
Tok...
Tok...
Suara pintu kamar Ataya di ketuk.
"Teh?" Panggil Hardian, sambil berjalan masuk kedalam kamar putri sulung nya.
Ataya yang saat ini sedang berbaring membelakangi pun langsung menoleh.
"Ayah." Senyum di bibir nya mengembang.
Hardian tersenyum, berjalan perlahan menghampiri Ataya yang saat ini sudah duduk bersandar kepada bantal yang ia tata terlebih dulu.
"Kangen ayah."kata nya, lalu memeluk Hadian sangat serat.
"Teteh ko belum tidur?" Hardian mengusap kepala Ataya.
"Belum ngantuk yah, di meremin juga nggak bisa."Ataya berujar.
"Gimana ke adaan cucu ayah, udah periksa kan?" Tanya Hardian kembali.
" Kemarin sebelum berangkat kesini periksa dulu, sehat terus jenis kelamin nya prempuan." Ataya tersenyum menatap Hardian.
"Sebentar lagi bunda kesini bawain air kompresan, kata nya anak Ayah lagi sakit gigi yah?" Hardian menatap pipi bengkak yang sedikit memar, mengusap nya penuh kasih dan sayang.
Hardian tahu betul, saat ini hubungan rumah tangga Ataya sedang tidak baik-baik saja, tidak biasa nya Ataya besikap seperti ini. walau sesungguh nya ia lelah setelah seharian bekerja di kebun, namun lelah nya sirna ketika Aisyah menjelas kan Keadaan Ataya saat ini.
Sebagai orang tua Hardian tak ada hak sedikit pun untuk mencampuri urusan rumah tangga anak nya , sebenar nya Hardian ingin sekali menanyakan "Ada apa?" namun ia tahu betul Ataya adalah seorang yang tertutup untuk hal pribadi nya.
"Mau makan dulu atau kompres dulu?" Tanya Aisyah yang baru saja datang dengan dua tangan nya membawa wadah kecil berisi air kompresan dan sepiring nasi dengan sapi mercon lauk lesukaan nya.
"Teteh udah makan bunda." Ataya menolak. "Kompres aja." Ataya tersenyum.
"Makan ya mau ayah suapin?" Tawar Hardian.
"Nggak usah ayah, Ataya udah gede, mau jadi ibu lagi. " Jawab Ataya .
"Kalo begitu makan yang banyak, ayah tinggal dulu oke?" Pamit Hardian, berjalan keluar dari kamar.
"Bun ayah lagi sibuk apa di kebun?" Ataya bertanya.
"Ayah lagi panen kol, sama daun bawang!" Sahut Aisyah .
Ataya hanya mengangguk, sambil terus menatap piring berisi makanan di hadapan nya.
"Bun, beneran deh teteh kenyang." Ataya menyerah kan kembali nasi yang di bawa Aisyah.
"Baru juga tiga suap." Cicit Aisyah.
"Udah nggak kuat beneran bun, nanti teteh muntah!"
Aisya mengangguk ,lalu mengambil piring yang Ataya berikaan padanya.
"Yaudah sekarang tiduran miring!" Pinta Aisyah.
Ataya pun berbaring miring menghadap Aisyah, lalu terasa handuk kecil dingin itu sudah menempel di pipi sebelah kiri Ataya.
"Sakit enggak?" Aisyah bertanya.
__ADS_1
"Enggak bun, agak mendingan sekarang mah." Jelas Ataya.
"Teteh beneran nggak mau cerita sama bunda?" Tangan nya mengusap kepala Ataya.
Ataya langsung terdiam, wajah nya terlihat sendu, ia sudah tak berani menatap Aisyah.
"Rumah tangga itu pasti ada berantem nya, beda pendapat juga sering, boleh pergi nenangin diri masing-masing tapi harus sambil koreksi diri." Jelas nya, sambil terus mengusap Ataya.
"Tapi abang masih suka ketemuan sama mantan pacar nya, Ataya nggak bisa kalo abang nya juga gitu terus." Sahut nya lirih.
"Siapa tau ini cuma salah paham, kan nggak tau juga!" Sahut Aisyah.
"Ataya nggak tau, abang kemarin marah sama Ataya cuma gara-gara liat Ataya sama falah, malem nya abang ninggalin Ataya sampe larut banget, pas di telepon yang angkat cewe, terus ngirim pesan gini,..." Jelas Ataya sambil memperlihat kan isi pesan yang pernah Nadia kirim lewan ponsel Ibra.
"Udah di tanyain belum, siapa tau Ibra nggak tau soal pesan ini! emang falah siapa?" Cecar Aisyah.
Ataya menggeleng kan kepala.
"Falah temen aku waktu kuliah itu bun."
