CINTA SETELAH AKAD

CINTA SETELAH AKAD
Eps 49


__ADS_3

"Sayang ikut pulang yah?!" Ibra masih terus membujuk Ataya, agar istrinya itu bersedia pulang bersama nya.


"Ataya nggak mau abang." Tolak nya lagi." Ataya tinggal di sini dulu aja sementara." Jelas Ataya.


"Kalo tentang apartemen, nanti kita pindah sayang." kata Ibra.


"Ataya mau disini dulu." Ataya menggelengkan kepala.


Ibra terdiam, lalu terdengar helaan nafas pelan ketika Ataya terus menerus menolak nya.


Agak keras kepala juga kamu! umpat nya dalam hati.


"Baiklah, jaga diri kamu baik-baik, sebentar lagi abang akan pulang." raut wajah Ibra terlihat sedih, namun tidak ada pilihan lain selain membiarkan Ataya tinggal dimana ia mengingin kan nya.


"Kenapa abang nggak di sini aja? temenin aku!" Ataya bertanya, sedikit tak rela ketika Ibra akan pulang tanpa dirinya.


"Bukan nya abang tidak mau, tapi ada beberapa kerjaan yang tertunda, jadi besok udah nggak bisa di tunda lagi."jelas Ibra kepada istrinya.


"Jadi abang bener-bener mau ninggalin Ataya disini, biar bebas gitu kalo nggak ada istrinya?!"Ataya mendengus sebal, entah kenapa kini rasa kesal kembali memenuhi relung hati nya.


"Abang kesini dari jam tiga pagi sayang, cuma mau jemput kalian."ujar Ibra sambil mengusap perut bulat Ataya.


"Abang sayang nggak sama aku?" Ataya bertanya.


"Yaa,... sayang banget lah, abang memang bukan laki-laki romantis, tapi jangan raguin perasaan aku sama kamu!" Ibra sedikit ke bingungan dengan sikap istrinya saat ini.


Ibu hamil emosi nya kaya bunglon, lain tadi lain sekarang, di ajak pulang nggak mau, di tinggalin juga malah ngambek! kata Ibra dalam hati.


Sesaat kamar Ataya hening, kedua nya saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Ibra yang terus menatap Ataya dalam diam, 4sementara prempuan itu terus tertunduk memainkan jemari nya.


"Yaudah, abang pulang dulu yah! Jangan lupa bales pesan dari abang, jangan makan terlalu sedikit juga, kasian ade!" pesan Ibra.


Pria itu terus menatap Ataya, sambil terus mengusap perut istrinya lemabut.


Cup..


Ibra mencium kening Ataya, lalu beranjak untuk segera pergi dari kamar istrinya itu.


Ataya terdiam, menatap punggung suami nya yang sedang berjalan menjauh dengan pikiran yang terus berputar di kepala nya.


"Bunda, ayah. Ibra pamit pulang dulu!" ucap nya setelah menutup pintu kamar Ataya.


Pri itu berjalan menghampiri, lalu mencium kedua tangan menrtua nya.


"Ataya nggak mau ikut pulang?" Tanya Hardian.


Ibra menggeleng kepala, lalu menjawab pertanyaan sang mertua dengan senyuman.


"Masih kangen sama ayah bunda kata nya."kata Ibra, walau sesungguh nya bukan itu alasan Ataya.


"Yasudah, jangan khawatir! Ada bunda di sini yang bakal jagain Ataya." Sahut Aisyah.


"Kalo begitu Ibra pulang, assalamualaikum." Ibra berjalan keluar, setelah tadi berpamitan terlebih dulu.


Sementara itu di dalam kamar, Ataya terus berpikir, banyak ketakutan yang kini berada di pikiran nya.


Gimana kalo abang di datengin terus-terusan sama mahkluk itu, gimana kalo abang khilaf lagi? Gumam nya pada diri sendiri


Raut wajah nya terlihat sangat cemas, dengan cepat ia pun menuruni ranjang lalu sedikit berlari membuka pintu kamar nya dengan kasar.


Gregg!


"Abang,...Atay ikut pulang!" Teriakan Ataya menggema hingga bi Nita pun ikut berlari ke arah nya.


