Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 47


__ADS_3

Sonya benar-benar sangat malu akan kejadian yang baru saja terjadi. Dia tidak habis pikir kalau sebenarnya masa lalu menantunya seperti itu. Karena saat itu Edwin hanya mengatakan bahwa Viviane hanya pernah menjadi sugar baby itupun karena alasan ekonomi dan juga tidak berlangsung lama. Namun Edwin tidak mengatakan bahwa Viviane juga menjalin hubungan dengan nak dari sugar daddyny. Bahkan sampai hamil. Sonya sampai berpikir apakah Edwin tahu jika yang sebenarnya? Atau jangan-jangan Viviane menyembunyikan itu semua dari suaminya. Sungguh kasihan sekali Edwin.


“Aku akan tetap memisahkan Edwin dengan Viviane!” ucap Sonya penuh amarah.


Setelah itu Sonya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin mendinginkan otaknya dari kejadian yang sudah mempermalukannya. Beberapa hari ini suaminya pun berada di luar negeri jadi Nico sama sekali tidak tahu kejadian ini.


Sementara itu Viviane kini sedang berjalan seorang diri. Setelah diusir oleh mertuanya, Viviane terpaksa harus pulang ke apartemennya. Berhubung dia hanya membawa ponselnya dan sama sekali tidak membawa dompetnya jadi Viviane hanya bisa berjalan.


Tin tin


Tampak sorot lampu mobil tengah berhenti tepat di belakang Viviane. Namun Viviane semakin mempercepat jalannya. Dia takut sekali akan ada seseorang yang berniat jahat padanya.


“Vi!!” panggil seseorang.


Viviane menoleh karena merasa sangat mengenal suara itu.


“Rian?” ucapnya lirih.


Jujur Rian tidak tega melihat keadaan Viviane yang seperti ini. Dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Viviane. Kemudian Rian meminta Viviane masuk ke dalam mobilnya. Seketika itu Viviane menangis kencang menumpahkan kesedihannya. Rian hanya bisa terdiam.


Setelah Viviane sudah bisa menghentikan tangisnya, dia menceritakan masalahnya pada Rian. Karena Viviane juga tidak tahu harus pada siapa lagi dia bisa mengungkapkan segala kesedihannya.


Rian hanya setia mendengarkan cerita Viviane. Namun dia tidak bisa berbuat banyak. Sebenarnya niat Rian yang ingin menggunakan Viviane sebagai alat balas dendamnya pada Angga perlahan sudah ia lupakan karena sadar Viviane adalah wanita baik-baik. Dan dari pantauan Rian, Angga juga sudah tidak pernah berhubungan dengan Laura lagi.


Setelah itu Viviane meminta Rian agar mengantarnya ke apartemen. Karena Viviane juga sudah sangat capek dan ingin segera istirahat.

__ADS_1


“terima kasih Rian atas bantuannya!” ucap Viviane sebelum turun dari mobil Rian.


“Iya sama-sama. Kamu jangan sungkan untuk menghubungiku jika memerlukan bantuan” balas Rian.


Kemudian Viviane segera keluar dari mobil Rian dan masuk ke dalam unit apartemennya.


Tanpa sepengetahuan Viviane dan Rian, ternyata diam-diam Laura mengikuti Viviane sejak tadi. Laura sangat geram dengan Viviane. Ternyata Viviane benar-benar seorang ******. Selain mendekati Angga, kini Viviane juga mendekati Alfa. Laura juga mengambil beberapa foto Viviane dan Alfa dan akan mengirimkannya pada Edwin.


“Sekali ****** akan tetap menjadi ******. Tunggu saja kehancuranmu!” ucap Laura kemudian segera mengemudikan mobilnya menjauhi apartemen Viviane.


Keesokan harinya, Edwin tampak bersemangat sekali setelah pesawat yang ia tumpangi mendarat dengan selamat di bandara kota J. hari ini Edwin mempercepat kepulangannya karena dia sangat merindukan istrinya. Edwin sengaja tidak menghubungi istrinya sejak semalam. Karena dia ingin memberi kejutan pada istrinya bahwa hari ini dia pulang.


Kini Edwin sudah tiba di rumah orang tuanya. Dia ingin secepatnya memeluk tubuh istrinya yang selama seminggu ia tinggalkan. Namun saat memasuki rumah, khususnya di ruang tamu. Edwin tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Keadaan rumah sangat sepi. Kemana penghuninya? Bukankah ini hari sabtu. Hari dimana keluarganya berkumpul. Biasanya Edwin juga mendengar suara tawa istri dan mamanya yang tengah memasak atau membuat kue di dapur.