"Terus ini pipi kenapa sayang, nggak mungkin kalo sakit gigi sampe kaya gini!" Tangan nya sedikit mengangkat handuk yang sedang berada di Atas pipi Ataya.
"Ataya di tampar abang, tapi bunda jangan marah sama abang yah?!" Tangis nya pecah . "Abang nampar Ataya di depan Nadia, Ataya malu." Aisyah terkejut mendengar penjelasan dari putri nya.
"Shuttttt,... teteh jangan nangis kasian loh dede bayi nya " Aisyah berusaha membuat tangis Ataya reda.
"Bun, di hubungan ini cuma teteh yang berusaha sendiri, abang nikahin Ataya itu cuma karena amanah alm mama Risa aja."
"Bunda lihat Ibra udah cinta ko sama kamu." Jelas Aisyah.
"Itu pura-pura, bukti nya teteh pernah beberapa kali tau mereka ketemuan." Sahut Ataya.
Ataya mengangguk paham, mata nya menatap punggung Aisyah yang kini sudah menghilang di balik pintu.
Ataya merasa sangat beruntung mempunyai orang tua yang begitu dekat dengan nya.
Malam pun semakin larut, Ataya masih juga belum terlelap, mungkin karena pikiran di otak nya.
Tak munafik saat ini Ataya juga benar-benar tengah merindukan Ibra suami nya, namun ketika ia ingin membalas pesan dari Ibra, rasa gengsi itu menguasai pikiran nya kembali.
...——————...
Pagi hari sekitar pukul setengah enam, mobil hitam milik Ibra sudah terparkir di halaman rumah mertua nya.
Ketika turun, Ibra melihan Hardian yang sudah berjalan mendekat pada dirinya.
Rasa gugup dan takut menyerang, namun tak di sangka Hardian menyambut nya dengan senyuman.
Jauh dari bayangan Ibra yang membayang kan mertua nya itu akan menampar atau bahkan memberi nya bogem mentah.
"Pagi-pagi udah sampe? berangkat jam berapa?" Hardian tersenyum.
"Berangakat jam tiga pagi yah!" Jawab nya sambil mencium tangan Hardian.
"Ayo masuk, mau kopi atau apa?" Tawar Hardian.
"Ataya udah bangun belum yah?" Ibra menanyakan istri nya.
"Udah dari jam empat Ataya bangun, sekarang udah di kamar nya lagi, tadi katanya mau tidur lagi." Sahut Hardian.
__ADS_1
"Kalo boleh, Ibra mau ke temu Ataya yah?" Pinta nya sedikit canggung.
"Boleh, masuklah, Ataya ada di kamar nya."Ibra pun memasuki rumah di antar oleh ayah mertua nya.
"Eh ada Ibra!" Sambut Aisyah yang baru saja datang dari arah dapur.
"Iya bunda." Jawab nya sambil mencium tangan Aisyah.
"Ibra mau ke kamar Ataya dulu bunda." Jelas Ibra.
"Iya masuk aja tadi pagi udah bangun ko, tapi nggak tau sekarang." Aisyah tersenyum.
Ibra mengangguk sambil terus mengulas senyum.
Langkah kaki nya terus berjalan ke arah kamar Ataya, tangan Ibra meraih knop pintu dan mendorong nya perlahan .
Terlihat Ataya yang tengah berbaring membelakangi nya, tangan nya terus bergerak, mengusap lembut sosok anak yang masih ada di dalam perut Ataya.
Lekuk tubuh nya terlihat jelas dengan daster yang sudah pas di bagian perut.
Ataya menggulung tinggi rambut coklat nya, hingga Ibra bisa melihat leher mulus dan putih milik istrinya yang ia sangat rindukan.
Ataya masih terdiam, ia belum menyadari Ibra yang sudah berada di ambang pintu sedang memper hatikan nya.
...🎶🎶🎶🎶...
...Remember when i told you...
...No matter where i go...
...I'll never leave youre side...
...You will never be alone...
...Even when we go through changes...
...Even when we're old...
...Remember that i told you...
...I'll find my way back home...
-shaun ' way back home-
Suara musik itu terdengar cukup kencang, hingga Ataya tak mendengar ada yang membuka pintu kamar nya.
Tampa di sadari senyuman di bibir Ibra pun terbit, ketika rasa gundah nya hilang ketika melihat istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Ibra terus berjalan mendekat, kemudian naik ke atas tempat tidur, dan memeluk tubuh istri nya dari belakang.
.
.
Jangan lupa yah, like, komen dan vito. Mau ngasih kopi sama bunga juga hayu, di gas aja yah.☺
Kita kenalan yuk, biar makin deket kita.
follow ig author yah @_rinat1999
__ADS_1
love you toma my lovely readers.