CINTA SETELAH AKAD

CINTA SETELAH AKAD
Eps 33


__ADS_3

Hari sudah semakin siang, semenjak Ataya menyuruh nya untuk selalu menajuh, Ibra hanya berdiam diri di sofa depan televisi.


Rasa khawatir nya bertambah, ketika ia melihat wajah istri nya kini yang semakin pucat.


"Sayang!" Panggil nya pelan, Ibra terus berusaha menjaga jarak dengan Ataya agar wanita itu tidak kembali marah pada dirinya.


Mendengar panggilan Ibra, Ataya membuka mata nya perlahan, pandangan mata nya terlihat sangat sayu.Tidak ada jawaban dari Ataya, ia hanya terdiam, bahkan setelah membuka mata nya, kini mata Ataya sudah tertutup kembali.


"Kamu sakit apa?"Tanya Ibra khawatir."Apa darah mu rendah, atau kamu punya asam lambung?"Ibra benar-benar bingung dengan ke adaan istrinya saat ini.


" Ataya nggak apa-apa bang, coba tolong ambilin Tolak angin di kotak obat aja!"Pinta nya dengan suara lemas.


"Enggak sayang, kamu jangan sembarangan minum obat."Sergah Ibra dengan suara pelan.


"Yasudah ambilin testpack di laci meja rias!" Pinta Ataya yang langsung di sambut senyuman Ibra.


Dengan langkah lebar, Ibra pun membuka laci yang Ataya maksud, lalu memberikan alat test kehamilan yang masih terbungkus rapih kepada Ataya.


Dengan tenaga yang tersisa, Ataya pun mulai bangkit dari tempat tidur nya, kaki yang mulai melangkah perlahan menuju kamar mandi.


Ketika Ataya ingin menutup pintu kamar mandi, sebuah tangan menahan pintu cukup kuat.


"Abang!"Cicit Ataya sambil menatap pria yang berdiri di ambang pintu.


"Ikut."Renget nya dengan tatapan pemuh permohonan.


"Tungguin,.. duduk di sofa sana!" Tunjuk Ataya ke arah sofa yang berada di kamar nya.


Walaupun Ibra sangat ingin menemani istri nya untuk melakukan test awal kehamilan, tapi apa boleh buat kalo. Ataya sudah menyuruh nya menunggu sambil duduk di sofa kamar.


Sementara itu Ataya yang sedang berda di dalam kamar mandi, perasaan nya tidak karuan, ada rasa takut kecewa ketika ia mulai mencelup kan test kedalan urin nya.


Pandangan mata Ataya terus memperhatikan benda pipih itu, hati nya mulai berdebar sangat kencang ketika satu garis merah mulai terlihat.


Manik Ataya pun membulat sempurna, tangan nya berada di depan mulut yang menganga seperti menahan sesuatu yang akan keluar.


"Ya allah!"Lirih nya sambil memengang dada yang sudah terasa sedikit sesak akibat debaran yang sangat kencang.


Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Ataya meraih handle pintu, menekan nya perlahan sampai terbuka.


—Ceklek...


Ataya sangat terkejut, tubuh nya tersentak ketika mendapat Ibra yang sudah berdiri di hadapan nya.


"Abang!" Tangan nya memukul kencang dada Ibra."Bikin jantungan aja, di suruh tungguin di sofa ih!"Cicit nya pelan, dengan raut wajah yang terlihat sedikit kesal.


Ibra yang mendapat kan omelan bertubi-tubi hanya mengehela nafas nya lalu tersenyum.


"Jadi gimana sayang?" Tanya Ibra antusias.


Ataya tidak menjawab pertanyaan dari Ibra, ia terus saja berjalan pelan menuju sofa yang berada di ujung kamar nya.


Kini mereka berdua sudah duduk berdampingan di atas sofa empuk berwarna abu-abu tua.


Ataya yang tiba-tiba saja menetes kan air mata nya membuat Ibra semakin khawatir dan penuh tanya.


"Kenapa sayang?"Ibra bertanya dengan kepala sedikit menunduk, menyeimbangkan tatapan kepada Ataya yang kini tertunduk.


"It's oke kalo memang belum, tidak apa-apa!"Ucap nya dengan suara pelan, tangan nya pun terus mengusap punggung Ataya agar wanita itu sedikit lebih tenang .


