang memasak nasi goreng. Karena sudah terbiasa hidup mandiri, pria berusia 30 tahun itu tampak sekali lihai dengan urusan masak memasak. Bahkan Viviane dan Angga pun sangat menyukai masakan Andrew.
Beberapa saat kemudian Andrew sudah menyelesaikan masaknya. Kini tugas Viviane yang menyiapkan makanan itu. Setelah itu mereka bertiga melakukan breakfast bersama.
Andrew melihat raut wajah Angga dan Viviane secara nergantian. Dia heran kenapa sejak tadi mereka berdua senyum-senyum tidak jelas. Dan tanpa sadar pandangan Andrew tertuju pada leher jenjang Viviane yang terdapat kissmark dan sedikit tertutup oleh rambutnya. Akhirnya Andrew paham apa yang telah terjadi diantara dua manusia di hadapannya kini.
__ADS_1
Senyum simpul tersungging dari bibir pria bule tampan itu. Akhirnya Angga sudah memiliki istrinya seutuhnya. Karena sejak pertama kali Angga mengajak Viviane ke Swiss, Angga sudah menceritakan semua tentang perjalanan cintanya dengan Viviane. Termasuk belum berani meminta haknya sebagai suami karena takut akan memperparah keadaan istrinya. Dari apa yang dilihat Andrew baru saja sudah sangat cukup membuktikan bahwa sahabatnya itu sudah bisa memiliki Viviane sepenuhnya.
“Vi, hari ini kita berangkat bersama saja untuk kegiatan baksos nanti. Setelah mengantar Angga kita langsung menuju lokasi.” Ucap Andrew setelah selesai melakukan breakfast-nya.
“kalian langsung berangkat saja, aku akan naik taksi saja. Lagian masih jam 10 nanti aku berangkatnya.” Ucap Angga menyela.
Akhirnya Andrew dan Viviane mengangguk. Setelah itu Viviane masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tasnya dan segera berangkat bersama Andrew.
“Aku duluan ya Mas!” pamit Viviane.
Kemudian Angga mengecup kening istrinya dan tearkhir mengecup bibir Viviane dengan cepat. Viviane melongo tak percaya dengan perbuatan suaminya. Padahal disana masih ada Andrew yang dengan jelas melihatnya. Viviane sangat malu. Tapi tidak buat Andrew, karena hal seperti itu sangat wajar dan sering ia jumpai nahkan di tempat umum.
“It’s ok” ucap Andrew seakan menanggapi rasa malu yang Viviane rasakan saat ini.
Kini Andrew dan Viviane sudah berada di dalam mobil untuk menuju lokasi tempat diadakannya baksos. Viviane sudah terbiasa seperti ini karena dia menganggap Andrew teman baiknya. Pria itu pun tampak santai dan menganggap Viviane juga sama dengan Angga yaitu sama-sama sahabatnya.
“What for?” Tanya Andrew heran.
“Semuanya. Berkat kamu aku sudah perlahan menghilangkan trauma itu. Bahkan kamu memberikan aku dan Angga tempat tinggal gratis.” Ucap Viviane.
“sudahlah. Nggak perlu dipermasalahkan lagi. Aku ikut senang kamu bisa sembuh.” Balas Andrew.
Andrew telah memutuskan agar Viviane tidak perlu melakukan terapi lagi. Dan juga menghentikan pemberian obat pada Viviane. Karena menurut Andrew Viviane sudah benar-benar sembuh. Hanya saja dia masih melarang Angga membawa istrinya pulang ke Indonesia. Biarkan saja Viviane mengisi kegiatan sosial dulu disini. Dikhawatirkan nati jika di Indonesia bertemu dengan orang-orang masa lalunya akan membuat Viviane trauma lagi. Angga pun menuruti perintah Andrew.
Selama tinggal di Swiss, Viviane juga sering bertukar kabar dengan Ibunya. Sebenarnya Viviane sangat merindukan Ibunya dan ingin sekali pulang. Tapi demi kesehatannya, Viviane harus kuat menahan rasa rindu pada Ibunya.
Ibu Viviane juga meminta pada Angga agar perlahan-lahan menceritakan tentang Alfa yang sebenarnya adalah kakak sepupu Viviane. Dan saat Viviane mendengarkan cerita Angga, dia sedikit terkejut tapi dia berusaha untuk menguasai emosinya. Akhirnya perlahan Viviane sudah bisa menerima status Alfa sebagai kakak sepupunya. Tapi untuk bertemu secara langsung dia belum siap.
***
__ADS_1
Sementara itu, sejak mengetahui keberadaan Viviane di Swiss beberapa bulan yang lalu, Alfa sebenarnya ingin sekali terbang langsung kesana namun tidak diperbolehkan oleh Angga. Alfa sudah berkomunikasi baik dengan Angga. Pria yang berstatus sebagai suami dari adik sepupunya itu tidak tega melihat Alfa yang begitu frustasi karena menyesali perbuatannya pada Viviane.
Berdarasrkan informasi dari Mike, Alfa sering sekali datang ke kantornya hanya untuk mencari informasi tentang keberadaan Viviane. Angga yang sering mendapat kabar itu akhirnya dia berusaha untuk lapang dada dan memaafkan perbuatan Alfa.
Alfa sering sekali bertukar pesan kadang juga melalui sambungan telepon dengan Angga hanya untuk mengetahui keadaan Viviane. Angga juga menceritakan semua perkembangan Viviane yang semakin membaik. Alfa sangat senang mendengarnya.
***
Alfa saat ini sedang duduk di ruang kerja Papanya. Hari ini dia benar-benar sibuk dengan urusan kantornya yang harusnya ia kerjakan bersama dengan Viviane. Namun dia tidak tahu kapan Viviane akan bersedia beekerja dengannya. Mengingat posisinya saat ini sedang ada di Swiss.
Drt drt
Ponsel Alfa bergetar tapi bukan notifikasi pesan melainkan panggilan. Alfa melihat siapa yang sedang menghubunginya malam-malam begini. Dia heran dengan id pemanggil itu adalah Angga. Tapi bukan panggilan suara melainkan panggilan video.dan tanpa pikir panjang, Alfa segera menggeser tombol hijau dan menerima panggilan itu.
Alfa melihat layar ponselnya. Disana tidak ada seseorang yang menampakkan wajahnya. Spertinya Angga sedang salah memencet dan dia tidak sadar sedang menghubunginya via video call.
“Halo!!” sapa Alfa namun tidak ada balasan. Alfa berniat memutus panggilan itu karena memang Angga tidak benar-benar meneleponnya.
“Ha loo” sapa wanita yang kini sudah menampakkan wajahnya.
“Vi viane?” ucap Alfa terbata.
.
.
.
*TBC
__ADS_1