
Hari-demi hari pun berlalu , kini usia putra pertama Ataya dan Ibra sedah memasuki bulan ke empat.
Berbeda dengan Ataya yang selalu mempunyai waktu bermain dengan putra nya Zio , justru akhir-akhir ini Ibra terlihat lebih sibuk dari biasanya , bahkan ayah satu anak itu sudah dua minggu ini berangkat lebih pagi lalu pulang larut malam ketika Zio dan Ataya sudah tertidur.
Contoh nya malam ini , jam sudah menunjukan pukul sebelas malam namun Ibra belum juga menampakan batang hidung nya.
Setelah Ataya menidur kan Zio , ia tak langsung tidur seperti malam-malam sebelum nya , ia ingin menunggu suami nya pulang.
Kaki nya melangkan keluar kamar menuju ruang tengah , menduduki sofa lalu menyalakan tv.
Ada sedikit rasa tak tenang di hati nya , ia tahu betul ada yang sedang suaminya sembunyi kan saat ini, namun lagi-lagi ia tak mau banyak bertanya kepada Ibra , Ataya tidak mau membuat Ibra terbebani dengan pertanyaan yang selalu ia lontar kan.
Crek..
Suara pintu terbuka.
Mata nya mentap ke arah suara , ia melihat Ibra yang tengah berjalan menuju ruang tengah di mana Ataya berada.
" Sayang kenapa belum tidur " Tanya Ibra kepada Ataya.
" Abis dari mana ?" Ataya bertanya kembali tanpa menjawab pertanyaan Ibra , malam ini ia memberanikan diri untuk bertanya .
" Ak aku abis dari cafe sayang , ada beberapa kerjaan yang tak kunjung selesai " Jawab nya kepada Ataya.
" Kerjaan apa , sini biar Ataya bantu? kasian Zio udah jarang banget main sama papa nya " Cecar Ataya kepada suami nya Ibra.
Tidak seperti biasa nya Ataya bersikap seperti ini , sebelum nya ibu dari satu anak itu selalu bersikap manis dan tak pernah menanyakan apapun kepada Ibra.
" Ga apa-apa biar abang aja yang kerja , kamu jagain Zio aja yah " Jelas nya kepada Ataya , lalu duduk di samping istrinya itu.
Ketika Ibra telah duduk di samping nya , Ataya malah beranjak melangkah kan kaki nya.
" Mau kemana sini dulu ?" Tanya Ibr , sambil menepuk tempat duduk nya kembali.
" Mau ambil air " Jawab Ataya lembut , namun raut wajah nya masih menunjukan rasa kecewa.
Ibra menghela nafas ketika ia melihat istrinya yang tak seperti biasa nya , ia menata punggung Ataya yang tengah berjalan ke arah dapur.
" Maafin abang sayang " Lirih nya dengan jemari tangan meremas kuat rambu dan menundukan kepala nya.
Mata nya terpejam , ia tahu Ataya kini tengah curiga dengan sikap nya saat ini.
Kepala nya kembali terangkat , remasan di rambut nya lepas kala mendengar langkah kaki yang kini tengah berjalan ke arah nya, denga segelas air yang Ataya bawa.
" Ini minum nya " Ataya meletakan gelas air itu di atas meja.
" Sayang mau kemana ?" Tanya Ibra ketika melihat istrinya berlaly meninggal kan nya.
" Mau nemenin Zio " Jawab Ataya singkat.
" Sayang " panggil Ibra , ia meletakan gelas yang sudah tandas tanpa isi.
Langkah Ibra sedikit di per cepat , berusaha menyusul Ataya.
__ADS_1
Setelah ia berada di dalam ruangan yang sama bersama sang istri , mata nya melihat Ataya yang kini sedang menaiki ranjang , lalu mulai berbaring menghadap Zio yang kini tengah tertidur di ranjang milik nya .
" Sayang " Lirih Ibra , langkah nya terus mendekat.
" Udah aja , Ataya tau abang lagi bohong sama aku , jadi tidak usah pusing-pusing mikirin kebohongan apa lagi yang abang mau kasih ke aku " Jelas Ataya tanpa melihat ke arah Ibra.
Ibra pun hanya terdiam , tak ada lagi keberanian nya menjawab semua omongan Ataya.
Ibra pun beranjak dari ranjang tempat ia dudu saat ini , lalu melangkah menuju kamar mandi .
*****
Ke esokan hari nya , seperti hari-hari biasa , Ataya selalu bangun terlebih dahulu.
Setelah melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslimah , Ataya pun mulai membuka pintu kamar , lalu berjalan ke araha dapur.
Suara dentingan piring pun terdengar , tanda mbo sudah berada di dapur.
" Mbo " Sapa Ataya.
