
Sementara itu , kini Amira tengah bersama Ataya setelah beberapa saat menantu nya itu pulang.
Ia terus menemani Ataya yang kini sedang berbaring.
" Jadi gimana ? kenapa bisa begini nak ?" Amira bertanya kepada Ataya yang kini sedang berbaring di tempat tidur nya.
" Ataya mimpi mah , Zio jatuh terus nangis kenceng banget . Ataya spontan bangun , tapi pas berdiri pusing banget " Jelas nya kepada Amira yang kini sedang duduk di tepi ranjang sambil terus mengusap telapak tangan Ataya.
" Udah berapa lama ? darah kamu rendah ?" Tanya Amira kembali.
" Gak tau deh ma . Sebelum nikah sama abang juga suka kaya gini , kalo tiba-tiba berdiri penglihatan suka langsung gelap aja " Jawab nya sambil tersenyum .
" Mama istirahat aja , udah jam tiga loh ini " Mata sayu itu menatap Amira , tangan nya mengusap punggung tangan mertua nya itu dengan senyum mengembang di bibir Ataya.
" Beneran ga apa-apa mama tinggal ?"
" Iya mah . Zio juga masih tidur , mamah sama papah istirahat aja " Amira pun tersenyum ke arah nya.
" Yasudah mamah mau istirahat ya , nanti mama suruh bibi aja yang kesini biar babtuin kita " Cicit Amira kembali.
" Tidak usah repot-repot mah , besok juga sembuh mah "
" Ga apa-apa gimana ? itu alis nya sampe tiga jahitan ko . Yudah mamah pamit undur diri " Ataya pun hanya mengangguk sambil melemparkan senyuman .
Amira pun sudah keluar dari kamar nya , senyap-senyap suara obralan papa Ruli dan suami nya Ibra masih terdengar.
Mata wanita itu terlihat sangat mengantuk , namun beberapa kali terlihat meringis sambil mengusap pelan kening nya.
" Aku ceroboh banget si sampe bisa dapet tiga jahita kaya gini " Gumam nya.
Setelah menahan rasa perih di plipis nya , kantuk Ataya pun sudah tidak bisa di tahan lagi , ketika mata nya baru saja terpejam . Suara Ibra terdengar sayup memanggil nya.
Mata nya mengerjap memastikan arah suara itu memang nyata atau hanya di alam bawah sadar nya saja.
Remang-remang ia pun melihat keberadaan Ibra yang sudah berada di hadapan nya.
Terlihat jelas lelaki itu tersenyum manis ke arah nya , sentuhan yangan nya mulai terasa menyentuh kening nya yang masih terasa sedikit perih.
" Sayang ? " Suara itu kembali memanggil nya , hingga Ataya benar-benar sadar dan membuka mata nya lebar-lebar.
" Heummm ?" Ataya pun terduduk seketika .
" Abang beli bubur , makan dulu yah !" Titah nya sambil membuka satu bungkus bubur ayam dengan toping yang kumplit.
Ataya pun hanya mengangguk dengan mata yang terlihat menahan kantuk.
" Udah minum obat tidur lagi , kalo Zio tenang aja udah ada bi Mimi baru dateng di antar pa Dadang " Jelas Ibra sambil membawa satu sendok penuh bubu ke arah mulut istri nya.
Suapan-demi suapan pun Ataya terima tanpa banyak bicara , sesekali Ibra tersenyum kala melihat mata istri nya menutup lalu tiba-tiba terbuka kembali.
" Abiss . Sekarang minum obat nya " Ibra pun meletakan tempat bubur yang kini sudah tandas tanpa sisa sedikit pun , lalu mulai membuka obat Ataya.
" Gede amat obat nya !" Cicit Ataya kala melihat dua obat sudah di telapak tangan Ibra.
" Kecil atuh ini mah " Ibra pum memberikan satu gelas air . " Gedean yang abang " Cerotos Ibra dengan raut wajah datar tak tahu malu nya.
__ADS_1
" Ampun deh " Ataya pun mengambil gelas yang suami nya berikan , lalu mulai meminum nya satu persatu.
" Yaudah , sekarang giliran bobo " Tangan nya menarik selimut tebal sampai leher Ataya.
" Ya allah . Perih sekali " Lirih nya .
" Udah minum obat anti nyeri . Sebentar lagi juga enggak sayang " Sahut Ibra sambil mengusap lembut kepala Ataya.
Setelah beberapa menit menunggu Ataya sampai terlelap , suara Zio pun sudah mulai terdengar.
