
Alina yang terkejut mendengar berita itu langsung terduduk lemas. Berbagai pikiran buruk mulai berkelebat di benaknya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada buah hatinya?
"Bu, pasien sudah menunggu, apa bisa dilanjutkan?", tanya seorang perawat yang mendampingi Alina.
"Ya, tentu saja..."
Dengan bimbang akhirnya Alina memutuskan untuk meneruskan prakteknya. Bagaimanapun juga Alina harus menuntaskan tanggung jawabnya. Alina mengirim pesan kepada Mbak Sitha untuk mencarinya dulu di sekitar rumah. Tak lupa Alina juga mengirimkan pesan pada suaminya, mengabarkan kabar buruk itu. Setelah prakteknya selesai, Alina langsung bergegas keluar dari rumah sakit. Ternyata di depan Heru sudah menunggunya dengan khawatir.
"Bagaimana, apa sudah ada kabar lagi dari Mbak Sitha?", Tanya Heru dengan wajah khawatir.
"Belum Mas..."
Ternyata meskipun tadi pagi Heru terlihat masih mengabaikannya, tapi kalau menyangkut anak-anak Heru sangat tanggap. Itulah hal yang membuat Alina sangat menghormati suaminya, meski bukan anak kandungnya, Heru sangat menyayangi Ghazi dan tidak pernah membedakannya dengan Fatih, anak kedua mereka.
"Ayo kita pulang dan cari Ghazi bersama..."
Baik Heru maupun Alina sudah izin kepada atasannya untuk pulang lebih awal karena urusan mendesak.
Tanpa membuang waktu, Alina segera naik ke mobil dan mereka langsung pulang ke rumah agar bisa mendengar penjelasan dari Mbak Sitha secara langsung.
__ADS_1
" Gimana mbak, apa Ghazi sudah ketemu?"
Alina langsung berlari masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada Mbak Sitha. Heru pun langsung berlari menyusul Alina setelah memarkirkan mobilnya.
"Maaf Bu, saya sudah mencari di sekitar komplek sini, tapi belum ketemu juga....untuk mencari lebih jauh lagi, saya tidak tega meninggalkan Fatih...", Mbak Sitha menjelaskan kepada majikannya.
"Gimana ini Mas?",
Alina yang panik menarik-narik tangan suaminya,
"Bagaimana kalau kita cari ke rumah neneknya dulu? Siapa tahu mereka datang dan membawa Gazhi..."
Sebenarnya Heru merasa ragu, sebab tidak mungkin keluarga Alina membawa Ghazi tanpa izin, apalagi tanpa membawa Fatih ikut serta. Tapi hanya itulah satu-satu yang terlintas di pikirannya.
Alina juga tak punya ide lain selain menuruti usulan suaminya.
"Maaf Pak... Bu..."
Sebelum majikannya kembali pergi, Mbak Sitha menahan keduanya.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Tadi sebenarnya Ghazi sedang bermain bersama Fatih di halaman, Fatih bilang ada orang asing yang mengajak Ghazi bicara sebelum kakaknya itu menghilang...."
"Seperti apa orangnya? Apa Mbak Sitha juga melihatnya?"
"Maaf Bu, saya tidak melihatnya karena sedang masuk ke dalam untuk mengambil makanan...dan Fatih juga tidak bisa menerangkan dengan jelas, hanya katanya orang itu memakai baju hitam dan topi hitam..."
Alina menatap Heru, mencari jawaban dari suaminya.
"Ada kemungkinan Ghazi memang di culik, tapi sebaiknya kita mencarinya dulu di sekitar sini, di rumah neneknya, lalu ke sekolahnya. Kalau tidak ketemu baru kita laporkan kasus ini ke polisi...", ucap Heru membuat keputusan.
Mau tidak mau Alina hanya bisa pasrah mengikuti suaminya. Dan lagi pula pikirannya terasa buntu. Kekhawatiran tentang nasib buah hatinya lebih mendominasi hingga Alina tidak bisa berfikir jernih.
"Cepat masuk ke mobil, kita cari Ghazi sekarang juga!"
Ucapan Heru yang setengah membentak membuat Alina tersadar dari lamunan. Tanpa buang waktu mereka segera berangkat.
Di tengah perjalanan Alina terus berfikir, dan sebuah kemungkinan buruk terlintas dibenaknya.
__ADS_1
'Mungkinkah Dirga yang melakukannya?'
Alina menoleh ke arah Heru yang sedang fokus menyetir. Alina takut Heru menjadi marah jika dirinya menyebut nama Dirga.