
Tok...
Tok..
Tok...
"Resepsionis!"Kata Ibra berusaha menyamarkan suara nya.
Ataya yang mendengar ketukan pintu pun beranjak dari ranjang dan mulai berjalan menuju pintu.
—Ceklek..
"Iya kenapa mas?"Ketika Ataya melihat sosok tersebut, Ataya cepat-cepat mendorong pintu nya sekuat tenaga.
"Sayang aku mau masuk!" Sikut Ibra menaha pintu.
"Dih,.... sayang ceunah!"Ataya mendengus.
Dorong-mendorong pun terjadi, Ataya yang sekuat tenaga mendorong untuk menutup kembali pintu kamar yang di tempati nya, sementara Ibra menahan sekuat tenaga agar ia bisa memasuki kamar yang istrinya sewa untuk malam ini.
"Awas!" Teriak Ataya, badan nya terus berusaha bergerak untuk mendorong pintu agar kembali tertutup.
"Enggak mau!"Tegas Ibra menggelengkan kepala.
"Ataya!" Ibra memohon.
"Ibra awas!!"Pekik Ataya kesal.
Ibra terus berusaha mendorong sekuat tenaga, hingga tubuh Ataya pun mulai bergeser, lalu membuat pintu nya terbuka lebar perlahan.
Mengetahui tenaga nya tidak sebanding dengan Ibra, Ataya memejamkan mata nya.
"Hahh sudah lah kalah tanding ini mah!"kesal nya pada diri sendiri, lalu membiarkan pintu kamar nya terbuka.
"Yasudah mau kamu apa?" Tangan Ataya mengusap hidung dan memasang wajah judes andalan nya.
"Aku mau kamu!" Sahut Ibra yang terus mengikis jarak di antara mereka.
"Maaf,.. tapi seleraku CEO kaya raya, bukan abang-abang resepsionis seperti anda!"Ataya masih bersikap so judes dengan mata yang terus mendelik.
Melihat tinggkah Ataya yang seperti itu, bahkan membuat Ibra semakin gemas, Ibra tahu Ataya sedang malu karena kalah bersaing dengan nya dalam lomba dorong-mendorong.
"Abang beliin seblak ya?" Ibra memeluk Ataya tiba-tiba.
"Dih,... emang nya aku cewe kaya apaan!"Mata nya kembali mendelik.
Cup..cup..Cup..Cup..
Ibra menghujani pipi Ataya dengan ciuman.
"Ihhhh,... bau jigong!" Tangan nya mendorong kuat tubuh Ibra.
"Udah dong marah nya, abang kan nggak ngapa-ngapin, kamu salah paham sayang. Nadia yang nyelonong masuk, terus kunci pintu nya."Jelas Ibra pelan dengan mata yang terus menatap iril cantik Ataya.
"Abang nggak tahu kalo pintu nya di kunci, kalo nggak percaya tanyain aja ke Heri."Jelas Ibra.
"Jangan sebut nama sambel-sambelan itu di depan mata aku ya, aku nggak suka!"Tegas ibu hamil itu.
"De,.. tolongin papah, mama marah-marah terus!" Ibra mengusap prut Ataya.
"Ini bukan anak kamu!" Sergah Ataya lalu memukul lengan Ibra kencang.
"Anak akulah, aku yang usaha tiap malem ko!"Bisik nya dengan bibir yang menyeringai.
"Lepasin!" Ataya mulai berontak kembali .
__ADS_1
"Nggak mau!" Tolak Ibra sambil terus mencium pundak Ataya.
"Aku mau pipis!"Ujar nya.
"Oh,.. oke!" Tangan Ibra pun terlepas perlahan.
Ataya langsung berjalan sedikit cepat memasuki toilet.Lalu keluar setelah beberapa menit.
"Mau nginep apa pulang?" Tanya Ibra yang sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Nginep dong, kalo mau pulang.Pulang saja sana!"Ataya menunjuk ke arah pintu.
"Oke, abang bawa baju dulu di mobil!"Jawab nya sambil berjalan keluar.
Ataya hanya terdiam mendengar penyataan Ibra.Lelaki itu benar-benar selalu mebuat emosi nya berubah-ubah.
Tiga puluh menit sudah Ibra meninggal kan Ataya, namun ia masih belum kembali, baru saja Ataya merasa tenang, kini suami nya itu membuat nya kesal kembali dengan kelakuan nya.
"Awas aja sambel jadi-jadian itu nemuin abang lagi, aing bikin seblak tulang!" Ataya menggerutu.
Tok..Tok..
"Sayang, tolong buka pintu nya!" Teriak Ibra di luar sana .
Mendengar suara Ibra di balik pintu, Ataya langsung bangkit dan berjalan ke arah pintu.
"Lama banget sih!"Tanya nya ketus.
"Nih abang beliin martabak telor sama keju susu." Tangan kanan nya mengangkat sebuat plastik bening, sementara tangan kiri nya membawa satu tas kecil milit Ataya.
Dengan senang hati Ataya pun menerima bungkusan yang di bawa suami nya itu, dan mulai berjalan ke arah balkon, lalu meletakan nya di meja kemudian membuka nya.
Ibra dan Ataya duduk berdampingan di kursi kecil yang berada di balkon kamar hotel nya.
"Maafin abang!" Tangan nya menggenggam lengan Ataya.
