
Setelah dua jam lebih berputar-putar mencari Ghazi, Heru akhirnye menepikan mobilnya di sebuah minimarket.
Heru membeli dua botol minuman dingin dan beberapa biskuit untuk mengganjal perut.
"Makan dan minumlah, meskipun khawatir tapi kita harus punya energi untuk mencari Ghazi lagi..."
Mereka sudah mencari Ghazi di rumah keluarga Alina, di sekolah, juga ke rumah beberapa teman sekolah Ghazi, tapi hasilnya masih nihil. Tak ada tanda-tanda Ghazi singgah di salah satu tempat itu.
Alina menerima minuman yang diberikan Heru dan meneguknya untuk menghilangkan dahaga. Tapi untuk menyantap biskuit, Alina tak sampai hati.
'Bagaimana kalau Ghazi diculik dan tidak diberi makan?',nalurinya sebagai seorang Ibu merasa berdosa.
"Setelah ini kita cari kemana lagi Mas?"
Tanya Alina dengan khawatir.
"Aku tidak punya ide lain, sepertinya kita laporkan saja ke polisi..."
Setelah menghabiskan sebotol air mineral dan tiga buah biskuit, Heru kembali melajukan mobilnya.
Mereka akhirnya memilih melaporkan kasus ini ke polisi. Sesampainya disana, Heru yang membuat laporan dan memberikan keterangan kepada polisi. Alina hanya mendampingi di samping Heru, sebab merasa emosinya belum stabil.
Setelah selesai membuat laporan Heru dan Alina keluar dari kantor polisi dan berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1
"Kita mau kemana lagi Mas?"
"Sebaiknya kita pulang dulu dan beristirahat, aku lelah sekali....kita tunggu hasilnya dirumah..."
"Tapi, apa mereka benar-benar akan mencarinya?"
Alina bertanya dengan tidak yakin, sebab mendengar pengalaman dari orang-orang disekitarnya tentang kinerja buruk kepolisian.
"Aku sudah menjanjikan imbalan yang cukup besar jika Ghazi di temukan, kita berdoa saja, lagi pula aku sudah tidak tahu harus mencari kemana lagi...."
"Baiklah Mas..."
Akhirnya Alina setuju, meski hatinya masih belum merasa tenang.
Sesampainya di rumah, Alina yang merasakan lelah luar biasa tidak bisa langsung beristirahat. Sebab ternyata, dirumah Fatih terus menangis dan Mbak Sitha kesulitan untuk menenangkannya. Dan begitu melihat Alina datang, Fatih langsung merengek minta gendong.
"Ibu dari mana saja sih?"
Rengeknya sambil memeluk Alina. Padahal tidak biasanya Fatih bersikap manja begini.
"Fatih dari tadi rewel terus Bu...mungkin karena tidak ada kakaknya yang biasa bermain bersama..."
Mbak Sitha melapor sambil membantu Alina memasang gendongan.
__ADS_1
"Bagaimana Bu, apa sudah ada kabar tentang Ghazi? Maaf, sayalah yang lalai sampai terjadi seperti ini..."
"Tidak, ini bukan salahmu, memang sudah jalannya begini...doakan saja semoga Ghazi lekas ketemu...", Alina berkata sambil tersenyum. Meski lelah, Alina tidak ingin pengasuh putranya itu merasa bersalah.
Alina lalu terus menimang-nimang Fatih sampai tertidur, sebab seharian tadi Fatih tidak mau tidur jika tidak bersama kakaknya.
Setelah meletakkan Fatih di tempat tidurnya, barulah Alina bisa berbaring di samping buah hatinya.
Dalam tidurnya, samar-samar Alina mendengar suara teriakan Ghazi yang mengucapkan salam. Sepertinya Alina bermimpi karena terus memikirkan buah hatinya itu.
Tapi saat membuka mata, Alina melihat Ghazi berjalan ke arahnya, lalu mencium punggung tangannya.
Rasanya peristkwa itu seperti mimpi. Berkali-kali Alina mengusap matanya, memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah fatamorgana.
"Kamu benar-benar sudah pulang nak?", Tanya Alina dengan tatapan tak percaya.
"Iya Bu, Ghazi baru saja pulang...", Jawab Ghazi dengan tersenyum.
Alina memperhatikan dan meraba semua anggota tubub Ghazi, memastikan bahwa tidak ada yang terluka.
"Dari mana saja kamu nak?"
"Aku habis jalan-jalan seharian sama teman Ibu, katanya Ibu yang suruh dia jemput Ghazi tadi..."
__ADS_1
"Apa?"