
Alina duduk di sofa yang nyaman sambil menyesap susu coklatnya yang hangat. Di luar, rintik hujan semakin rapat hingga membuat kaca jendelanya berembun dan percikan air sedikit masuk lewat sisi jendela yang terbuka. Alina menikmati pemandangan itu dan suasana hatinya perlahan membaik. Diam-diam Alina mengagumi inisiatif Heru yang cerdik. Dengan caranya yang sederhana membuatnya terkesan.
Alina duduk menikmati pemandangan sambil menunggu buku yang dijanjikan Heru untuknya. Tiba-tiba Alina mendengar suara gaduh seperti benda jatuh, entah apa. Alina sedang dalam posisi nyamannya dan enggan untuk beranjak. Alina duduk bersandar, lalu memainkan ponsel sekedar berselancar di sosial media. Dan tanpa sadar Alina malah jatuh tertidur.
Saat membuka matanya kembali, Alina mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ada Mbak Sitha yang sedang duduk di karpet di kamarnya, sedang memainkan ponselnya. Alina lalu ingat bahwa tadi Heru menjanjikan sebuah buku. Tapi Alina tidak mendapati buku apapun di sekitarnya.
"Mbak Sitja, apa tadi Mas Heru menitipkan sesuatu?", tanya Alina pada pelayannya.
"Tidak Mbak, tadi sepertinya dokter Heru keluar terburu-buru karena sudah hampir terlambat..."
Alina lalu berinisiatif untuk mengecek rak bukunya. Berjalan beberapa meter saja sepertinya bukan masalah. Alina melihat sebuah buku tergeletak di meja kecil di dekat rak kaca. Totto Chan. Itu buku favoritenya sejak masih duduk di bangku SMP hingga sekarang. Sepertinya itulah buku yang dimaksud Heru agar dibacanya tapi Heru tidak sempat memberikan padanya.
Perhatian Alina lalu beralih pada susunan buku di dalam rak yang terlihat berantakan. Sepertinya tanpa sengaja Heru menjatuhkan bukunya. Lalu Alina mengambil sebuah lembaran yang tercecer. Ternyata itu adalah sebuah foto. Foto dirinya bersama Dirga, mantan kekasih yang menghilang sejak mendengar kabar kehamilannya.
Mungkinkah tadi Heru juga melihat foto itu? Alina sengaja menyelipkan foto itu diantara buku agendanya. Alina lalu mengambil buku agendanya dan mengecek isinya. Benar saja, foto-fotonya yang lain ada disana dalam posisi yang berbeda. Mungkin tadi tanpa sengaja Heru menjatuhkannya dan mengembalikannya dengan terburu-buru.
"Mbak Alina, maaf, sebaiknya jangan terlalu lama berdiri disana, saya dipesan oleh Bapak agar mengawasi Mbak Alina istirahat...", Mbak Sitja menegur Alina sesopan mungkin.
"Oh ya, maaf, saya lupa karena keasyikan..."
Alina lalu mengambil buku Totto Chan yang dipilihkan Heru lalu kembali ke tempat tidurnya. Alina menarik selimut sampai menutupi dadanya, lalu mulai membaca lagi buku yang sudah dibacanya berulang-ulang, tapi tak pernah bosan.
Tidak lama kemudian Mbak Sitha keluar dari kamarnya dan tidak lama berselang masuk kembali dengan membawa nampan berisi makan siangnya. Betapa, Alina merasa hidupnya hanya dihabiskan untuk makan dan tidur.
"Makasih Mbak Sitha, Mbak Sitha juga makan ya..."
Mbak Sita lalu mengambil piringnya dan menemani Alina makan di kamarnya.
Setelah selesai makan, Mbak Sitha lalu mengantar Alina ke kamar mandi, untuk buang air dan mengambil wudhu. Mbak Sitja menunggu di luar dan memastikan bahwa Alina aman. Setelah itu mereka menunaikan shalat dhuhur bersama.
__ADS_1
"Sekarang Mbak Sitha boleh keluar jika ada yang ingim dilakukan, jangan khawatir, saya hanya akan tidur siang..."
Saat siang hari Alina memang menyuruh Mbak Sita keluar dari kamarnya sekedar satu atau dua jam. Bagaimanapun mungkin saja ada hal yang ingin dilakukan pelayannya itu. Sekedar pergi keluar atau membeli sesuatu. Alina kasihan jika Mbak Sitha ikut terkurung di kamarnya sepanjang hari dan Mbak Sitha pun menurut.