"Maafin abang kalo lagi-lagi bikin nangis kamu."Ataya masih terdiam. " Abang benaran nggak ngapa-ngapain, demi allah, kita periksa cctv nanti."Tutur Ibra, sambil terus menatap wanita yang sedang asik melahap martabak kesukaan nya.
"Kalo nggak ngapa-ngapin kenapa tadi segala di tahan-tahan?" Tegas Ataya yang kembali terlihat emosi.
"Abang tahu kamu lagi marah, jadi abang nggak mau kamu main pukul-pukulan, apa lagi ada anak kita di perut kamu." Jelas Ibra.
Ataya langsung menatap Ibra dengan tatapan sendu.
"Kalo misal nya abang emang masih ada apa-apa, Ataya pergi saja.Setidak nya udah berusaha pertahanin perjodohan ini."Jelas Ataya dengan suara pelan, menahat sesuatu yang mulai menyeruak di dalam hati nya.
"Jangan pernah berfikir kamu mau pergi dari aku sayang, karena tidak akan pernah terjadi."Sahut Ibra.
kepala Ataya pun menunduk, berusaha menyembunyikan air mata nya yang telah terjatuh.
Mengetahui Ataya yang kini tengah menyembunyikan tangisan nya, Ibra langsung berdiri dan menghampiri istrinya.
"Abang janji, kejadian tentang ini nggak bakal terjadi lagi!" Bisik Ibra kepada wanita yang berada dalam pelukan nya.
Suara tangis Ataya semakin kencang, tangan nya pun membalas dekapan Ibra erat.
"Kalo kejadian ini terjadi lagi, Ataya bakalan bener-bener pergi tampa pamit!" Jelas Ataya.
"Jangan pernah punya niat buat ninggalin abang!"Lirih nya.
"Jadi Ataya harus gimana, Ataya nggak mau lihat abang di gangguin wanita lain, hati Ataya perih cuma denger abang di panggil sayang sama orang lain!" Jelas Ataya.
"Sayang, abang nggak pernah masalah orang-orang ningalin abang, tapi kalo kamu sama anak kita pergi, abang nggak tahu harus bagai mana!"
"Aw!" pekik Ataya tiba-tiba.
__ADS_1
"kenapa?" Ibra terlihat panik.
Ataya hanya tersenyum kepada Ibra, lalu meletakan telapak tangan suami nya di atas perut yang sudah sedikit membuncit.
"Dia sedang main bola!" Ibra tersenyum .
Ataya hanya mengangguk.
"Kapan kita harus menemui Dokter Syifa?" Tanya Ibra.
"Dua minggu lagi!" Ataya mengulum senyum .
Malam sudah semakin larut, Ataya dan Ibra belum juga masuk kedalam, dua sejoli ini masih betah menyaksi kan indah nya suasana malam hari di atas ketinggian.
"Sayang ayo masuk, sudah larut kasian ade." pinta Ibra.
"Iya, Ataya juga belum solat isya , abang bawa daster kan?"
"Abang bawa semua kebutuhan kamu!"Gumam nya tersenyum.
"Yasudah Ataya mau mandi dulu." Sahut Ataya.
"Kita mandi bersama." Jelas Ibra , tiba-tiba menganggkat tubuh Ataya.
Setelah sedikit perdebatan antara Ibra dan Ataya, kini mereka berdua sudah berada di dalam di bawah guyuran air shower.
Tangan Ibra terus mengusap lembut perut Ataya.
"Udah makin gede ya sayang?"Ujar nya antusias, sambil terus memper hatikan bentuk perut Ataya.
"Besok tante Amira ngajakin Ataya buat nyicil baju ade!"Kata Ataya kepada suaminya.
"Abang juga mau ikut kalo begitu!" Ibra sangat antusias.
Dua puluh menit pun berlalu, kini Ataya dan Ibra sudah berada di atas kasur, mata istri nya terlihat sudah sangat mengantuk, namun tendangan sang buah hati selalu membuat nya terjaga kembali.
Tangan Ibra pun terus -menerus mengusap perut istri nya, karena terus mendapat tendangan, Ibra merasa sedang bermain langsung dengan anak yang berada di dalam perut istrinya itu.
"Anak papah ko belum tidur sih!" Bibi Ibra mendekat ke arah perut bulat Ataya." Kasian mama mau tidur nggak jadi-jadi."Sergah nya kembali.
"Abang, Ataya boleh minta sesuatu nggak"Ataya menatap Ibra.
"Apa?" Ibra mengusap pipi Istri nya itu.
"Jangan pernah menyembunyikan apapun dari Ataya!" manik Ataya menatap lekat Ibra
Ibra pun tersenyum .
" Iya sayang , abang janji!"
Ibra merangkul Ataya dan membenamkan kepala Ataya di dada nya, lalu memeluk Ataya dengan erat.
"Tidurlah sayang!" Tangan nya mengusap kepala Ataya.
Ataya mengangguk, kemudia mempererat pelukan nya pada tubuh Ibra.
...Yang komen Ataya begini, Ataya begitu.....
...othor nggak dengar😝...
...Poko nya tetep bikin Ataya dengan sifat lemah-lembut nya dan tidak egois..yang komen kata nya konfik nya maksa, coba bikin cerita sendiri weh, ya walaupun aku cuma bubuk rangginang, seenggak nya hargain tambut othor yang rontok gara-gara mikir....
...TBC🌻🌻🌻...
...Like, komen, vite....
__ADS_1
...Tong poho!...