
Berkali-kali Heru memikirkannya, Heru tetap saja merasa dirinya tidak akan tega untuk meninggalkan Gazhi. Entah bagaimana Heru merasa ikatan diantara mereka cukup kuat. Mungkin karena persamaan nasib yang membuatnya iba, atau banyaknya waktu yang telah dihabiskan bersama bahkan sejak hari pertama. Dan tentang Alina, sejujurnya belum ada yang mampu menggantikan sosoknya di hati. Hanya saja Heru memilih berfikir lebih realistis, dengan tidak menempatkan cinta dalam prioritas hidupnya. Baginya, cinta yang salah hanya akan melemahkan dan menjadikannya terlihat menyedihkan. Selama ini Heru lebih memilih fokus pada hidup dan masa depan, sambil menunggu cinta menemukan jalannya sendiri. Tapi sekarang, Heru akhirnya memberanikan diri untuk membuat sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Sebagai seorang pria Heru telah memutuskan bahwa dirinya akan mengambil tanggung jawab itu sepenuhnya. Heru memutuskan, sekali lagi dirinya akan berjuang untuk meraih hati Alina.
Maka malam itu juga, sepulangnya dari bekerja Heru memutuskan untuk mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Di sana Heru langsung melangkah menuju sebuah gerai perhiasan yang paling terlihat elegant sekaligus mencolok diantara yang lain. Heru tidak mengerti soal perhiasan. Pun Heru sama sekali tidak memiliki pengalaman soal perempuan. Seumur hidupnya hanya dihabiskan untuk berjuang mengubah nasib. Dan kini dirinya dihadapkan pada sebuah kebimbangan hanya demi memilih sebuah benda kecil bernama cincin.
"Silahkan tuan, apa yang anda cari?"
Sapaan pelayan di gerai itu menyadarkan Heru dari lamunan.
"Saya ingin mencari cincin untuk melamar seorang wanita, tolong pilihkan yang terbaik dari koleksi yang ada disini..."
"Tentu saja, kalau boleh tahu bagaimana karakter kekasih anda?"
Heru kembali harus berfikir keras, sebab baginya cukup sulit mendiskripsikan tentang Alina.
"Dia wanita yang sedikit pemalu, keras kepala dan manja..."
Ucap Heru sambil membayangkan wajah Alina.
"Baiklah, saya akan mencarikannya untuk anda..."
Pelayan itu lalu terlihat memandangi beberapa koleksi cincin terbaik yang ada di etalase, lalu mengambil satu cincin bermata berlian yang paling bersinar.
"Bagaimana dengan yang ini Tuan, designnya sederhana dan menonjolkan berlian kecil yang berkilau, pasti kekasih anda akan menyukainya..."
Heru memandang cincin itu sejenak, terlihat begitu indah namun sederhana. Heru langsung merasa cocok. Lagi pula dirinya tak punya banyak waktu untuk.mencari alternatif lain. Yang ada dipikirannya adalah untuk menyelesaikan pencarian ini lalu segera pulang ke rumah untuk bertemu Gazhi.
"Baiklah, saya ambil yang ini..."
Pelayan pun segera mengemas cincin pilihan Heru. Setelah membayar, Heru langsung melangkah dengan terburu-buru menuju mobilnya. Heru ingin segera samoai dirumah untuk bertemu dengaj Alina daj bercengkrama dengan Gazhi. Tanpa sadar Alina dan Gazhi memang sudah menjadi bagian hidupnya yang paling berarti belakangan ini.
Heru sudah tidak sabar untuk berkumpul menjadi sebuah keluarga yang sesungguhnya.
Sesampainya dirumah Heru segera menyimpan cincin itu baik-baik, laku bergegas untuk mandi.
Setelah mandi, Heru keluar dari kamarnya dan tanpa sadar matanya langsung mencari-cari keberadaan Alina dan Gazhi.
__ADS_1
Beruntung Alina dan Gazhi sedang berada di ruang keluarga, bersama Mama, Papa, dan juga Alshad. Semua anggota keluarga lengkap berkumpul dan Ghazi yang mulai mengoceh menjadi pusat perhatian semuanya. Heru pun tanpa segan bergabung dengan keluarga yang hangat itu.
"Baru pulang Mas Heru?"
Sapa Alina saat menyadari kehadiran Heru.
"Ya...ada sedikit urusan tadi..."
