
Siang hari di kediaman Ibra dan Ataya, suasana nya masih terlihat temaram, hanya ada sedikit terang dari sinar matahari yang menyelinap masuk lewat celah gorden yang sedikit terbuka.
Seorang wanita yang baru saja terbangun dari tidur nya karena mendapat tendangan hebat dari bayi dalam perut nya.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, pandangan mata Ataya langsung tertuju pada suami nya yang masih tertidur pulas.
Ataya berjalan gontai menuju ranjang nya kembali, tangan nya mengambil benda pipih yang berada di atas nakas, terlihat jelas jam sudah menunjukan pukul sepuluh siang.
"Udah jam sepluluh aja!"Gumam nya lalu kembali meletakan ponsel milik nya.
Ataya beranjak dari ranjang, kaki wanita itu berjalan kembali mendekati pintu kamar mandi dengan sedikit malas, mungkin jika Ataya tidak mempunyai janji dengan ibu mertuanya, Ataya ingin kembali bermalas-malasan menemani Ibra di atas ranjang empuk itu.
Suara gemercik air pun sudah terdengar, bersautan dengan suara nyanyian yang menggema di dalam sana.
Sekitar dua puluh menit berlalu, kini Ataya telah keluar dari kamar mandi dengan hanya sebuah handuk yang melilit di kepala nya.
Ataya terus berjalan menuju lemari pakaian, ia tak sadar bahwa sudah ada sepasang mata yang kini sedang memperhatikan nya.
"Bisa nggak? pagi-pagi tuh nggak usah bikin suami nya gila!"Suara serak itu membuat Ataya melirik ke arah tempat tidur, dimana Ibra berada.
Ataya tersenyum."Oh suami aku sudah bangun ternyata."
"Kalo aja kita nggak bikin janji sama tante Amira, kamu udah abang jadiin sarapan pagi!"Cicit nya dengan senyun menggoda.
Seketika Ibra menyibakan selimut tebal yang menggulung tubuh nya, berjalan memdekat ke arah Ataya, lalu mengelus perut yang sudah membulat tampa penghalang apapu.
"Anak papah udah bikin mama tiba-tiba lari kekamar mandi belum?"Ibra tersenyum, sambil terus mengusap perut Ataya.
"Sudah pah, makanya sekarang udah bangun, itu gara-gara dapet tendangan dahsyat dari anak Ibrahim Akdad ini!"Jelas Ataya , dengan tangan yang masih sibuk mengenakan pakaian nya.
—Cup...
Satu kecupan di pipi kiri Ataya.
"Mandi abang! nanti Tante Amira duluan sampe kan kasian."Tukas Ataya.
"Oke, bikinin kopi boleh nggak?"Pinta Ibra.
"Boleh sayang."Jawab nya lalu mencium pipi Ibra dan berjalan menuju dapur.
Setelah mendapat nya morning kiss dari Ataya, Ibra pun berjalan memasuki kamar mandi.
^
^
Setelah selesai membuatkan kopi hitam tampa gula pesanan Ibra, kini ibu hamil itu langsung kembali berjalan ke arah ruang tengah, lalu meletakan gelas kopi nya di atas meja.
Sambil menunggu Ibra selesai dari mandi nya, Ataya kembali menuju dapur dan merapikan piring-piring bersih pada tempat nya.
walupun Ataya tak di bantu oleh asisten rumah tangga, tapi tempat yang mereka tempati sesalalu terlihat rapih dan bersih, dengan jemari Ataya yang sangat rajin memegang sapu dan pelan.
Lima belas menit berlalu, kini Ibra sudah berada duduk di sofa depan tv dengan cangkir kopi yang berada di tangan nya.
"Ataya pake kerudung dulu ya bang!"Jelas nya lalu beranjak meninggal kan Ibra di ruang tengah dengan gelas kopi yang masih terlihat penuh.
Beberapa menit berlalu, setelah siap dengan kerudung nya, sesegera mungkin Ataya langsung berjalan kembali menuju ruang tengah.
^
^
Enam puluh menit Ataya dan Ibra menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan di kota Jakarta.
"Abang tante Amira di mana yah?" Tanya Ataya kepada Ibra setelah kedua nya turun.
__ADS_1
"Loh,... kamu kemaren janjian nya di mana?"Tanya Ibra kembali.
"Kata nya tunggu di lobby aja sih."Jelas Ataya, manik nya terus mencari keberadaan mama mertua nya itu.
Karena tidak menemukan sosok mertua nya itu, Ataya pun mengeluar kan ponsel dari tas nya.
Tutt...
Tutt..
📞 Hallo.
Assalamualaikum tante, ini Ataya sudah di lobby mall, tante di mana?
📞Oh, tante sudah ada di tempat perlengkapan baby nya.
Lantai berapa ?
📞Lantai tiga Ataya .
Oh iya, Ataya kesana sekarang, assalamualaikum.
📞wa'alaikumsalam.
"Abang, tante Amira udah di lantai tiga!"Ucap nya kemudian memasukan ponsel milik nya kembali ke dalam tas.
"Ya sudah ayo!"Tangan Ibra meraih tangan Ataya, lalu berjalan dengan tangan yang bergandengan.
