
Lima bulan pun berlalu, kini perut Ataya sudah terlihat sedikit membulat, tangan Ibra kini sudah sangat sering menempel di perut Ataya untuk merasakan tendangan bayi kecil yang cukup kencang dari sang penghuni rahim istrinya.
Sudah sekitar empat bulan lalu papah mertua Ataya melepas status duda nya, dengan menikahi Amira, wanita baik hati pengganti Raisa.
Semenjak itulah, mereka berdua kembali ke apartemen milik mereka.
Akhir-akhir ini Ataya selalu kesepian, karena Ibra sedang benar-benar sibuk mengurus bisnis kuliner milik nya yang sedang berkembang pesat.
"Abang ko dari tadi pagi nggak ada ngasih kabar sih?"Ataya terlihat kesal.
Tidak seperti di awal kehamila Ataya yang selalu menyuruh Ibra jauh-jauh dari nya karena alasan bau, kini justru kebalikan nya, Ataya malah sangat menempel pada Ibra, hingga ketika pria itu tidak ada, maka Ataya akan terus mencari keberadaan nya.
"Apa,... aku susul abang kesana aja yah!"Gumam Ataya sambil berfikir.
Ataya terdiam, ia harus menyusul suami nya atau menunggu di sini saja.Setelah berfikir cukup lama merenung, akhir nya Ataya memutus kan untuk memyusul suaminya ke tempat kerja.
Meski nanti Ibra mengomel pada nya karena menyusul dengan asalasan jangan terlalu kelelahan, Ataya akan memikirkan alasan untuk menjawab pernyataan suaminya.
Langkah kaki Ataya mulai memasuki kamar mandi, ia akan sedikit berbeda hari ini, Ataya ingin berdandan untuk bertemu suami nya yang sedang sibuk bekerja.
Dua puluh menit pun berlalu, kini Ataya sudah keluar dari kamar mandi, setelah membuka lemari nya dan terdiam beberapa detik, akhir nya ia sudah siap untuk segera berangkat.
Ataya beranjak keluar dari apartement nya, berjalan menyusuri lorong menuju pintu lift.
Wanita itu berjalan sedikit santai, ia memikirkan makanan apa yang harus ia bawa untuk suami nya siang ini.
Pada akhir nya Ataya memutus kan untuk mampir sebentar membeli roti untuk suami tercintanya.
Setelah menghabis kan waktu beberapa menit, akhir nya Ataya keluar sambil menenteng satu kantong berisi roti berbagai rasa, tak hanya ingat kepada suami nya namaun Ataya pun ingat kepada karyawan-karyawan Ibra.
"Pak taxi!" Ataya melambai kan tangan nya.
Tidak lama setelah ia memanggil taxi, kini Ataya sudah dalam perjalan menuju cafe tempat suaminya berada.Tangan nya terus mengelus perut yang sudah menonjol kecil perlahan, sambil terus tersenyum dan bergumam mengatakan sesuatu.
"Kita ketemu papah ya sayang."Cicit nya pelan kemudian mentap dan mengusap perut nya kembali.
Satu setengah jam Ataya berada di dalam taxi, dan akhir nya ia sampai dengan selamat di tempat tujuan nya .
Setelah memberikan ongkos nya, Ataya segera berjalan menuju cafe milik Ibra suaminya.
Terlihat mobil hitam nya masih terparkir, cafe nya terlihat sedikit sepi hanya ada beberapa motor dan mobil merah yang berada di sebelah mobil pajero milik Ibra.
Tangan nya mendorong kuat pintu kaca di hadapan nya, ketika Ataya berjalan masuk Heri langsung menyapa seperti biasa.
"Selamat sore bu?"Ucap Heri tersenyum.
"Eh,... aku ada roti buat kalian!" Ataya langsung membawa beberapa roti dan memberikan nya kepada Heri dan para pekerja rajin itu.
"Suami saya ada di dalam kan?" Tanya Ataya.
"Ada bu, sama tamu nya di dalam!" Jelas Heri.
"Tamu?!" Ataya mengerutkan dahi nya.
"Laki-laki?" Tanya Ataya.
"Prempuan bu!"Jawab Heri dengan senyum gugup.
__ADS_1
Ataya menjengit, wanita itu sedikit terkejut dan bertanya-tanya.
Ketika Ataya akan membuka pintu.
Jreggh...
"Ko di kunci?"Gumam Ataya, hati nya mulai tak karuan.
Jreggh..Jreggh..
Ataya memaksa membuka pintu.
"Siapa teriak?" Ibra di dalam sana.
Ataya pun melambai kan tangan nya kepada Heri, untuk segera mendekat pada nya.
"Bilang ada tamu!"Titah Ataya kepada heri.
"Ini saya pak, ada tamu yang mau ketemu bapak."Ujar Heri berteriak dengan tatapan heran kepada Ataya.
—Ceklek...
Ibra membuka pintu ruangan nya.
"Sayang!"Cicit Ibra terkejut.
"Kenapa di kunci? lagi ngapain kalian berdua?" Ataya dengan mata yang sudah menatap Ibra Tajam.
Ketika Ataya akan masuk Ibra langsung menahan dan berusaha menghalangi.