"Kenapa teh, ada apa?" bi Nita kaget, bahkan wanita itu memegangi dada nya dengan nafas yang terlihat menderu-deru.


Enggak ada apa-apa bi!" Ataya masih berlari.


"Aduh, hati-hati! itu perut nya nanti jatoh!" Bi Nita panik, sampai ia ikut berlari mengekor di belakang Ataya.


"Papah, adek ikut!" Ataya kembali berteriak.


Suara nya terdengar manja.

__ADS_1


Mendengar teriakan Ataya, Ibra yang akan segera membuka pintu mobil nya pun terhenti dengan tatapan heran.


"Teh,... jangan lari-lari ah!" Aisyah panik, hingga membuay nya sedikit berteriak.


"Iya itu perut udah mau jatuh begitu!" Hardian meringis.


Ataya tetap mengabaikan kedua orang tua dan bi Nita yang terlihat sedang khawatir .


"Abang Ataya ikut!" Rengek nya seperti anak kecil.


Ibra hanya diam melihat Ataya yang tiba-tiba berlari ke arah nya.


"Ya allah sayang! hati-hati, jangan lari-lari kenapa sih, nggak liat ayah, bunda sama bi Nita sampe meringis kaya gitu?"Ibra berujar. "Terus kerudung nya mana?"Ibra tersenyum gemas.


"Nggak usah, Ataya pake hoodie abang aja."Lengan nya menarik hoodie yang tengah di pakai suaminya.


"Iya,... tapi!"


"Abang!" Rengek Ataya kembali.


"Nggak pamit dulu sama ayah bunda?" Tanya Ibra.


"Ayah, bunda, bibi. Teteh pulang dulu yah? dadah!" Teriak nya sambil menaiki mobil Ibra.


Hardian dan Aisyah menggelengkan kepala nya, ketika melihat kelakuan putri sulung nya yang kini terlihat seperti anak kecil.


"Iya hati-hati, bumil satu ini ya ampun!" kedua orang tua nya melambaikan tangan .


Pajero hitam milik Ibra pun terlihat mulai mundur perlahan, meninggalkan hamalan rumah orang tua istrinya.


Pim...Pim...


Suara klakson memberi isyarat bahwa Ibra akan segera memacu mobil nya, untuk segera pulang ke Jakarta.


"Tadi kekeuh nggak mau ikut pulang, ko malah lari-lari ngejar takut suami ganteng nya ninggalin yah?" Ledek Ibra sambil tersenyum kepada Ataya.


"Kan mau ngasih sarapan yang tertunda buat abag!" Ledek Ataya kembali, dengan kedua alis yang sudah terlihat naik turun.


Hati Ibra terasa sangat lega, apalagi ketika Ataya memutuskan untuk ikut pulang kembali bersama nya ke Jakarta.


.


.


Setelah melalui perjalanan yang cukup melelah kan, akhir nya Ibra memarkirkan mobil nya di halaman rumah orang tua nya.


Pria itu memutuskan untuk tidak membawa Ataya kesana, mungkin Ataya merasa sedikit trauma, pikit nya.


Mesin mobil sudah di matikan, lalu pandangan nya teralih kepada sosok yang kini tengah terlelap.


Mulut menganga, wajah polos tampa polesan makeup, tapi inilah yang sangat Ibra sukai, istri nya tampak sangat cantik.


"Bumil capek!"ucap nya lalu keluar dari mobil.


Tak ada pergerakan ketika Ibra mulai mengangkat tubuh istrinya, Ataya benar-benar tidur nyenyak saat ini sampai tidak bergerak sedikit pun ketika Ibra mulai memangku tubuh nya.


Ibra berjalan dengan sangat hati-hati, membawa anak dan istrinya sekaligus masuk kedalam rumah.


"Loh Ataya kenapa?"Tanya Amira.


"Ibra mau bawa Ataya ke kamar dulu, kasian kecapean."Jelas Ibra.


Ruli dan Amira hanya mengangguk, namun pandangan nya terus tertuju pada Ibra yang saat ini sedang berjalan sambil memangku Ataya yang sedanh terlelap.


"Syukurlah, mereka baik-baik saja."kata Ruli.


