
Seminggu di rumah mertua, andin selalu di tinggal pergi di malam awalnya Andin tidak tau tapi di hari berikutnya dia menyadari dan mereka bertengkar karena ini.
Reaksi Serra perihal pernikahan Robert menjadikan dia lebih sering meminta kehadiran Robert di setiap malam.
Robert tentu saja senang dengan itu dan dengan mudah melupakan posisi barunya sebagai seorang suami.
Di sisi lain Andin marah tapi dia masih berusaha sabar dan santai.Meskipun sedikit jengah namun Andin memaklumi dan berpikir itu adalah wajar dan logis.
Tapi kedua orang tua nya marah besar karena hal itu. Mereka malah berpikir putra nya memiliki jalan lain ke sorga. Dan itu benar benar bukan hal yang baik.
Ketakutan orang tua membuat mereka patah hati dan mencoba membuat keputusan yang menurut mereka adalah hal yang benar.
Hal yang di sampai kan malam sebelum nya hanyalah gertakan sambal namun benar benar di jadikan nyata demi keutuhan rumah tangga Robert.
Di tingkat ini mama Robert benar benar berpikir ada yang salah dengan orientasi seksual putra nya.Jika tidak kenapa belum menyentuh Andin sementara Andin sudah melakukan semua hal yang dia ajarkan.
Padahal Andin sudah di kata kan bagus dalam kategori seorang istri namun masih di anggurin di ranjang,mama ragu .
Jadi sebelum sekolah dimulai, semua persiapan di lakukan dengan cepat dan lagi lagi dadakan. Pasangan tua itu tidak memberi kesempatan untuk Robert berkilah lagi
Malam itu robert di panggil oleh orang tuanya .Dia masih santai ,di kira ini hanya di omeli seperti biasa.Dia nggak masalah di ceramahi seharian, telinga nya udah kebal.
Entah bagaimana surat pemindahan Robert ke sekolah Andin langsung tersaji di meja. Tentu saja Robert tak akan menerima hal itu dengan mudah, dia akan melawan tirani.
"Ma..
" Jangan protes,besok kembali ke Bandung. Mama udah siapin apartemen yang dekat sekolah.
Semua sudah tersedia lengkap termasuklah urusan dapur" Kata mama Robert dengan ketus.
__ADS_1
Dia sebenarnya tidak tega tapi mau gimana lagi. Ini masalah keturunan dan sangat sangat mendesak.Coba saja kalau Robert nurut pasti tidak akan seperti ini jadi nya.
" Ingat Robert, ada CCTV-nya di sana, awas ya kalau mama tau kamu menyakiti mantu mama" pesan nya lagi.
"Hahaha, benaran ada CCTV-nya ma? "Kata Robert tertawa dalam sedih yang tertahan. Benar benar tak masuk akal.
"Beneran, dan lagi mama mau denger kabar baik dari kalian berdua dalam waktu dekat"Tambah mama tersenyum bahagia seolah olah cucu kecil sudah ada di depan mata.
"Dulu sekali Mama berharap punya tiga anak tapi Papa dapat musibah dan gagal dalam berbisnis yang akhirnya membuat Papa nya Robert lumpuh sebagian tubuh buat beberapa tahun" kenang mama Robert jauh ke masa lalu. Mata nya sedikit mengembun.
"Buat ekonomi Mama harus kerja jadi OB tapi bernasib baik hingga kemudian ada satu orang kaya yang nyari jadi OB.Kami berteman tanpa tau latar belakang hingga satu hari dia memberikan modal buat Papa berobat hingga Papa bisa sembuh dan membangun bisnis dari awal lagi hingga bisa sesukses ini"kenang Mama
"Ma udah dong, dari dulu cerita nya itu itu mulu"
puk..
"Kamu tu ya, Mama tu mau kamu menghargai orang bukan karena status mengerti? lagi pula bukan itu inti cerita Mama tadi" Kata mama kesal karena cerita nya di potong Robert.
"Nak Andin, ketika Papa sakit dan mama bekerja Mama memakai KB untuk waktu lama sekitar 8th.Sampai ekonomi kami membaik tapi akibatnya rahim mama jadi kering dan Robert tak memiliki adik sampai sekarang. Jadi Mama harap kalian jangan tunda punya momongan. Mama akan jaga cucu Mama dan tidak akan membatasi gerak mu hanya karena cucu Mama. Mama mau cita cita mama yang kepengen punya anak tiga kesampean nak "Mama menitipkan cita cita nya pada Andin .
Itulah kenapa perhatian nya selalu jatuh pada istri dari Robert.
Dia berharap Andin akan mengerti dan tidak akan menunda punya momongan lebih cepat.
Dia punya uang sekarang namun hanya punya sedikit keturunan. Satu anak membuat hari hari nya sepi. Mungkin kehadiran cucu yang ramai akan membuat kesepian sedikit memudar.
Andin hanya diam di sudut tanpa mau koreksi, padahal dari tadi Robert selalu memberikan isyarat agar Andin menyela. Tentu saja perilaku Andin menambah nilai buruk bagi Robert tapi Andin tak tau itu. Dia tidak mau berkompromi dengan nya.
"Kalian bisa berangkat siang ini, biar nggak kemalaman" kata papa yang dari tadi diam mendengarkan.
__ADS_1
Robert mana bisa tahan bila di serang dalam dua arah.Dia juga takut jadi anak durhaka.Takut di kutuk jadi cicak. Mama selalu bilang gitu kalo udah kesal.
"Mama udah suruh orang isi penuh kulkas jadi buat sementara Andin nggak perlu berbelanja dulu, dan kartu ini buat Andin. Gunakan saja jangan ragu, Uang di hasilkan untuk di belanjakan ingat! " Andin malu mendengar titahnya, orang tua ini jelas tau sifat irit Andin.
Tapi apa katanya, uang ada untuk di belanjain, mama mertua benar sekali "Jangan takut ma, Andin akan berkorban demi satu misi yang mulia yaitu menghabiskan uang nya Robert. hahaha"kata Andin tertawa.
Mama berhasil mencuci otak polos Andin dalam satu minggu. Sungguh mama mertua yang baik.
Tiga orang segera berbicara tentang pindah rumah baru.Andin juga mendengar kan dengan seksama perintah ibu mertua.
Dia harus melakukan hal yang mungkin sedikit memalukan tapi berguna untuk rumah tangga mereka.
Jika uang nya kurang tinggal bilang aja.Keluarga mereka memang tidak banjir uang tapi Robert adalah anak satu satunya.Semuanya akan jatuh pada Robert juga.
"Mah aku ...
"Udah diam,nurut maka semua akan baik-baik saja" kata papa Robert lagi.
"Ya sayang ini semua adalah untuk kamu, untuk melangsungkan keturunan kita.Kenapa sulit untuk kamu menerima Andin sih.Apa kamu bukan laki laki ?"kata mama tidak puas.
"Yah mah, bukan gitu juga , mungkin mas Robert mikirnya aku nya masih kecil jadi sebenarnya mas Robert juga nggak salah sih "kata Andin.
"Tuh kan, Andin pakai bela belain kamu tuh.Mau baik gimana lagi mantu mama hem?"
Robert tercengang mendengar nya , siapa dia?anak pungut?
"Andin anak anak katamu,itu hanya pikiran mu saja.Yang anak anak itu kamu Rob "kata papa pula.
Kali ini Robert di omeli beberapa jam dia tidak bisa menjawab nya.Robert yang malang.
__ADS_1