Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 27


__ADS_3

Hari itu akhirnya Heru benar-benar mengajak Alina pergi ke pantai. Alina benar-benar sudah mempersiapkan keperluan hari ini dengan baik. Terutama menyiapkan keperluannya dan keperluan Ghazi. Alina sudah menyiapkan asi perah untuk Ghazi. Agar Alina tidak perlu menyusui langsung diluar yang pasti akan membuatnya risih.


Mereka berangkat tepat pukul delapan, setelah selesai sarapan dan berpamitan pada Papa dan Mama. Cuaca hari itu lumayan cerah, seolah mendukung rencana mereka pergi berlibur walau hanya sederhana.


Sepanjang perjalanan Heru terus tersenyum sambil sesekali menatap ke samping. Ke arah Alina yang terlihat cantik dan Ghazi yang begitu menggemaskan tidur di pangkuan Alina. Untunglah bayi mungil itu sangat mirip dengan Alina, jadi mereka tidak perlu teringat pada ayah si bayi.


Sepanjang jalan mereka hanya saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Terutama Alina yang terus sibuk menerka-nerka, tentang hal penting yang akan Heru bicarakan nanti.


Akhirnya setelah perjalanan yang lumayan menyita waktu karena padatnya lalu lintas, sampailah mereka di tempat yang dituju. Alina menggendong Ghazi. Sementara Heru membawakan barang-barang perlengkapan bayi yang dibawa Alina. Ternyata hanya karena membawa satu bayi bawaan mereka jadi banyak sekali. Apa memang begini kalau sudah punya anak? Segala keperluan anak menjadi prioritas dan kita tidak terlalubperduli pada kerepotan yang terjadi.


"Bagaimana kalau kita duduk disana?"


Tanya Heru sambil menunjuk space kosong di area pasir yang lumayan jauh dari bibir pantai.


"Ya, disana sepertinya bagus juga..."


Alina langsung setuju dengan usul Heru, karena tempat itu lumayan sepi dan dari sana hamparam pantai terlihat jelas.


Heru segera menggelar tikar kecil yang mereka bawa dari rumah, lalu meletakkan kasur kecil diatasnya untuk tempat tidur Ghazi. Heru lalu meletakkan barang bawaan yang lain di atas tikar.


"Sudah selesai, sebaiknya tidurkan Ghazi di sini..

__ADS_1


"


"Ya, terimakasih banyak..."


Alina menurunkan Ghazi perlahan, meski negitu Ghazi tetap saja bangun dan menangis. Alina lalu mengambil asi perah yang sudah disiapkannya dalam botol dan memberikannya pada Ghazi. Dan Ghazi pun langsung tenang. Ghazi terlihat amat menikmati minumannya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah ingin tahu tempat apa yang baru saja dikinjunginya. Bahkan sampai asipnya habis sebotol Ghazi tetap tidak kembali tidur namun sudah tenang. Tampaknya bayi mungil itu turut menikmati acara liburan orang tuanya. Karena matahari mulai terik Alina membuka payung besar yang di bawanya dan meletakkannya di dekat Ghazi agar bayi itu terlindung dari sinar matahari.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan sampai mengajak aku Ghazi kemari?"


Tanya Alina setelah beberapa saat mereka hanya berdiam diri sambil menikmati pemandangan.


Heru menarik nafas dalam-dalam, sebelum menjawab pertanyaan Alina.


"Alina sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu, tapi ini mungkin sedikit pribadi..."


"Tanyakan saja apa yang ingin Mas Heru tanyakan, tidak perlu sungkan..."


Alina menguatkan hatinya dan menjawab Heru sambil tersenyum.


"Apakah kamu benar-benar mencintai Dirga? Dan apakah sekarang kamu juga masih memikirkannya? Maaf jika ini membuka luka hatimu, tapi sungguh aku ingin tahu Alina..."


Alina tidak menyangka bahwa Heru justru membahas tentang Dirga.