Ataya dan Ibra berjalan menuju lift, setelah lift itu terbuka mereka berdua pun masuk lalu menekan tombol nomor tiga.
—Ting..
Pintu lift terbuka , langkah kaki mereka terus berjalan dengan mata yang melihat setiap tempat mencari toko perlengkapan bayi.
"Sayang papah ikut!"Tunjuk Ataya ke arah pria yang sedang duduk di depan toko.
"Pah?"Panggil Ibra.
"Assalamu'alaikum pah."Ataya mencium tangan papah mertua nya. "Papah sama tante Amira udah lama?"Tanya Ataya.
"Belum, ini baru sampe langsung di ajak kesini!"Jelas Ruli.
"Kalo gitu, Ataya masuk dulu mau susul tante Amira."
Ketika Ataya memasuki toko, pandangan nya langsung tertuju pada wanita yang tengah asik memilah baju yang terlihat sangat kecil dan lucu.
"Tante!"panggil Ataya
"Eh menantu mamah, sini lihat,...ini lucu-lucu banget!"Tangan nya membentang kan baju mungil berwarna kuning.
"Iya tante, tapi Aya bingung mau beli apa dulu!" sahut nya.
"Gimana kalo kita beli barang-barang yang besar dulu, seperti box bayi?"Usul Amira.
"Iya boleh."Ataya tersenyum.
Ketika mereka telah sampai di bagian tempat tidur bayi, perut Ataya kembali di tendang cukup kencang.
"Auw!"pekik Ataya.
"Kenapa Aya?"Tanya Amira.
"Ataya mau ke toilet dulu tante." Pamit nya dengan jalan sedikit cepat.
Ibra dan Ruli pun menyusul masuk kedalam toko dan menghampiri Amira yang sedang memilah tempat tidur bayi.
__ADS_1
"Tante, Ataya mana?"Tanya Ibra.
"Lagi ke toilet Ibra."Jawab Amira
Ibra pun berjalan menuju toilet yang Amira maksud, namun langkah kaki nya terhenti kala melihat Ataya yang kini sudah berjalan menghampiri nya.
"Abang l."Ataya tersenyum."Lihat deh! lucu-lucu, abang juga pilihin yah?"Ataya tersenyum bahagia.
"Iya sayang."Jawab Ibra dengan senyum.
"Aya, Ibra. Kalian mau pilih yang mana?" Tanya Amira antusias.
"Papah juga boleh pilihin ko." Sahut Ibra.
"Papah serahin ke mama kamu aja deh!"Jawab Ruli.
"Sayang gimana kalo yang warna biru?" Ibra bertanya.
"Warna coklat aja gimana? kan nggak tahu baby nya boy or girl!"Jawab Ataya sambil menatap Ibra.
"Biru nya juga biru navy ko, jadi nya netral."Cicit Ibra sambil terus tersenyum.
"Yasudah gimana papa saja."Pasrah Ataya kepada Ibra.
"Sayang oma sama opa mau beliin ini buat kamu!" Ruli dan Amira membawa beberapa baju set newborn berwarna putih.
"Wah makasih." Ataya tersenyum.
Setelah puluhan menit berlalu, akhirnya Ataya dan Ibra selesai dengan perlengkapan bayi yang akan di beli nya.
Ketika Ibra berjalan menuju kasir dan mengeluar kan creadit card milik nya, suara Ruli memanggil.
"Ibra biar papa aja yang bayar!"Sergah Ruli.
"Loh pah, ini kan belanjaan kami!" Jawab Ibra bingun.
"Ini juga buat cucu pertama papah."Ruli memberi kan kartu nya kepada petugas kasir.
"Baiklah, terimakasih opa!"Ibra dengan suara menyerupai anak kecil.
"Mau di antar ke alamat mana pak?"Tanya petugas kasir.
"Di antar ke apartement blue light ya mbak"Jelas Ibra lalu di jawab anggukan oleh wanita di hadapan nya.
Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka semua berjalan keluar dari toko.
"Kita makan siang dulu yah sebelum pulang!" Pinta Amira.
"Boleh."Sahut Ruli sang suami.
Ibra dan Ataya hanya mengangguk saja, menuruti ke inginan wanita yang kini sudah menyandang sebagai istri dari Ruli Akdad.
Mereka ber-empat terus berjalan menuju lift untuk menuju lantai paling atas.
"Ataya mau makan apa nak?"Tanya Amira.
"Ataya mau shusi!"Sahut Ataya.
"Nggak boleh sayang, jangan makan yang mentah-mentah!"Protes Ibra.
Ataya hanya terdiam mendapat omelan dari suami tampan nya.
"Kan ada yang mateng nya Ibrahim!"Jelas Ruli, ia melihat perubahan ekspresi wajah Ataya yang sudah mulai cemberut.
"Ayo kita makan shusi, oma takut cucu opa ileran!" Canda Amira, dengan mata yang melirik Ruli sang suami
__ADS_1
Pada akhir nya Ruli, Amira, Ibra, dan Ataya pun memasuki restaurant yang menyedia kan masakan Jepang .
...TBC🌻🌻🌻...