
Jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Tiga bulan sudah Ataya dan Ibra menempati apartemet milik orang tua nya.
Hari-hari nya kini terasa lebih tenang, tak ada lagi gangguan dari Nadia, setiap hari pun Ataya di bantu oleh mbok yang kini tinggal bersama mereka.
Ibra kini lebih sering berada di dekat istrinya, walaupun ia mempunyai kewajiban dalam bisni yang Ibra jalani. Untuk saat ini Ibra mempercaya kan semua itu kepada Heri, karyawan kepercayaan nya di Cafe milik nya.
Sudah sejak dua bulan terakhir Ataya tidak pernah tidur dengan nyenyak kembali, ia selalu mengeluh tidak bisa tidur karena perut nya sudah semakin besar membuat pinggang Ataya terasa panas dan sakit.
Malam ini contoh nya, Ataya yang tidak bisa tidur karena sudah merasa kan mulas di perut bagian bawah.
Prempuan itu hanya berusaha menahan nya, ia masih berpikir kalau yang di rasakan nya saat ini sama seperti malam-malam sebelum nya. Terasa sedikit mulas, kemudian hilang kembali setelah beberapa saat.
Manik Ataya menatap suami nya Ibra yang tengah tertidur sangat pulas, hingga diri nya tak merasa kan gerakan Ataya di atas tempat tidur yang sudah merasa tidak nyaman dan terlihat sedikit gelisah.
Setelah rasa mulas nya menghilang, Ataya pun mulai beranjak dari duduk nya, ia segera melangkah kan kaki menuju ke luar kamar, tujuan nya saat ini adalah kamar mbok Nim.
Tok...
Tok...
"Mbok!?"panggil Ataya suara nya sedikit melemah, ketika rasa mulas itu datang kembali.
Belum ada jawaban dari dalam kamar, Ataya berjongkok kala rasa mulas nya semakin terasa nyeri.
"Shhh, aw!"mata nya terpejam, bibir nya meringis, dengan tangan yang sudah meremas kuat daster tidur milik nya.
Sementara itu di dalam kamar, Ibra mulai meraba bagian kosong di samping nya dengan mata yang masih tertutup.
Manik nya meneliti pintu kamar yang sudah terbuka, dengan cepat Ibra menyingkirkan selimut nya dengan kasar, untuk segera mencari belahan jiwa nya itu.
Ketika ia keluar kamar dengan sedikit tergesa-gesa, benar saja Ibra melihat istri nya sadang berjongkok, kepala nya tertunduk, dengan jemari tangan yang meremas kuat dater hamil yang di pakainya.
"Sayang, kamu kenapa!?"tanya Ibra panik, lalu dia berjongkok tepat di hadapan Ataya.
Tidak ada jawaban dari Ataya, wanita itu terus meremas baju yang ia kenakan dengan mata yang terpejam.
"Mbok, ... Mbok!?"Panggil Ibra, wajah nya kini terlihat sangatlah panik.
"Abang perut Ataya sakit!"Ataya merintih, dengan tangan yang berusaha menggapai suaminya.
Melihat Ataya yang berusaha meraih nya, Ibra pun kembali mendekat. Tangan nya mulai mengusap pinggang Ataya perlahan seperti yang selalu Ataya printah kan kepada Ibra.
Klek!
__ADS_1
Mbok Nim panik ketika ia membuka pintu kamar nya. Ia melihat Ataya yang berjongkok dengan raut wajah yang terlihat menahan sakit.
"Ya allah gusti! neng Ataya kenapa den?" tanya nya tak kalah panik dengan Ibra.
"Perut Ataya sakit mbok!"Pria itu berujar.
Ataya kembali tenang, ketika rasa mulas nya kembali menghilang, prempuan itu segera berdiri dengan bantuan tangan Ibra yang membopong nya.
"Haduh! air?"Ataya menatap lantai yang sudah sedikit basah.
"Kamu pipis sayang!?"ucap Ibra, pandangan nya melihat daster Ataya yang sudah terlihat basah.
"Nggak!" Ataya menggeleng kan kepalanya, dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"Aden ayo ke rumah sakit!"titah mbok sedikit panik. "Neng Ataya udah pecah ketuban kaya nya!"cicit mbok Nim kembali.
