
Malam ini dalam ke adaan hati yang sedang tidak baik-baik saja, Ibra mengemudikan mobil milik nya dengan sangat kencang. Pria itu berniat menemui salah satu teman nya yang memiliki cafe di daerah ibu kota. Meninggal kan istrinya yang tengah hamil besar sendirian di apartemen milik nya.
"Bro, apa kabar lo?" tanya Boby teman SMA Ibra.
"Gua lagi nggak baik Bob."jawab Ibra sambil menduduki kursi kosong di meja Bar.
"Kenapa lo, berantem sama bokin lu ya?" tanya Boby dan langsung di jawab anggukan oleh Ibra.
"Kasih gue Wine dong!" Pinta Ibra.
"Bro sebaik nya lo pulang, nggak usah minum-minum lagi!" Boby menolak permintaan teman nya.
"Segelas doang doang, abis itu gue balik."
"Iyadah, lu suka maksa,"Boby sedikit menggerutu, namun tetap menyiapkan gelas dan mengisi nya dengan minuman berwarna merah itu.
"Inget bro, udah punya istri baik banget, solehah lagi."Boby meletakan segelas Wine di hadapan Ibra.
"Gue tau, cuma gue mau nenangin diri gue dulu sebentar." Jelas nya.
"Lo harus solat tobat pulang dari sini !"ledek Boby.
Ibra memutar bola mata nya, jemudian segera meneguk minuman milik nya itu.
Setelah meneguk wine milik nya, pria itu terus berdiam diri, sambil terus berbicara banyak hal dengan Boby.
Ketika tengah asik ngobrol tiba-tiba seorang wanita menghampiri Ibra.
"Hey, apa kabar?" Cicit nya basa-basi.Sambil duduk di sebelah Ibra.
Ibra dan Boby pun melirik kesamping arah suara itu terdengar.
"Eh Nad, tumben lo baru dateng?"Boby berujar.
"Iya nih gue bayak urusan, sibuk banget hari ini." Jawab Nadia.
Ibra terdiam, berusaha mengabaikan wanita yang saat ini duduk di samping nya.
"Ibra apa kabar kamu sama istri kamu? maaf ya kalo gara-gara gue istri lo ngambek." Nadia masih berusaha membuka obrolan dengan mantan kekasih nya itu.
"Baik Nad." Jawab nya cuek.
Ibra pun beranjak dari duduk nya .
"Kemana lo? kok tiba-tiba mau pergi!" Tanya Boby.
"Mau ke toilet gue, mau ikut lo?!" Jawab Ibra sambil terus berjalan, meninggalkan Nadia dan teman nya begitu saja.
Saat, Ibra berada di toilet, ponsel yang berada di meja Bar bergetar,.Nadia yang melihat Boby sedang sibuk memberikan minuman pada pelanggan yang lain pun langsung mengambil ponsel milik Ibra.
Istriku
Lirih Nadia dengan senyum licik menyeringai.
Hallo ( Nadia menjawab telepon dari Ataya )
Nadia kembali menatap layar ponsel memastikan telepon nya masih tersambung.
Hallo ( Nadia kembali bersuara )
Tiba - tiba sambungan telepon pun terputus , Nadia menatap layar ponsel yang ia genggam.
" Pola nya masih sam ternyata " Gumam nya sambil membuka salah satu aplikasi.
^^^💌: Suami mu aman bersama kekasih nya 😚^^^
Setelah pesan itu benar-benar t erkirim, Nadia pun dengan cepat mengahpus pesan yang ia kirim kan kepada istri mantan kekasihnya tersebut, lalu meletakan nya ketempat semula.
"Ehem!" prempuan itu berdeham, seraya menatap sekitar, was-was jika ada seseorang yang mengetahui perbuatan nya.
Tak lama setelah itu, Ibra terlihat berjalan menuju tempat duduk nya kembali.
"Eh, Ibra boleh nggak aku ketemu Ataya buat minta maaf, ya walaupun aku tidak mengenal nya, tapi aku merasa bersalah udah bikin kalian berantem." Jelas Nadia.