Alina menghembuskan nafas lega begitu Mbak Sitha keluar dari kamarnya. Setidaknya dalam beberapa saat dirinya punya privasi penuh di kamarnya sendiri. Alina pun memutuskan untuk menelpon Tiara, sahabatnya. Tiara adalah satu-satunya sahabat yang tahu tentang keadaan dan masalahnya. Beberapa kali Tiara juga berkunjung ke rumahnya sekedar untuk menjenguk dan memberinya semangat. Tiara pula yang membantunya mengurus administrasi dan izin untuk cuti kuliahnya.
Setelah beberapa kali terdengar nada sambung akhirnya teleponnya diangkat juga.
"Assalamualaikum Tiara..."
"Walaikum salam, Alina, apa kabar? Lo baik-baik aja kan? Gimana calon keponakan gue? sehat-sehat kan? Sorry gue belum sempat jengukin lagi, lagi sibuk koas nih!"
Tiara langsung merepet panjang begitu mendengar sapaan Alina.
"Alhamdulillah baik Tir, lo kalau nanya satu-satu donk!",
Alina hanya menjawab seperlunya, enggan bercerita tentang kondisinya yang sedang bedrest.
Ya selama ini Tiara adalah salah satu orang yang selalu menyemangati dan banyak membantunya. Tiara bahkan sangat antusias dengan calon bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Makasih banyak Tir.."
"Btw, ada apa lo nelpon gue siang-siang begini? tumben!"
"Sebenarnya gue perlu minta tolong sesuatu sama lo!"
"Minta tolong apaan sih Lin? bilang yang jelas, pasti gue bantuin selama gue mampu..."
"Gue mau minta tolong lo buat cari tahu keberadaan si Dirga...."
__ADS_1
Si seberang sana Tiara sangat terkejut dengan permintaan Alina.
"Lo nggak salah Lin? Bukannya lo udah nikah sama dokter Heru? buat apa lo harapin dia lagi Lin? Orang kayak Dirga emang nggak pantas buat lo! Lagian gimana kalau nanti suami lo tahu?"
Tiara langsung ikut terbakar emosi saat mendengar nama Dirga lagi. Sebab Tiara tahu benar bagaimana Dirga meninggalkan Alina setelah semua yang terjadi. Tiara juga datang di pernikahan Alina kemarin. Tiara turut berbahagia bahwa Alina sudah menemukan pengganti Dirga, tanpa Tiara tahu bahwa itu hanyalah pernikahan kontrak.
"Gue cuma minta tolong lo cari tahu keberadaan Dirga, please Tiara...ada sesuatu yang harus gue selesain sama dia, dan gue tahu sekarang dia udah di jakarta lagi..."
Saat berselancar di sosial media, tanpa sengaja Alina melihat postingan dari Andi, sahabat dekat Dirga. Baru kemarin Andi memposting foto bersama Dirga di sebuah tempat hiburan di jakarta. Dari caption yang ditulis itu adalah foto baru dan itu artinya sekarang Dirga sudah kembali tinggal di jakarta.
"Apa suami lo tahu tentang ini?",
Tanya Tiara dengan menyelidik.
"Mas Heru tahu semua cerita sampai gue hamil dan ditinggalin Dirga, tapi gue belum bilang kalau gue nyariin Dirga..."
Alina yakin keluarganya sudah menceritakan semua kepada Heru, sebelum meminta Heru untuk menikahinya.
"Lo udah jadi istri orang Lin, nggak seharusnya lo masih cari-cari seseorang dari masa lalu lo..."
Tiara mencoba menasehati sahabatnya.
"Please Tiara, tolongin gue sekali ini saja, biar bagaimanapun juga bayi ini adalah anak kandung Dirga...gue cuma pengen ketemu dan ngobrol sama Dirga untuk yang terakhir kalinya..."
Alina terus berusaha meyakinkan Tiara agar mau membantunya.
Setelah berfikir panjang, dengan berat hati akhirnya Tiara menyerah.
"Ok lah Lin, gue bakal bantuin lo, tapi resikonya lo tanggung sendiri ya..."
__ADS_1
"Makasih banyak Tiara, gue tahu lo sahabat terbaik yang selalu bisa gue andalin!"
Akhirnya Alina berhasil membujuk sahabatnya itu.