Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 39


__ADS_3

Heru menatap Alina dan Ghazi yang tengah tertidur pulas. Heru baru menyadari, kenapa Alina sudah berada di rumah pada jam segini? Padahal seharusnya Alina masih berada di rumah sakit


Tapi pertanyaan itu ia abaikan, Heru lebih butuh untuk beristirahat sambil memeluk isteri dan buah hatinya itu. Sebuah kesempatan yang mulai langka belakangan ini. Sebab mereka kerap sibuk dengan urusan masing-masing, hingga kebersamaan yang sederhana ini terasa sanhat berarti. Dan sebentar lagi, bahkan kebersamaan semacam ini akan semakin mustahil, setidaknya dalam satu tahun kedepan.


Alina menggeliat dan membuka matanya perlahan. Alina merasakan kehangatan dan sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Ternyata tangan Heru tengah melingkar di pinggang. Alina menyingkirkan tangan itu perlahan, tak ingin menganggu tidur suaminya yang nampak lelah. Alina sudah merasa lebih baik sekarang. Alina lalu pergi ke dapur, ingin kembuat sesuatu untuk suaminya. Sesuatu yang lama tidak dilakukannya dan Alina merindukannya. Sore itu, Alina memilih membuat pisang goreng. Camilan sederhana favorite suaminya. Alina juga menyeduh kopi susu favorite Heru. Namun belum selesai Alina dengan kegiatannya di dapur, sepasang tangan kekar merengkuhnya dari belakang.


"Sedang apa sayang?"


Alina terkejut dan saat menoleh pipinya beradu dengan bibir suaminya.


"Ah, Mas Heru...bikin kaget saja! Tunggu didepan sana....sebentar lagi aku selesai..."


Alina mendorong tubuh Heru dengan kesal. Tapi Heru masih tak mau beranjak.


"Aku mau disini saja, menemanimu sampai selesai..."


"Baiklah, tapi Mas duduk saja, jangan seperti ini...aku jadi tidak bisa bergerak..."


Heru mencubit pipi Alina dengan gemas, sebelum beranjak.


"Baiklah sayang, aku akan melihatmu dari sini..."


Heru terus menatap Alina yang sedang sibuk di dapur, sebelum kemudian terdengar suara tangisan Ghazi dari dalam kamar.


"Biar aku saja..."


Heru bergegas mengambil Ghazi yang tertidur di kamar, lalu menggendongnya. Ghazi langsung tenang begitu di gendong ayahnya.


Sementara itu Alina sudah selesai dan menyajikan pisang goreng beserta kopi di teras depan.


Heru pun menyusul Alina dengan membara Ghazi ikut serta.


"Silahkan dimakan Mas..."


Alina mengambil Ghazi dari gendongan suaminya.


"Mas..."


"Alina..."

__ADS_1


Mereka bicara hampir bersamaan.


"Ada apa Mas?"


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu Alina..."


"Aku juga Mas, tapi mas dulu saja...ada apa Mas?"


"Aku akan ditugaskan di kalimantan selama satu tahun, dua minggu lagi aku sudah harus berangkat Alina...."


Alina terduam sesaat, mencoba mencerna informasi yang diberikan suaminya.


"Ada apa Alina? Tidak apa-apa kan? Apa kamu keberatan?"


Heru menatap Alina yang masih terdiam dengan ekspresi yang tidak dia mengerti. Heru memegang lengan Alina dan menatap ke dalam mata istrinya.


"Sepertinya aku hamil Mas...", ucap Alina dengan terbata.


Heru pun merengkuh tubuh istrinya yang masih menggendong Ghazi. Dan kemudian satu kecupan mendarat di kening Alina.


"Terimakasih sayang, telah mengandung calon anakku..."


Ucap Heru dengan tulus. Tentu saja Heru sangat bahagia mendengar kabar itu. Meski di sisi lain Heru juga sadar, hari-hari di depan akan semakin berat untuk mereka jalani, khususnya bagi Alina.


Ucap Alina yang sebenarnya juga masih ragu-ragu akan kehamilannya.


"Kalau begitu nanti malam aku akan mengantarmu ke dokter kandungan..."


Setelah itu mereka lanjut bercengkrama di teras rumah. Alina bercerita tentang kegiatannya hari ini sampai dirinya pingsan dan izin pulang lebih awal.


