
Viviane tidur meringkuk di atas ranjangnya. Sejak dua hari yang lalu saat mengetahui fakta mencengangkan tentang Andrew, Viviane sering mengurung dirinya di dalam kamar. dia tidak keluar sama sekali karena tidak mau bertemu dengan Andrew. Untung saja perawat yang ditugaskan menemani Viviane selalu memperhatikan kesehatan Viviane dengan baik. Sedangkan Andrew memutuskan untuk tinggal di sebuah apartemen yang baru saja ia sewa untuk tinggal sementara. Andrew tahu kalau Viviane tidak mau bertemu lagi dengannya.
#Flashback on
“Apa maksud kamu?” Tanya Viviane menghentikan tangisnya.
“Aku mencintaimu.”
Viviane tidak mampu berucap kata setelah mendengar pengakuan mengejutkan dari Andrew. Dia benar-benar tidak tahan dengan ini semua. Dia ingin sekali keluar dari rumah pria masa lalunya itu. tapi sayang, dia sedang berada jauh dari orang-orang yang ia kenali. Bahkan suaminya tidak ada kabar sekali sejak kepulangannya ke Indonesia.
“Maafkan aku Vi. Aku hanya mengungkapkan perasaanku. Aku sama sekali tidak berniat merebut kamu dari Angga. Aku ikut bahagia jika kamu juga bahagia. Aku mohon jangan ceritakan ini pada Angga. Aku tidak mau merusak persahabatanku dengan Angga. Aku janji akan bersikap biasa saja saat saat kita bertiga bertemu.” Ucap Andrew.
Viviane masih bergeming. Dia tidak tahu harus berbuat apa, karena memang dia sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Andrew. Dulu dia memang membutuhkan Andrew karena dia membutuhkan uangnya saja. Tapi itu dulu, masa lalu yang sangat pahit yang pernah dia alami. Sekarang dia sudah bangkit dari keterpurukan itu. Dan hanya ada satu nama yang tersimpan rapi dalam hatinya. Yaitu Angga. Suaminya sendiri.
“Baiklah aku akan pergi. Aku harap kamu selalu jaga kesehatan kamu dan kandungan kamu. Bolehkah aku meminta satu hal pada kamu sebelum aku pergi Vi?” Tanya Andrew, dan membuat Viviane mendongak seolah bertanya.
“Ijinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya.” Ucap Andrew.
Viviane tidak menolak juga tidak mengiyakan. Perlahan Andrew melangkah mendekat dan merengkuh tubuh Viviane dengan erat. Andrew menikmati kehangatan tubuh Viviane sejenak sebelum pergi meninggalkan rumah. Tepatnya meninggalkan Viviane. Beberapa saat kemudian Andrew mengurai pelukannya.
“Maafkan aku, dan terima kasih.” Ucap Andrew kemudian pergi meninggalkan Viviane.
#Flashback off
Viviane merasakan tidurnya tidak nyaman. Dia merasa ada sesuatu yng sangat berat menimpa tubuhnya. Perlahan dia membuka matanya, dan ada sebuah tangan kekar sedang memeluknya erat dari belakang.
“Lepaskan!!! Pergi!!!” teriak Viviane sambil berusaha menghempaskan tangan yang merengkuh tubuhnya.
“Sayang, hei ini aku Angga. Suami kamu.” Ucap Angga.
“Pergi!!” teriak Viviane lagi tanpa mendengarkan perkataan Angga.
“Sayang, lihat aku. aku suami kamu. Kamu kenapa?” Tanya Angga berusaha menenangkan Viviane yang histeris.
Semalam Angga sudah kembali lagi ke Swiss. Sebelumnya Angga sempat memberi kabar pada istrinya kalau dirinya akan kembali ke Swiss tapi sayang ponsel Viviane tidak aktif. Bahkan setelah sampai bandara Internasional Zurich, ponsel Viviane masih belum aktif. Hingga membuat Angga menghubungi Andrew untuk menanyakan keadaan istrinya.
Dan Andrew hanya menjawab kalau Viviane baik-baik saja karena dirinya sedang ada pekerjaan di luar kota.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Angga mengetuk pintu yang ternyata yang membuka adalah perawat yang menemani Viviane. Perawat itu pun mengatakan kalau Viviane sudah tidur sejak sore, namun tidak mengatakan kalau selama beberapa hari ini Viviane mengurung dirinya di dalam kamar. karena Andrew melarangnya. Kemudian Angga bergegas masuk ke dalam kamar. disana terlihat sang istri sedang tidur meringkuk. Angga segera bergabung tidur bersama Viviane.
Viviane meredakan tangisnya setelah dapat memastikan kalau orang yang memeluknya adalah Angga, suaminya. Viviane mengira kalau orang yang telah memeluknya itu adalah Andrew. Pasalnya terakhir kali pria itu meminta ijin untuk memeluknya sebelum pergi meninggalkan rumah.
“Mas, kamu kemana saja?” Tanya Viviane dengan wajah sendunya.
