CINTA SETELAH AKAD

CINTA SETELAH AKAD
Eps 48


__ADS_3

"Apaan si dek, pagi-pagi udah iseng!" Mata nya masih terpejam dan tangan tetap mengusap perut nya.


Cup...


Ibra memberi kecupan di leher istrinya, Ataya yang kaget mendapat kecupan di leher pun seketika membuka mata, lalu membalikan badan.


"Sayang?!"Ibra tersenyum pada Ataya tipis, menyapa istrinya yang kini menatap nya dengab raut wajah tak percaya.


"Abang?"ucap Ataya lirih.


"Pulang ya sayang, abang nggak bisa tidur kalo kamu nggak ada, maafin kesalahan abang juga yah?" pria itu menata Ataya sayu penuh permohonan, dengan satu tangan yang kini mengusap pipi nya lembut.


Ataya membeku, menatap wajah pria yang semalaman ia rindukan.


Cukup lama kedua nya saling memandang dalam diam, namun tiba-tiba seseuatu keluar dari sudut mata Ataya.


Prempuan itu menangis.


"Heyy, jangan nangis!" Ibu jari Ibra langsung mengusap air mata yang menetes.


Tangan Ataya menyusup di celah antara tangan dan pinggang Ibra, menyurukan kepala di dada suami nya hingga tangis Ataya pun benar-benar pecah bercampur dengan rindu yang ia tahan sejak semalam.


"Abang." Suara lirih nya bercampur dengan isak tangis, wajah nya ia terus benam kan di dada bidang suaminya. "Ataya nggak bisa tidur, Ataya kangen." Keluh nya kepada Ibra.


Ibra terus mengusap kepala Ataya, sambil terus mencium kening Ataya penuh kasih. Hati nya cukup lega, hal yang sangat ia takutkan tidak lah terjadi.


Kini kedua nya terdiam, saling menyalurkan rindu yang sudah membuncah sejak kemarin sore.


Ataya sudah benar-benar membuang rasa gengsi nya jauh-jauh.


Ataya mengangkat wajah nya, lalu menatap lekat wajah yang sangat ia rindukan.


Ibra yang merasa istri nya sedang memperhatikan nya, Ibra menundukan kepala hingga manik mata mereka berdua pun saling bertemu.


Cup..


Ibra mencium bibir Ataya, telapak tangan nya menyentuh pipi istri nya perlahan, sambil menikmati belahan kenyal milik istrinya itu cukup lama.


Setelah melepas kan pautan bibir nya, Ataya tersenyum hangat ke arah Ibra.


Wanita memang kecewa dan marah pada suaminya, tapi itu semua kalah dengan rasa cinta nya kepada Ibra, pria yang menikahi nya beberapa bulan lalu.


"Hari ini kita pulang yah?"Ibra tersenyum, menatap sambil terus memainkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya.


Namun Ataya mengelengkan kepala.


"Why?! " Suara Ibra lirih.


"Setelah urusan abang sama Nadia selesai Ataya pasti pulang!" Jawab nya seraya mengulum senyum.


"Abang udah nggak punya urusan apapun dengan prempuan itu!" Jelas Ibra menatapa sendu Ataya.


"Ataya nggak mau kejadian itu terulang lagi." Tangan nya mengusap rambut Ibra.


"Jangan membuat nya bangun sekerang sayang!" Jelas Ibra dengan tatapan mata yang tak bisa di artikan ketika Ataya terus memainkan rambut nya.


"Emang kenapa kalo aku mau bangunin, kenapa?"Ataya sedikit menantang, dengan tangan yang terus mengusap rambut suami nya.


Seringai di bibir Ataya pun terlihat.


Ibra yang melihat Ataya sedang menantang nya, langsung membungkam mulut Ataya dengan bibir, menikmatinya dengan sangat menggebu.


Ataya berusaha terus memberontak, namun tenaga nya kalah banyak dengan tenaga Ibra.


Tiba-tiba.


Tok..

__ADS_1


Tok..


Tok..


Pintu kamar Ataya di ketuk.


" Teh, ayo sarapan dulu!" Suara ketukan menghentikan Ibra.


Ataya tersentak, raut wajah nya terkejut. Namun prempuan itu menyeringai jahil kepada Ibra ketika tatapan kedua nya bertemu.


"Iya bunda nanti Ataya sama abang nyusul!" jawab Ataya sedikit berteriak, namu mata nya masih mematap mata Ibra dengan penuh ejekan.


Ibra menghela nafas nya kasar, lalu mengusap wajah nya cukup kencang. Kabut gairah nya tiba-tiba pudar setelah mendengar Ibu mertua nya memanggil mereka untuk segera keluar kamar.


"Abang ayo kita sarapan." Ajak Ataya tersenyum.


"Tapi abang mau sarapan yang lain dulu!" rengek Ibra.


Ataya hanya tersenyum melihat tingkah laku suami nya itu.


"Lain kali kita lanjutin sarapan yang tertunda nya, sekarang ade udah laper kasian kaki nya udah nendang-nendang terus dari tadi." Ataya terus tersenyum, mengusap perut nya lalu mengulurkan tangan ke arah suami nya.


"Baiklah, ayok!" kata Ibra.


Mereka pun bergegas keluar dari kamar, dan segera menuju meja makan tempat keluarga nya kumpul saat ini.


Ataya dan Ibra terus berjalan beriringan, bahkan jemari tangan nya menggenggam kuat lengan Ibra.


"Ibra ayok sarapan dulu!" Ajak Hardian. " Semua yang ada di rumah ini wajib sarapan, nggak boleh nggak." Jelas Hardian tersenyum ke arah menantu nya.


"Bang Ibra kapan datang?" Zaydan antusias melihat keberadaan Ibra.