“Sudah pulang kamu Ed?” Tanya Mamanya yang baru saja menuruni anak tangga.


“Buat apa kamu mencari ****** itu?” Tanya mamanya dingin.


Seketika raut wajah Edwin berubah. Dia sangat marah saat menanyakan keberadaan istrinya namun mamanya menyebut istrinya adalah seorang ******. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa sikap mamanya berubah drastis seperti itu.


“Apa maksud Mama?” Tanya Edwin.


“Mama nggak mau mempunyai menantu yang tidak sehat. Apalagi dia bekas seorang ******!” ucap Rachel.


“Cukup Ma!! Mama nggak berhak menghakimi Viviane seperti itu. Ada apa sebenarnya? Kemana Viviane sekarang?” Tanya Edwin lagi. Dan segera berlari masuk ke dalam kamar untuk mencari istrinya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Mamanya.

__ADS_1


“Mama sudah mengusirnya sejak semalam. Mama minta kamu segera ceraikan Viviane. Mama nggak nyangka kalau Viviane pernah menjalin hubungan dengan anak dari sugar daddynya bahkan sampai hamil dan keguguran. Pantas saja kalian sulit mendapatkan keturunan. Mama sangat yakin kalau kandungan istri kamu memang bemasalah akibat ulahnya yang sering berganti-ganti pasangan. Sungguh sangat memalukan. Kamu harus segera urus surat cerai kamu secepatnya!” ucap Sonya panjang lebar.


Duarr


Dunia Edwin benar-benar hancur saat ini. Mamanya sudah mengetahui yang sebenarnya. Dia sangat mencintai Viviane. Dia tidak akan meninggalkan bahkan menceraikan Viviane. Dan soal keturunan, Mamanya sungguh sangat kejam telah menilai seseorang hanya berdasarkan logikanya sendiri. Padahal semua ini bukan salah istrinya, melainkan kesalahannya sendiri. Dengan penuh amarah Edwin mengambil amplop dalam tasnya dan melemparnya ke depan mamanya.


Sonya perlahan mengambil amplop yang baru saja dilempar oleh anaknya. dia mengernyit heran sekaligus penasaran dengan isi amplop yang berlogo rumah sakit. Tanpa menunggu lama, Sonya segera membuka amplop itu. Dia sangat bingung dengan nama yang tertera dalam surat itu adalah Edwin Danuarta yang tak lain adalah nama putranya. Ada apa sebenarnya. Memang Edwin sedang sakit apa.


“Apa maksudnya ini Ed?” Tanya Sonya.


“Apa Mama sudah membaca semuanya? Apa Mama sudah tahu isi surat itu?” Edwin balik bertanya pada mamanya dan mamanya hanya menggelengkan kepalanya. Karena surat itu dari rumah sakit luar negeri yang menggunakan Bahasa Inggris. Jadi Rachel agak kesulitan menerjemahkan bahasa kedokteran.


“Apa Mama tahu kalau isi surat itu menyatakan bahwa Edwin sedang sakit Ma! Edwin sakit dan tidak bisa diobati!” Tanya Edwin lagi dan Sonya masih tidak mengerti yang dimaksud oleh Edwin.


“Edwin menderita Infertilitas Ma!! Edwin tidak bisa memberikan keturunan. Edwin mandul Ma!! Mama jangan menyalahkan Viviane. Ini salah anak Mama. Sekali lagi ini bukan salah Viviane Ma!” akhirnya Edwin mengatakan rahasia yang telah lama ia pendam sendirian.


Sonya sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Edwin. Bagaimana mungkin anaknya menderita infertilitas? Sejauh ini yang ia tahu Edwin sangat menjaga kesehatannya. Dan tidak mempunyai keturunan mandul.


“Tidak mungkin Ed. Pasti kamu bohongin Mama!” ucap Sonya yang masih tidak percaya.


“memang begitu kenyataannya Ma. Selama ini mama terus saja mengekang Viviane agar segera hamil tanpa mengetahui bahwa Edwin lah yang bermasalah Ma. Edwin sangat mencintai Viviane Ma. Edwin yakin Viviane dapat menerima kekurangan Edwin. Dan Edwin tidak akan pernah menceraikan Viviane.” Ucap Edwin tegas dan segera pergi meninggalkan mamanya.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2