"Aku mau masuk!" Tegas Ataya.
"Tunggu dulu sebentar!" Ibra berusaha menaha istrinya.
Mendengar ada seseorang yang memanggil nya sayang, roti yang ia pun berjatuhan ke atas lantai, raut wajah nya berubah, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tangan nya berusaha mendorong kuat tubuh Ibra.
—Deggg...
Wajah yang tidak asing bagi Ataya.
Hati nya terasa perih, ia seperti sedang di hantam benda keras dan besar yang membuat tubuh nya akan hancur seketika.
Dua wanita itu saling menatap.
"Oke maaf aku udah ganggu kalian!"Ataya langsung mudur perlahan.
"Sayang ini siapa?" Tanya wanita sexy itu.
"Sayang aku bisa jelasin!" Ibra berusaha meraih tangan kecil Ataya.
"Ibra dia siapa?"Tanya wanita itu kembali.
"Nadia ini istri aku."Tegas Ibra.
Ketika mata Ibra pokus pada Nadia, dengan cepat Ataya berlari memutus kan untuk pergi meninggal kan suaminya.
"Sayang,... jangan lari!" Teriak Ibra yang melihat Ataya berlari keluar .
__ADS_1
"Ibra!" Tahan Nadia.
"Lepasin, ini semua gara-gara kamu!" Bentak Ibra.
Ibra segera berlari menyusul Ataya, dengan raut wajah yangbterlihat sangat khawatir mengingat Ataya sedang hamil besar dan tengah berlari cukup kencang.
"Sayang." Ibra sedikit berteriak, mencari keberadaan sang istri.
Ibra kehilangan jejak Ataya, pikiran nya kalut kemana-mana.Dengan langkah cepat, Ibra segera menuju mobil nya, berharap Ataya akan sampai apartement dengan ke adaan baik-baik saja.
Mobil nya melaju dengan kecepatan tinggi, Ibra mencoba menghubungi Ataya lewat telepon namun tak ada jawaban, pria itu memukul setir mobil nya sangat kencang.
"Ahhhhhhh!!" Teriak Ibra dan mengusap wajah nya kasar.
^
^
Sementara itu Ataya terus berjalan pelan menyusuri trotoar, air mata nya terus mengalir, hati nya terasa sangat hancur, dada nya sesak, bagai mana tidak ia melihat suami nya berada dalam ruangan yang terkunci bersama manta kekasih nya.
Untung saja tidak banyak pejalan kaki sore hari ini, hingga tidak ada yang menyadari bahwa ibu hamil ini tengah menangis.
Ataya menduduki bangku yang ada di sana, tatapan mata nya kosong ,ia seperti seorang yang ke hilangan arah jalan pulang, lalu tangan nya mengambil sebuah dompet kecil.
"Yah cuma lima ratus ribu!"Tukas nya menatap isi dompet." cukup nggak yah buat nginep di hotel, kalo pake debit abang pasti tahu!"Ujar Ataya kembali.
Setelah beberpa menit, Ataya lansung beranjak, memutus kan untuk mencari hotel dengan harga yang cukup dengan uang tunai nya.Saat ini Ataya memutus kan untuk tidak pulang, seperti biasanya ia hanya ingin membuat hati nya tenang terlebih dahulu.
Namun ketika ingin berjalan semakin jauh, kaki nya sudah terasa sangat pegal.
Pandangan mata Ataya melihat hotel di sebrang jalan, ia sudah tidak peduli jika uang nyacukup atau tidak, Ataya akan menggunakan kartu yang pernah Ibra berikan padanya.
Walaupun nanti Ibra akan tahu, tidak apa-apa bukan sedikit mengurangi rasa khawatir suami nya itu.
^
^
Ibra yang sudah berada di apartement milik nya mendapat ke adaan di sana yang sangat hening, Ibra segera berlari menuju kamar, manik nya terus meneliti sekitar, terus mencari keberadaan istrinya yang meninggal kan nya dalam ke adaan marah, namun nihil Ataya seperti nya memang tak pulang ke apartemen.
Ibra frustasi sampai meremas kecang rambut nya kencang." Sayang kamu di mana?" Suaranya nya sangat lirih.
Ibra kembalk terdiam, memikir kan Ataya akan pergi kemana, bahkan dari ia menikah dengan nya, Ibra tidak pernah melihat Ataya memiliki teman, istrinya lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya di dalam rumah.
Tiba-tiba suara notifikasi dari ponsel nya berbunyi, Ibra langsung melihat nya, siapa tahu pesan dari Ataya .
"Ataya chek in ke hotel!" Ibra sedikit mengerut kan dahi nya.
Setelah mengetahui keberadaan istri tercinta nya, Ibra tersenyum dan segera beranjak.
"I'm comming lovelywife!"Sergah nya dengan raut wajah sumringah.
...Apa? mau protes apa hayo! othor tetep bikin karakter Ataya yang lemah,lembut,baik dan tidak egois.....
...Seterah pokonya mau bilang apa seterah dah......
...Yang penting othor bisa ngubek hati klen....
...TBC🌻🌻🌻...
__ADS_1
...Tong poho! like, vote, jeng komen....
...Tong u'utrut hungkul🤭🤭...