
Semenjak hamil muda, kini Ataya benar-benar selalu berada di tempat tidur, rasa pusing dan mual nya selalu terjadi hanya mencium bau-bau tertentu, bahkan sekarang Ibra tak pernah memakai minyak wangi milik nya, pria itu selalu memakai minyak telon agar Ataya tidak pernah meminta Ibra pergi menjauh dari istrinya itu.
Uwekk...
Ataya tertunduk lemas di hadapan washtafel, setelah beberapa kali memuntah kan isi perut nya yang kosong.
"Sayang!"Ibra melihat Ataya yang sangat lemah.
Istri nya hanya melirik nya, tak ada senyumana atau pun jawaban, mata nya sudah memerah dengan wajah nya terlihat sangat pucat, dan wajah yang terlihat lebih tirus dari biasa nya.
"Kita kerumah sakit yah?"Bujuk Ibra.
"Enggak mau."Jawab nya lirih.
"Kamu lemas sayang, makanan yang kamu makan selalu keluar lembali, abang nggak mau kamu sama anak kita kenapa-kenapa!"Jelas Ibra khawatir.
Ataya hanya menundukan kepala nya, wanita itu terus terlihat menangis sendu di hadapan Ibra.
"Sayang kenapa menangis ,hemmm?" Tanya Ibra lirih.
"Aku cuma kesel aja sama diri aku sendiri,..hiks!"Keluh nya pada suami nya.
"Shutttt, Sayang jangan gitu!"Ibra mencoba menenangkan Ataya, jemari nya mengusap pipi Ataya yang sudah basah karena manangis, kemudia membawa istrinya kembali, ke dalam kamar.
"Tungguin, abang ambil air hangat dulu!"Jelas Ibra tersenyum.
Ibra berlalu dari kamar, ia meninggal kan istrinya yang terbaring lemas, dengan langkah cepat, Ibra menuruni tangga.
"Ataya masih pusing Ibra?" Tanya Ruli yang tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Iya pah barusan juga abis muntah-muntah, tubuh nya lemes, Ibra ajak ke rumah sakit nggak mau!"Ujar Ibra.
"Kalo bisa di bawa aja, kasian.Takut nya berpengaruh sama janin yang ada di rahim nya."Usul Ruli.
"Iya nanti Ibra coba bujuk lagi, Ibra mau ambil air dulu pah!"Pamit Ibra.
Ketika Ibra mebuka pintu kamar dengan segelas air hangat di tangan nya, ia melihat Ataya yang sedang terlelap. Wajah yang terlihat lebih tirus dan sedikit pucat membuat hati nya terenyuh.
Ibra langsung menghampiri istri tercinta nya itu, meletakan gelas berisi air hangat di atas nakas.
"Sayang, jangan bikin mama muntah-muntah terus yah!"Cicit nya pelan, sambil terus mengusap perut Ataya yang masih rata.
—Cup...
Ibra mencium kening Ataya, lalu beralih keperut istrinya.
Sebenar nya hari ini Ibra harus pergi untuk memantau pembangunan tempat usaha nya yang hampir rampung.
Tapi apalah daya, ia tak tega ketika harus meninggal kan istrinya sendiri, karena rasa mual nya yang sedikit berlebihan membuat Ataya selalu muntah-muntah bahkan sampai nanti malam, tak seperti orang lain yang hanya mengalami mual dan muntah hanya di pagi hari saja.
Sempat Ibra membeli kan susu khusus ibu hamil, berharap bisa menurangi mual-mual pada ibu hamil muda, tapi tidak untuk Ataya .
Ketika Ibra membuat kan nya, jangan kan meminum, baru mencium bau nya saja sudah membuat Ataya pergi berlari ke kamar mandi .
Penciuaman Ataya kini lebih sensitif, bahkan ketika bi Mimi menumis bawang pun bisa di cium Ataya, walaupun ia sedang berada di kamar sekali pun.Dan yang terkena imbas nya pasti Ibra, yang langsung mendapat omelan ketus Ataya.
"Abang!" Suara Ataya mebuyar kan lamunan Ibra.
"Kenapa sayang?" Sahut Ibra tersenyum.
__ADS_1
"Ataya mau jalan-jalan m, sambil nyari mangga muda terus di cocol pake garem, kaya nya enak banget."Ataya tersenyum merayu suami nya.
"Ayo, kita cari buah mangga yang banyak."
"Ayo !!" Ataya langsung beranjak dari atas kasur.
"Eh, masa rambut indah nya mau di liatin ke orang!"Cicit Ibra.
"Enggak di liatin ko, tinggal pake ini aja!" Ataya menutupi rambut dengan topi yang nempel di hoodie nya.
"Oke-oke, hoodie aku sangat membantu ternyata."Gumam Ibra.
Suami-istri itu berjalan menuruni setiap anak tangga dengan tangan yang terus bertautan, saling menggenggam satu sama lain.