"Datang lah besok pagi ke apartement ku!" Jawab Ibra sambil memasukan ponsel nya kedalam saku celana dan menyambar kunci mobil yang masih berada di meja.
__ADS_1
"Bob, gue pulang dulu!" Pamit Ibra sambil melambai kan tangan nya.
"Bayar dulu dong bro!" Teriak Boby kepada Ibra.
"Gue ngutang, sorry nggak bawa duit receh." Teriak Ibra yang terus berjalan menjauh.
Boby hanya menggeleng kan kepala, ketika melihat kelakuan jahil teman nya itu.
Jam sudah menujukan pukul satu pagi, Ibra melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, pikiran nya sudah mulai jernih kembali.
Sekarang Ibra benar-benar menyesal telah meninggal kan Ataya, dan ia khawatir ketika meninggal kan istri nya dalam ke adaan sedang menangis.
"Maafin abang sayang." Lirih nya, dengan mata terus pokus menghadap jalanan.
Ibra melihat ponselnya, berharap ada pesan masuk dari sang istri.
"Apa kamu nggak khawatir sama sekali?!" Ibra berbicara sendiri.
Setelah setengah jam Ibra menyusuri jalanan kota Jakarta yang cukup rama , kini mobil nya sudah terparkir di basemant. Kaki nya melankah lebih cepat ia, ingin memastikan Ataya baik-baik saja saat di dalam apartemen milik mereka.
Ketika Ibra membuka pintu apartement, ke- adaan di dalam sana sangat lah gelap.
Salah satu jari nya menekan saklar lampun , setelah penerangan itu hidup ,Ibra berjalan menuju kamar nya.
Tatapan mata nya melihat Ataya yang kini sedang tertidur dengan posisi sedikit membungkuk, dengan tangan yang sedang memeluk anak yang berada di dalam perut nya.
Ketika Ibra mendekat, wajah Ataya terlihat sembab, dengan hidung memerah dan mata yang bengkak.
Hati nya perih melihat ke adaan Ataya sekarang, ia bahkan tidak mengganti baju nya sejak tadi sore.
" Maafin abang nggak bisa ngendaliin emosi abang." Suara nya lirih, satu ibu jari nya mengusap lembut pipi Ataya.
Tangan Ibra kini menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuh istrinya.
Ibra kembali berjalan menuju kamar mandi untuk segara membersih kan dirinya.
Setelah beberapa menit Ibra berada di dalam kamar mandi, ia keluar dengan keadaan segar, menuju lemari baju dan ingin segera mendekap istrinya dengan pelukan.
Rasa bersalah nya kini terus menghantui nya, apalagi saat mengingat Ataya meminta nya agar selalu di sisi nya.
Suara adzan subuh yang berkumandang dimana-mana membangun kan Ataya dari tidur nyenyak nya.
Perut nya terasa berat kala tangan suami nya itu berada melilit di samping nya.
Dengan cepat ia menyingkir kan tangan itu, yang membuat Ibra sedikit menggeliat kecil karena pergerakan Ataya.
Dengan jalan pelan dan tangan memegang perut bawah nya Ataya menuju kamar mandi.
Ataya selesai dengan kegiatan mandi dan solat nya, seperti hari-hari biasa ia selalu membersihkan tempat tinggal nya dengan perlahan dan hati-hati.
Setelah selesai , ia membuat susu hamil untu dirinya sendiri, walau pun ia tak terlalu suka, tapi demi anak dalam perut nya, pagi ini dia akan meminum susu tersebut dengan di temani cartoon pagi favorite nya.
Ataya yang saat ini sedang menikmati susu rasa coklat milik nya, Ibra tampak datang menghampiri, dengan rambut yang sedikit kelimis pertanda sudah selesai melaksanakan kewajiban nya.
"Lagi apa?" Ibra menyapa, lalu mencium kening Ataya.
Ataya hanya diam seribu bahasa, bahkan pandangan nya masih pokus ke arah tv.
"Kamu marah?" Tanya Ibra kembali, nanum lagi-lagi Ataya diam.
Ibra yang melihat Ataya diam, justru membuat nya semakin sadar bahwa yang ia lakukan kemarin malam sangat keterlaluan.
