Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 32


__ADS_3

"Jangan Mas Heru, aku belum siap..."


Alina menahan tangan Heru yang bersiap membuka kancing bajunya.


Alina menatap wajah Heru yang berada tepat diatasnya. Wajah yang tengah memerah di kuasai gairah. Dan tiba-tiba Alina menjadi takut. Dimatanya Heru tak ubahnya monster yang siap menerkamnya. Lalu satu persatu memori berputar di benak Alina. Memori masa lalu yang tidak seharusnya muncul di saat seperti ini. Tapi sekuat apapun Alina coba menghalaunya, bayangan mimpi buruk itu tetap tak mau pergi.


Heru yang sedang di kuasai nafs* tak berhenti begitu saja, sekali lagi Heru mencoba. Menggenggam tangan Alina dengan lembut dan memindahkannya kesamping.


"Kenapa Alina? Aku sudah jadi suamimu, percayalah padaku..."


Heru kembali mengulurkan tangannya, sudah tak sabar menyentuh gundukan yang ada di hadapannya.


Namun tiba-tiba, Alina malah mendorong tubuhnya.


"Jangan Mas..."


Tubuh Heru limbung ke samping. Siang itu, dirinya bagaikan pecundang yang gagal sekedar menyentuh istrinya sendiri.


Heru lalu bangkit dan duduk, lalu menoleh ke samping dimana Alina juga sedang duduk dengan wajah pucat dan ketakutan.


"Ada apa Alina?"


Heru sungguh tak mengerti dengan tingkah Alina yang berubah tiba-tiba. Bukankah baru saja Alina menyambutnya dengan tangan terbuka dan bilang kalau dia juga mencintanya? Lalu kenapa malah jadi seperti ini?


Di sampingnya Alina malah terisak sambil membenamkan wajahnya di kedua tangannya.


"Maafkan aku Mas Heru...maafkan aku..."


"Sudahlah, tidak apa-apa, aku mau ke kamar mandi dulu..."


Heru lalu melangkah ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air sebanyak-banyaknya, lalu berendam.


Heru tidak bisa memungkiri ada perasaan kecewa di hatinya meski tetap berusaha untuk tenang.


Di dalam kamar, Alina masih terus terisak. Alina menyesali perbuatannya yang tak pantas kepada suaminya. Tapi Alina juga tidak bisa berbuat banyak. Pikirannya tidak bisa ia kendalikan, sekalipun dirinya ingin berbakti dan melayani suaminya.


"Astaghfirullah hal adzim...astaghfirullah hal adzim..."


Alina terus mengucap kalimat istighfar untuk memenangkan hatinya yang gundah.


Keluar dari kamar mandi, Heru kembali mendapati Alina yang masih duduk di tempat tidur dengan wajah sembab. Heru pun menghampiri istrinya.


"Alina, ada apa sebenarnya? Mau cerita padaku?"


Alina hanya menggeleng. Dirinya sungguh belum siap membagi kegundahan ini pada Heru.

__ADS_1


"Ya sudah tidak apa-apa, tenangkan dirimu, aku akan jalan-jalan sebentar di taman..."


Mungkin mereka memang butuh waktu untuk masing-masing. Heru memutuskan untuk keluar dari rumah agar pikirannya jernih dan Alina juga punya waktu untuk menenangkan diri tanpa kehadirannya.


Melihat Heru keluar dengan wajah menahan kecewa, Alina sungguh merasa berdosa. Tapi tak banyak yang bisa dilakukannya, sebab ternyata kisah buruk di masa lalu masih menghantuinya. Membawa trauma yang mengganggu bahtera yang baru saja dibangunnya.


Alina lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi Alina menyeduh secangkir kopi untuk suaminya, lalu menyajikannya di meja depan bersama beberapa kue yang telah tersedia di dapur.


Tepat seletah Alina meletakkan nampan di meja teras, Heru melangkah menuju ke arahnya.


"Minum kopi dulu Mas..."


"Ya, terimakasih banyak..."


Heru pun duduk dan mulai meminum kopi pertama buatan isterinya.


Karena tak ingin terjebak dalam suasana canggung Alina memilih pergi ke dapur dan menyibukkan diri di sana. Meski tak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan sebab Bi Siti selalu sudah membereskan semua sebelum pergi. Alina hanya merapikan tatanan piring yang agak berantakan dan mengelap beberapa noda yang terciprat di dinding dapur.


Tidak lama kemudian, terdengar suara adzan maghrib dari masjid di kompleks.


"Alina, aku pergi ke masjid dulu..."