Seketika Ataya langsung memberikan tastpack dari genggaman nya kepada Ibra.



Lama Ibra menatap benda tersebut, lalu mata nya terlihat sudah mengumpulkan cairan bening di sudut mata nya.


"Sayang?"Ibra menatap istrinya, lalu dengan cepat Ataya jawab anggukan dengan bibir tersenyum.


Rasa bahagia yang menyeruak dalam dirinya sudah tidak bisa di tahan lagi, sampai pria itu menghambur ke dalam pelukan istrinya sambil menangis.


"Terimakasih sayangku." Ibra kembali bersuara dengan air mata yang sudah membasahi pipi.


Ataya hanya membalas nya dengan senyuman tipis, dengan mata yang juga sudah berkaca-kaca.


Ibra menatap netra Ataya penuh cinta, ia meraup wajah Ataya, lalu menghujani nya dengan banyak kecupan.

__ADS_1


"Anak papah harus sehat ya sayang!" Tangan nya mengusap lembut perut Ataya.


"Heump,.. Abang ko bau!!" Ataya lansung menutup kembali hidung nya.


"Jadi abang harus gimana?" Tanya Ibra lirih.


"Coba pakein minyak telon di baju abang."Ujar Ataya sambil terus menahan rasa mual.


"Abang mandi dulu, nanti pake minyak telon punya kamu yang banyak."Ucap nya, lalu bergegas menuju kamar mandi.


"Sayang kamu juga harus mandi nanti sore! kita ke Dokter oke?"Kepala Ibra meyembul di balik pintu dengan wajah yang sangat ceria .


Setelah Ibra benar-benar masuk dan menyalakan air, Ataya langsung berjalan menuju dapur, ia mengambil segelas air hangat untuk menetral kan rasa mual yang tak kunjung reda.


"Apa kamu benar-benar ada di perut ku sayang?"Gumam nya pelan dengan tangan yang terus mengelus perut rata nya.


Sambil menunggu Suami nya selesai, Ataya duduk di sofa ruang tenga, lalu menyalakan tv, dan mencari chanel cartoon favorite nya.


Setelah lima belas menit, terdengar pintu kamar mandi pun terbuka, terlihat Ibra keluar dengan rambut kelimis dan lilitan handuk di pinggang nya.


"Jangan pake parfume!" Teriak Ataya.


"Iya nyonya Ibra."Jawab Ibra yang berada di dalam kamar.


Setelah selesai, Ibra langsung menghampiri Ataya dengan hanya menggunakan celana jeans panjang nya.


"Kenapa belum pake baju?"Ataya menatap heran ke arah Ibra.


"Pakein dulu minyak telon nya!" Ibra memberikan botol kecil di tangan nya kepada Ataya.


Tangan Ataya meraih minya telon yang di berikan Ibra, lalu mengoles kan nya ke seluruh tubuh Ibra dengan lembut.


^


^


Dua puluh menit berlalu, kini Ataya tengah bersiap untuk segera mengenakan Abaya hitam nya.


"Udah siap sayang?" Tanya Ibra.


Ibra menjengit.


"Yasudah abang ganti sama kaos."Ucap nya lalu kembali berjalan ke arah lemari, lalu maraih kaos berwarna abu-abu.


"Abang, jangan pake kaos! pake hoodie yang tadi aja." Pinta Ataya kembali.


" Ataya kamu lagi ngerjain abang?!" Tanya Ibra sedikit mencurigai istrinya.


"Siapa yang lagi ngerjain abang sih, pake kaos malah makin ganteng aku nggak suka nanti banyak ciwi-ciwi pada ngelirik suami aku!"Sergah Ataya sambil memutar bola mata.


Ibra kembali membuka kaos yang sudah terpasang di tubuh nya lalu kembali mengenakan hoodie hitam nya.


"Yasudah hayu kita berangkat."Kata Ibra, lalu meraih tangan istrinya untuk di genggam.


—Cup ..


Ibra mencium kening Ataya.


"Jangan cemberut nanti cantik nya hilang!" Tangan Ibra mengusap lembut pipi Ataya, lalu tersenyum.