"Neng tumben keliatan seneng?" Tanya bi Mimi.
"Mau nyari mangga muda!" Jawab Ataya semangat.
"Papah mana bi?" Tanya Ibra.
"Ada, biasa di taman belakang den."
Ibra mengangguk.
Kedua nya berjalan ke arah taman belakang, mencari keberadaan Ruli.
"Pah!"Panggil Ibra.
"Ya?"Ruli menoleh.
"Ibra mau anter Ataya dulu, kata nya mau jalan-jalan sambil nyari mangga muda."Ujar Ibra.
"Ataya sama abang pergi dulu ya pah!"
^
^
Setelah menyusuri jalanan yang cukup ramai,mencari keberadaan mangga muda, akhirnya Ataya melihat penjual rujak di pinggir jalan.
"Abang itu ada abang rujak nya!"Ataya menujuk gerobat penuh buah.
Ibra langsunh memarkir kan mobil milik nya,tepat di depan gerobak rujak.
"Bang rujak nya tiga bungkus, tapi mangga muda nya aja yah, sama jangan pake sambel." Ataya memesan tiga porsi sekali gus.
"Boleh neng, buah yang lain nya mau?"Tanya pedagang nya kepada Ataya.
"Sayang, pesen tiga bungkus nggak kebanyakan?" Tanya Ibra.
"Nggak, nanti Ataya simpen di kulkas!"Sahut Ataya.
"Bang tambahin nanas ya satu bungkus!" Penjual itu pun mengacung kan jempol nya pertanda mengerti.
"Sayang kamu ga boleh makan nanas!" Ibra panik .
"Buat Gilang sayang, dia kan suka nanas, lagian kata siapa sih ibu hamil nggak boleh makan nanas, boleh ko kalo sediki!"Jelas Ataya.
Ibra mengangguk setuju dengan omongan Ataya.Setelah menunggu beberapa menit, akhir nya pesanan Ataya selesai
__ADS_1
"Jadi berapa pak?" Tanya Ibra sambil mengambil uang di dompet nya.
"Jadi empat puluh ribu pak."
Ibra pun memebrikan uang berwarna biru kepada pedagang rujak tersebut.
"Kembalian nya ambil aja bang!" Sahut Ataya sambil menurup kaca mobil nya.
Setelah menemukan apa yang Ataya cari, mobil Ibra pun kembali melaju.
"Ada yang mau di beli lagi?"Tanya Ibra
"Enggak pulang aja!"Sahut Ataya.
^
^
"Mbok, tolong tuangin ke piring yah!" Ibra memberikan satu kantong mangga." Sisa nya masukin kulkas, kalo mbok sama bibi mau boleh ambil."Jelas Ibra.
"Loh nggak ada sambal nya ini!" Kata mbo sambil mencari-cari.
"Emang nggak pake sambel, nanti tolong kasihin garem aja di pinggir nya, Ataya tunggu di sofa sana!" Tunjuk nya pada ruangan keluarga.
"Oke di tunggu ya neng!"
Ataya mengangguk lalu berjalan menuju ruang keluarga bersama Ibra, di sana sudah ada Gilang yang sedang duduk di sofa dengan seragam sekolah yang masih ia kenakan.
"Gilang kaka beli buah nanas!" Ataya berbicara sambil duduk.
"Wah asik nih panas-panas gini seger." Gilang terlihat senang.
"Ambil di dapur yah?"Jelas Ataya.
"Gilang di beliin nanas, abang nggak di beliin buah apa-apa?" Ibra protes.
"Makan mangga bertiga kita." Kata Ataya ketika mbo membawa piring berisi buah mangga muda pesanan nya.
"Makasih mbo."Ucap Ataya.
"Sama-sama neng, itu satu bungkus lagi di makan sama bi Mimi dan pak Dadang di belakang."Kata mbok.
"Iya makan aja mbok!" Jawab Ataya.
Melihat buah yang sangat ia ingin kan, Ataya pun langsung memakan nya dengan sedikit cocolan garam di buah nya.
"Uh mantap!" Ataya geleng-geleng kepala.
Melihat istri nya yang sangat mikmati, Ibra pun mengambil satu potong dan mencocol kan nya kepada garam seperti Ataya.
"Ihhh asem banget!!" Raut wajah Ibra berubah masam.
Ataya hanya tertawa melihat Ibra yang tak kuat memakan buah di hadapan nya.Melihat Ataya yang terlihat sediki lebih membaik, Ibra merasa lebih lega.
"Sehat terus ya anak papah!" Ibra berbicara sambil mengelus perut Ataya.
"Iya papah, terimakasih mangga nya, ade suka." sahut Ataya menirukan suara anak kecil.
...TBC🌻🌻🌻...
__ADS_1
...Jangan lupa! like, vote, dan komen....