
Heru diam-diam selalu memperhatikan gerak gerik Alina. Entah mengapa Heru merasa Alina yang belakangan sempat ceria, kini kembali murung dan selalu tampak khawatir. Heru bisa mengerti jika hal itu mungkin berhubungan dengan reaksi Dirga yang dengan terang-terangan tetap menolak kehadiran Alina dan bayi yang ada di kandungan Alina.
Sejujurnya, jauh di lubuk hatinya Heru memendam perasaan sakit yang dalam. Alina, gadis yang telah dicintainya sekian lama, justru jatuh ke pelukan pria lain. Dan rasa sakit hatinya semakin berlipat-lipat saat melihat Alina justru disakiti dan disia-siakan oleh lelaki pilihannya yang ternyata tak lebih dari sekedar pemain wanita. Tapi Heru mengabaikan segala perasaannya demi Alina. Heru sendiri tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan sakit Alina. Setelah menyerahkan segalanya, Alina-nya yang berharga justru di buang dan ditinggalkan. Dalam hati kecilnya Heri selalu bertanya-tanya, begitu besarkah cinta Alina untuk lelaki itu sampai Alina rela menyerahkan miliknya yang berharga? Dan bahkan setelah apa yang terjadi dan Alina tahu bagaimana watak Dirga yang sebenarnya, bahkan Alina masih tetap mengharapkan lelaki br*ngsek itu. Seolah kehadiran dan semua pengorbanannya tak pernah cukup untuk membuat Alina melihatnya sedikit saja. Ya, Heru merasa menjadi makhluk tak kasat mata di hadapan Alina. Apa mungkin karena mereka telah saling mengenal sejak kecil, membuat hati Alina menjadi kebal dan tak lagi memandangnya seperti seorang lelaki? Entahlah.
Heru mencoba menepis segala perasaannya. Sebab di atas semua itu, yang terpenting saat ini adalah menjaga kesehatan dan keselamatan Alina lebih dari apapun.
Malam itu sepulangnya dari bekerja, entah mengapa Heru ingin sekali menemui Alina dan memastikan Alina dalam kondisi baik. Setelah mandi dan berganti baju, Heru memberanikan diri untuk mengetuk kamar Alina. Namun beberapa kali mengetuk pintu kamar, Heru tak mendapatkan jawaban apapun. Sejak dinyatakan pulih dan Dokter Erika mengizinkan Alina untuk beraktifitas seperti biasa, sejak itulah tugas Mbak Sitha untuk mengawasi Alina berakhir. Alina yang tidak suka privasinya di usik langsung meminta Papa untuk menghentikan Mbak Sitha dari tugas spesial-nya. Dan Papa pun langsung setuju.
Tapi entah mengapa hal itu justru membuat Heru semakin khawatir. Dan kekhawatirannya terbukti saat kemarin Alina memang menemui Dirga secara diam-diam. Maka, malam itupun saat Heru tak kunjung menjawab panggilannya dari balik pintu pun Heru menjadi khawatir. Heru akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar Alina, dan ternyata pintu kamar Alina tidak terkunci. Heru merasa lega sebab menemukan Alina tengah tertidur pulas di tempat tidurnya. Namun disisi lain, ada sesuatu yang terbangun di bawah sana, saat melihat selimut Alina yang tersingkap dan menampilka paha mulus Alina. Heru pun buru-buru menutup kembali pintu kamar Alina, lalu kembali ke dalam kamarnya sambil banyak-banyak mengucap istighfar. Dan kejadian tak terduga itu membuat Heru jadi sulit memejamkan matanya.
Keesokan harinya sebelum berangkat bekerja, Heru menyempatkan diri menghampiri Mbak Sitha. Pada Mbak Sitha Heru berpesan agar terus mengawasi Alina dan segera memberi tahunya apabila Alina terlihat pergi meninggalkan rumah. Heru tidak ingin kejadian seperti tempo hari terulang lagi, atau kalaupun Alina kembali nekat menemui Dirga, Heru bisa mengawasi Alina dari kejauhan seperti sebelumnya. Untunglah hal yang ditakutkan Heru tidak terjadi. Alina hanya sekali saja pergi keluar rumah dan kali itu dia benar,benar hanya bertemu Tiara saja sahabatnya. Sepertinya Alina merasa bosan terus menerus berada di rumah tanpa aktifitas berarti.
Heru menunggu saat hari libur tiba. Heru ingin mengajak Alina pergi ke suatu tempat. Agar Alina bisa merasakan suasana lain dan melupakan sejenak masalahnya. Heru sudah meminta izin pada Papa dan Mama. Dan mereka setuju, bahkan sangat berterimakasih bahwa Heru mau meluangkan waktunya yang sibuk untuk sekedar menghibur Alina.
Di hari yang dijanjikan, Alina sudah bersiap pergi dengan pakaian casualnya.
