
Alina mematung menatap sebuah cincin indah tepat di depan matanya. Parasaannya benar-benar campur aduk dan ini benar-benar seperti mimpi. Alina mencubit pipinya sendiri untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.
Dan lucunya, saat dirinya sedang begitu tegang dan bingung bagaimana harus menghadapi Heru, tiba-tiba Ghazi menangis dengan kencangnya. Suasana canggung itu pun seketika berubah menjadi kepanikan yang lucu. Secara bersamaan Heru dan Alina meraih tubuh Ghazi yang menangis sambil menghentakkan kaki dan tangannya.
"Biar aku saja Mas...", kata Alina dengan tak enak hati.
Heru pun langsung menarik tangannya dengan canggung.
"Ya...tenangkan Ghazi dulu, jawabannya bisa menunggu..."
Alina mencuri kesempatan untuk menggendong Ghazi sambil berjalan kesana-kemari, agar sejenak bisa menghindar dari Heru. Alina menimang-nimang Ghazi hingga perlahan bayi itu mulai tenang dan tertidur di gendongannya. Ternyata Ghazi mengantuk. Dari kejauhan Alina bisa melihat Heru mendekat ke arahnya dan Ghazi. Alina kembali jadi salah tingkah.
"Bagaimana Ghazi? Apa ada yang bisa ku bantu?", Heru bertanya begitu dekat dengan Alina.
"Tidak apa-apa. Sepertinya Ghazi hanya mengantuk dan sekarang sudah tertidur..."
"Baguslah kalau begitu, bagaimana kalau kita makan dulu, ini sudah lumayan siang dan kamu harus sering makan agar kebutuhan nutrisi Ghazi terpenuhi..."
Ternyata Heru sudah membereskan semua barang-barang mereka, bahkan sudah menyiapkan stroler untuk Ghazi tidur.
"Ya, sepertinya makan ide yang bagus..."
Mereka lalu berjalan menuju sebuah resto yang berada di tepi pantai.
Alina dan Heru memesan makanan mereka masing-masing, sementara Ghazi masih terlelap di atas strollernya.
Mereka hanya saling diam, sibuk dengan gawai masing-masing sampai kemudian pesanan datang.
__ADS_1
"Selamat makan Alina...", kata Heru sebelum mulai berdoa dan menyantap makanannya.
Alina memesan nasi campur lengkap dan jus alpukat. Sementara Heru memilih nasi goreng seafood dan air mineral. Mereka kembali sibuk dengan makanan masing-masing. Suasana canggung jelas terasa diantara kedua.
Setelah selesai makan barulah Heru kembali bicara.
"Alina aku menunggu jawabanmu, tapi kalau kamu belum siap untuk menjawabnya, kamu bisa memikirkannya baik-baik...jika memang tidak ada pria lain di hatimu...aku harap kamu mau menerimaku..."
"Mas Heru...aku...aku merasa sangat tidak pantas untukmu..."
Alina akhirnya bicara dengen terbata.
"Alina aku sungguh-sungguh mencintaimu, kamu adalah wanita dan seorang Ibu yang baik, dan aku akan sangat beruntung jika mendapatkanmu. Tolong pikirkanlah baik-baik, aku tunggu jawabanmu besok....sekarang mari kita pulang, kasihan kalau Ghazi kelelahan..."
Tanpa menunggu jawaban Alina Heru melangkah sambil mendorong stroler Ghazi juga membawakan barang-barang Alina.
Sepanjang perjalanan pulang, mereka masih saling diam. Heru menyalakan musik klasik dan Ghazi pun tidur dengan lelap di gendongan Alina.
Tampaknya Alina benar-benar harus memikirkan jawaban itu.
Flashback.
Alina mengenal Heru sejak dirinya masih kanak-kanak. Di mata Alina Heru adalah sosok Kakak yang sangat baik, bahkan lebih dari Alshad, kakak kandungnya sendiri
Heru selalu bisa menghiburnya dan melindunginya, juga selalu mengalah kepadanya. Tidak seperti Alshad yang sering memgajaknya bertengkar. Karena itulah Alina merasa nyaman bersahabat dengan Heru.
Beranjak remaja, Alina mulai mengenal dunia dan lingkungan luar. Alina tahu sesekali Heru masih datang kerumahnya dan bermain bersama kakaknya Alshad. Tapi Alina tidak pernah tertarik untuk bergabung. Karena dimata Alina kakak-kakaknya itu kuper dan membosankan. Alina lebih memilih menghabiskan waktu di dalam kamar atau hang out bersama teman-temannya dari pada menghabiskan waktu dengan kakaknya.
