
Pagi itu Heru resmi memulai tugas barunya untuk menjaga dan mengawasi Alina dari jarak yang lebih dekat.
Ya, setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya Dokter Hendra setuju dan memperbolehkan Heru untuk tinggal di rumah utama, bahkan menempatkan Heru tepat dikamar samping kamar Alina. Alina yang masih rapuh perlu dijaga dan diawasi dengan lebih ketat. Tapi bukan hanya tubuhnya yang perlu dijaga, tapi Alina juga butuh untuk dipulihkan kondisi psikis dan kejiwaannya. Sebelumnya Alina pernah dibawanya ke seorang psikiater. Tapi setelah dua kali sesi konsultasi, Alina menolak untuk datang lagi. Dokter Hendra pun berkonsultasi dengan psikiater tentang langkah apa yang harus ditempuh agar Alina bisa segera sembuh dari traumanya. Dan psikiater itu mengatakan bahwa Alita tidak memerlukan obat-obatan, apalagi mengingat kondisi Alina yang tengah hamil muda. Alina hanya membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya agar bisa kembali percaya diri. Dan yang kedua, Alina membutuhkan perhatian dan cinta yang lebih besar dan tulus, agar Alina bisa kembali percaya bahwa tidak semua orang akan menyakitinya.
Dokter Hendra dan semua anggota keluarga, selama ini selalu berusaha untuk memberikan dukungan dan menghibur Alina. Tapi entah mengapa, seolah semua itu tidak cukup untuk mengembalikan Alina yang ceria. Alina tetap selalu terlihat murung dan menutup diri. Meski Alina tetap bersikap baik dan tidak pernah membantah perkataannya, tapi Alina menjadi jarang bicara dan tersenyum. Sepertinya Heru pun bisa melihat keadaan Alina yang berbeda dari sebelumnya.
Meski tidak pernah membicarakannya dengan gamblang, sedikit banyak Dokter Hendra juga mengikuti perkembangan kisah cinta putra putrinya. Dan meskipun Heru bukan anak kandungnya, tapi kecerdasan dan sikap Heru yang selalu hangat membuatnya mudah untuk menyayangi anak muda itu seperti anaknya sendiri. Dokter Hendra tahu benar bahwa sejak lama Heru sudah menaruh hati pada Alina. Hanya saja, Dokter Hendra tidak mau ikut campur dan memilih untuk membiarkan anak-anaknya menentukan jalan hidup dan cintanya sendiri. Sampai kemudian Dokter Hendra justru mendengar kabar bahwa Alina menjalin kasih dengan seorang pemuda bernama Dirga, anak seorang pengacara kondang. Yang entah mengapa nalurinya sebagai seorang Ayah tidak terlalu menyukai lelaki itu. Tapi Dokter Hendra memilih untuk tidak ikut campur. Toh mereka hanya masih berpacaran, belum akan menikah. Sampai kemudian datanglah bencana di keluarganya. Saat Alina mengaku tengah hamil dan kekasihnya justru pergi dan menghilang. Betapa hancur hatinya saat itu sebagai seorang Ayah. Alina, puteri kesayangan yang selama ini dijaganya dengan sepenuh hati, telah dirusak tubuh dan jiwanya oleh laki-laki br*ngsek berkedok kekasih. Sungguh dirinya merasa marah dan kecewa, tapi Dokter Hendra tidak mau melampiaskan rasa kecewanya di depan Alina.
Mengingat kondisi itu, Dokter Hendra berfikir bahwa Heru lah orang yang paling tepat untuk menjaga Alina. Semoga saja dengan perhatian yang Heru berikan nantinya, bisa membuat Alina perlahan-lahan mau untuk membuka diri. Dan lagi pula, Alina pasti butuh teman bicara yang seimbang, bukan sekedar pelayan yang diminta untuk melayani dan mengawasinya. Tentunya Dokter Hendra juga memberikan berbagai syarat yang ketat, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan diantara keduanya. Dokter Hendra sudah memasang CCTV tepat di kamar keduanya. Heru hanya boleh masuk ke kamar Alina saat di dalam juga ada Mbak Sita. Dan apabila keduanya diketahui terjadi kontak fisik di luar batas, maka Heru harus kembali tinggal di paviliun belakang dan hubungan mereka akan diawasi dengan lebih ketat.
