
Sore har nya, Ataya dan Ibra sudah berada di Rumah sakit di mana Ataya selalu memeriksa kan keadaan kandungan nya. Seperti pinta kedua mertua nya tadi sore, Amira dan Ruli pun ikut mengantar Ataya.
" Ibu Ataya?" Panggil salah satu perawat, setelah setengah jam Ataya menunggu.
Ataya pun beranjak dari duduk nya, mulai menuju kedalam ruangan Dokter Syifa. Dengan tiga orang mengekor di belakang nya.
"Loh ini temen nya Ibra kan?" Tanya Ruli yang melihat Dokter kandungan tersebut.
Syifa yang mendengar, melirik ke arah suara.
"Wah om Ruli, apakabar?" Tanya Syifa menghampiri.
"Baik, sangat baik. Maaf kalo terlalu banyak orang, tapi kami ingin tahu perkembangan cucu pertama kami." Jelas Ruli kepada Syifa.
"Hanya kalian yang bisa rame-rame masuk ruangan Saya," Syifa bercanda." Baiklah, nyonya Ibra apa ada keluhan minggu ini?"
" Hanya suka sedikit nyeri di bagian perut bawah, itupun kalo terlalu lama berjalan dan berdiri." Jelas Ataya.
"Oke, mari ikut saya dan berbaring disana yah!" Syifa menunjuk kasur yang ada di pojok ruangan nya.
Ataya mangangguk, laku berjalan menuju tempat pemeriksaan, badan nya di tutupi selimut oleh Ibra. Dokter Syifa pun sudah mengoleskan gel di atas perus nya.
Sementara itu Amira dan Ruli hanya melihat monitor dari ke jauhan.
"Apakalian masih penasaran dengan jenis kelamin nya?" Tanya Syifa.
"Iya, bahkan oma opa nya juga sama penasaran nya dengan ku." Jawab Ataya.
Lama Dokter Syifa melihat layar monitor, kemudian dia berkata.
"Jenis kelamin nya prempuan." Syifa tersenyum kepada Ataya dan Ibra.
"Prempuan Dok?" Amira sangat senang mendengar nya.
"Iya, pemeriksaan sementara seperti itu, dan semua nya terlihat baik." Jelas Syifa kembali.
Syifa pun kembali menuju mejanya dan di susul oleh Ataya dan Ibra.
" Nyonya Ibra, jangan terlalu banyak melakukan aktifitas yang berat-berat yah, seperti nya anda sering kelelahan hingga menyebab kan sakit di perut bagian bawah l." Dokter kandungan itu menjelas kan dengan detail.
Ataya mengangguk paham, ia tersenyum. Pemeriksaan hari ini membuat nya sangat bahagia, apalagi ketika mengetahui ternyata calon baby nya adalah prempuan.
Sama hal nya dengan Ataya dan Ibra, Ruli yang tak mempunyai putri dan Amira juga seorang janda yang tak mempunyai anak, tentu saja mereka sangat bahagia.
"Baiklah saya hanya akan memberikan vitamin saja, usaha kan kalo bisa minum susu hamil walaupun sehari sekali." Syifa memberikan sebuah catatan untuk Ibra tebus.
"Terimakasih Dokter kalo begitu kami semua pamit." Tante Amira berpamitan.Dan di balas anggukan oleh Dokter Syifa.
Mereka ber-empat pun keluar dari ruangan tersebut lalu menuju kasir dan farmasi.
" Jangan kecapean ya Ataya. "Amira mengusap perut bulat nya.
" Iya mah, nanti beresin rumah pake jasa orang aja." Jawab Ataya.
"Jangan-jangan, biar nanti papah suruh mbo ke apartement kalian." Sahut papah mertua nya.
"Pah Ibra sama Ataya antri dulu, papah sama mamah gimana?" Tanya Ibra .
"Papah kan bawa mobil sendiri, kalo tidak keberatan papah sama mamah pulang duluan yah, kasian Gilang."Jelas Ruli.
"Nanti Ibra jemput mbo kerumah kalo begitu." Kata Ibra.
