CINTA SETELAH AKAD

CINTA SETELAH AKAD
Eps 55


__ADS_3

...•••••...


"Ya allah!"suara Ataya terdengar sangat lirih, bahkan bibir nya terus meringis menahan rasa sakit yang menjalar dari perut ke pinggang begitu hebat.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampe."ucap Ibra dengan punggung tangan yang juga mengusap pipi Ataya.


Ibra terus berpacu, menaikan kecepatan mobil nya, pria itu sungguh sudah tidak tega, ketika melihat Ataya yang beberapa kali terlelap, kala rasa mulas nya mereda.


Sekitar satu jam Ibra menyusuri jalanan kota Jakarta, akhirnya mobil hitam milik nya sudah terparkir rapi di depan IGD.


Dengan langkah cepat Ibra langsung berlari mencari bantuan dari para petugas medis.


"Mas! istri saya mau melahirkan!"Ibra berteriak panik.


Satu petugas jaga pun langsung membawa kursi roda ke arah mobil Ibra.


Ketika Ibra membuka pintu mobil nya, ia kembali melihat Ataya yang tengah menahan rasa mulas yang sudah terasa kembali.


"Pak, istrinya di bantu biar duduk di kursi roda dulu!"ucap salah satu perawat pria yang datang untuk segera membantu.


Ibra mengangguk.


"Sayang ayok."Ibra langsung menganhkat tubuh Ataya hingga duduk di kursi roda.


Setelah istrinya duduk di kursi roda dengan nyaman, Ibra pun segera mendorong nya ke arah kedalam yang langsung di sambut oleh salah satu petugas prempuan.


"Kontraksi nya sudah dari kapan bu?"tanya nya kepada Ataya.


"Dari jam sebelah mbak!"Ataya menjawab.


Prempuan itu mengangguk, sambil terus memperhatikan Ataya.


"Mari ikut saya."ia mengarah kan Ataya ke arah tempat tidur.


Dengan bantuan Ibra, dengan mudah nya Ataya berpindah, hingga kini ia sudah berbaring di atas berangkar sana.


"Maaf ya bu! ****** ***** nya boleh di buka dulu!?"


Ibra yang mendengar pernyataan tersebut seketika membulat kan mata nya.


"Di buka mbak!?"raut wajah nya terlihat sangat terkejut.


"Iya pak, biar saya cek bukaan nya dulu!"jelas nya kepada Ibra dengan tersenyum ramah .


Ataya tampak pasrah dengan ke adaan nya saat ini, bahkan iya sudah membuang jauh rasa malu, lalu segera melakukan apa yang bidan itu perintahkan.


"Tarik nafas ya bu, lalu buang perlahan. Rasa nya memang sedikit nggak nyaman."jelas nya kembali.


Ataya terdiam, lalu menarik nafas hingga kening nya menjengit, ketika Bidan mulai melakukan pemeriksaan nya.


"Ah, ... Aw!"Ataya memekik.


"Maaf ya bu, di tahan tahan sebentar."prempuan itu tersenyum lagi.


Ibra yang melihat Ataya kembali meringis langsung merasa tak tega, kesedihan nya menyeruak di dalam hati nya.


Pria itu sangat ingin menangis saat ini, Ibra benar-benar tak bisa melihat Ataya kesakitan seperti sekarang ini.


"Alhamdulilah bu Ataya, bukaan nya sudah enam. Kalo boleh tau, ibu pasien Dokter siapa? biar saya hubungi sekarang."kata nya, lalu menatap Ibra yang berada tidak jauh dari istrinya.


"Dokter Syifa, mbak!"Ibra menjawab.


"Baiklah, sambil menunggu ibu dan bapak boleh jalan-jalan dulu, biar jalan lahir dede nya cepat terbuka lagi."ujar nya kepada Ibra dan Ataya.


