CINTA SETELAH AKAD

CINTA SETELAH AKAD
Eps 45


__ADS_3

"Aku mau pulang!" Jawab Ataya seraya terus berjalan tanpa melihat Ibra.


"Sayang, kita selesai kan masalah ini baik-baik!" Ibra meraih tangan istri nya.


"Masalah apa,?"Ataya menatap wajah suami nya sambil terseyum tipis.


"Aku nggak punya masalah sama abang!" Ataya menggelengkan kepala, kemudian menarik tangan nya dan segera berbalik.


Melihat Ataya terus melangkah menuju pintu, Ibra berlari dan segera memeluk tubuh istrinya erat, mencoba menghentikan Ataya.


"Jangan tinggalin abang!"ucap Ibra dengan suara lirih penuh permohonan.


"Abang yang ninggalin aku, bukan aku yang ninggalin abang!"kata Ataya kepada suami nya penuh penekanan.


"Maafin abang sayang!"


"Sebaik nya kita sendiri-sendiri dulu, renungin semua nya masing-masing."ujar Ataya sambil menahan tangis.


"Sayang?!" Ibra membalikan tubuh Ataya, mata istrinya sudah terlihat memerah. " Kasian anak kita sayang!" Ibra mengusap perut Ataya.


"Kalo kasian, istrinya jangan di bikin setres, apalagi di tinggalin sendirian cuma gara-gara lihat seseorang bertegur sapa, terus pergi nya sama mantan lagi, nggak habis pikir akutih!" Ataya menjawab pernyataan Ibra dengan senyuman, lalu mulai melepas kan tangan Ibra yang sedang menggenggam bahu nya.


"Satu lagi, Ataya lurus kan tentang kejadian kemarin di Rumah sakit. Dia itu temen Ataya waktu kuliah, kalo pandangan abang berbeda dengan apa yang Ataya jelas kan, Ataya nggak bisa maksa abang buat percaya sama Ataya."


Prempuan itu kembali berjalan, langkah nya sedikit di percepat, dengan tangan nya langsung meraih gagang pintu.


Ibrahanya terdiam melihat punggung istri nya dengan tatapan sendu.


Maafin abang sayang!


Istrinya yang selalu sabar dan mengalah, kini ia benar-benar pergi tampa membawa apapun di tangan nya kecuali tas keci yang selalu ia bawa. Bahkan Ataya hanya terlihat meminum segelas susu tadi pagi.


Ingatan Ibra kembali tertuju di mana ia menampar Ataya dengan kencang. Hal terbodoh dalam hidup nya adalah menyakiti Ataya di depan Nadia, di mana harga diri Ataya? dirinya bahkan terlihat membela Nadia di bandingkan Ataya.


Inilah penting nya berfikir sebelum bertindak, karena penyesalan tidak akan mengubah apapun, kini istri nya benar-benar pergi walaupun Ataya sudah bilang kemana tempat tujuan nya, tapi apakah Ataya akan kembali percaya pada nya nanti? Atau mungkin Ataya akan trauma berada dekat di sisi nya.


Jemari tangan Ibra meremas kencang rambut nya, wajah nya tertunduk dengan air mata penyesalan yang mulai berurai.


"Semalam aku mendorong nya, dan tadi aku menampar nya hingga pipi itu terhat memar. Pengecut sekali kau Ibra, bagaimana bisa kamu menampar pipi seseorang yang selalu membelai lembut pipimu!"Lirih nya pada diri sendiri.


Ibra segera mengusap air mata nya, kini ia sedikit berlari untuk mengejar Ataya, tak peduli dengan wajah sembab nya di lihat banyak orang .


Kaki nya terus melangkah tergesa-gesa, saat ini Ibra hanya ingin bisa menemukan istrinya itu sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan dirinya sendiri tenggelang dalam rasa bersalah.


Sayang, prempuan yang sangat di cintai nya bener-benar pergi, menghilang secepat kilat menjauh dari dirinya.


...————...


Sementara itu Ataya yang sudah berada di dalam taksi, air mata nya terus mengalir, rasa panas di pipi nya tak sebanding dengan rasa perih di hati saat melihat mantan kekasih suami nya tiba-tiba datang berkunjung.


Bahkan ketika Ataya menampar Nadia, Ibra kembali membalas nya dengan menampar dirinya kembali.

__ADS_1


"Kita kemana neng?"Suara supir taksi membuyarkan semua pikiran nya tentang kejadian hari ini.


"Ehm,..kita ke stasiun kereta api aja pak."jawab Ataya yang langsung di jawab anggukan oleh pria yang sedang mengemudikan mobil tersebut.


Mobil taksi yang Ataya tumpangi terus berjalan dengan kecepatan sedang, ia terus menatap ponsel nya, berharap Ibra berusaha menghengikan saat ini, nihil bahkan Ibra tak menghubungi nya sama sekali.


