
Hari-hari yang di tunggu Ataya dan Ibra pun telah tiba, hari ini adalah jadwal Ataya memeriksakan kandungan nya kembali.
"Sayang, sebelum ke Dokter kita ke rumah papah dulu yah?" Ibra menghampiri Ataya yang tengah duduk di meja rias.
"Iya bang, jadwal nya masih sore kok! Jadi sekarang bisa mampir dulu."Sahut Ataya.
Ibra mengangguk, terus memperhatikan Ataya yang sibuk dengan barang-barang makeup nya, ketika Ataya mengeluar kan sesuatu banda untuk ia pakai dan mempercantik warna mata nya, Ibra bersuara kembali.
"Ih kamu mau pake apa?!"jemari tangan Ibra menahan lemgan Ataya yang sudah siap memasukan soflent berwarna abu-abu.
"Mau pake ini!" Ataya menunjukan benda yang berada di atas jari telunjuknya , wajah nya menatap heran kepada suami nya itu.
"Apaan, nggak boleh!" Ibra menjengit. "Kalo mau pake ini, nanti aja malem sekalian pake baju tipi-tipis." Jelas nya lagi.
"Ish, abang ngaco!"Ataya menarik lengan nya dari genggaman Ibra.
"Sayang simpen nggak!" Tegas Ibra. "Kalo nggak mau, kita nggak usah berangkat."
"Hadeuh!" Ataya membuang nafas nya kasar. "Iya Ataya simpen lagi." Ataya menuruti keinginan suami nya.
Ibra tersenyum.
"Kamu tuh nggak usah aneh-aneh sayang, abang takut ada yang kagum dengan kecantikan kamu ini loh!"Ibra menjelas kan rasa cemburu nya dengan cara yang berbeda.
"Abang juga kalo kemana-mana rapih, wangi, ganteng lagi.Emang Ataya nggak takut apa ada banyak mata gatel yang minta di garuk di luar sana?" Omel Ataya.
"Itu semua karena abang ada yang urus, jadi selalu rapih dan wangi."Sahut Ibra." Kamu harus nya bangga suami nya ke urus bukan takut"Ibra berujar.
"Yaudah kita berangkat sekarang, terus mampir ke toko kue dulu, buat papah sama tante Amira." Kemudian Ataya berdiri berjalan keluar dengan tas kecil slempang yang ia kenakan.
Selesai bersiap-siap, kedua nya segera beranjak, keluar dari apartemen dengan kedua tangan yang terlihat saling menggenggam.
...———————...
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, Ibra pun memarkirkan mobil nya di salah satu toko kue.
Ibra dan Ataya berjalan memasuki toko yang terlihat cukup besar.
Laki-laki itu membawa dua keranjang di tangan kanan dan kiri nya.
"Ambil juga buat ade yah." Ibra tersenyum kepada istrinya yang sedang memilih cookies.
" Wah asik papah mau beliin cemilan" Sahut nya gembira , dengan tangan yang mengusap perut.
"Ambil buat karyawan cafe nggak?" Tanya Ataya.
"Boleh, ambil aja dua toples."Ibra senyum.
"Masa dua sih, tiga aja yah?" Tawar Ataya kepada suami nya itu.
"Yaudah ambil aja." kata Ibra.
Setelah mengambil sembilan toples cookies dengan tiga rasa yang berbeda , Ibra pun berjalan menuju kasir, dan segera melakukan transaksi pembayaran .
__ADS_1
"Mas di bikin tiga kangtong yah, masukin kue coklat nya satu , nastar satu, sama kue keju nya satu." Usul Ataya kepada seorang kasir.
"Boleh, apa mau tambah Dessert box nya bu sekalian?" Tawar nya kepada Ataya sambil tersenyum.
Ataya pun melihat ke arah Ibra, lalu tersenyum manis seperti anak kecil yang meminta izin untuk membeli permen.
"Ambil satu aja mas yang red velvet." Ibra memesan kan untuk Ataya.
Setelah mempir di roko kue beberapa menit, dan melalui dua jam lama nya perjalanan ,akhir nya mobil hitam Ibra sudah memasuki pekarangan rumah yang tampak cukup besar milik orang tua nya.
Amira yang sedang menyiram bunga-bunga kesayangan nya terkejut senang, melihat Pajero hitam memasuki garasi mobil rumah suami nya.
"Eh, anak sama menantu mama datang!" Sambut Amira dengan senyum yang penuh kebahagiaan.
"Iya tante, nanti sore mau periksa adek, jadi mampir dulu." Jelas Ataya tak lupa mencium punggung tangan Amira.
"Papah di mana mah" Tanya Ibra .