Ibra dan Ataya pun mengangguk, kemudian segera turun. Mereka berdua bejalan perlahan menuju arah luar, dengan tangan Ibra yang terus menggenggam tangan Ataya erat.

__ADS_1


Langkah Ataya kembali terhenti, tangan nya meremas tangan Ibra kuat, ketika rasa mulas kembali terasa.


"Abang, Ataya ga kuat!"suara Ataya bergetar, wajah nya terlihat pucat, dengan badan nya kini sedikit membungkuk kala rasa mulas itu terasa lebih sakit dari sebelum nya.


Tiba-tiba petugas yang memeriksakan nya, berjalan mendekat lalu memanggil Ataya dengan kursi Roda yang di bawa nya.


"Bu, ... Apa masih kuat jalan?"tanya Bidan tadi.


"Kita ke ruang bersalin, sekarang Dokter Syifa sudah di perjalanan."


"Saya mau jalan aja mbak, nggak usah pake kursi roda!"


"Kamu yakin sayang?!"Ibra berusaha meyakin kan Ataya, dengan mata yang juga menatap lekat wajah Ataya yang sudah terlihat semakin pucat.


"Ataya nggak apa-apa, kontraksi nya udah hilang lagi kok."Ataya berusaha tersenyu, berusaha membuat Ibra lebih tenang.


...•••••...


Setelah berjalan beberapa menit, kini Ataya sudah berada di dalam ruang bersalin, dengan tangan yang sudah terpasang selang infus. Beberapa kali Ataya menolak, namun karena tenaga nya sudah cukup terkuras, mereka khawatir akan terjadi sesuatu kepada Ataya.


Baju Ataya pun sudah berganti dengan baju khusus bersalin, kerudung nya sudah di buka.


Awal nya Ataya tidak mau, tapi karena kata Ibra yang akan menangani nya adalah Dokter Syifa ia bisa mengusul kan untuk tidak ada laki-laki di dalam ruangan nya kecuali dirinya.


Tangan Ataya kini memeluk Ibra erat, kepala nya bersandar di dada suaminya ketika kontraksi yang di rasakan Ataya sudah mulai sering terasa.


Ibra berusaha lebih kuat, mengusap punggung Ataya dengan bisikan cinta yang Ibra berikan untuk menguatkan prempuan itu.


"Ah, ... Abang sakit!"Ataya menjerit sampai menggema di ruangan itu.


"Hey, ... Sayang kamu kuat, kamu pasti bisa."Ibra terus menyemangati Ataya.


"Aku nggak bisa, aku udah nggak kuat bang!"


Dan suara tangisan Ataya terdengar sangat jelas.


Klek!


Pintu ruang bersalin itu terbuka.


"Bagaimana nyonya Ibra?" Syifa tersenyum . "Apa boleh saya periksa bukaan nya kembali!?"Dokter Syifa bertanya kepada Ataya.


"Boleh Dok." Ataya mengangguk, namun suara nya terdengar melemah.


"Panggil aja Syifa, aku juga teman kamu. Biarkan seperti ini dulu, agar kamu tidak tegang!"jelas teman suami nya itu.


"Maaf ya Ib, gue periksa dulu istri lo!" Syifa tersenyum ke arah Ibra.


"Gue percayaain ini semua ke lo Syif, selamatan anak sama istri gue."pintanya dengan raut wajah yang masih terlihat panik.


Syifa hanya tersenyum, lalu jari tangan nya mulai memeriksa bukaan Ataya kembali.


"Waw, termasuk cepat ya? laporan tadi pertama kontraksi jam sebelas, terus jam tiga tadi udah bukaan enam. Sekarang pukul setengah lima sudah bukaan kumplit."jelas Syifa tersenyum ke arah Ataya.


" lBiasa nya berapa lama?" Ibra bertanya.


"Biasa nya kalo anak pertama bisa seharian Ibra, istri kamu lumaya cepat ini."ujar Syifa.


