
Kini Viviane sudah kembali ke kamar hotel. Tadi mereka hanya melakukan makan malam yang sangat singkat. Bahkan Viviane sama sekali tidak memasukkan makanan yang sudah ia pesan ke dalam mulutnya. Viviane kini duduk sendiri di balkon kamar hotel sambil melihat pemandangan indah kota Madrid di malam hari. Bukannya senang dengan keindahan malam kota Madrid, tapi justru hati Viviane yang sangat kacau. Kacau setelah bertemu seorang wanita yang tak lain adalah mantan kekasih suaminya.
#Flashback on
“Grace???”
“Edwin???”
Ucap Edwin bersama dengan wanita yang tak lain ibu dari anak kecil yang telah menabrak Viviane tadi.
“Ed? Apa kabarmu?” ucap Gracia sambil memeluk Edwin tanpa melihat keberadaan Viviane.
“Grace, tolong jangan seperti ini!” ucap Edwin sambil berusaha melepaskan pelukan Gracia.
“Kenapa Ed? Aku sangat merindukan kamu.” Ucap Gracia dengan bingung.
Deg
Viviane terdiam membeku setelah mendengar jelas apa yang diucapkan oleh wanita cantik yang setelah beberapa detik yang memeluk suaminya. Viviane merasa ada sesuatu yang tidak beres antara suami dan wanita itu. Air matanya sudah hampir keluar namun dia harus sekuat tenaga mencegahnya agar tidak keluar begitu saja.
“Please, kita sudah lama tidak ada hubungan apa-apa. Dan aku sudah menikah.” Ucap Edwin, dan membuat Gracia sangat terkejut.
“Apa? Nggak mungkin.”
Edwin segera menarik tangan Viviane dan memperkenalkannya dengan Gracia. Meskipun Viviane masih sedikit kecewa tapi dia masih berusaha menurut pada suaminya.
“Perkenalkan. Dia Viviane. Istriku.” Ucap Edwin.
Namun Gracia tidak menyambut uluran tangan Viviane. Dia sangat marah saat tahu Edwin sudah mempunyai istri. Namun, amarah Gracia mereda setelah mendengar rengekan anak kecil di sebelahnya.
“Mommy… mommy come on mommy. Let’s go home now!” ucap Axel yang tak lain adalah anak Gracia.
__ADS_1
Edwin tidak percaya dengan panggilan anak kecil itu pada Gracia. Edwin melihat mata anak laki-laki yang berusia sekitar empat tahun itu sama persis dengan mata mantan kekasihnya. Namun selain matanya, wajah anak itu dominan dengan wajah bule. Apalagi rambutnya yang pirang.
“dia anak kamu Grace?” Tanya Edwin penasaran. Dan ingatannya kembali pada peristiwa lima tahun silam. Dan tanpa menjawab pertanyaan Edwin, Gracia segera menggendong Axel dan mengajaknya pergi. Namun sebelum pergi, Gracia mengatakan sesuatu pada Edwin dan istrinya.
“Aku nggak yakin hubungan kalian akan bertahan lama.” Gracia tersenyum sinis sambil melihat Edwin dan istrinya.
Selepas kepergian Gracia, Edwin segera mengajak istrinya kembali ke mejanya. Karena makanan yang mereka pesan sudah datang. Namun Viviane sama sekali tidak menyentuh makanannya. Edwin yang melihat sikap istrinya menghela nafas panjang.
“Sayang, Gracia adalah mantan kekasihku. Aku sudah tidak ada-“ ucap Edwin terpotong.
“Aku ingin kembali ke hotel sekarang, Mas!”
Viviane segera beranjak dari duduknya tanpa melihat suaminya sudah selesai makan apa belum. Edwin pun dengan cepat membayar tagihannya dan segera pergi menyusul istrinya.
Sesampainya di hotel, Edwin lagi-lagi ingin menjelaskan tentang Gracia pada istrinya. Namun belum sempat dirinya berbicara, Viviane sudah terlebih dulu mengatakan bahwa dirinya ingin sendiri dan tidak mau diganggu dulu.
#Flashback off
Viviane masih berdiam diri di balkon kamarnya. Dia tidak peduli kemana suaminya pergi setelah dirinya mengatakan ingin sendiri dan tidak mau diganggu. Sebenarnya Viviane bisa menerima penjelasan suaminya bahwa wanita itu hanya mantan kekasihnya. Dan saat dengan tidak tahu malunya wanita itu memeluk suaminya apalagi mengatakan masih merindukannya, Viviane berusaha untuk tetap kuat. Dia berkaca pada dirinya sendiri saat Angga mengatkan masih mencintainya, apa bedanya dengan kejadian yang dialami oleh suaminya tadi. Bahkan dirinya lebih parah, Angga sampai menciumnya. Viviane harus tetap yakin dan percaya dengan suaminya yang sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita yang bernama Gracia.