" Neng , aden Zio belum bangun " Tanya nya sambil terus memberes kan piring bersih kepada tempat nya.
"Tadi bangun mbo , minta susu udah itu tidur lagi " Jelas nya tersenyum kepada mbo Nim.
" Neng bahan-bahan buat masak udah habis " Sahut mbo .
" Yaudah biar Ataya sekarang ke pasar sebeantar , apa aja yang habis " Tanya Ataya kembali.
Ataya pun membawa gelas ke arah dispenser lalu mulai mengisi nya dengan air.
" Yaudah Ataya titip ade sebentar ya mbo " Ataya pun meletakan gelas yang sudah kosong.
Kaki Ataya kembali melangkah ke arah meja tv untuk memgambil kunci mobil , namu ia tak menemukan nya , Ataya kembali berjalan menuju kamar , lalu mulai mencari .
Setelah mencari nya di meja ia tetap tak menemukan kunci mobil itu , akhir nya ia beranjak menuju kamar mandi lalu mulai memriksa saku pakain Ibra satu-persatu.
Jemari tangan nya sudah mulai masuk di saku pakaian kotor Ibra , hinggal Ataya pun menemukan nya bersamaan dengan setruk belanjaan.
" Apa ini " Gumam nya , dengan mata yang menyipit untuk meperjelas bacaan yang tertera.
" Baju bayi " Ataya terkejut. " Abang belanja baju bayi dua hari yang lalu " Pekik Ataya pelan , rasa sesak di dada nya mulai muncul.
Ataya pun menyimpan setruk belanjaan tersebut di saku celana nya.
Dengan cepat Ataya pun membawa kunci mobil , lalu mulai mengambil kerudung dan jaket .
" Mbo titip ade ya ,saya berangkat " Ataya pun melangkah kan kaki nya menuju pintu luar.
" Iya neng "
Ataya terus berjalan dengan sesikit cepat , ia tak mau Zio terbangun sebelum ia kembali.
Pikiran nya berada di mana-mana , ada banyak pertanyaan di dalam otak nya , namun ia berusaha setenang mungkin saat ini.
__ADS_1
Ataya mulai memasuki mobil lalu mulai melajukan nya dengan kecepatan sedang.
Mata nya sedikit meneliti ke adaan di dalam mobil , tak bisa di pungkiri rasa penasaran Ataya memang benar-benar sedang membuat nya sedikit berlebihan saat ini.
Tangan nya mulai membuka satu persatu laci , dengan tatapan pokus kepada jalanan.
" Ya allah " Ia berusaha membuat hati nya tenang kembali.
Setelah sampai di salah satu pasar moderen yang berada di Jakarta.
Ataya pun memakirkan mobil nya , lalu mulai berjalan memasuki pasar.
" Bu mau bawang ,rawit ,tomat seteng-setengah ya " Pinta nya pada penjual sayuran langganan Ataya.
" Siap neng , sayur nya sekalian di pilih ,masih pada seger " Tawar nya kepada Ataya.
" Boleh deh bikinin sayur sop sama capcay ya bu , nanti saya ambil , saya mau ke tempat ikan sama ayam dulu " jelas Ataya sambil tersenyum lalu di jawab anggukan oleh penjual sayur.
Ataya terus berjalan kesana kemari , membeli bahan-bahan untuk mbo Nim masak nanti.
Setelah merasa semua nya selesai , Ataya pun berjalan keluar pasar menuju mobil .
Tuit..Tuit.
Ataya membuka kunci mobil nya , lalu membuka pintu sebelah kiri nya untuk menyimpan barang belanjaan.
Ketika Ataya sedikit menunduku , mata nya beralih melihat satu ikat rambut berwarna hitam yang tergeletak di bawah.
Tangan nya mulai mengambil barang yang selalu dipakai untuk mengikat rambut , tentu saja Ataya yakin itu bukan milik nya.
Deg..
Seribu pertanyaan itu muncul di dalam hati nya.
" Sebebar nya ada apa ini " Lirih Ataya , mata nya sudah mulai berkaca-kaca.
" Ya allah jagalah hati suami hamba mu ini " Guman Ataya , tangan nya menutup pintu mobil sebelah kiri , lalu berjalan menuju pintu sebelah kanan .
Beberapa kali Ataya menghela nafas , ia berusaha membuat suasana nya netral kembali.
Setelah merasa sedikit tenang , Ataya pun mulai menyalakan mesin mobil , lalu mulai menjalan kan nya dengan kecepatan sedang.
Ataya terus mucap kan kalimat Istigfar , kata-kata yang selalu membuat nya lebih bersabar dalam menghadapi cobaan apapun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
Jangan lupa Like & Vote .
Salam cinta dari Author 🤗.
Maaf kalo masih ada typo.
__ADS_1