Amira dan Ruli pun keluar dari rumah sakit terlebih dahulu , sementara Ibra dan Ataya sedang menunggu dirinya di panggil untuk membayar dan menebus vitamin milik Ataya.
"Abang Ataya ke toilet dulu ya." Ataya meminta izin.
"Abang anter?" Ibra langsung berdiri dari duduk nya.
__ADS_1
"Jangan, nanti di panggil nggak ada orang nya, sebentar ko." Ataya
Ibra hanya mengangguk membiarkan Ataya menuju kamar mandi sendiri.
Ataya pun terus berjalan menyusuri lorong hingga ia menemukan toilet khusus wanita.
Ketika Ataya telah keluar dari toilet dan berjalan sedikit kencang menuju keberadaan suami nya tiba-tiba.
"Ataya,"seseorang memanggil. "Apakabar?" Seorang bertanya pada dirinya.
Ataya pun mengalih kan pandangan nya ke arah suara.
"Falah!"Raut wajah nya terkejut.
"Sekarang kamu di Jakarta? lagi apa disini siapa yang sakit?"Pertanyaan bertubi-tubi dari pria itu.
"Ak-aku, abis ke Dokter kandungan." Jawab nya terbata-bata dan sedikit tersenyum untuk menutupi rasa gugup nya.
"Abis ngapain?"Pria masih belum menyadari perum membulat Ataya.
Ketika Ataya sedang terdiam karena mendapat pertanyaan dari seseorang yang pernah menyatakan cinta nya dulu.
Ibra terlihat sedang berjalan ke arah nya, dengan menenteng kantong obat di tangan, dan melihat Ataya yang tangah ber duaan dengan laki-laki. Raut kesal di wajah nya mulai terlihat.
"Sayang, dari tadi aku tungguin ko malah masih disini?" Tanya Ibra, dengan padangan nya tertuju pada sosok pria di depan Ataya.
Ataya melihat ke arah Ibra .
"Aku duluan yah." Pamit Ataya, langkah nya bergegas menuju Ibra.
Laki-laki itu juga merasa bingung dengan seseorang memanggil Ataya sayang , setaunya Ataya orang yang tak pernah mempunyai pacar .
"Apa itu suami nya, tapi kapan Ataya menikah?"Falah bertanya pada diri nya sendiri.
****
Setelah kejadian tadi, prempuan itu melihat ada yang berbeda dari suaminya, tak biasanya Ibra berjalan lebih dulu meninggal kan Ataya yang berada di belakang nya.
Merekapun sudah memasuki mobil, namun Ibra masih saja terdiam mengabai kan nya.
"Abang?"Ataya berusaha untuk mengembalikan suasana.
"Siapa dia?!" Tiba-tiba Ibra berkata seperti itu.
"Dia temen kuliah Ataya dulu."Jelas Ataya jujur, memang Falah adalah teman nya dulu, soal urusan dia selalu menyatakan cinta kepadanya. Ataya sama sekali tidak peduli.
"Temen kuliah atau mantan pacar?" ucao Ibra kembali dengan sedikit senyum mengejek kepada Ataya.
"Temen kuliah aku bang!" Jelas Ataya dengan suara lirih dan tatapan sayu.
"Tapi tatapan dia ke kamu beda Ataya!" ucap Ibra kembali.
Ibra kembali tediam seribu bahasa, terlihat ia sedang menaha emosi di raut wajah nya. Ataya pun hanya terdiam ia takut akan membuat suaminya lepas kendali. jadi dirinya memutus kan untuk menjelas kan nya ketika Ibra sedikit lebih tenang.
Mobil pun terus melaju, Ataya sedikit heran bukan nya tadi Ibra bilang akan mampir lagi ke rumah orang tua nya untuk membawa mbo Nim bersama mereka.
Tapi saat ini Ibra tengah membawa nya langsung menuju jalan pulang.
"Abang kita nggak jadi jemput mbok?"Ataya bertanya, Ibra tak menjawab ia terus mengemudikan mobil nya dengan sikap dingin.
"Abang!"Ataya memanggil " Abang jangan marah, ini cuma salah paham." jelas Ataya.