__ADS_1
Namun semakin dewasa, Alina pun menjelma menjadi sosok yang berbeda. Alina kemudian sadar bahwa dirinya tidak cocok bergabung dengan teman-teman yang hanya menghabiskan uang untuk hura-hura. Alina kembali menata hidupnya, fokus dengan pendidikan demi menjaga nama baik keluarga dan meraih cita-citanya. Alina pun kembali menjadi wanita yang lembut dan cerdas, meski sifat manjanya sebagai anak bungsu tetap melekat. Beberapa lelaki coba mendekati dan mengambil hati Alina. Tapi Alina tidak tertarik dan memilih tetap fokus pada sekolahnya.
Hingga akhirnya saat Alina masuk ke perguruan tinggi, Alina kembali bertemu dengam sosok kakak yang dirindukannya. Ya diam-diam Alina merindukan kehadiran Heru yang selalu membuatnya merasa nyaman. Tapi kali ini Alina melihat Heru telah berubah menjadi sosok yang begitu berbeda. Heru begitu tampan dan berkharisma. Kemudian dikampus, Alina sering mendengar nama Heru kerap menjadi bahan perbincangan, terutama di kalangan kaum hawa. Alina tidak menyangka, bahwa Heru telah menjelma menjadi sosok yang diidolakan di kampusnya. Heru adalah sosok mahasiswa teladan yang cerdas sekaligus aktif di organisasi kemahasiswaan, sehingga hampir semua mahasiswa mengenal Heru.
Meski begitu, ternyata sikap Heru pada Alina tetaplah tidak berubah. Jika bertemu, Heru selalu menyapa Alina dengan ramah. Dan tak butuh waktu lama untuk mereka kembali dekat. Masih seperti dulu, Heru memperlakukannya dengan sangat manis. Seperti seorang kakak yang selalu mengalah, menuruti keinginan Alina dan juga memanjakannya. Alina kenikmati kedekatan mereka dan merasa nyaman.
Sampai kemudian ada perempuan bernama Gladys yang dengan tiba-tiba menghampiri Alina.
"Kenalin, nama gue Gladys pacarnya Heru..."
Sapa Gladys sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Alina menatap Gladys dengan bingung, karena merasa tidak mengenal gadis itu.
"Gue tahu belakangan ini lo lagi deket sama Heru, tapi sebagai sesama perempuan gue harap lo tahu batasnya. Gue udah pacaran lama sama Heru dan gue udah kasih segalanya buat dia. Gue maklum kalau cowok gue memang keren dan populer, jadi banyak cewek-cewek yang deketin dia kayak lo. Gue harap lo bisa ngerti posisi gue dan sadar diri buat nggak jadi pelakor di hubungan gue sama Heru..."
Karena hal itu Alina akhirnya memutuskam untuk menjauhi Heru perlahan. Alina bukannya takut, Alina hanya tidak ingin mencari masalah dengan siapapun.
Tapi semakin menghindar Heru malah semakin mendekat, hingga kemudian Heru malah menyatakan perasaan cinta kepadanya.
Mungkin, jika tidak tahu bahwa Heru memiliki kekasih, Alina akan senang dan menerimanya. Sebab selama ini, bagi Alina tidak ada laki-laki yang mengisi hatinya seperti Heru. Tapi Alina ingat apa yang di katakan Gladys. Alina tidak ingin egois dan merusak hubungan Heru. Alina tidak mau juga ikut campur tentang urusan pribadi Heru. Cukuplah mereka menjadi sahabat seperti sebelumnya. Dan Alina juga tidak mau merusak hubungan baik antara Heru dan keluarganya. Cukuplah baginya Heru menjadi sosok kakak yang dia kagumi, seperti selama ini.
Dan Alina pun akhirnya memilih menjalin hubungan dengan Dirga, sebagai pengalih perhatiannya. Tapi sejak menjalin hubungan dengan Dirga, Alina merasa hubungannya dengan Heru menjadi renggang. Heru seperti menjauhinya dan karena sikap Dirga yang posesif, Alina tidak bisa leluasa menemui Heru. Setelah itu dari kabar burung Alina mendengar bahwa Gladys, gadis yang pernah mengaku sebagai pacar Heru berseteru dengan gadis lain karena memperebutkan Heru. Padahal Heru justru tidak mengakui keduanya dan hanya menganggap mereka sebatas teman. Ya begitulah Heru yang menjadi idola di kampus, sering mendapat perhatian dari para gadis. Dan sikap baik Heru terkadang membuat mereka salah paham.
Mendengar hal itu ada sedikit penyesalan di hati Alina. Meski begitu Alina tidak ingin menganggu kehidupan Heru. Apalagi Alina tahu benar sifat Dirga yang sangat posesif dan tidak akan mengizinkannya dekat dengan pria manapun. Bukan karena Alina takut Dirga akan cemburu, tapi Alina tidak ingin Heru mendapatkan masalah karena dirinya.
Tapi siapa yang menyangka, bahwa ternyata hubungannya dengan Dirga adalah awal dari segala musibah dalam hidupnya.
__ADS_1