"Tadi pagi, mungkin sekitar pukul enam!" Jawab Ibra sambil senyum kepada Zaydan.


Ketika sudah duduk di kursi meja makan, Ataya pun mulai mengambil nasi dan sayur sop untuk Ibra.


Ibra hanya mengangguk kepada Ataya.


Setelah selesai memberi sarapan pada suaminya, Ataya mulai mengambil nasi untuk diri nya sendiri.


"Kok dikit banget nasi nya?" Ibra menjengit ketika menlihat piring milik istrinya.


"Kan makan Ataya emang segitu." Ataya mebela diri.


"Jadi kamu makan cuma buat diri kamu?" Tanya Ibra.


"Iya-iya, Ataya tambahin lagi nih!" Sahut nya sambil kembali menambah kan nasi kedalam piring nya.


Melihat pemandangan di pagi ini Hardian dan Aisyah tersenyum, mereka tahu Ibra dan Ataya tidak sedang bertengkar namun hanya sedikit beradu argumen .


"Di habiskan makanan nya ya!" Suruh Aisyah.


"Maaf kalo sarapan nya hanya nasi dan sayur sop Ibra." Hardian menatap Ibra.


" Ini udah nikmat sekali yah, aku nggaj pernah mau sarapan nasi, tapi semenjak ada Ataya semua nya jadi teratur!" kata nya yang langsung mendapat angguka dari Hardian.


"Bagus dong, ada perubahan di hidup Ibra." Cicit Aisyah.


"Abang apaan sih, kesan nya gimana gitu!" Ataya memukul pelan lengan Ibra.


"Jadi teteh mau pulang sekarang bareng abang?" Tanya Hardian.


Ataya hanya terdiam dengan posisi menundukan kepala nya.


"Ayah nggak ngusir, teteh boleh di sini sampai kapan aja, tapi harus minta izin dulu sama suaminya" Jalas Hardian.


"Nanti teteh pikir-pikir dulu yah!" Jawab Ataya.

__ADS_1


Denting suara sendok yang beradu dengan piring terus terdengar.


Semua orang sibuk dengan sarapan nya, sedikit suara obrolan dan canda tawa.


"Papah sama mama kamu gimana kabar nya Ibra?" Tanya Hardian lagi.


"Alhamdulilah baik yah, kapan-kapan bunda, ayah, sama Zaydan main ke Jakarta doang." Ajak Ibra.


"Nanti kalo Ataya lahiran bunda pasti kesana!" Jawab Aisyah tersenyum.


Setelah selesai sarapan, Ataya kembali ke kamar milik nya. Semenentara Ibra ia menemani Hardian di kursi halaman rumah dengan segelas kopi hitam panas yang di suguh kan Aisyah.


"Tenang aja, nanti Ataya pasti mau ikut pulang sama kamu." Jelas Jerdia tersenyum.


"Ibra nggak yakin yah, Ataya keliatan masih sedikit kesal." Ibra menjawab .


"Loh kenapa? tadi baik-baik aja." Hardian mengerut kan dahi.


"Sebenar nya kalian itu ada apa, ayah tanya Ataya juga nggak pernah mau cerita?!"ujar Hardian lagi kepada menantu nya.


"Sebener nya kita cuma salah paham, Ataya kira Ibra masih berhubungan sama Nadia, mantan kekasih Ibra"Ibra termenung.


"Apa kamu sayang dan cinta sama anak Ayah?" Hardian menatap Ibra lekat.


Ibra pun menjawab dengan anggukan kepala.


"Yaudah, tugas kamu sekarang membuat Ataya mau ikut pulang lagi ke Jakarta!" Hardian menepuk pundak Ibra.


"Kalo begitu, Ibra masuk ke kamar Ataya dulu yah!" Ibra meminta izin dan di jawab senyuman oleh ayah mertua nya.


Setelah mendapat anggukan, Ibra segera beranjak, berjalan perlahan menuju kamar milik istri cantik nya.


Ceklek!


Ibra membuka pintu kamar itu pelan, terlihat Ataya yang baru saja selesai mandi, dengan handuk yang masih melilit di rambut nya.


"Sayang?" Ibra menghampiri Ataya, yang kini sedang duduk menyandar kan punggung nya di atas tempat tidur.


"Iya?" Jawab Ataya dengan mata yang masih pokus pada ponsel nya.


"Kita pulang hari ini ya?!"Ibra berjalan mendekat.


"Ataya nggak mau!" prempuan itu menggelengkan kepala.


"Kenapa, kamu nggak kasian sama abang?" pria itu memandang Ataya sendu.


"Aku nggak mau pulang ke apartemen itu!" Jelas nya penuh penekanan.


"Abang nampar kamu bukan karena belain Nadia, tapi karena lepas kendali sayang." Jelas Ibra kembali.


"Tetep aja aku nggak mau!" tegas nya.


Ataya menatap lekat manik Ibra yang kini tengah duduk di samping nya.


"Mungkin malam itu Nadia yang buka hand phone abang waktu abang ke toilet, kalo Ataya masih bimbang ayo kita tanya ke Boby, dia ada di tempat waktu itu!" Ibra terus memohon agar Ataya mau ikut pulang bersama nya.


Ataya terdiam, prempuan itu terlihat sedikit berfikir, apa yang di kata kan suami nya itu.


"Kita pulang sore ini yah?" Ibra kembali mengajak Ataya, namun Ataya diam sambil terus nematap Ibra dan terdiam cukup lama.


.


.


Jangan lupa dukungan kalian, like, komen dan vote. Mau ngasih kopi sama mawar juga boleh.


Love you tomat my lovely readers....

__ADS_1


__ADS_2