
Malam itu, Alina merasakan kepalanya sangat pusing. Alina mencoba mengabaikannya dan memilih untuk tidur agar rasa sakit di kepalanya segera mereda. Tapi bukannya mereda malah rasa sakit di kepalanya semakin bertambah-tambah.
Alina lalu segera mengetuk pintu kamar Heru yang berada di samping kamarnya. Lagi-lagi Alina harus kembali merepotkan Heru. Tapi rasa tak enak hati itu harus ia singkirkan demi keselamatan buah hatinya.
Karena tak tega membangunkan seisi penghuni rumah yang sedang terlelap, akhirnya Heru membawa sendiri Alina ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata tekanan darah Alina cukup tinggi. Untuk menghindari segala resiko maka persalinan harus dilakukan malam itu juga. Usia kandungan Alina saat itu sudah memasuki 38 minggu. Secara perhitungan sudah cukup bulan meskipun belum terjadi kontraksi atau tanda-tanda akan melahirkan yang lain. Sebagai suami, Heru pun langsung menyetujui tindakan operasi cesar yang harus dilakukan pada Alina.
Untuk menghindari kepanikan, akhirnya Heru memilih mengirim pesan saja kepadan Alshad untuk mengabarkan bahwa Alina akan melahirkan.
Setelah di beritahu bahwa malam ini Alina harus melahirkan, Alina nampak panik dan ketakutan. Hal itu tentu saja akan berdampak tidak baik pada kondisinya. Sebisa mungkin Heru berusaha menenangkan dan menyemangati Alina. Ternyata meskipun Alina sudah tahu benar segala teori kesehatan terkait dengan kehamilan dan melahirkan, namun kenyataannya jauh lebih menakutkan daripada sekedar teori di dalam buku. Alina pun terus menggenggam tangan Heru dan tidak ingin lepas.
"Alina, tenangkan dirimu...banyak berdoalah dan yakinlah kamu pasti bisa..."
"Mas Heru, aku ingin telepon Mama dan Papa sebelum melahirkan...", sungguh entah mengapa Alina ingin bicara pada orang tuanya sekarang juga.
"Tapi ini sudah tengah malam Alina, mereka pasti sedang tertidur pulas. Biar aku saja yang menemanimu, aku janji akan selalu disampingmu..."
Heru mencoba membujuk Alina karena tak ingin menganggu mertuanya.
"Tapi..aku benar-benar ingin bicara pada mereka, bagaimana kalau nanti tidak ada waktu kagi? Bagaimana kalau ternyata aku tidak selamat dan tidak akan bertemu dengan mereka lagi?"
Mendengar itu Heru pun langsung membekap mulut Alina.
"Jangan bicara seperti itu, jangan bicara yang tidak baik dan berprasangka buruk pada takdir.."
Bersamaan dengan itu pintu perawatan Alina di buka dari luar.
Mama, Papa dan Alshad langsung menerobos masuk dan memeluk Alina.
"Bagaimana keadaanmu sayang? Kenapa tidak membangunkan kami?", Mama bertanya dengan khawatir.
Tapi Alina malah menangis terisak di pelukan Mamanya.
"Mama...Papa...maafin Alina Ma, Alina gagal menjadi anak yang untuk kalian...Alina sudah bikin aib dan mencoreng nama baik keluarga..."
Alina mencium tangan Mama dan Papa bergantian.
__ADS_1
"Sudahlah Alina, jangan bicara seperti itu dan jangan berfikir yang macam-macam, kami sudah mengikhlaskan apapun yang terjadi dan kamu tetaplah putri kesayangan kami sampai kapanpun juga. Sekarang kamu harus kuat, sebentar lagi kamu akan menjadi Ibu, berjuanglah untuk kelahiran putramu..."
Alina mengangguk dan melepaskan pelukannya.
Setelah bertemu dengan Papa, Mama, dan Kak Alshad, Alina sudah lebih tenang. Alina merasa sudah lebih siap untuk menjalani persalinannya.
Beberapa perawat datang untuk memeriksa kondisi Alina. Selang benerapa saat Alina di pindahkan ke ruang operasi. Untunglah rumah sakit karya medika mengizinkan suami menemani istrinya yang akan melahirkan secara caesar. Tentu saja dengan persyaratan yang ketat.