"Kalo ada rasa mulas seperti ingin pup di dodorong aja kaya mau pup seperti biasa, oke?"


Lama Ataya terlihat tenang dengan mata terpejam, dan tiba-tiba.


"Abang mules!"Ataya merintih.


"Oke nyonya, tarik nafas lalu dorong yang kenceng. Tapi jangan berteriak nanti tenaga nya habis!"titah Syifa.

__ADS_1


Ataya mengangguk paham, lalu mulai memperaktek kan apa yang Dokter Syifa bilang tadi.


"Nggggghh!" Ataya mendorong sekuat tenaga.


"Oke good, kita coba lagi oke." Sahut Syifa.


Ibra yang berada di samping istrinya terus mengusap punggung tangan Ataya dan menghujani kening sang istri dengan kecupan penuh cinta.


Ataya terlihat kembali menarik nafas nya, lalu mulai mendorong nya kembali.


"Nggghhh!"Ataya mendorong dengan sekuat tenaga, tangan nya mencengkram kuat tangan Ibra.


"Oke ayo sekali lagi, kepala nya sudah terlihat."Syifa bersemangat.


"Nggghh!" Ataya kembali mendorong kuat.


Lalu suara jeritan bayi pun terdengar nyaring, bersamaan dengan Ataya yang terlungkai lemas dan keringan yang sudah bercucuran dimana-mana.


"Ya ampun Ibra, kalian sudah di prank oleh anak kalian sediri!"Dokter cantik itu tertawa, sampai terlihat menitikan air mata nya.


"It's a boy guys!"ucap nya kembali dan mengarah kan bayi mungil itu kepada Ataya dan Ibra.


Ibra menjengit, lalu tersentak kaget mendengar bahwa bayi prempuan nya berubah menjadi laki-laki.


Bayi mungil itu pun di letakan di dada Ataya.


Ada rasa tak menyangkat kini bayi yang selalu ia sapa cantik telah hadir di dunia dengan wajah yang sangat tampan.


"Hai sayang, ini papa dan mama." Ibra menyapa putra nya.


Cup!


Kening Atay di cium lembut oleh Ibra.


"Terimakasih sayangku."Ibra berbinar, kini raut wajah cemas itu berubah dengan raut wajah yang bahagia.


Setelah berkali-kali mengucapkan rasa terimakasih kepada istri tercintanya, Ibra langsung membisikan kata-kata indah nan suci di telinga putra pertama nya.


Setelah selesai mengumandang kan adzan di telinga bayi mungil tersebut, bayi itu kembali di ambil untuk di bersih kan oleh salah satu perawan yang membantu Dokter Syifa.


"Selamat atas kelahiran anak pertama kalian."Syifa menatap Ibra dan Ataya bergantian.


"Syifa lo bener-bener yah, masa tiga kali periksa masih bilang ini cewek!"Ibra protes kepada sahabat nya Syifa.


"Ya emang cewek kalo di monitor Usg mah, Ibrahim!"Dokter itu menjengit, lalu menatap Ibra tajam.


"Masalah nya perlengkapan yang di beli udah buat bayi cewek semua." Ibra menjelaskan kepada teman SMA nya itu, lalu mereka tertawa .


"Abang udah, anak kita lahir selamat loh. Makasih ya Aunty Dokter." Ataya tersenyum kepada Syifa.


"Abang mau solat subuh, terus mau ngasih kabar buat orang tua kita yah."pamit Ibra, yang langsung di jawab anggukan oleh Ataya.


...Nahkan, di prank Dede bayi!!...


...•••••...


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiah nya. Like sama komen gretong yah! jadi jangan lupa di klik.


Follow juga Ig othor biar kita makin deket.


@_anggika15.


...Mampir juga ke judul baru. My Es Husband....


...Dijamin cerita nya nggak kalah mlenyot, sama kisah Ataya, Ibra....

__ADS_1


~Terimakasih atas dukungan kalian~ 💜U🍅


__ADS_2