CINTA SETELAH AKAD

CINTA SETELAH AKAD
Eps 46


__ADS_3

Sore hari ini di apartement Ibra, setelah pertengkaran hebat dengan istri nya, lalu Ataya memutus kan untuk pergi pulang ke rumah orang tua nya yang berada di Bandung.


Ibra hanya terdiam sambil terus mantap langit-lagit kamar nya dengan tatapan kosong.


Hati nya terasa kosong dan sangat hampa, apalagi sudah tak ada sosok yang suka minta jajan tiap sore, atau aktifitas di rumah seperti biasanya.


Apartement nya benar-benar dalam ke adaan hening.


Ibra yang terus menerus menghubungi istri nya itu, tak mendapat kan hasil apapun, ia berulang kali mengirim kan pesan dan panggilan telpon, namun yang Ibra dapat kan adah ponsel Ataya yang tidak aktif.


Tapi tiba-tiba saja ponsel nya bergetar.


...Istriku....


💌Aku baru aja sampe.


Satu pesan dari Ataya namun bisa membuat hati nya sedikit tenang.


Ada sedikit rasa senang, kala dirinya tau Ataya telah sampai dengan selamat walau pun ke adaan hati nya sedang tidaklah baik karena pertengkaran nya tadi pagi.


^^^💌Kamu sudah makan sayang?.^^^


Ibra pun membalas kembali pesan Ataya, namun ketika Ibra menunggu balasan, ia tak lagi mendapat kan nya.


Ibra tahu kalo sekarang Ataya benar-benar kecewa pada dirinya, walaupun Ataya masih bisa tersenyum sebelum benar-benar pergi, tetap saja jauh di dalam mata nya tergurat rasa kecewa yang cukup besar.


Ibra benar-benar tidak tahu sekarang harus berbuat apa dan bagai mana.


Apa aku harus menyusul nya ke bandung , tapi bagai mana kalo Ataya menolak di bawa pulang. Suara nya lirih ,tangan nya terus memerus mengusap wajah nya kasar.


Gelap nya malam sudah menyapa, Ibra yang sedari tadi hanya terdiam, memutus kan untuk pergi ke rumah orang tua nya, ia tak tahu harus kemana saat ini .


Kaki nya mulai melangkah keluar, ketika ia membuka pintu, terlihat seseorang yang sedang berdiri disana, yang ingin menekan tombol bell apartemen milik nya.


"Ibra, are you oke?" Tanya Nadia, tangan nya langsung menyentuh pipi laki-laki itu.


"Apaan si loh, nggak jelas banget!" Ibra menepis tangan Nadia.


"Eh kamu, belum makan iya kan? ini aku bawa in makanan ke sukaan kamu." Jelas Nadia sedikit gugup dengan perlakuan Ibra padanya.


"Nggak usah, lo bawa aja lagi sana!" Tolak Ibra.


"Sayang tapi aku udah bawain ini buat kamu." Nadia memohon agar Ibra mau menerima makanan dari nya.


"Awas gue mau pergi." mata Ibra mendelik, lalu menabrak bahu Nadia dan pergi begitu saja.


"Kamu itu kenapa sih, dulu kamu sayang banget sama aku?!" Cecar Nadia.


Ibra langsung menghentikan langkah nya ketika mendengar apa yang di kata kan Nadia.

__ADS_1


"Iya, dan gue adalah orang bodoh yang bisa-bisa nya sayang ke cewe modelan kaya lo Nad!" Jelas Ibra penuh penekanan.


"Tapi istri kamu itu udah ninggalin kamu, Ibra!"Nadia mulai berteriak.


Pria itu mempertajam tatapan nya dengan sedikit menyipit kan mata.


"Tahu dari mana kamu, Ataya pergi?" Tanya Ibra, sambil berjalan mendekat ke arah Nadia kembali.


Menyadari ia sedang membongkar rahasia nya sendiri Nadia pun terlihat gelagapan.


"Hah! e-emang Ataya be-beneran pergi yah?" Nadia pura-pura bertanya dengan senyum gugup.


"Apa rencana kamu Nadia?"Ibra kembali bertanya.


"A-aku nggak punya rencana apa-apa." Nadia gelagapan dengan gelengan kecil di lepala nya.


"Apa ini semua ada campur tangan kamu?"Ibra bertanya dengan penuh penekanan.


"Iya Ibra, ini semua rencanaku!" Jelas nya dengan air mata yang sudah membasahi pipi. "Aku akan membuat miliku tetap menjadi milik ku Ibra, aku akan membuat Ataya pergi dari kamu." Tegas Nadia berteriak.