“Aku nggak yakin hubungan kalian akan bertahan lama.”
Viviane berpikir keras. Apa yang sebenarnya dimaksud oleh wanita tadi? Kenapa wanita itu seolah seperti paranormal yang meramalkan nasib masa depan seseorang.
Lama kelamaan mata Viviane terasa sangat pedih. Dia sudah sangat mengantuk. Jam yang melingkar di tangannya pun sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Akhirnya Viviane melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Viviane merasakan kamarnya sangat sepi. Kemana suaminya pergi hingga larut malam seperti ini. Apakah dia marah dengan sikapnya. Viviane ingin sekali menghubungi suaminya, namun matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya Viviane tidur terlelap seorang diri.
Satu jam kemudian. Edwin sudah memasuki kamarnya. Terlihat lampu kamarnya yang masih menyala terang, tapi penghuninya sedang tertidur pulas. Sejenak Edwin merasa sesak di dadanya saat melihat istrinya tidur seorang diri. Apakah istrinya tadi menunggunya. Edwin benar-benar frustasi dan mengacak-acak rambutnya. Dia tadi menuruti kemauan istrinya yang ingin sendiri. Dan dia segera keluar dari hotel dan pergi ke suatu tempat. Dia juga ingin sendiri.
“Aku sangat mencintaimu Vi. Aku nggak akan pergi meninggalkan kamu. Dan kamu juga harus berada di sisiku sampai kapan pun, dalam kondisi apapun” gumam Edwin sambil melihat istrinya yang sedang tidur pulas.
Setelah itu Edwin mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya. Kemudian dia mematikan lamu dan segera tidur menyusul istrinya. Karena dia juga sangat mengantuk.
__ADS_1
**
Sementara itu, di negara yang sama yaitu di Madrid. Nampak seorang pria yang tengah duduk di sebuah bar yang terdapat di hotel tempatnya menginap. Pria yang berasal dari Indonesia itu rela datang ke Madrid hanya demi misinya.
Pria itu sudah beberapa kali meneguk minuman beralkohol namun tidak juga tenaganya melemah. Itu terbukti bahwa pria itu adalah seorang peminum handal. Dia pikir setelah sekian lama tidak minum, dia tidak akan kuat dengan beberapa gelas minuman beralkohol. Tapi nyatanya, tenaganya masih sama seperti dulu.
“tunggu saja kehancuranmu. Aku mau kamu juga meraskan sakit hati yang sama seperti aku. bahkan lebih hancur dari diriku.” Gumamnya sambil terus meneguk minumannya.
***
Sedangkan Angga semalaman tidak bisa tidur. Dia masih terus memikirkan sang mantan kekasih yang kini sedang berbahagia. Bahkan sekarang mereka sedang berbulan madu. Hati Angga miris membayangkan apa saja yang dilakukan oleh Viviane disana. Dia ingin sekali mengacaukan bulan madu Viviane dan suaminya. Dia ingin membawa kabur mantan kekasihnya dari suami sahnya. Tapi dia teringat sore tadi yang tanpa sengaja bertemu dengan Ibu Viviane yang telah menginap di apartemen anaknya. awalnya Angga terkejut saat tidak sengaja mendengar panggilan seorang wanita.
“Nak Angga!”
Angga yang saat itu akan membuka pintu unit apartemennya seketika menoleh ke arah sumber suara. Angga tidak percaya bahwa Ibu Viviane yang memanggilnya.
“Nak Angga, maafkan Ibu yang dulu tidak menceritakan pada Viviane kalau nak Angga pernah mencari keberadaan Viviane. Dan tidak memberitahu keberadaan Viviane saat itu.” Ucap Ibu Viviane dengan rasa bersalahnya.
“Sudah terlambat, Bu!”
“Iya, memang semuanya sudah terlambat. Sekarang Ibu berharap agar Nak Angga tidak mencampuri urusan rumah tangga Viviane dan suaminya. Kalau Nak Angga masih mencintainya, biarkan Viviane hidup bahagia dengan suaminya. Sudah cukup penderitaan yang dialami oleh Viviane. Ibu harap Nak Angga mengerti.”
Angga sama sekali tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Ibu Viviane. Dia hanya tersenyum tipis, kemudian menunduk hormat. Setelah itu masuk ke dalam unit apartemennya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Jangan lupa kasih komen terbaik kalian utk bisa dapatin pulsa gratis dari author. dan follow akun ig author @dee_k9191
Love u all😘😘💕💕