Mendengar perkataan mbok Nim, raut wajah Ibra memucat dan kembali terlihat lebih panik.
Pria itu segera melepaskan Ataya, lalu segera berlari.
"Sayang pelan-pelan!"prempuan itu berteriak kepada Ibra yang berlari sangat kencang.
"Tunggu di sini sayang, jangan panik oke? abang bawa Hospital bag nya dulu!"kata nya, namun justru dia yang terlihat lebih panik.
"Mbok tolong bantuin, aku!"cicit Ibra.
Dengan langkah cepat mbok berjalan menuju kamar.
"Ayok! ganti baju dulu, kita ke rumah sakit sekarang."kata Ibra, dengan tangan yang mulai membopong kembali Ataya.
"Jangan di bopong abang!"Ataya melepas kan paksa tangan Ibra yang akan memengangi nya, lalu berjalan seperti biasa.
Melihat Ataya yang kini terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, wajah panik Ibra berubah menjadi tatapan aneh.
Dahi nya mengkerut kala menyaksikan Ataya yang sudah berjalan cepat kembali.
Ataya berjalan ke dalam kamar mandi, untuk segera mengganti pakaian nya. Lalu keluar setelah beberapa menit berada di dalam sana.
"Mbok, Ataya sama abang mau ke rumah sakit, mbok jaga rumah aja yah?"pinta nya pada prempuan tua itu.
"Mbok panasin sup dulu, makanlah sebelum berangkat."ujar mbok Nim, yang langsung di jawab anggukan oleh Ataya.
...••••...
Setelah selesai makan dan bersiap, Ataya kembali berjalan ke arah ruang tengah dimana Ibra berada.
__ADS_1
"Abang? nggak ganti ba, ..."tiba-tiba saja suara nya terhenti ketika rasa mulas itu kembali terasa.
"Aduh!"tangan Ataya mencengkram sisi sofa yang berada di samping nya.
"Sayang! sakit nya datang lagi!?"tanya Ibra kembali cemas.
Tidak ada jawaban dari Ataya, ia hanya terdiam sambil terus meringis dengan mata yang sudah tertutup.
Ibra mendekat, lalu kembali mengusap pinggang Ataya, ia berusaha mengurangi rasa sakit yang istrinya rasakan.
"Den, mbok bawain bekel nasi sama sop. Neng Ataya harus banyak makan biar tenaga nya kuat!"jelas mbok Nim sambil meletakan kota berisi bekal makanan.
"Kita ke Rumah sakit sekarang?"kata Ibra. meletakan piring nya kembali di atas meja.
"Tungguin, mules nya ada lagi bang!"suara Ataya lirih.
Ibra mengangguk, lalu kembali mengusap punggung Ataya. Setelah beberapa menit, akhir nya rasa mulas itu hilang.
"Mbok, kami berangkat dulu. Tolong jaga rumah ya jangan lupa selalu di kunci!" Pesan Ibra.
"Iya den hati-hati, semoga semua nya lancar ya neng."ucap mbok lalu menatap Ataya.
"Iya mbok makasih, kalau gitu Ataya berangkat ya? assalamu'alaikum."Ataya mencium telapak tangan mbok.
"Wa'alaikumusalam."jawab mbok, lalu Ataya dan Ibra pun bernjak pergi.
Kedua nya kini sudah keluar dari tempat tinggal nya, lalu berjalan pelan menuju pintu lift dan segera memasuki nya untuk turun ke bawah.
Sesampai nya di parkiran, Ataya dan Ibra langsung menuju mobil milik nya yang terparkir.
"Pelan-pelan sayang!"ucap Ibra kepada istrinya.
Ataya mengangguk. "Iya sayang."kata nya, lalu masuk kedalam mobil.
Dengan cepat Ibra menutup pintu mobil di sebelah istrinya, lalu berlari memutari mobil untuk segera masuk.
Serum suara mesin mobil terdengar menggema, perlahan mobil Ibra mundur, menuju jalanan utama dan melesat dengan kecepatan sedang.
Dengan perasaan campur aduk, Ibra terus fokus ke arah depan, melajukan mobil nya di jalan Ibu kota yang terlihat sangat sepi. Maklum saja, ini sudah masuk jam tengah malam.
...••••...
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan vote nya manteman.
~Terimakasih atas dukungan nya~
__ADS_1