Masih belum ada jawaban dari Ibra, ia tetap mendiamkan Ataya hingga sampai di apartement mereka.
Bahkan kerika ia menuruni mobil pun ia meninggal kan istri nya itu.
Ada rasa sakit di hati Ataya, ia selalu memberi pengertian untuk Ibra. Namun sebalik nya, Ibra bahkan tak pernah memberi nya luang untuk menjelas kan, siapa seseorang yang bertemu dengan nya secara tidak sengaja tadi sore.
__ADS_1
Kaki nya menuruni mobil dengan pelan, berjalan menuju tempat mereka tinggal .Ataya melihat Ibra yang telah meninggal kan nya dan menaiki lift terlebih dahulu.
Ataya kembali memejam kan mata nya, menarik nafas dalam-dalam lalu meng- hembuskan nya perlahan.
"Sabar ya sayang."Tangan nya mengusap perut.
Dengan susah payah dan hati-hati, Ataya kini sudah sampai di apartemen yang mereka tinggali, mata nya tak melihat sosok Ibra, ketika ia berjalan menuju kamar.
Kini Ibra telah menganti pakaian nya, seperti akan pergi kembali dengan minyak wangi yang menusuk hidung Ataya.
"Abang mau kemana?" Ataya bertanya.
"Aku mau keluar!" Jawab nya dingin.
"Udah malem, jangan kemana-mana."Ataya sedikit memohon.
Lagi-lagi Ibra tak memperdulikan Ataya, ia terus berjalan dengan kunci mobil dan jaket di tangan nya.
Ataya hanya menatap nanar punggung suami nya yang kini sudah berlalu meninggal kan nya.
Ketika Ataya menyusul nya keruang tv, Ibra sudah terlihat akan membuka pintu luar, Ataya pun berlari mencoba menaha lengan nya. Namun yang terjadi adalah Ibra menghempas kan tangan istri nya dengan sangat kencang, hingga membuat Ataya terdorong ke belakang.
"Abang!" Ataya terkejut dengan sikap Ibra saat ini.
Ibra hanya melihat nya lalu benar-benar pergi.
" Mungkin suami mu ingin menenang kan diri nya Ataya." Jelas nya pada diri sendiri , bibir nya tersenyum namun air mata nya mulai membasahi pipi.
Ia akan mencoba mengerti ke inginan suami nya sekarang, ia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri bersama teman-teman nya mungkin.pikir Ataya.
Beberapa jam berlalu, malam sudah sangat larut tapi Ibra belum pulang juga, rasa khawatir kepada suami nya sangat lah besar, Ataya sangat takut terjadi sesuatu kepada Ibra. Apalagi ia membawa mobil dengan ke adaan sedang marah.
Ataya pun memcoba menghubungi Ibra melalui panggilan telepon.
Tut....
Tut...
Tut...
📞Halo.
Seorang wanita menjawab telepon nya, Ataya hanya terdiam hati nya mulai terasa perih.
📞Halo.
Tanpa menjawab sepatah kata pun Ataya langsung mematikan telpon. Jadi suaminya pergi bersama seorang wanita, pantas saja ia mengganti baju dan memakai parfume.
Tiba-tiba
...Ting..🔔 suara pesan masuk...
...Suamiku❤...
💌: Kau tenang saja suami mu aman di tangan kekasih nya😚
Tangis nya pecah, hati Ataya benar-benar hancur malam ini, hanya karena sore tadi dirinya bertemu seseorang Ibra sampai berbuat seperti ini.
Betapa pilu nya Ataya saat ini, ia berbaring dengan tangan memeluk perut , air mata yang masih mengalir dan suasana kamar yang gelap.
Pikiran nya di penuhi oleh Ibra yang saat ini masih berhubungan dengan Nadia. Apakah selama ini Ibra tidak benar-benar mencintai nya, apa pernikahan ini Ibra jalani hanya karena pesan dari alm mama nya dulu.
Ataya tertidur tampan mengganti palaian. Bahkan prempuan itu tidak menggunakan selimut, badan nya hanya meringkuk dengan tangan yang melilit erat perut nya.
Jangan lupa Like & Vote 🤗
TBC.
__ADS_1