“Maafkan aku Sayang, aku benar-benar ada urusan yang sangat penting.” Jawab Angga sambil memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Angga merasa saangat bersalah karena selama kepulangannya ke Indonesia, dirinya tidak pernah menghubungi istrinya. Angga melihat raut wajah istrinya seperti tidak baik-baik saja. Ada apa sebenarnya. Apa yang telah terjadi selama dia pulang ke Indonesia.
“Sekali lagi maafkan aku Sayang. Aku janji tidak akan pergi meninggalkan kamu lagi. Maafkan aku.” ucap Angga sambil mengecup pucuk kepala istrinya.
“Mas, aku mau pulang.” Ucap Viviane tiba-tiba.
“Iya, nanti kita pulang setelah kandungan kamu kuat ya.” Ucap Angga tapi Viviane menggeleng.
Angga tidak mau menanyakan kenapa istrinya tiba-tiba minta pulang. Saat ini yang penting adalah menenangkan istrinya dulu.
Setelah itu Angga menyiapkan air hangat untuk istrinya mandi, sedangkan dia menyiapkan sarapan untuk istrinya dan membuatkannya susu.
“Sayang, ayo kita makan dulu.” Ajak Angga saat Viviane sudah keluar dari kamar dengan badan yang terlihat sangat segar.
Angga melihat wajah istrinya yang terlihat sangat segar membuatnya kesusahan menelan saliva. Sudah lama sekali semenjak kehamilan Viviane, Angga tidak pernah menyentuh istrinya karena takut. Dan kini usia kandungan istrinya sudah menginjak 2 bulan, tapi Angga sepertinya tidak kuat menahan hasratnya.
“Mas kenapa lihatin aku seperti itu?” Tanya Viviane heran.
Angga mendekati istrinya kemudian memeluknya. Harum bau tubuh Viviane seketika membuat sesuatu dalam diri Angga bergejolak. Dia ingin sekali menyalurkan hasratnya tapi masih takut. Sedangkan Viviane menyadari sikap aneh suaminya, dia segera mengurai pelukannya.
“Mas, jangan dulu. Masih trimester pertama. Aku takut.” Cegah Viviane.
“Tapi aku ingin Sayang.” Ucap Angga dengan mata sayunya.
“Kita tanyakan pada dokter kandungan dulu ya.” Bujuk Viviane.
Akhirnya Angga berusaha kuat menekan egonya untuk tidak kelepasan menyerang istrinya. Benar apa yang dikatakan oleh istrinya, lebih baik menanyakan dulu pada dokter kandungan.
Setelah itu Angga mengajak istrinya untuk sarapan dulu.
__ADS_1
Kemudian mereka akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Viviane sekaligus menanyakan tentang keinginan Angga yang ingin melakukan hubungan suami istri.
Siang ini juga Angga mengajak istrinya pergi ke salah satu rumah sakit di kota untuk memeriksakan kandungan Viviane. Tidak perlu mengantri lama, Angga dan Viviane sudah berada di dalam ruang pemeriksaan spesialis kandungan.
“Bagimana keadaan kandungan istri saya Dok?” Tanya Angga sesaat setelah Viviane melakukan pemeriksaan USG.
“Sejauh ini kandungan Nyonya sehat-sehat saja. Apakah Nyonya masih ada keluhan?” Tanya Dokter memastikan dan Viviane menggeleng.
“Baguslah. Saya akan memberikan vitamin. Dan nanti tolong ditebus di apotek.” Ucap Dokter.
“Dokter, saya mau Tanya. Apakah kami sudah diperbolehkan melakukan hubungan suami istri?” Tanya Angga.
Viviane malu sekali mendengar pertanyaan suaminya. Tapi bagi dokter itu wajar saja. Akhirnya dokter menjawab memperbolehkan untuk berhubungan suami istri asal dengan hat-hati dan tidak terlalu sering.
Angga tampak lega sekaligus senang setelah mendapat jawaban dari dokter kandungan itu. Kemudian Angga dan Viviane segera pulang, sebelumnya dia menebus beberapa vitamin untuk istrinya terlebih dulu.
Dalam mobil Angga tampak bahagia sekali. Dia terus saja memegang tangan istrinya. Dia sudah tidak tahan untuk segera berbuka puasa. Tapi sebelumnya dia harus pergi ke klinik Andrew terlebih dulu.
“Mas, kenapa kita kesini?” Tanya Viviane saat taksi yng ditumpanginya berhenti di depan klinik Andrew.
“Oh, aku ingin bertemu dengan Andrew Sayang. Ayo kita kesana dulu.” Ajak Angga sambil menggandeng tangan istrinya. Tapi Angga merasakan tangan Viviane sangat dingin dan wajahnya sedikit memucat.
“sayang, kamu sakit?” Tanya Angga dan Viviane menggeleng.
Namun Angga tetap melangkahkan kakinya masuk ke klinik Andrew. Angga ttap memegang lembut tangan istrinya.
“Hai Ndrew!” sapa Angga saat sudah berada di dalam ruangan Andrew.
Bukannya menjawab, pandangan Andrew justru tertuju pada wanita yang berada disamping Angga, yaitu Viviane.
.
.
.
*TBC
__ADS_1