Seperti mendapat hadiah yang sangat luar biasa, Amira kini mulai mendengar sebutan mamah dari anak sambung nya Ibra, berbeda dengan Gilang yang sudah terlebih dulu memanggil Amira dengan sebutan mama.Ibra dan Ataya selalu memanggil nya tente.
"Ada lagi nonton tv, Ayo masuk!"Ajaka Amira pada anak-anak nya.
"Mah?" Panggil Ataya mengikuti panggilan suaminya. "Ataya bawa kue nastar kesukaan mama." Jelas nya sedikit gugup.
"Aduh, pake bawa buah tangan segala." Amira menerima satupaper bag berisi tiga toples kue "Lain kali kalo mau kesini kasih tau biar mama masakin yah." Amira tersenyum.
Mereka bertiga pun berjalan menuju ruang keluarga, tempat dimana Ruli berada.
"Pah, ada anak-anak datang." Amira menghampiri suami nya.
"Ibra, kok nggak bilang-bilang mau kesini?" Tanya Ruli.
"Dadakan pah, Ataya mau periksa kandungan, karena rumah sakit nya nggak jauh dari sini, makanya mampir dulu." Jelas Ibra.
"Ini mereka juga bawain papah kue." Sahut Amira meletakan paperbag di atas meja.
"Wah terimakasih." Ruli tersenyum.
"Bi, tolong panggilin Gilang di atas!"Pinta Amira kepada bi Mimi.
"Iya bu." Jawab nya cepat, lalu mulai menaiki tangga.
"Tunggu yah, mama ambilin minum dulu." Amira berlalu menuju dapur.
" Papah sehat ? " Ataya bertanya.
" Sehat, sangat sehat. Apalagi sebentar lagi cucu papah lahir jadi harus sehat." Jelas nya tersenyum. " Kandungan kamu gimana?" Tanya Ruli kembali.
"Sehat pah, makin hari makin aktif." ujar Ataya.
"Hari ini rencana nya mau mastiin, baby nya cowok apa cewek. Soal nya bulan lalu masih sembunyi jadi nggak bisa lihat." Jelas Ibra.
"Papah sama mamah ikut dong yah?" Ruli antusias.
__ADS_1
Ibra pun melirik ke arah Ataya." Boleh pah." jawab menantunya.
Setelah beberapa menit berlalu , Amira pun membawa air putih dan jus jeruk yang di bantu oleh mbo Nim.
"Ini, silahkan di minum." mbo meletakan nampan berisi beberapa gelas di atas meja.
"Neng Ataya perut nya udah besar". mbo tersenyum.
"Iya mbo udah jalan 6 bulan kan." Ataya membalas senyuman wanita paruh baya itu.
"Sehat-sehat ya neng, kalo begitu mbo permisi" pamit nya.
" Mbo ini bawa " Amira memberika satu toples kue coklat. " buat mbo sama bi Mimi" jelas nya lagi.
"Tidak usah bu." tolak mbo.
"Ini Aya yang beli loh." jelas Ibra, sambil menatap mbo yang mengurus nya dari kecil itu.
"Yaudah mbo terima, terimakasih neng." ucap nya lalu pergi.
"Wah ada calon keponakan." Teriakan seseorang di atas tangga.
"Gilang sini. " Suruh Ruli.
Gilang pun berjalan menghampiri kedua orang tua dan kaka nya.
"Sini kumpul, main game mulu si luh!" ejek Ibra.
"Abis belajar bang tadi, main game nya nanti." Gilang tak mau di salahkan.
" Alesan loh!" Ibra kembali berkata.
" wah ada kue nanas nih " Gilang dengan semangat membuka segel toples.
" Iya ka Ataya yang beli." Jelas Amira.
"Bukain mah susah." Jelas Gilang memberikan toples nya kepada Amira.
Amira pun menerima nya dengan senang hati.
" Bahagia banget aku punya ka Ataya , perhatian banget sama aku."Jelas bocah itu.
"Lima belas tahun buka segel kue aja nggaj bisa, apalagi buka segel pabrik loh!" Candaan Ibra kepada Gilang.
" Abang!" Ataya yang mengerti masud Ibra kemana memukul lengan suami nya.
"Pikiran ade kamu masih murni Ibra, jangan di racuni, nanti butek kaya pikiran kamu." Jelas Ruli menatap nya.
Ibra hanya tersenyum, ketika mendengar protes dari papah dan istrinya.
Ruang keluarga pun kini terasa hangat dengan kedatangan Ibra dan Ataya, riuh suara candaan dan tawa riang bergema di ruangan itu.
Jangan lupa Like & Vote nya gengs🔥🔥
__ADS_1
have a nice day💛🤗