Setelah berada di dalam kamar nya, Ibra langsung meletakan tubuh Ataya di atas tempat tidur berukuran besar milik nya, menarik selimut hingga menutupi tubuh istrinya, kemudian segera menyakan Ac.


"Cup,...selamat bobo sayang."ucap nya setelah menciup pipi Ataya.


Kemudian Ibra pergi dan segera menemui kedua orang tua nya.


"Apa kamu culik Ataya? " Suara Ruli sedikit berbisik.

__ADS_1


"Iya pah Ibra culik istri Ibra sendiri!" Sahut nya dengan wajah datar.


"Ibra, papah nanya serius!" Ruli berujar.


"Ya enggak dong pah, Ibra ambil sendiri dari ayah, bunda nya kok!" Jelas nya kembali.


"Mamah nggak mau ya, mantan pacar kamu ganggu terus menantu mamah!" Jelas Amira kepada Ibra.


"Tenang aja mah, Ibra mau pindah ke apartemen papah aja biar Ataya nggak di gangguin Nadia terus." ucap Ibra sambil melirik ke arah Ruli.


"Kenapa nggak tinggal di sini aja?" Tanya Ruli.


"Ibra takut Ataya merasa canggung." jawab Ibra sedikit ragu.


Ruli mengangguk, ia mengerti ke khawatiran putra nya. Beberapa menit lama nya mereka berbincang santai, namun pandangan nya langsung tertuju pada prempuan yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Ehh,.. menantu mama udah bangun!" Amira beranjak menghampiri Ataya.


Ataya tersenyum kepada Amira, mengangguk, lalu duduk di sisi kosong sebelah Ibra.


"Ataya, gimana kabar kamu?" Tanya Ruli.


"Ataya baik pah!" Jawab Ataya tersenyum.


"Apa pipi nya masih sakit?" Mata Ruli meneliti wajah menantunya.


"Enggak pah, udah sembuh, kemarin bunda kompresin."Jelas Ataya.


"Maaf ya, anak papah emang rada pengecut!" kata Ruli sambil melirik Ibra.


"Pah!" Ibra sedikit memelankan suara nya.


"Apa Ibra? ada yang harus papa koreksi, atau bagai mana?" Tanya Ruli.


"Udah-udah, sekarang kan Ataya udah pulang." Amira berusaha menegahi.


"Ibra mau ke kamar dulu sama Ataya, kasian masih cape." Pamit Ibra, tangan nya langsung menggenggam tangan Ataya, lalu membawa nya pergi.


...•••••••••...


" Sayang kita pindah apartement apa mau pindah rumah?" Tanya Ibra.


"Ataya bingung kalo harus jawab dadakan." Jawab Ataya.


"Untuk sementara ini mau tinggal di sini atau di apartemen papah?" Ibra menatap lekat wajah di hadapan nya.


"Pulang ke apartemen aja nggak apa-apa abang." Ataya tersenyum kepada Ibra.


"Kamu serius? bukan nya tadi nggak mau pulang ke apartemen kita? " Ibra memperjelas kembali.


"Nggak jadi ajalah, banyak kenang-kenangan nya. Malam pertama juga di sana kan,...ehh!"Ataya tersenyum malu, lalu menutup mulut nya ketika menyadari ia membicarakan ke konyolan nya.


Ibra tersenyum.


"Abang cuma takut kalo Nadia datang lagi ke apartement."


"Kalo datang tinggal baca surah an-nas sama ayat qursi kan, tenang aja Ataya tau cara nguris mahkluk halus." Jawab nya dengan wajah datar


"Baiklah." Ibra mengusap pipi Ataya.


Cup...


Lalu Ibra mencium bibir Ataya.


"Bersiaplah untuk menyiapkan makan malam pengganti sarapan abang yang tertunda tadi Ataya sayang!" Ibra berbisik, dengan senyum jahil yang sudah terbit di bibir nya.


.


.


Holla guys, kalian tau nggak? like sama komen kalian itu 1 dukungan buat othor. Jadi boleh minta ya like, komen, vote nya juga kalo ada yang nganggur.


Sayang banya-banya my lovely readers.

__ADS_1


__ADS_2