"Sudah makan Nak Heru? Kami semua sudah makan duluan tadi, meskipun sibuk jangan sampai telat makan..."
"Ya Ma..."
Heru bahkan baru ingat kalau dirinya belum makan malam. Heru lalu mengambil makanan di piring dan kembali bergabung bersama keluarga yang lain.
"Aku makan disini ya Ma, Pa...",
Heru meminta izin karena ingin turut melihat kelucuan Gazhi.
"Tentu saja, makanlah dimana pun kamu mau..."
Beberapa saat mereka berbincang ringan seputar perkembangan Gazhi berikut tingkah lucunya. Sampai kemudian bayi kecil itu menangis kencang, sepertiny Ghazi mulai haus dan mengantuk. Alina pun pamit untuk masuk ke kamar dengan membawa Ghazi.
"Ma, Pa..umur Ghazi sudah dua bulan lebih, akhir pekan nanti aku ingin mengajak Alina dan Ghazi pergi keluar. Mungkin Alina juga jenuh jika terus di rumah sepanjang hari...."
"Tentu saja, kamu boleh membawa Alina pergi keluar, asal perhatikan tempat-tempat yang nyaman dan aman untuk Ghazi..."
"Tentu saja Pa, terimakasih banyak..."
Papa dan Mama memutuskan masuk ke kamar karena sudah mengantuk. Begitupun dengan Alshad yang memilih menghabiskan waktu luangnya dikamar.
Tinggalah Heru seorang diri. Heru menatap pintu kamar Alina yang tertutup. Suara tangisan Gazhi sudah mereda sejak tadi. Tapi Alina tidak keluar dari kamarnya.
Mungkinkah Alina sudah ikut tidur bersama Ghazi?
Tak ingin menganggu Alina, Heru akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan terlebih dahulu.
__ADS_1
Alina, apa kamu sudah tidur? Kalau belum aku ingin bicara denganmu sebentar...
Heru menunggu beberapa saat, tapi balasan yang ditunggu tak kunjung datang. Heru lalu memutuskan masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Pandangannya ke atas langit-langit, tapi pikirannya menerawang jauh ke depan. Entah seperti apakah nanti masa depan yang menantinya.
Bunyi ponsel kemudian menyadarkan lamunannya. Ternyata balasan pesan dari Alina.
Maaf, tadi aku tertidur saat menidurkan Gazhi. Ada apa Mas Heru? biar kutitip Ghazi pada Mbak Sitha...
Ok, kita bertemu sekarang di taman belakang.
Heru pun beranjak dan berjalan menuju taman. Disana ternyata Alina sudah duduk menunggunya.
"Ada apa Mas Heru?"
"Aku ingin mengajakmu pergi keluar, sebenarnya aku ingin membicarakan beberapa hal.denganmu, tapi rasanya tidak dirumah ini...Gazhi sudah hampir dua bulan bukan, bagaimana kalau kita mengajaknya juga?"
"Ya Mas Heru, sepertinya tidak apa-apa, lagi pula aku juga sidah bosan tetus berada di rumah. Tapi, kita mau kemana?"
"Bagaimana kalau kepantai seperti waktu itu? Kamu bilang ingin pergi kepantai kan? Kita bisa duduk-duduk saka di tepian sambil mengajak Gazhi bermain?"
"Ya begitu juga bagus, sepertinya akan menyenangkan, kapan kita pergi? Aku harus menyiapkan kebutuhan-kebutuhan Ghazi sebelum pergi..."
"Bagaimana kalau akhir pekan nanti?"
"Baiklah, akhir pekan kita akan pergi bersama Ghazi..."
Tepat setelah mereka selesai berbicara, terdengar suara tangisan Ghazi dari dalam kamar Alina.
"Maaf Mas Heru, sepertinya aku harus kembali ke kamar..."
"Ya, kembalilah dan beristirahatlah, sampaikan peluk dan ciumku untuk Ghazi..."
"Ya Mas Heru, Selamat malam..."
__ADS_1
Alina segera beranjak kembali ke kamarnya untuk menyusui Ghazi. Dan Heru pun segera masuk ke dalam kamarnya.
Alina langsung mengambil Ghazi dan menyusuinya agar bayi itu berhenti menangis. Tapi entah mengapa pikirannya terus melayang pada Heru. Alina jadi penasaran. Urusan aoakah yang akan dibicarakan Heru nanti?