__ADS_1


"Sejujurnya aku merasa tidak pernah mencintai Dirga, aku merasa sangat bodoh dengan apa yang kulakukan selama ini...Dirga adalah lelaki yang manipulatif dan selalu bisa membuatku menuruti keinginannya. Saat aku menolak keinginannya, dia akan mengancam melakukan hal yang berbahaya dan menyalahkan aku akan hal itu. Dia selalu berhasil membuatku merasa kasihan meski dialah yang melakukan kesalahan. Saat aku ingin pergi, dia memohon dengan menyedihkan dan mengancam akan bunuh diri dan bilang bahwa aku jahat karena meninggalkannya. Seperti itulah hubungan kami dulu. Aku sadar, tapi sangat sulit untuk lepas. Sampai kemudian Dirga meninggalkanku karena aku hamil. Aku tidak mencintainya, tapi aku ingin dia bertanggung jawab demi anakku. Setidaknya aku ingin anakku nanti tahu dengan jelas asal usulnya dan tidak menanggung aib, meskipun akhirnya nanti kami berpisah. Itulah alasanku selama ini masih mengharapkan. Terlihat menyedihkan dan tidak tahu malu bukan? Tapi itu semua rela ku lakukan demi anakku. Tapi setelah Ghazi lahir, entah mengapa aku sudah melupakannya begitu saja dan tidak lagi mengharapkannya. Setiap hari aku disibukkan dengan merawat Ghazi. Tawa dan tangisnya menguatkanku dan aku bertekad akan membuatnya bahagia meski apapun yang terjadi...begitulah yang aku rasakan..."


Tanpa sadar Alina justru bercerita panjang lebar, memgungkapkan isi hatinya yang selama ini hanya bisa di pendamnya sendiri.


Mendengar cerita Alina membuat Heru semakin membenci Dirga. Tapi disisi lain Heru juga merasa lega, sebab ternyata Alina tidak memiliki perasaan terhadap Dirga seperti yang selama ini dipikirkannya.


"Sudahlah Alina, sudah semestinya kamu melupakannya. Sekarang yang terpenting adalah masa depanmu bersama Ghazi..."


"Ya aku tahu Mas Heru, Mas Heru tenang saja, mulai sekarang aku hanya akan berjuang dan hidup untuk Ghazi, Mas Heru tidak perlu mengkhawatirkan kami. Jadi bagaimana rencana Mas Heru kedepannya?"


Alina memberanikan diri untuk bertanya, melawan rasa takutnya


"Rencana apa maksudmu?"


"Pernikahan diantara kita hanyalah sebuah kontrak, sekarang Ghazi sudah lahir dan tumbuh dengan baik. Aku sangat berterimakasih atas bantuan dan kebaikan yang Mas Heru lakukan pada kami. Aku tidak mungkin menahan Mas Heru disini, Mas Heru juga harus melanjutkan hidup dan mengejar masa depan Mas Heru sendiri...pergilah Mas...aku doakan Mas Heru selalu dilimpahi kebahagian dan keberuntungan di manapun Mas Heru berada..."


Meski takut, Alina akhirnya merasa lega telah mengatakannya. Heru telah begitu baik dan Alina tidak ingin menjadi penghalang bagi Heru untuk meraih impiannya.


"Tapi Alina, bukanlah perpisahan yang aku inginkan. Kamu tahu sudah lama aku mencintaimu. Aku menjauh karena tidak mau memaksakan kehendakku. Aku sudah memikirlannya baik-baik. Tentang perasaanku, ya aku masih mencintaimu. Tak bisa kupungkiri harga diriku terluka. Tapi perlahan aku menjalani semua ini aku justru merasa bersyukur bisa menjadi lebih dekat denganmu dan Ghazi. Aku ikhlas jika memang seperti ini jalan untuk mendapatkanmu, jadi apa kamu bersedia menjadi istriku yang sesungguhnya? Aku ingin melanjutkan hidup bersama Ghazi sebagai keluarga yang utuh, apa kamu bersedia?"


Heru mengangsurkan cincin yang sedari tadi di genggamnya ke hadapan Alina.

__ADS_1


Alina tampak begitu terkejut, hingga tak mampu berkata-kata.


__ADS_2