Teriak Heru dari ruang depan. Heru bukanlah seseorang yang begitu taat beribadah. Biasanya Heru hanya menunaikan shalat dirumah saja sendirian. Tapi disaat hatinya gundah secara naluri Heru tergerak untuk lebih mendekat dan mengadukan masalahnya pada Tuhan.


"Ya Mas..."


Selesai menunaikan shalat, Alina terus memanjatkan doa-doa sampai kemudian terdengar suara kedatangan Heru. Alina membereskan peralatan shalatnya dan keluar untuk menyambut Heru.


Dan ternyata Heru datang bersamaan dengan Bi Siti yang akan memasak makan malam untuk mereka.


"Mau makan apa Non?"


"Apa saja boleh Bi..."


"Saya buatkan nasi goreng saja ya? Tunggu sebentar ya Non..."


"Baik Bi, tidak usah buru buru...."


Saat melangkah, tiba-tiba pandangan Alina bertemu dengan Heru yang baru saja keluar dari kamar. Entah mengapa momen itu terasa begitu canggung.


Heru mendahului melangkah menuju sofa dan duduk di sana. Sementara Alina melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar. Alina memilih menyibukkan diri memerah asi untuk Ghazi. Dan setelah selesai, Alina segera keluar dan menghampiri Heru.


"Mas Heru, aku mau menengok Ghazi sebentar dan mengantarkan ini..."


Alina berpamitan pada suaminya sebelum pergi.

__ADS_1


"Ya, silahkan, sampaikan juga salamku pada Mama dan Ghazi..."


"Ya Mas..."


Alina lalu melangkah dengan cepat.


Melihat Ghazi sedang tertawa sambil bermain-main dengan Mama, membuat Alina merasa terhibur. Alina pun mengambil Ghazi dari Mama dan memeluknya erat-erat. Betapa Alina merasa sangat merindukan putranya walau belum ada sehari mereka berpisah. Dan melihat senyum Ghazi membuat Alina bisa melupakan sejenak masalahnya.


"Alina, jangan terlalu lama, suamimu pasti sudah menunggu...", ucap Mama mengingatkan Alina.


"Ya Ma..."


Alina lalu mencium Ghazi dan berpamitan dengan berat hati.


"Aku pergi dulu Ma, titip Ghazi lagi ya Ma, terimkasih banyak Mama..."


Alina dan Mama berpelukan.


"Tentu saja sayang, Mama akan menjaga Ghazi kamu tenang saja..."


Dan Alina pun kembali ke paviliun. Di sana Heru sudah duduk di meja makan dan Bi Siti sedang sibuk menghidangkan makanan.


"Biar aku saja Bi..."


Alina segera mengambil alih kegiatan Bi Siti melayani suaminya.


"Ya Non, Bibi pamit dulu sebentar ya..."


Bi Siti pergi untuk memberi waktu pada majikannya untuk berduaan.


Namun ternyata hal itu malah membuat keduanya semakin terjebak dalam suasana canggung.


Setelah selesai makan Heru segera masuk ke kamar, sedangkan Alina memilih membereskan bekas makan mereka.


Setelah selesai, Alina segera menyusul Heru ke kamar. Dan ternyata Heru tengah bersiap keluar sambil membawa barang-barang pribadinya.


"Alina, kamu tidurlah di kamar ini, aku akan tidur di kamar samping. Kalau ada perlu sesuatu kamu bisa memanggilku."


Heru pun langsung melangkah tanpa memperdulikan jawaban Alina.


Alina terduduk lemas di tempat tidur. Seharusnya malam ini adalah malam pengantin mereka. Tapi Heru malah menyuruhnya untuk berpisah kamar. Alina sadar hal ini karena kesalahannya. Alina merasa menjadi seorang isteri yang begitu buruk.


Alina mengucapkan istighfar berkali-kali. Alina menyadari begitu banyak dosa yang dilakukannya. Mungkin itulah sebab, Tuhan menghukumnya dengan seperti ini.


Malam itu Alina akhirnya memutuskan untuk melakukan shalat taubat. Alina menyesali dosa-dosanya yang telah berzina di masa lalu. Selesai menunaikan shalat, Alina terus berdoa dan berdoa. Memohon untuk diberikan ampunan dan di beri kesempatan untuk mengabdi dan berbakti sebagai seorang istri tanpa bayang-bayang masa lalunya yang terus menghantui. Alina berjanji, akan berusaha menjadi seorang istri yang baik. Akan menyerahkan seluruh hati, jiwa, dan raga untuk melayani suaminya sesuai perintah Tuhan dan sesuai dengan syariat di dalam agamanya.

__ADS_1


Setelah selesai menunaikan shalat dan berdoa, Alina merasa hatinya sudah jauh lebih tenang.


Semoga saja Heru masih mau memaafkannya dan masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


__ADS_2