^


^


Sekitar satu setengah jam mobil nya melaju, kini Ibra dan Ataya pun sudah sampai di rumah sakit, yang mereka tuju.


"Ada yang bisa kami bantu bu?" Tanya seorang laki-laki, ketika Ataya duduk di kursi pendaftaran.


"Saya mau ke Dokter kandungan mas."Ujar Ataya.


Setelah beberapa detik menyelesaikan pendaftaran, Ataya dan Ibra langsung berjalan menuju poli kandungan, dengan tangan Ataya yang terus menggandeng lengan Ibra.


"Aku udah nggak bau lagi sayang?"Tanya Ibra sedikit berbisik kepada Ataya.


"Bau kamu nya ke tutup sama minyak telon."Sahut Ataya dengan suara rendah juga.

__ADS_1


"Padahal banyak banget yang suka bau parfume di badan abang."Tukas Ibra, sampai membuat ekspresi di wajah Ataya berubah.


"Yasudah sana, biar aku aja yang periksa!" Tangan nya mendorong tubuh Ibra.


"Nggak lah, aku juga mau lihat anak aku!" Jawab Ibra.


Setelah menelusuri lorong demi lorong, akhirnya Ibra dan Ataya pun sampai di depan poli kandungan.


Terlihat sudah ada beberala orang yang menunggu.


Satu-persatu antrian pun mulai mengurang , hingga akhir nya nama Ataya pun di panggil.


Mendapat nama nya di panggil, Ataya pun langsung beranjak di susul Ibra yang juga ikut masuk ke dalam ruang partek Dokter.


"Lah,.. Ibra!"


"Syifa!"Ucap kedua nya bersamaan.


Ataya hanya terdiam, menatap Dokter dan suaminya bergantian.


"Ini istri kamu bra?" Tanya Dokter wanita tersebut.


"Iya, kenalin Ataya istri gue."Ujar Ibra.


"Syifa."


"Ataya."


Kedua nya berjabat tangan.


"Sayang ini temen aku waktu SMA."Jelas nya kepada Ataya.


Ataya mengangguk.


"Apa ada keluhan?" Tanya Dokter syifa.


"Saya mau periksa Dok!" Sahut Ataya.


"Baiklah mari ikut saya."


Ataya mengangguk, lalu melangkah kan kaki nya mengikuti Dokter Syifa.


"Silah kan naik, Ibra tolong bantu istri nya untuk sedikit mengangkat gamis nya ya!"Titah Dokter sambil menaikan selimut untuk menutupi tubuh bagian bawah Ataya.


Perut Ataya kini sudah terlihat, Dokter pun mulai mengoleskan gel di atas perut Ataya.


" Kita lihat ya, udah telat berapa hari?" Tanya Dokter syifa sambil mencari keberadaan janin di perut Ataya.


"Telat nya udah lima hari Dok!"Jawab Ataya.


Dokter syifa pun tersenyum kala monitor memperlihat kan janin yang masih sangat kecil.


"Nyonya Ibra itu adalah janin yang berada di rahim anda."Jelas nya tersenyum." Usia nya sudah tiga minggu."


Ibra kembali menatap Ataya dengan senyum penuh makna.


"Mari ikut saya."Ucap nya kembali, setelah selesai melakukan pemeriksaan.


"Apa ada mual dan muntah?" Tanya Dokter kembali.


"Iya, saya pusing dan mual mencium bau suami saya!"Jawab Ataya jujur.


Mendengar penjelasan Ataya, Dokter itu pun tersenyum.


"Oh baiklah, saya akan memberi mu vitamin dan susu ya!" Jelas nya sambil terus menulis.


"Oke thanks ya syifa"Kata Ibra kepada wanita yang duduk di hadapan nya.


"Sama-sama, jangan lupa istrinya jangan di bikin setres!"Jelas Dokter Syifa yang tak lain adalah masa SMA nya dulu.


Setelah mengantri obat beberapa menit lama nya, kini mereka sudah berada di dalam perjalanan pulang.


Walaupun Ibra pokus mengemudi tangan sebelah kiri nya tetap mengenggam erat tangan Ataya yang kini sedang tertidur di kursi samping kemudi.


...TBC🌻🌻🌻...

__ADS_1


...Jangan lupa! like, vote dan komen.....


__ADS_2