" Maaaaaaaaaaaaaaaaa " Tabgisan Zio pun pecah , bocah kecil itu kini sudah terduduk sambil melihat sekitar.
Mendengar putra nya menangis , Ibra bun beranjak menuju tempat Zio berada . Tangan nya terulur membawa Zio dalam pangkuan nya.
" Shutttth sayang , ini ada papah " Ibra berusaha membuat Zio tenang.
Anak itu pun berhenti menangis , manik nya terlihat sudah basah oleh guruyan air mana ,dengan menatap lekat wajah Ibra.
" Mau susu ?" Tanya nya pada Zio , raut wajah senang pun Zio perlihat kan , dengan senyuman lebar memperlihat kan empat gigi yang baru saja tumbuh.
Ibra pun membawa Zio keluar kamar , ia mencari keberadaan bi Mimi untuk meminta bantuan .
" Bi ? " Panggil nya sambil terus berjalan bersama Zio di pangkuan nya.
" Iya " Jawab nya sambil berjalan menghampiri Ibra.
" Tolong angetin ASI dong bi , ASI nya ada di frezer kulkas kecil " Jelas Ibra .
" Angetin nya kemana den ?"
Bi Mimi pun mengangguk sambil berlalu kembali ke arah dapur.
Ia pun duduk di sofa bersama jagoan kecil nya , celotehan Zio sangat terdengar keras hingga membuat Amira keluar dari kamar .
" Cucu oma " Amira pun merentak kan tangan , bersiap untuk membawa Zio dalam pangkuan nya.
Ibra pun menoleh ke arah suara Amira berada.
" Mah ko belum tidur ?" Tanya Ibra.
" Mamah tu gak bisa tidur , eh denger suara anak ganteng . Jadi makin gak bisa bobo " Zio pun sudah beralih kepada Amira.
Taklama setelah Amira memangku Zio , bi Mimi pun datang dengan sebotol susu di tangan kanan nya.
" Bu ini susu buat aden ".
" Oh iya bi . Makasih " Amira pun langsung memberikan susu itu kepada Zio.
" Ibra sana aja temenin Ataya kasihan , Zio biar tidur sama mamah aja " Titah nya kepada Ibra .
" Maaf ya mah ngerepotin " Sahut Ibra , Amira pun tersenyum ke arah nya.
" Tidak apa-apa , kamu temenin Ataya aja sana " Amira pun berlalu membawa Zio memasuki kamar yang ia tempati saat ini.
Ibra pun beranjak dari ruang tv , lalu mulai berjalan menuju kamar nya.
__ADS_1
Ia pun memasuki kamar , mulai mematikan lampu , mengganti nya dengan lampu tidur.
Ia melihat Ataya yang sudah tidur terlelap dengan posisi miring ke arah tempat tidur nya.
" Sayang " Panggil Ibra.
" Hemmm " Ataya pun merespon panggilan suaminya.
" Sini " Ibra menepuk tangan sebelah kiri nya , memintan Ataya menjadi kan lengan Ibra sebagai bantal untuk dirinya.
Ataya pun langsung mendekat ke arah Ibra , tangan nya mulai memeluk Ibra dan menempel kan pipi nya di dada suaminya.
" masih sakit ga ? " Tanya Ibra sedikit berbisik.
" Di sun juga sembuh " Sahut nya.
-cup...
Ibra pun mencium pelan plipis yang sudah berbalut kain perban .
" Masih sakit ga sayang ?" Tanya Ibra kembali.
Ataya pun mendongkat , melihat Ibra yang juga sedikit menundukan pandangan nya.
" Sakit nya jadi disini " Ataya menunjuk bibir nya sambil tersenyum malu.
-cup
-cup
-cup
Ibra pun memberi kecupan bertubi-tubi , hingga membuat tangan Ataya mendorong dada nya.
" Sekali aja " Protes Ataya.
Ibra hanya tersenyum , lalu kembali membawa Ataya dalam dekapan nya.
" Ayok tidur " Titah nya sambil mengusap punggung Ataya.
Ibra pun mulai memejam kan mata , tangan kiri nya dijadikan bantal untuk Ataya , sementara tangan kanan nya terus mengusap lembut punggung Ataya agar istrinya tertidur lebih nyaman .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
Jangan lupa like dan vote.
Dukungan dari kalian sangat berarti buat author.
Jangan lupa juga baca novel baru author.
● CINTA BEDA KASTA ●
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1