Maka pagi itu, untuk pertama kalinya Heru memberanikan diri mengetuk pintu kamar Alina, sambil membawa nampan berisi sarapan dengan menu lengkap.
"Sarapan sudah datang tuan Putri...", sapa Heru begitu Alina mengizinkannya untuk masuk.
Mbak Sita lebih dulu masuk untuk memastikan bahwa Alina dalam kondisi yang pantas untuk bertemu tamu lawan jenis. Setelah Mbak Sita memberi kode, barulah Heru melangkah masuk. Mbak Sita dengan sigap memasang meja portable di tempat tidur Alina. Dan Heru segera meletakkan nampan yang dibawakannya disana.
"Selamat pagi, pagi ini aku ingin sarapan bersamamu sebelum berangkat, boleh kan?"
"Kalau Papa yang menyuruhmu, aku tidak bisa menolak kan?"
Heru lalu menyiapkan makanan untuk Alina, sebelum kemudian mengambil piringnya dan menyantapnya di dalam kamar Alina.
__ADS_1
Pagi yang syahdu, di luar hujan sedang turun rintik-rintik. Dari Jendela kaca lebar yang terbuka, terhampar pemandangan taman yang basah. Dan lamat-lamat menguar aroma tanah terguyur hujan yang khas. Alina dan Heru menyantap makanannya dalam hening. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang beradu, sampai keduanya selesai dan mengakhiri acara sarapan itu dengan meneguk segelas air putih.
"Terimakasih banyak...."
"Dengan senang hati Alina..."
Heru lalu sibuk membereskan sisa sarapan mereka berdua dan membawanya ke dapur. Setelah itu Heru kembali masuk ke kamar Alina.
"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan hari ini?"
"Apalagi selain berdiam diri di dalam kamar? Jangan meledekku!"
"Apa maksudmu? Apa kamu mau bilang aku orang yang tak tahu bersyukur?"
Heru menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ternyata serba salah dan tidak mudah untuk menghadapi wanita hamil yang sedang sensitif.
"Ada film yang ingin kamu tonton? Oh ya kamu selalu punya koleksi drama korea terbaru, mau nonton saja?"
"Semua sudah kutonton dan aku merasa lelah jika seharian terus menonton..."
Jawab Alina dengan ketus.
__ADS_1
"Ya sudah kalau kamu lelah lebih baik tiduran saja, ingat kata Dokter Erika kamu tidak boleh sampai kelelahan..."
"Aku lelah bukan karena beraktivitas, aku lelah karena harus terus tidur dan melakukan aktifitas yang itu-itu saja sepanjang hari..."
Ujar Alina dengan kesal.
"Baiklah aku mengerti, bersabarlah sedikit Alina, jika kamu patuh menjaga kesehatan setelah ini pasti kondisimu akan membaik..."
Alina baru saja menyadari sesuatu. Kenapa dia jadi melampiaskan kekesalannya pada Heru? Padahal lelaki itu sama sekali tidak bersalah bahkan sudah sangat baik padanya.
"Maaf..."
Ucap Alina akhirnya. Heru pun tersenyum. Heru lalu memindahkan sebuah sofa besar ke dekat jendela kamar Alina. Sofa itu adalah sofa yang sangat empuk dan nyaman dengan sandaran kaki memanjang. Heru lalu menyeduh susu ibu hamil rasa coklat dan meletakkannya di meja kecil di dekat sofa itu.
"Duduklah disana, minum susumu dan nikmati pemandangan di luar. Tunggu, sepertinya koleksi buku bacaanmu lumayan banyak, biar kupilihkan satu untukmu..."
Tanpa menunggu jawaban, Heru mengangkat tubuh Alina dan meletakkannya dengan lembut ke sofa. Hal itu membuat Alina terkejut, tapi Alina juga tidak berontak.
Heru lalu melangkah menuju rak buku Alina. Heru mengambil satu buku klasik yang sangat familiar. Sebuah buku tentang gadis kecil yang bersekolah di dalam kereta. Totto Chan.
Namun saat mengambil buku itu, tanpa sengaja Heru menjatuhkan buku yang lain, dan beberapa foto berceceran bersama jatuhnya buku itu. Heru memungut satu foto dan mengamatinya. Ternyata itu foto Alima bersama Dirga, mantan kekasih Alina. Heru pun buru-buru merapikan koleksi buku Alina, lalu pergi keluar dengan terburu-buru karena dirinya harus berangkat bekerja.
__ADS_1