"Cie..cie...yang mau ngedate berdua..."
Goda Alshad pada Heru dan Adiknya. Heru hanya tersenyum saja menanggapi ledekan itu dan menggandeng Alina agar segera masuk ke mobil.
"Kita mau kemana Mas Heru?", tanya Alina begitu mobil meluncur meninggalkan rumah.
Heru hanya bilang kalau ingin mengajak Alina pergi jalan-jalan, tapi Heru belum bilang kemana tujuan mereka. Alina percaya pada Heru, bahwa Heru tidak akan melakukan hal yang buruk terhadapnya.
"Hmmm, bagaimana kalau kita kepantai?"
"Pantai?"
"Ya, pantai yang dekat saja, yang ada di kota, bagaimana?"
__ADS_1
"Hmm, boleh...."
Sejak kejadian dirinya hampir tenggelam di masa kecilnya, beberapa tahun Alina sempat merasa trauma dan takut untuk pergi kepantai. Tapi kemudian seiring usianya bertambah Alina sudah berani pergi ke pantai lagi, meski pun Alina tidak pernah punya keinginan untuk mendekat ke bibir pantai apalagi bermain air. Alina sekedar suka menikmati pemandangan di tepi pantai sambil bermain pasir. Tapi entah mengapa, saat ini, setelah mendengar Heru akan mengajaknya ke pantai, Alina langsung membayangkan dirinya ingin sekali bermain air nantinya. Apakah ini yang dinamakan bawaan bayi? Alina kerap merasakan keinginan aneh yang bertentangan dengan kebiasaannya.
Akhirnya sampai juga mereka ke tempat tujuan.
"Kamu lapar tidak, bagaimana kalau kita makan dulu?"
Ajak Heru pada Alina. Heru selalu memastikan agar Alina tetap makan dengan baik selama bepergian bersamanya.
"Ya, makan dulu juga boleh..."
Alina berfikir dirinya juga butuh makan untuk mengisi tenaga sebelum nanti bermain-main di pantai.
Heru mengajak Alina ke sebuah restoran yang berada di tepi pantai. Alina memesan nasi dengam chicken katsu dan jus buah, sedangkan Heru memilih memesan secangkir kopi dan sanwich.
"Alina, apa kamu masih akan menemui Dirga?"
Tanya Heru di tengah-tengah acara makan mereka.
"Entahlah, apa aku terlihat begitu menyedihkan dimatamu?", Alina balik bertanya.
"Tidak..."
"Ya, aku pasti nampak menyedihkan sekali kan? Harus mengemis pada laki-laki yang telah membuangku..."
"Alina, apapun pilihan dan jalan yang akan kamu tempuh, tolong beri tahu aku. Kalau kamu ingin menemuinya lagi, aku akan menemanimu....Aku akan berada di sisimu dan mendukung apapun yang ingin kamu lakukan..."
Alina yang sedang sibuk memotong ayam katsunya, tiba-tiba meneteskan air mata. Alina sungguh merasa tidak pantas mendapatkan semua kebaikan Heru.
__ADS_1
"Sudah...sudah...jangan menangis....selesaikan makanmu lalu kita akan bermain di pantai..."
Alina mengusap air matanya dan melanjutkan makannya tanpa bicara.
Setelah selasai makan mereka lalu berjalan ke pantai. Alina yang sudah tidak sabar untuk bermain air langsung berlari-lari kecil menuju bibir pantai.
"Alina, hati-hati..."
Alina tetap berlari hingga akhirnya melompat ke dalam air.
"Hati-hati, jangan terlalu jauh nanti kamu bisa terbawa arus.."
"Ya Mas Heru, aku tahu...kan ada Mas Heru yang pasti akan menyelamatkanku..."
Heru hanya geleng-geleng kepala sambil melihat tingkah Alina. Beberapa saat Heru membiarkan Alina bersenang-senang sambil tetap berjaga.
Setah puas bermain akhirnya Alina menghampirinya.
"Ayo kita pulang sekarang, aku lelah..."
"Baiklah tuan puteri..."
Begitu mobil mulai melaju Alina langsung jatuh tertidur. Heru tersenyum menatap wajah Alina yang nampak damai dalam lelapnya.
Mereka sampai dirumah. Dan Alina langsung terbangun begitu mobil berhenti.
"Terimakasih banyak untuk hari ini..."
Alina lalu masuk ke dalam rumah. Setelah berganti baju Alina memilih duduk di ruang tengah bergabung bersama Mama yang sedang menonton siarjan infotainment. Tiba-tiba Alina melihat sosok yang amat di kenalnya muncul di layar televisi. Alina menajamkan penglihatan dan pendengarannya untuk tahu lebih jelas berita itu. Dan ternyata berita itu justru membuat Alina terkejut dan berakhir pingsan.
__ADS_1