"Apa yang kamu lakukan?!" Cecar Ibra.


"Malam itu aku mengangkat panggilan telpon dari istri mu." Nadia menatap lekat mata Ibra.


"Kamu gila Nadia." Tegas Ibra.


"Kembalilah padaku Ibra, kumohon." Nadia mulai menangis.


"Ibra!" Teriakan Nadia memenuhi lorong apartement.


Beruntung hari ini keadaan apartemen sangat sepi, kalo tidak Ibra dan Nadia akan menjadi tontonan gratis bagi para pemilik unit di sana.


Kaki nya terus melangkah menuju parkiran mobil nya.


Lalu mengendarai nya dengan kecepatan yang sangat tinggi, lagi-lagi ia menyesali perbuatan nya kepada Ataya.


"Aku menampar nya karena aku lepas kendali, bukan karena membeli Nadia." Tangan nya memukul kencan setir mobil.


"Ataya pasti berfikir aku menampar nya karena membela Nadia. Haduh bodo banget lo Ibra!" Teriak nya di dalam mobil.


Mobil pun terus melaju dengan kecepatan tinggi. Setelah setengah jam ia menempuh perjalanan, kini Ibra sudah sampai di rumah besar milik orang tua nya.


Ibra menuruni mobil dengan tergesa-gesa, dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


"Kamu kenapa Ibra?" Ruli sedikit aneh dengan sikap anak nya.


"Pah, tolongin Ibra."ucap nya seraya menghampiri Ruli yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Apa, ada apa ini? mana istri kamu?" Ruli pun ikut panik.

__ADS_1


"Ataya pergi ke Bandung sendiri." Jelas nya membuat Amira yang sedang berjalan ke arah mereka terkejut.


"Ataya ke bandung? sendirian?!" cicit Amira. "Kok bisa?"


"kita berantem, Ibra lepas kendari!"ucap nya dengan suara pelan.


Amira dan Ruli pun saling melempar pandangan degan tatapan bingung.


"Ibra,...Ibra nampar Ataya pah!" Ibra menjelas kan dengan suara lirih.


"Apa?!" Amira dan Ruli bersamaan .


"Kamu udah gila Ibra!" Jelas Ruli dengan tatapan penuh kecewa kepada Ibra.


"Udah pah,.. Ibra ayo kita obrolin di ruang keluarga yah." Amira berusaha menenangkan kedua nya.


Mereka ber-tiga pun segera beranjak menuju ruang tamu.


"Inti masalah nya apa?" Tanya Amira.


Mendengar pertanyaan dari Amira, Ibra pun segera menjelas kan kejadian dari awal. Ibra yang cemburu kepada Ataya, lalu meninggal kan nya setelah mereka pulang dari rumah sakit, kejadian pagi tadi, yang dengan gampang nya menampar Ataya di hadapan Nadia.


Mendengar penjelasan Ibra Ruli hanya terdiam dan terus menerus mengusap wajah nya, ada sedikit rasa tak percaya dan kecewa kepada anak nya itu.


"Umur kamu udah dua puluh delapan tahun, bersikap lah dewasa karena banyak hubungan yang hancur gara-gara salah paham." Ruli menasehti Ibra.


"Jadi Ibra harus gimana pah?" Tanya Ibra.


"Jemput lah istri mu besok, tanggung jawab atas perbuatan mu sendiri." Jelas Ruli.


Amira hanya terdiam mendengar percakapan anak dan suami nya, ia sangat khawatir dengan ke adaan Ataya, apalagi dia sedang hamil besar, bagai mana bisa ia melalui hari susah nya sendiri.


"Kalo Ataya nggak mau ikut pulang, gimana pah?" rasa khawatir tampak jelas di wajah suami dari Ataya itu.


"Ya kalo nggak mau biarin aja, orang ini salah kamu ko. Lagian aneh jadi laki-laki ko nggak pernah bisa tegas sih? istri di ganggu mantan pacar ko diem aja!" ucap Ruli ketus.


"Papah nyalahin Ibra?" pria itu menunjuk dirinya sendiri.


"Lah,... emang kamu yang salah Ibrahim!" Jelas Ruli.


"Udah-udah kita bicarakan ini besok, sekarang udah malem kita istirahat." Jelas Amira.


Malam ini Ibra memutuskan untuk tidak pulang ke apartemen nya.


Rencana besok pagi Ibra akan berangkat ke Bandung untuk menjemput Ataya, walau nanti istrinya tak mau di ajak pulang, yang penting ia sudah sedikit berusaha.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komen. Dukungan kalian sangat berharga buat author.


Love you tomat my lovely readers...


__ADS_2