Tangan nya menekan tombol power, dan menonaktifkan nya ponsel nya.


Setelah menepuh perjalanan yang cukup panjang, kini Ataya telah sampai di kota kelahiran nya, dimana ia di besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Sebelum ia melanjut kan perjalanan menuju rumah ayah dan bunda nya, Ataya mampir di salah satu restaurant cepat saji.


Prenpuan itu terihat makan dengan tenang, dengan satu tangan yang terus mengusap perut bulat nya.


30 menit Ataya berdiam diri, menikmati kesendirian nya saat ini, ia pun terlihat selesai dan memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang nya setelah membungkus beberapa makanan untuk keluarga nya terlebih dulu.


Sore ini kepulangan Ataya di sambut oleh hujan yang cukup deras, tapi beruntung ketika dirinya sampai di halaman rumah hujan pun langsung reda.


"Assalamualaikum." Ataya mengetuk pintu rumah orang tua nya.


"wa'alaikumussalam." Zaydan membuka kan pintu.


"Hai teteh bawa ini." Ataya mengangkat bungkus makanan yang ia beli tadi.


"Aduh mantap, bisa aja hujan-hujan gini datang bawa makanan." ucap Zaydan.


"Siapa dek?" Teriak bunda.


Mendengar jawaban Zaydan Aisyah pun bergegas menuju pintu utama.


" Ya allah cucu nena datang." Tangan nya mengelus perut Ataya." Ayo masuk teh, Ibra mana?" Aisyah bertanya .


"Abang lagi banyak kerjaan bun." Jawab Ataya sambil berjalan memasuki rumah yang ia sangat rindukan.


"Oh gitu." Sahut Aisyah.


Aisyah hanya tersenyum, prempuan itu tidak memaksakan Ataya untuk berbicara jujur, meski hati kecil nya bergemuruh dan tahu rumah tangga anak nya pasti tidak sedang baik-baik saja.


"De, itu juga ada punya ayah sama bunda." Cicit Ataya kepada Zayda.


"Iya!" Sahut Zaydan.


Mereka terus berjalan menuju ruang tv tempat mereka kumpul.


"Ayah kemana?" Tanya Ataya.


"Di kebun, sebentar lagi juga pulang."Jelas Aisyah.


Ataya pun tiba-tiba berbaring di pangkuan bunda nya itu.


"Teteh kangen bun." Terdengar suara nya sedikit menahan tangis.

__ADS_1


"Pipi teteh kenapa ko bengkak sama memar?" Jari nya mengusap lembut pipi Ataya .


"Akhir-akhir ini teteh sakit gigi bun, emang keliatan bengkak yah?" ucap nya.


"Nanti bunda kompres yah?" kata Aisyah sambil terus mengusap pelan pipi putri sulung nya.


"Bun teteh cape, mau ke kamar dulu yah, nanti kalo ayah pulang kasih tau, bangunin." Ataya tersenyum, ia bangun dan berjalan menuju kamar nya.


Setelah sampai di kamar, ia menatap lekat kamar nya, tak ada satu barang pun yang berubah, kecuali ranjang yang kini sudah di ganti dengan ukuran yang lebih besar.


Sebenar nya Ataya sangat lelah dan ingin tidur, tapi ia memaksakan diri nya untuk mandi sebentar, membersihkan diri dari keringat nya yang bercucuran sejak dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung tadi.


Setelah beberapa menit berada di kamar mandi, Ataya pun keluar dengan daster yang sudah ia kenakan.


Tubuh nya menghadap cermin, ia melihat bagian perut yang terlihat menonjol.


"Udah besar ya kamu!" tangan nya terus mengusap perut bulat milik nya.


Ataya tersenyum.


Setelah selesai melihat dirinya dari pantulan kaca, Ataya segera berjalan menuju ranjang dan mulai membaring kan tubuh nya yang terasa sangat lelag.


Tangan nya kembali mencari ponsel nya di dalam tas, lalu mulai menghidup kan nya kembali.


Ketika ponsel nya sudah menyala, Ataya cukup terkejut ketika melihat ada lima empat puluh lima panggilan telepon dan dua puluh pesan singkat.


📲Suamiku❤ 45x panggilan tidak terjawab.


💌Sayang kamu di mana.


💌Ayo pulang.


💌Jangan tinggalin abang.


💌Maafin abang udah nampar kamu.


💌Pulang yah abang jemput.


💌Abang kangen anak kita.


💌Sayang kamu baik-baik aka kan , ko hp kamu nggak aktif?


Dan banyak lagi pesan lain nya.


^^^💌 Aku baru aja sampe.^^^


Ataya mengirim kan pesan, bagai manapun ia tidak ingin membuat suaminya ketakutan, karena tidak mendapat kabar darinya.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, mawar dan kopi nya my lovely reader's.


__ADS_2