"Harusnya setelah ini kamu lebih berhati-hati dan jangan sampai kelelahan..."


Ucap Heru menasehati. Tapi kemudian Heru sadar bahwa kemungkinan besar Alina merasa kelelahan adalah karena harus membagi waktu antara bekerja dan mengurus keluarga. Terselip rasa bersalah di hati Heru. Sebab sebagai kepala keluarga, Heru sadar bahwa penghasilannya selama ini belum seberapa. Apalagi untuk seorang Alina yang terbiasa hidup berlimpah materi. Alina telah rela hidup sederhana bersama dirinya dan Heru juga sadar bahwa selama ini Alina rela memakai uang pribadinya untuk keperluan keluarga. Apalagi selama Heru kembali menempuh pendidikan dan hanya menafkahi Alina dari uang tabungan yang tak seberapa.


"Maafkan aku Alina, sampai sekarang aku belum jadi keluarga yang baik...."


"Jangan bicara begitu Mas, kamu adalah imam terbaik untukku dan anak-anak kita kelak...aku hanya merasa sedikit khawatir Mas..."


"Jangan terlalu dipikirkan, kita jalani saja semampu kita....lakukan yang terbaik dan terus berdoa. Tuhan yang memberi kita anugrah ini, itu artinya Tuhan percaya bahwa kita mampu..."

__ADS_1


Heru berusaha menenangkan istrinya. Meski dalam hatinya Heru juga sangat khawatir. Dirinya akan berada jauh dari anak dan istrinya. Sementara Alina-lah yang harus menanggung beban berlipat atas perpisahan itu.


"Ya Mas aku akan berusaha semampuku..."


Entah mengapa setelah bercerita dan mendengar nasehat suaminya Alina jadi merasa lebih tenang dan percaya diri. Dia akan menjadi seorang Ibu untuk calon anak yang ada di dalam kandungannya. Sudah sepatutnya dirinya bersyukur atas anugrah itu. Dan tentu dirinya tidak boleh lemah. Sebab seorang Ibu akan melakukan apapun demi buah hatinya.


Setelah menikmati sore yang syahdu bersama, mereka masuk ke dalam rumah. Alina memandikan Ghazi lalu menyuapinya. Ghazi makan dengan lahab dan hal itu membawa kebahagiaan tersendiri untuk Alina.


Sementara itu Heru tengah membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah selesai, Heru gantian menjaga Ghazi.


"Mandilah dan bersiaplah, kita akan pergi ke dokter selepas maghrib..."


"Ya Mas..."


Alina segera mandi dan bersiap. Setelah adzan maghrib berkumandang mereka melaksanakan shalat berjamaah di rumah saja.


Alina kembali menitipkan Ghazi pada Mbak Sitha dan berpamitan akan pergi bersama Heru.


Dalam perjalanan Heru menyalakan musik dan terus mengenggam tangan Alina. Sudah lama sekali mereka tidak pergi berdua seperti ini. Jika bukan karena alasan mendesak seperti ini, mungkin mereka juga tidak akan melakukannya.


"Mas, pulangnya nanti mampir beli kwetiau goreng ya?"


Ucap Alina tiba-tiba di tengah keheningan.


"Wah, sudah mulai nyidam ya Ibu hamilnya?", ledek Heru sambil tertawa kecil.


Alina mencubit lengan suaminya.


"Baiklah, jangankan cuma kwetiau, pergi ke bulan juga kau turutin..."


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit. Setelah melakukan berbagai pemeriksaan, Alina dinyatakan positif hamil dan semua kondisi kesehatannya dinyatakan baik.


Heru dan Alina sangat senang dan bersyukur mendengar hal itu. Buah cinta mereka tengah bersemayam di rahim Alina.


Sepulang dari rumah sakit, Heru memenuhi janjinya untuk membelikan Alina kwetiau goreng.


Kali ini mereka memilih makan di tempat sambil menikmati suasana berdua. Dan ternyata itu membuat kwetiau yang disantaonya terasa lebih nikmat di lidah Alina.


"Enak sekali Mas, terimakasih banyak..."

__ADS_1


"Ya makanlah yang banyak, sebelum pergi aku janji akan mengajakmu kesini lagi..."


Mereka berdua makan dengan lahab. Acara kencan manis dan sederhana ini begitu berkesan dan akan terus di kenang Alina.


__ADS_2