Heru menemani Alina masuk ke ruang operasi. Heru terus menggenggam tangan Alina selama proses persalinan. Proses persalinan berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, tangis seorang bayi laki-laki terdengar nyaring di keheningan malam.
Rasa syukur pun langsung terucap dari bibir Alina. Alina hampir tidak percaya dirinya berhasil melahirkan seorang bayi dalam keadaan sehat dan selamat.
Bayi mungil itu pun langsung dibawa oleh perawat untuk di bersihkan kemudian di serahkan pada Heru untuk di adzankan.
Heru mengadzankan bayi itu dengan khusyuk. Meski ini adalah pengalaman pertamanya, Heru terlihat lancar dan cukup piawai menggendong bayi.
Seletah selesai diadzankan bayi itu pun diserahkan pada Alina agar dilakukan IMD.
"Selamat Alina, kamu berhasil melahirkan bayi laki-laki yang sehat, kamu adalah Ibu yang hebat dan percayalah anak ini akan tumbuh dengan baik..."
Beberapa saat kemudian Alina dan bayinya sudah boleh untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Tekanan darah Alina sudah kembali normal setelah bayinya lahir. Pun kondisi bayi sehat dan normal tanpa kurang suatu apapun.
Heru tetap memilih untuk menunggu di luar agar tidak menganggu privasi Alina sebab bagaimanapun mereka bukan suami istri sungguhan. Mama yang lebih banyak menemani Alina sekaligus mengajarkan Alina cara menyusui yang benar. Sedangkan Papa memilih langsung pulang usai memastikan Alina dan bayinya dalam kondisi sehat. Alshad juga ikut pulang untuk mengantar Papa sekaligus mengambil barang-barang yang di perlukan.
"Nak Heru sebaiknya istirahat saja dirumah, biar Mama yang temani Alina..."
Tapi Heru menolak untuk pulang dan memilih untuk tidur di ruang tunggu.
Pagi harinya Heru terbangun saat suara tangisan bayi terdengar nyaring memekakan telinga. Entah mengapa Heru langsung tahu bahwa itu bayi Alina, bayi laki-laki yang suara tangisannya paling keras diantara bayi lainnya di rumah sakit ini.
Heru mengusap matanya yang masih terasa berat dan saat matanya benar-benar terbuka Alshad sudah berdiri di sampingnya.
"Udah bagun bro?"
"Eh, lo udah disini aja pagi-pagi?"
__ADS_1
"Papa udah nggak sabar lihat cucunya, oh ya, ayo masuk, lo ditungguin Papa di dalam..."
Heru heran, untuk apa mertuanya memanggilnya pagi-pagi. Heru pun mengikuti langkah Alshad masuk ke dalam.
"Ah, ini dia pahlawan kita, terimakasih banyak sudah menemani dan selalu ada di samping Alina...."
Papa mendekat dan memeluk Heru dengan hangat.
"Itu sudah jadi kewajiban saya Pa.."
"Sebagai penghormatan atas jasamu kami ingin kamu yang memberikan nama untuk bayi Alina..."
"Ah, apa tidak berlebihan Pa?"
"Tentu saja tidak, kamu telah banyak berjasa, pasti Alina akan senang kalau kamu yang memberinya nama..."
"Boleh aku menggendongnya sebentar, biar kupikirkan nama yang bagus untuk bayi hebat ini..."
Mama pun menyerahkan bayi itu untuk di gendong Heru.
Bayi itu menangis sebentar karena terkejut, tapi kemudian kembali tenang saat Heru menimang-nimangnya.
"Terimakasih banyak Mas Heru, terimakasih atas semua bantuanmu selama ini..."
Alina memberanikan diri untuk berterimakasih meski di depan semua anggota keluarganya.
"Sama-sama Alina, aku senang bisa melihat bayi hebat ini lahir dengan selamat, bagaimana kalau kita beri nama Muhammad Ghazi, artinya 8seorang pejuang yang tangguh dan pemberani...
"Nama yang bagus, Ghazi...ghazi..."
Bayi kecil itu pun nampak tersenyum, seolah menyetujui nama yang baru saja disematkan untuk dirinya.
Tapi kemudian Ghazi menangis keras, sudah haus dan minta asi.
"Baiklah, sepertinya aku harus pulang ke rumah dulu..."
__ADS_1
Heru pun berpamitan pada semuanya. Heru ingin beristirahat sebentar dirumah.