Tentu saja sangat keterlaluan!
"Anak papa lagi apa?" Tangan nya mengusap perut Ataya. Namu hamil itu masih tak bersuara.
Ketika tangan Ibra masih mengusap perut nya, Ataya berdiri dan segera beranjak, menhindar dari suaminya.
" Mau kemana?" Ibra menatap sendu punggung Ataya.
Ataya seolah bisu, ia benar-benar terdiam saat ini, kaki nya melangkah menuju kamar dan mulai merapikan tempat tidur, suasana di luar sudah sedikit terang lalu Ataya membuka gorden yang menutup kaca besar kamar nya.
Ataya duduk di sofa dekat jendela, pemandangan pagi yang indah, namun sayang pandangan nya keluar hanya tatapan kosong .
Ting..tung...
__ADS_1
Suara bell apartemen nya berbunyi.
"Siapa tamu pagi-pagi sekali". Gumam Ataya dalam hatinya.
Tidak lama setelah itu, tersengarlah suara obtola suami nya dengan seorang wanita.
Ataya pun berjalan keluar kamar .
Deg..
Hati nya kembali terasa perih, mata nya mulai memerah, ia terus berjalan mendekat dan.
PLAKKKK..
Ataya menampar tamu suami nya itu tiba-tiba.
"ATAYA!" Teriak Ibra yang melihat istri nya menampar Nadia cukup kencang.
"Awww! Ataya kenapa ini?" Jeritan wanita itu terdengar, pipi nya merah dan sudut bibir mengeluar kan sedikit darah.
"KAMU INI KENAPA?" Ibra bertetiak kepada istrinya itu.
"Salah dia apa?" Ibra terus bertanya.
"Ataya maaf kan aku!" Rengek Nadia, ia benar-benar kesakitan.
"Bersenang-senanglah dengan kekasih mu ini, tapi di luar sana, jangan di sini!" Ataya tersenyum licik dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
"Kamu ini kenapa? jaga mulut kamu!" Ibra membentak Ataya kembali.
"AKU MINTA TALAK SEKARANG JUGA!" Ataya tak kalah dengan suara kencang nya.
PLAKKKKKK !!
Ibra menampar Ataya.
"AKU BILANG JAGA MULUT MU!" Mata Ataya melihat Ibra dengan penuh kecewa.
Nadia yang melihat ini,tersenyum licik karena tujuan nya untuk membuat Ibra kembali akan segera terpenuhi.
Milik ku akan tetap menjadi milik ku Ataya. sorak nya dalam Hati.
Mendapat kan tamparan cukup keras dari Ibra, Ataya berlari ke arah kamar lalu mengunci nya dari dalam.
"Nadia pergi sekarang!" Ibra sedikit menegas kan suara nya.
"Ta-tapi bibir ku terluka." Rengek nya manja.
"Pergilah sebelum aku menyeret mu dengan kasar!" Tegas Ibra kembali.
Nadia pun keluar dari apartement Ibra, tangan nya menutupi pipi yang memerah dengan senyum penuh arti di bibir nya.
"Tak apa Nad, semua nya butuh pengorbanan bukan? tamparan kecil itu bukan masalah." Ia berbicara pada diri nya sendiri.
Setelah kepergian Nadia, Ibra duduk di sofa dengan mata yang terus menatap telapak tangan nya tak percaya .
"Pengecut sekali kau Ibra!" Bicara nya pada diri sendiri.
Ibra pun berjalan menuju kamar.
Tok..Tok..Tok..
"Sayang?" panggil Ibra.
ketika Ibra ingin mengetuk kembali, tiba-tiba pintu terbuka, mata nya melihat pipi Ataya yang sedikit memar.
"Sayang mau kemana?" Tanya Ibra panik. melihat Ataya yang sudah sangat rapi dengan tas slempang di lengan nya.
Bersambung....
Abang main tangan sama neng Ataya🤧
Jangan lupa Like & Vote 🤗
komen dari kalian juga buat Author seneng 😚
__ADS_1
Dukung karya Author yang baru menetas ini yah🐣